
Ini malam terberat untuk Jana. Di sebuah hotel berbintang di area Central Park. Dan orang yang harus ia temui malam ini adalah James. Seperti yang sudah ia sepakati dengan Joshua.
Di dalam kamar mewah yang sudah disewa oleh James, Jana duduk di tepi ranjang, menunggu lelaki itu yang sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Dadanya berdegup kencang. Pikirannya berkecamuk. Entah keputusannya ini benar atau tidak, yang jelas, hanya ini cara satu-satunya ia bisa menolong Joshua.
Badan Jana panas dingin saat James mendorong pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan hanya memakai handuk di pinggangnya.
Lelaki paruh baya itu mengulas senyum pada Jana sebelum akhirnya duduk di samping gadis itu. "Kau baik-baik saja?" tanya James seraya menggenggam tangan Jana. "Dingin sekali. Kau sakit?" tanyanya cemas.
"Aku baik-baik saja." Jana berucap dengan bibir bergetar. Sungguh ia merasakan suasana yang sangat tidak nyaman. Berdua dengan lelaki selain suaminya, dan akan melakukan hal yang sangat intim.
"Aku ambilkan minum, supaya kamu rileks," ucap James seraya berjalan menuju ke arah meja di dekat jendela, di mana ada sebuah ice bucket berisi dua botol anggur.
Sementara Jana masih menata hatinya untuk tetap tenang. Malam akan segera berlalu, dan ia bisa menyelamatkan Joshua.
"Untukmu," ucap James seraya menyodorkan gelas pada Jana.
"Terimakasih," ucap Jana. Ia bersusah payah menelan minuman berwarna merah yang terasa pahit di lidahnya itu.
"Aku suka padamu, Jana," ucap James. Ia meneguk minumannya dengan gerakan elegan. "Dari pertama kali aku melihatmu di rumah."
Jana ingin memaki. Lelaki ini sudah memiliki istri. Komitmen apa yang ia bangun dengan istrinya itu. Apa James juga menganut hubungan terbuka. Jika melihat sikap Atmini yang begitu sinis padanya saat James berbicara padanya, rasanya tidak mungkin.
"A-apa Atmini tahu semua ini?" Jana memberanikan diri untuk bertanya.
James menghela napasnya dalam-dalam. "Boleh aku menceritakan sesuatu padamu?" tanyanya.
"Silahkan ...."
"Rumah tanggaku dengan Atmini hambar. Dia tipe istri yang senang menuntut."
James menceritakan panjang lebar keadaan rumah tangganya pada Jana. Ia menikahi Atmini karena terburu-buru. Saat itu ia butuh pendamping dan Atmini wanita pertama yang ia temui saat dirinya berlibur ke Indonesia.
Entah kenapa saat itu James tidak mengambil waktu lebih banyak untuk mencari wanita yang benar-benar tepat untuk ia jadikan istri.
Tetapi, apapun yang diceritakan James padanya, tentang Atmini maupun tentang keadaan rumah tangga mereka, Jana tidak semata-mata menelannya mentah-mentah. Lelaki bisa saja berbohong untuk mendapat simpati perempuan lain yang sedang ia incar.
Jana memejamkan matanya saat James membaringkannya di atas ranjang. Ia sudah pasrah apa pun yang akan James lakukan padanya. Fokusnya hanya satu, menyelamatkan Joshua dari orang-orang yang mengancam jiwanya.
__ADS_1
Bukankah cinta memang harus berkorban. Kalau memang begini jalannya, Jana siap menerimanya.
Gadis itu memejamkan mata saat bibir James mendarat di bibirnya, ********** dengan rakus, lalu memainkannya sesuka hati. Tetapi, saat lelaki itu hendak melucuti semua pakaian dan menuju ke permainan inti, Jana menangis. Hal itu membuat James menghentikan perbuatannya.
Melihat seorang gadis yang begitu putus asa, hati James menjadi iba. Meskipun dia menyukai Jana dan ingin menikmati tubuh gadis itu, tetapi, dia bukan orang yang tidak punya hati. Ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang membuatnya kasihan.
James meminta Jana untuk duduk di tepi ranjang. Lelaki itu kemudian melakukan hal yang sama. Keduanya duduk bersebelahan.
"Temani saja aku mengobrol malam ini," ucap James membuat Jana terperangah tidak percaya.
"T-tapi, bagaimana dengan kesepakatannya?" tanya Jana dengan bibir bergetar.
"Tenang saja, Jana ... aku akan tetap membayarmu. Kesepakatan masih ada, tapi ... tugasmu hanya menemaniku minum dan ngobrol saat aku butuh. Itu saja."
Jana memejamkan mata sembari menghembuskan napas yang teramat lega.
***
Pukul delapan pagi, Jana meninggalkan hotel. Semalam, James benar-benar tidak menyentuhnya sama sekali. Ia menemani lelaki itu bicara hingga hampir pagi.
Hutang Joshua pun beres. James memang tidak mengingkari janji. Ia adalah tipe lelaki yang memegang teguh ucapannya.
Tatapan mata Jovan berkilat penuh amarah. Ia menyeret Jana ke mobilnya dan melampiaskan kemarahannya pada Jana di sana.
"Kamu tidur sama laki-laki tua itu?!" hardik Jovan. Ia mencengkeram lengan Jana dengan keras.
"Apa, sih?" Jana menarik lengannya. Ia merasa Jovan terlalu berlebihan.
"Jan, kamu butuh duit beberapa, sih? Kenapa nggak bilang sama aku?"
"Bilang sama kamu? Emangnya kamu mau ngasih aku duit 30 ribu dollar secara cuma-cuma?!" sentak Jana mulai kesal.
Jovan menyugar rambutnya dengan kasar. "Aku bisa usahain."
"Aku butuh cepat, Mas."
Jovan menggeleng. "Aku nggak habis pikir, ya, sama kamu. Pernikahan udah toxic kaya gitu masih dipertahankan."
"Aku cuma mau jadi istri yang baik, Mas."
__ADS_1
"Tidur dengan laki-laki lain, kamu pikir kamu istri yang baik?"
Jana menatap tajam pada Jovan. Secara tidak langsung, Jovan mengatainya perempuan murahan. Mungkin, memang kenyataannya ia adalah perempuan murahan.
"Atas seizin suamiku, Mas. Kamu harus bedain itu. Lagian, ngapain aku harus jelasin ke kamu? Kamu bukan siapa-siapa, Mas."
"Aku sayang sama kamu, Jana!"
Jana mendecih. "Udah lah, Mas. Mendingan kamu nggak usah temuain aku lagi." Jana hendak menghambur keluar, namun Jovan segera mengunci pintunya.
Ia tidak memedulikan protes Jana. Pemuda itu melajukan mobilnya cepat menuju apartemennya.
Sampai di sana, ia menyeret Jana ke tempat tidurnya. Menindih dan mengunci gerakan tubuh Jana yang seketika memberontak.
"Mas, lepasin!" teriak Jana.
Sekuat apapun Jana berusaha melepaskan diri, Jovan yang sedang dilanda amarah tidak memedulikannya. Ia memaksa Jana meloloskan pakaiannya. Kemudian, begitu tubuh Jana tidak tertutup sehelai benangpun, ia melampiaskan semua yang ia rasakan selama ini terhadap gadis itu.
Awalnya, Jana berontak dengan sekuat tenaga. Ia merasa Jovan telah melecehkannya. Namun, setelah Jovan berhasil menyatukan tubuh dengannya, Jana merutuki diri sendiri, sebab ia juga ikut menikmatinya.
Bahkan, perlakuan Jovan membuat Jana melayang ke awan. Baru kali ini ia merasakan betapa sentuhan lelaki begitu memabukkan seperti ini.
Ia tidak mencintai Jovan, namun, ia merasa begitu menyatu dengan pemuda itu. Bahkan Jovan membuatnya berteriak dengan keras, saat ia mencapai puncaknya.
"Kamu pasti nganggep aku cewek murahan, ya?" Jana berbaring memunggungi Jovan.
Sementara pemuda itu memeluknya dari belakang. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Joshua padanya.
"Enggak sama sekali," sahut Jovan seraya menciumi tengkuk Jana. Dan yang di bawah sana kembali memberontak ingin masuk ke dalam sarangnya.
"Ceraiin aja suami kamu, hidup sama aku!"
Jana menggeleng. "Kamu belum tahu aku siapa. Kenapa kamu udah berani mutusin kalau kamu suka sama aku?"
"Jatuh cinta nggak perlu waktu lama, Jan. Aku udah jatuh cinta sama kamu, dari pertama aku lihat kamu," terang Jovan.
Jana menggeleng. "Aku cuma cinta suamiku, Mas." Meskipun Joshua mungkin tidak mencintainya, pikir Jana. Ia mengulas senyum getir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1