
Joshua mengerutkan keningnya saat menemukan sebuah amplop putih besar di dalam laci meja kamarnya. Tadinya ia berniat mencari shaving blade untuk bercukur, namun, rupanya amplop yang tampak asing itu menarik perhatiannya.
Yang membuatnya begitu penasaran adalah, logo di samping kanan amplop. New York Medical Center, begitu yang terbaca olehnya.
Ia pelan membuka isi amplop dan membacanya dengan seksama. Matanya pun membulat sempurna. Di dalam selembar kertas itu berisi keterangan riwayat pasien dan receipt dari sebuah apotek. Risa Wahyuningtyas, nama pasien yang tertera di sana.
Tanggal di pojok kiri kertas menunjukan kalau Risa ke rumah sakit yang tertera sudah lebih dari sebulan yang lalu. Artinya, sebelum mereka menikah secara resmi.
Dan yang membuat Joshua terkejut bukan main adalah, saat membaca keterangan di dalam kertas. Bahwa Risa dinyatakan keguguran.
Artinya, saat Joshua menikahi Risa, wanita itu sudah tidak dalam keadaan hamil. Wanita itu telah membohonginya. Ia menikahi Risa karena ingin bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya.
Dadanya bergemuruh menahan amarah yang begitu meluap-luap. Menjelang pernikahan, Joshua sudah dilanda kegalauan karena perasaan ragu yang begitu besar. Ia pun terpaksa melupakan perasaannya pada Jana, yang waktu itu mulai tumbuh, demi mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Risa. Namun, ternyata Risa membohonginya.
Joshua menunggu Risa pulang dari tempat temannya, Ningsih, untuk menuntut penjelasan akan hal ini. Ia mencoba menahan diri untuk tidak meledak-ledak di hadapan istrinya itu.
"Mukamu kenapa, sih? Kok asem gitu?" tanya Risa saat ia baru saja tiba di apartemen.
"Duduk. Aku mau bicara!" perintah Joshua, sedikit meninggikan nada suaranya.
"Ish! Apa, sih, Sayang?" tanya Risa yang keheranan melihat sikap ketus Joshua. "Jangan galak-galak sama cewek hamil, dong," rajuknya.
"Hamil? Kamu hamil?"
Risa mengerutkan keningnya. "Ya, hamil lah, gimana, sih?"
Joshua mendesis. Ia mengambil amplop yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya, lalu membantingnya di atas meja. "Ini punya kamu, kan? Kamu bohong sama aku!"
Risa bagai disambar petir di siang bolong. Pertama yang ia pikirkan adalah, betapa cerobohnya ia menyimpan amplop itu di laci meja. Ia tidak berpikir Joshua akan membuka laci itu, karena memang biasanya Joshua tidak pernah membukanya.
"Kamu sudah tidak hamil, kan?" desak Joshua.
"Mmm ... a-aku, i-iya, aku keguguran." Risa menelan saliva dengan susah payah. Wajah tampan Joshua yang kini berubah menyeramkan membuatnya sedikit ketakutan.
"Kenapa kamu bohong sama aku?"
"Karena ... aku takut kamu nggak mau nikah sama aku."
__ADS_1
"Tapi kenapa harus berbohong?"
"Aku udah bilang alasannya. Lagipula, kamu nikahin aku hanya karena aku hamil, gitu?" Kini giliran Risa menuntut jawaban. Wanita itu berhasil membalik keadaan. "Kamu udah nggak cinta sama aku lagi, Josh? Cepet banget kamu lupa?"
Bukan Joshua tidak mencintai Risa. Namun, Joshua butuh waktu banyak untuk berpikir, apakah akan menikahi Risa atau tetap bersama Jana. Hubungannya dengan Risa, setelah beberapa minggu wanita itu berada di negara ini, hanya dipenuhi perdebatan dan juga pertengkaran.
Risa menjadi begitu posesif padanya, ingin memilikinya seutuhnya, sementara ia masih terikat pernikahan dengan Jana. Di saat yang bersamaan, rasa sayang dan nyaman mulai tumbuh di hati Joshua untuk Jana.
Rasa sesalnya telah menyia-nyiakan gadis sebaik Jana, mulai memenuhi ruang hatinya setiap hari. Joshua masih kebingungan dan membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Kamu mau ke mana?!" tanya Risa saat Joshua beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu apartemen.
"Aku mau cari udara segar."
"Kamu mau ketemu Jana? Kamu mau balikan lagi sama dia?"
Joshua mengibaskan tangannya sambil membuka pintu dan berlalu. Ia tidak memedulikan panggilan Risa yang memintanya untuk tidak pergi.
***
Scott, yang duduk di sampingnya, merasa heran melihat sahabatnya itu terlihat gelisah.
"Ada masalah?" tanya Scott memulai obrolan.
"Risa membohongiku," sahut Joshua seraya menuangkan isi botol whiskey ke dalam slokinya.
"Kenapa dia?"
"Dia keguguran. Sebelum kami menikah."
"Lalu kenapa? Hamil atau tidak, kau memang akan menikahinya, bukan?"
Joshua menghembuskan napasnya kasar. "Waktu itu aku sedang berpikir untuk memilih Risa atau Jana. Karena Risa hamil, aku memilih Risa. Tapi, perasaanku pada Jana mulai tumbuh. Kau mengerti maksudku, bukan?"
Scott tergelak mendengar ucapan Joshua yang terdengar naif. "You don't know what you got until you lost it," kekehnya menirukan sebuah ungkapan.
"Sialan!" maki Joshua kesal. Memang ungkapan itu yang paling cocok untuknya.
__ADS_1
"Sudahlah, terima saja apapun pilihanmu, Josh," ujar Scott seraya menuang isi botol whiskey ke dalam sloki mereka berdua.
"Masalahnya, Risa selalu mencari bahan untuk berdebat."
"Bukankah kau bilang dia memang selalu seperti itu?"
"Yeah." Joshua mengakui tabiat Risa dari dulu. Keras kepala, senang konflik, dan semaunya sendiri. Sejujurnya ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang membuatnya jatuh cinta pada wanita itu. Meskipun Risa tidak selalu buruk, namun, sikap keras kepalanya terkadang membuat dirinya lelah.
"Kenapa kau bisa jatuh cinta dengannya?" tanya Scott.
"Entahlah. Dia liar di ranjang, mungkin," kakeh Joshua.
Scott mengangkat kedua tangan menyerah. Jika jawabannya seperti itu, maka tentu saja hampir setiap pria menyukai wanita yang liar di atas ranjang.
"Dia orang pertama yang aku temui di Indonesia, saat aku tidak punya apa-apa."
"Apa itu semacam hutang budi?"
Joshua mengedikkan bahu. "Mungkin."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Bertahan dengannya? Atau kau akan menceraikannya dan mengejar Jana kembali?"
"Jana membenciku."
Scott tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. "Tentu saja dia membencimu, Josh. Tidak ada alasan untuknya tidak membencimu. Kau pantas mendapatkannya."
"Aku tahu, aku tahu." Joshua pasrah. Ia memang telah menyia-nyiakan Jana. Saat Jana pergi, hatinya terasa hampa. Jana yang manis, Jana yang selalu menuruti permintaannya, Jana yang rela berkorban untuk menyelamatkan dirinya, Jana yang terlalu baik untuk lelaki brengsek seperti dirinya.
Alkohol membuat Joshua semakin terpuruk memikirkan betapa bodohnya. Membuatnya semakin merindukan Jana. Haruskah ia menuruti kemauan hatinya untuk menemui gadis itu malam ini.
Joshua tidak mampu menahan langkahnya menuju ke apartemen Jana di Harlem. Kakinya seperti memiliki otak sendiri, bergerak membawa tubuhnya ke depan pintu bercat abu-abu itu.
Tangannya pelan mengetuknya. Tidak ada jawaban apapun dari dalam untuk beberapa saat. Namun, Joshua sabar menunggu hingga pintu di hadapannya terbuka dan sosok gadis manis yang ia rindukan muncul.
Penantiannya tidak sia-sia. Pelan pintu pun terbuka, dan sosok itu muncul, dengan wajah khas bangun tidurnya yang menggemaskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1