Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 43. Tinggalkan Jana.


__ADS_3

"Jana!"


Jana yang baru keluar dari rumah Mira menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia menghela napas berat melihat pemuda dengan wajah manis berjalan cepat mendekat padanya.


"Kamu susah banget, sih, dihubungi?" serang Jovan.


"Ngapain juga hubungi aku, Mas?" Jana memutar bola matanya.


"Jangan gitu, dong, Jana," pinta Jovan memelas. "Kita udah tidur bareng, loh!"


"Mas!" sergah Jana. "Aku nggak mau bahas itu. Itu aku anggap kesalahan!"


Jovan menggeleng keras. "Nggak bisa, dong. Enak aja kamu ngomong gitu. Kita melakukannya dengan rasa, tahu?"


Jana mendecak. Ia malas menanggapi ucapan Jovan. Gadis itu bergegas memutar badan dan berlalu. Namun, Jovan buru-buru meraih lengannya. Menarik gadis itu ke arahnya.


"Lepas, Mas!" seru Jana seraya melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jovan.


"Nggak mau! Kamu harus tanggung jawab sama hatiku, Jan."


"Lepas, Mas. Nggak enak dilihat orang."


"Aku nggak peduli!"


Jana mendecak. "Maumu apa, sih, Mas?"


"Aku mau kamu!" tegas Jovan. "Ngerti, nggak?"


"Aku udah punya suami!"


Jovan terkekeh. "Suami bule brengsek!"


Plakkk


Satu tamparan Jana mendarat di pipi Jovan dengan keras. Pemuda itu meringis sambil mengelus pipinya yang memerah.


"Jangan ngata-ngatain suamiku, ya, Mas?!" Jana memperingatkan seraya menunjuk tepat di depan wajah Jovan.


Jovan terbahak. "Nggak usah membela laki-laki brengsek, Jana."


"Joshua udah berubah, kok." Jana berucap penuh percaya diri.


"Kamu percaya dia berubah secepat itu? Nggak mungkin, Jana."

__ADS_1


Jana mendorong dada Jovan dengan keras. "Terserah kamu lah!"


"Jan! Hei! Jana!" Jovan berlarian mengejar Jana yang berjalan dengan cepat mengejarnya. "Aku belum selesai ngomong, Jan!"


"Mas, kalau kamu mau temenan sama aku, aku oke. Tapi, kalau kamu nuntut aku lebih dari temen, aku nggak bisa." Jana mundur memberi jarak pada Jovan. Kemudian memutar badan meninggalkan pemuda itu yang memanggil-manggil namanya.


"Aku bakal nunggu kamu, Jan! Janaa!"


Jana mengangkat satu tangannya tanpa menoleh ke arah Jovan. Ia berlarian menuruni tangga stasiun bawah tanah. Ia menggeleng pelan. Rumit. Sungguh rumit. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa harus terlena dengan sentuhan Jovan yang begitu memabukkan.


Jana akui, Jovan sangat lembut memperlakukannya di atas ranjang. Bersatu secara fisik dengan Jovan, ia tidak merasakan kegelisahan, tidak ada kecemburuan, tidak ada amarah, namun, murni rasa nyaman dan kenikmatan.


Berbeda saat ia berada di atas ranjang dengan Joshua. Hatinya diliputi rasa dendam dan cemburu. Dan ia bisa mencapai puncaknya saat ia membayangkan dengan intens, Joshua sedang berada di atas ranjang dengan mantan pacarnya.


Sebuah rasa yang gila. Namun, itulah yang Jana rasakan pada Joshua.


***


Jana mengerutkan kening saat membuka laci nakas untuk mencari buku catatan yang lupa ia taruh di mana. Gadis itu melihat sebuah bungkusan kertas yang berisi beberapa plastik kecil berisi bubuk putih lembut.


"Apa, ya, ini?" Jana mengambil satu plastik dan memeriksanya dari dekat. Ia tidak tahu apa itu. Namun, ia tahu, barang itu milik Joshua.


"Jangan pegang! Masukan ke laci lagi!" seru Joshua yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Nggak usah tanya-tanya! Cepat masukkan!" perintah Joshua. Wajahnya terlihat tegang.


Jana merenggut. Ia lalu memasukkan kembali plastik ke dalam bungkusan kertas. lalu menutup laci rapat-rapat.


"Kamu jangan sentuh-sentuh barang milikku, okay?" Joshua memperingatkan.


Jana mengangguk lemah. "Maaf," ucapnya. Hari ini Joshua tidak lagi bersikap manis padanya. Ia kembali menjadi Johsua yang dingin padanya.


"Mau ke mana, Baby?" tanya Jana saat melihat Joshua mengganti pakaiannya. Lalu meraih mantel dan memakainya.


"Ada urusan. Mungkin aku nggak pulang, ya." Joshua dengan santainya melenggang keluar kamar. Jana mengikutinya dengan wajah cemberut.


"Tidak usah ikut. Aku sibuk."


Jana yang hendak meminta untuk ikut seketika mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa membiarkan Joshua pergi.


Malam ini Jana tidur sendiri. Dengan benak penuh tanda tanya. Ia berharap Joshua tidak macam-macam dan tidak membuat masalah. Karena jika suaminya itu membuat masalah, maka dirinyalah yang harus menanggungnya. Ia masih trauma dengan masalah Johsua dengan pekerjaannya, yang menyebabkan Jana terpaksa mengikuti permintaan Joshua untuk menjual diri.


Sementara itu, Joshua sampai di depan pintu warna abu-abu di lantai dua sebuah apartemen. Ia mengetuk pintu itu pelan.

__ADS_1


Dari balik pintu, muncul seorang wanita cantik berwajah Asia, dengan tubuh sintal yang menggiurkan.


"Sayang, akhirnya kamu datang." Wanita itu menarik lengan Joshua, membawa lelaki itu masuk. Joshua menutup pintu dengan kakinya, karena tangannya sibuk berkelana di tubuh wanita itu. Bibir mereka yang saling bertaut, menimbulkan bunyi kecapan yang intens.


Si wanita menyeret Joshua masuk ke kamar. Lalu dengan sekali dorong, Joshua sudah terlentang di atas ranjang.


"Risa, Sayang," ucap Joshua seraya meloloskan kaus lengan panjang yang dikenakan wanita itu-Risa.


"Baby, aku kangen banget. Banget, banget, banget," ucap Risa di sela-sela desahannya.


"Kamu pikir aku tidak?" Joshua membalas gigitan-gigitan dibibirnya.


"Pokoknya malam ini kamu sama aku!" tegas Risa seraya menjambak rambut Joshua pelan.


"Pasti, Sayang, pasti."


Seperti bernostalgia saat mereka di Indonesia, keduanya melakukan pergumulan yang begitu liar dan panas. Joshua yang selalu merindukan tubuh seksi Risa selama ini, akhirnya bisa menikmati kembali wanita favoritnya itu.


"Baby, aku sayang kamuuu!" teriak Risa saat ia mencapai puncaknya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia selalu saja meraih kepuasan yang tiada tara saat bersama Joshua. Itulah yang selalu ia inginkan dan rindukan dari lelaki itu.


Hingga, Risa nekat pergi ke Amerika untuk menyusul Joshua. Ia sudah tidak peduli apapun. Ia hanya menginginkan Joshua.


Sudah dua minggu Risa berada di Amerika. Untuk mencari Joshua, ia hanya berbekal alamat yang dulu pernah Joshua berikan padanya. Dan setelah mencari ke sana kemari, usahanya pun membuahkan hasil.


Dan di sinilah Risa berada saat ini. Bersama lelaki yang pernah ia sakiti. Lelaki yang pernah membuatnya menyesal karena telah ia sia-siakan.


"Terimakasih, Sayang, kamu udah mau terima aku," ucap Risa seraya mengeratkan pelukan Joshua padanya. Lengan Joshua melingkar di pinggangnya.


"Aku tidak bisa lupa sama kamu, Risa."


"Kamu pikir aku bisa? Setiap hari aku dihantui rasa bersalah."


Joshua mengecup tengkuk Jana lembut seraya mengeratkan pelukannya. Hatinya begitu penuh akan sosok wanita dalam rengkuhannya itu. Rasa memang tidak bisa berbohong. Tidak ada yang bisa menggantikan Risa di hatinya. Bahkan Jana.


"Josh, Sayang," panggil Risa.


"Ya?"


"Aku mau minta sesuatu sama kamu."


"Bilang saja, Sayang." Joshua mengelus lembut punggung Risa.


Risa mengulas senyum tipisnya. Ia menempelkan kepala di dada Joshua. Jemarinya menari-nari di sana. "Aku mau kamu tinggalin Jana. Segera."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2