Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 16. Kemarahan Joshua.


__ADS_3

"Josh, Baby? Kamu marah?" tanya Jana hati-hati. Ia merinding melihat mata biru Joshua yang biasanya terlihat indah, kini memerah.


Joshua tidak menjawab. Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Jana dan juga makanan di piringnya.


"Josh!" panggil Jana seraya mengejar langkah suaminya masuk ke dalam kamar. "K-kenapa kamu marah?" tanyanya terbata.


"Kamu tidak usah cerita hal itu sama aku, Jana!" seru Joshua. Ia memang benar-benar marah. Dan hal itu membuat Jana bertanya-tanya, apa yang Joshua pikirkan dengan ceritanya tentang sang mantan kekasih.


"Kamu cemburu?" tanya Jana. Ia yang tadinya hati-hati, kini mulai meninggikan suara.


Brakk


Joshua menendang lemari pakaian dengan keras, hingga engsel pintu copot satu. "Aku tidak suka kamu bicara buruk tentang Risa!"


"Aku lihat sendiri, kok!"


"Jana!" Suara Joshua bagai petir menggelegar di telinga Jana. "Aku bilang aku tidak suka, okay?"


"Kenapa kamu nggak suka? Apa urusannya sama kamu? Katanya udah putus? Kamu masih cinta sama dia?" berondong Jana. Dadanya kembali terasa perih.


Joshua hanya menatap Jana tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan gadis itu. Lalu, ia membuka lemari yang pintunya rusak akibat ditendangnya beberapa saat lalu, dan mengambil pakaian. Ia mengganti kaos dan boxer yang melekat di badannya dengan pakaian yang baru diambilnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Jana.


"I need fresh air," jawab Joshua singkat. Ia menyambar tas dan ponsel barunya di atas meja. Lalu pergi meninggalkan Jana seorang diri di dalam kamar.


Jana terduduk lesu di tepian ranjang. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Hatinya sungguh hancur menyaksikan reaksi Joshua yang di luar dugaannya. Sudah dapat dipastikan kalau Joshua masih mencintai mantan pacarnya itu. Hanya itu kesimpulan yang bisa Jana dapat.


Ia menarik-narik rambut panjangnya keras, lalu memukuli dadanya sendiri sambil terisak-isak. Sungguh perih hatinya saat ini. Ia tidak tahu harus berkeluh kesah dengan siapa. Ia merasa sendirian.


"Loh, loh, Jana, kamu kenapa, Nduk?" Bu Galuh muncul dari balik pintu kamarnya. Terkejut melihat keadaan Jana yang berantakan.


"Jana, jawab Ibu. Kamu kenapa?"


Jana menghambur ke pelukan sang ibu. Tangisnya kembali tumpah hingga air matanya membasahi pakaian ibunya. "Joshua, Bu," rintihnya.


"Joshua kenapa?"


"Dia masih cinta sama mantan pacarnya."


"Hah?" Bu Galuh yang tidak mengerti duduk persoalannya terkejut. "Maksudnya gimana, Jana?"


Jana lalu menceritakan dengan suara terbata-bata dan sesenggukan, apa yang telah terjadi. Dari ia memergoki Joshua bersama Risa, sampai Joshua marah-marah karena ia memberitahukan padanya kalau Risa simpanan pria hidung belang.


"Owalaaah, ngono, to." Bu Galuh manggut-manggut. "Kamu jangan menduga-duga sesuatu yang belum tentu benar, to, Jana. Belum tentu apa yang kamu pikirkan itu nyata."

__ADS_1


"Tapi, Bu ...."


"Sudah, sudah. Hidup berumah tangga memang begitu. Kadang ada perselisihan. Tapi, jangan dibuat serius. Nanti juga akur lagi."


"Jana nggak mau hidup sama orang yang masih mikirin mantan."


"Hush! Kamu jangan asal menuduh. Nggak ada buktinya Joshua masih cinta sama mantannya."


"Itu buktinya!" tunjuk Jana pada pintu lemari. "Jana cerita jelek tentang mantannya aja, Joshua marah sampai ngerusak pintu lemari."


"Dia marah karena kamu tuduh macem-macem."


"Ish! Ibu! Jana nggak nuduh sembarangan, loh. Jana lihat dengan mata kepala sendiri, mantan Joshua dibawa sama om-om."


"Aduhhh, Jana. Wes, to. Ndak usah dibesar-besarkan. Kalau Joshua masih cinta sama mantannya, kenapa dia ngawinin kamu. Coba pikir. Kamu kan ndak cantik-cantik amat, ndak kaya raya juga. Kalau bukan karena suka sama kamu, mana mau dia ngawinin kamu. Pikir!" Bu Galuh mengetuk-ngetuk kepala Jana.


Jana mengerucutkan mulutnya. Yang ibunya katakan ada benarnya juga. Tetapi, tetap saja ia merasa terganggu dengan reaksi Joshua. Ah-sungguh menyebalkan.


"Sudah, sudah. Ndak usah dipikir terlalu njlimet. Pikirin saja warisan Joshua yang sebentar lagi beres. Pikirin hidup kamu yang bakalan bergelimang harta sebentar lagi, Jana. Jangan bodoh, jangan bucin."


Jana mengerutkan keningnya. "Ibu tahu dari mana kata bucin?"


Bu Galuh meringis. "Ya, dari tipi lah, Jana."


Jana mendengus. Ia merasa sedikit lega setelah meluapkan kegalauan pada ibunya. Meskipun solusi perempuan itu cukup aneh baginya. Bayangkan saja, sedang sakit hati, malah disuruh memikirkan warisan.


Joshua mengetuk pintu bercat putih itu keras. Berkali-kali, hingga si empunya rumah muncul. Seorang wanita cantik berpakaian minim, yang terkejut melihat kedatangannya.


"Risa, I need to talk!" Joshua menerobos masuk ke dalam rumah tanpa bisa dicegah oleh wanita bernama Risa itu.


"Josh! Apa lagi, sih? Kita udah bicara seharian kemarin dan katanya kamu udah oke kalau kita putus!" Risa mengikuti Joshua masuk.


"Aku tidak peduli. See? Aku tidak peduli!" teriak Joshua geram.


"Ssstt! Jangan teriak-teriak, Bego! Nanti tetangga pada denger. Dikiranya ada apa-apa."


Joshua mengibaskan tangannya. Pertanda ia tidak peduli apa yang diucapkan oleh Risa.


"Kamu mau ngapain ke sini, Josh?" Risa melipat kedua lengan di depan dada.


Joshua menatap tajam sang mantan kekasih yang masih sangat ia cintai itu. "Kamu masih tidur sama laki-laki tua itu?"


Risa mendecih. "Bukan urusan kamu, Josh!"


"Of course, itu urusanku. Kamu pacarku," erang Joshua.

__ADS_1


Wanita cantik bertubuh sintal itu terkekeh. "Om Kusumo itu kasih aku duit, Josh. Nggak kaya kamu. Bisanya cuma numpang aja. Dasar bule kere!"


Joshua meraih kedua bahu Risa dan meremasnya keras, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Aauch! Lepasin, Josh! Sakit, tahu?!" sentak Risa.


"Cewek matre!" maki Joshua.


"Dih, ngaca, dong, Josh. Kamu juga bule matre!"


Joshua menyeret Risa menuju ke kamar milik gadis itu. Sampai di sana, ia membanting tubuh Risa ke atas ranjang dan menindihnya.


"Lepasin, Josh!"


"No!"


"Kamu mau apa?"


"Make love with you!"


"Aku nggak mau. Kamu kasar banget!"


Joshua tidak memedulikan penolakan Risa. Ia tidak memberi kesempatan pada wanita itu untuk melawan atau bahkan kabur darinya. Sekuat apapun Risa memberontak, Joshua tetap tidak melepaskannya. Ia serang mantan pacarnya itu habis-habisan, hingga Risa pun pasrah. Tidak ada jalan lain kecuali pasrah dan menikmati perlakuan kasar Joshua. Lelaki tampan itu sedang diselimuti rasa cemburu yang membara.


Kini, hanya terdengar lenguhan Risa dan teriakan-teriakannya kini telah berganti menjadi *******. Joshua pun kini melembutkan sentuhannya pada Risa.


Keduanya bergumul tanpa adanya paksaan.


Sebuah pergumulan panas yang terjadi sore itu antara dua insan yang entah disebut apa status hubungan mereka kini.


"Aku tidak bisa terima kamu tidur dengan orang lain," ucap Joshua setelah keduanya selesai dengan aktifitas panas mereka.


"Aku butuh duit, Josh," sahut Risa dengan napas memburu.


"Kenapa kamu tidak sabar? Aku akan dapat warisan sebentar lagi."


Risa mendecak. "Kamu bilang gitu udah dari kapan? Nyatanya?"


"Kenapa kamu tidak sabar saja?"


Risa merotasikan kedua bola matanya. "Terus, kamu kenapa malah nikah sama cewek lain?"


"Kamu usir aku dari sini. Aku tidak punya tempat tinggal. Aku tidak punya uang. Visa-ku habis. Aku butuh tempat tinggal, dan juga butuh sponsor."


"Jadi istrimu itu sekarang kasih kamu hidup, gitu? Emang berapa gajinya? Bukannya dia cuma pegawai minimarket?" Risa menaikkan kedua alisnya yang disulam.


"Pokoknya, posisi Jana hanya untuk buat aku tinggal aman di Indonesia. Kalau aku sudah dapat warisan dari USA, aku cerai sama dia."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2