
Tengah malam Jana terbangun, saat mendengar suara berisik di kamar mandi. Ia menoleh ke samping kirinya, dan mendapati Joshua tidak ada di sampingnya. Ia menduga, yang membuat suara berisik itu adalah Joshua yang sedang ada di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Jana mendengar tarikan napas panjang disusul suara kran yang dihidupkan. Lalu, sejurus kemudian, Joshua muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Kenapa bangun?" tanya Joshua. "Apa aku terlalu berisik?"
Jana menggeleng. "Kamu belum tidur?"
"Belum." Joshua membuka lemari pakaian dan mengambil kaos serta celana panjang. Lalu ia menyambar mantel tebal yang tergantung di belakang pintu.
"Mau ke mana?" tanya Jana. Sudah tengah malam dan Joshua hendak pergi entah ke mana.
"Ada urusan." Joshua mengikat rambut pirangnya yang sudah mulai memanjang.
"Malam banget?"
"Aku mau kerja!" Suara Joshua sedikit meninggi.
"Kerja malam-malam begini?"
Joshua mendecak sebal. "Memang pekerjaanku tidak menentu."
"Aku mau ikut." Jana memberanikan diri untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Kamu bercanda, ya? Untuk apa ikut?"
"Aku cuma mau tahu kerjaan kamu, Baby."
Joshua mengelus kepala seraya memandang langit-langit kamar. Kemudian, ia menatap tajam ke arah Jana. "Kamu mau ikut? Ayo!" tantangnya.
Sejujurnya Jana merasa was-was. Namun, ia menguatkan hati untuk mengiyakan ajakan; tantangan Joshua. "Iya," ucapnya.
Sepertinya Joshua sedikit menyesal menantang Jana untuk ikut dengannya. Joshua pikir, dengan menggertaknya, Jana akan mengurungkan niatnya untuk ikut dengannya. Nyatanya justru sebaliknya.
"Pakai mantel kamu," pinta Joshua seraya melempar mantel milik Jana pada gadis itu. Kemudian ia melangkah keluar kamar. Jana mengikutinya setelah ia mengganti pakaian dan melapisinya dengan mantel tebal.
Tengah malam, Jana mengikuti Joshua berjalan kaki beberapa kilo menuju stasiun bawah tanah terdekat. Udara dingin membuatnya menggigil sesekali. Sebab, mantel tebalnya seakan tidak mampu menghalau hawa dingin malam hari di musim dingin yang menusuk.
Di dalam kereta bawah tanah, Jana duduk di samping Joshua. Di dalam gerbong hanya ada mereka berdua dan dua orang lelaki serta perempuan yang sedang mengantuk.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?" tanya Jana.
"Ikut saja." Joshua menimpali. "Kamu ingin ikut, kan?"
Jana mengangguk. Ia pun pasrah Joshua akan mengajaknya entah ke mana. Selang beberapa menit, kereta berhenti dan Jana mengikuti Joshua melanjutkan perjalanan ke tampat yang dituju dengan kembali berjalan kaki.
Mereka sudah berada di depan sebuah club yang masih terlihat ramai. Suara musik samar-samat terdengar dari dalam sana.
"Ini diskotik?" tanya Jana dengan polosnya.
"Ya," jawab Joshua pendek. Lalu melangkah masuk ke dalam club setelah berbicara dengan dua orang penjaga bertubuh besar.
"Kamu kerja di sini?" tanya Jana, setengah berteriak karena suaranya tenggelam dalam musik yang menghentak-hentak. Jana mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang ramai oleh pengunjung club yang sedang menikmati malam dengan bersenang-senang. Musik dan alkohol, menjadi perpaduan yang sempurna di tempat seperti itu.
"Hai, Cantik." Sapaan seorang lelaki berkulit hitam membuat Jana merapatkan dirinya pada Joshua. Bahkan ada beberapa orang yang ingin menyentuh tangannya. Membuat dada Jana berdebar kencang.
"Jangan kaget, ya?" kekeh Joshua.
"Kamu, kok, kerja di tempat kaya gini, Baby?" tanya Jana keheranan.
"Ya, begitulah." Joshua menarik sudut bibirnya. Ia senang telah membuat Jana menyesal telah menerima tantangannya.
Joshua masuk ke dalam sebuah ruangan di ujung koridor. Di dalam sana, seorang lelaki paruh baya telah menunggunya. Dan seketika mata Jana terbelalak saat menyadari bahwa lelaki yang mengenakan setelan jas rapi dan mahal itu adalah James, suami Atmini. Di samping belakang kanan dan kirinya, berdiri dua orang penjaganya yang bertubuh tegap.
James pun tidak kalah terkejutnya melihat Jana. Namun, lelaki itu sepertinya berusaha menutupi rasa terkejutnya dengan bersikap seelegan mungkin.
"Hallo, Mr. Wilson," sapa Joshua seraya menjabat tangan James.
"Jana. Kenapa kau datang bersama Javernic?" tanya James seraya mengerutkan kening.
"Aah, aku baru ingat nama belakangmu juga Javernick. Jangan katakan kalau kau adalah istrinya?"
Kini Joshua yang tampak terkejut mengetahui jika James Wilson mengenal Jana. "Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya memastikan.
"Aku baru bertemu Jana tadi sore."
Joshua mengelus dagunya. "Di mana kau bertemu Jana, Mr. Wilson?"
"Di rumahku." James tersenyum miring.
__ADS_1
"Owh ...." Joshua tidak ingin menanyakannya lebih lanjut. Ia pun menyuruh Jana untuk duduk sedikit menjauh dari dirinya dan juga James, karena ia akan membahas bisnis dengan lelaki itu.
Jana menuruti permintaan Joshua. Ia menggeser duduknya sedikit menjauh. Dan Jana berusaha mendengar apa yang sedang suaminya bicarakan dengan lelaki itu. Namun, mereka memelankan suara sehingga Jana tidak begitu bisa mendengarnya.
Ia pun memutuskan untuk duduk manis saja sambil menunggu Joshua selesai. Sesekali ia bertemu pandang dengan James yang langsung melempar senyum genit padanya.
Cukup lama Joshua terlibat pembicaraan dengan James. Sesekali, Jana melihat wajah Joshua yang tampak tegang, saat James sedang mengatakan sesuatu. Entah mereka sedang berdebat atau memang cara mereka berdiskusi seperti itu adanya.
"Jadi, kita sudah sepakat?" tanya James. Kali ini ia sedikit mengeraskan suara.
"Tentu, Mr. Wilson." Joshua tersenyum sambil melirik Jana.
Sekali lagi James melempar tatapan genit pada Jana, membuat gadis itu merasa begitu risih. Entah kenapa tatapan lelaki itu membuat bulu romanya meremang.
Akhirnya, setelah hampir dua jam lamanya, Joshua mengajak Jana untuk keluar dari ruangan itu. Namun, ada satu kalimat James yang membuat Jana bertanya-tanya dalam hati, saat Joshua berpamitan dengan lelaki itu.
"Tenang saja. Nilainya tinggi." Begitu yang diucapkan James sambil menepuk-nepuk pundak Joshua.
Pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab berseliweran di benak Jana. Sebabnya, James mengucapkan kalimat itu sambil melirik ke arahnya, dengan senyum yang tidak mampu Jana artikan.
Joshua tidak langsung mengajak Jana pulang. Ia membawa Jana ke sebuah taman di belakang club yang cukup sepi. Meskipun sepi, namun lampu-lampu di taman itu cukup terang.
Wajah Joshua tampak gembira. Kini ia tidak lagi terlihat kesal. "Bisa aku meminta sesuatu sama kamu?" tanyanya pada Jana. Keduanya kini duduk di sebuah bangku panjang.
"Apa, Josh?" Dada Jana tiba-tiba berdegup kencang. Ia merasa Joshua akan meminta sesuatu yang tidak akan sangat sulit ia penuhi.
"Tadi itu James Wilson. Dia orang kaya. Beberapa kali berbisnis denganku."
"Terus?"
James meraih telapak tangan Jana dan menggenggamnya erat. "Kita akan banyak uang, kalau kita menerima tawarannya."
"Kita? Maksudmu aku sama kamu?" Jana menelan saliva dengan susah payah.
Joshua mengangguk. Ia menatap Jana lekat.
"Dia minta apa, Josh?" tanya Jana penasaran.
"Dia minta kamu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...