Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 55. Kembali Ke Kebiasaan Lama.


__ADS_3

Jana mendengus kesal sambil memandang ke arah Risa yang sedang sibuk dengan ponselnya di salah satu meja warung. Wanita itu setiap hari datang, dari pagi hingga sore, menunggui Joshua.


Sebenarnya Jana tidak ada masalah. Namun, saat warung ramai, Jana kekurangan tempat duduk dan ada beberapa pengunjung yang harus antri.


Risa ini memang tidak tahu diri. Ia tidak mau disuruh duduk dapur, atau sekedar membantu. Setiap hari wanita itu datang hanya untuk mengawasi Johsua.


"Josh, aku bukannya nggak suka sama istrimu itu, ya? Tapi, kalau warung lagi ramai, dia bikin kita kekurangan tempat. Apa harus tiap hari dateng, gitu?" protes Jana suatu hari. Jana dongkol sekali melihat tingkah wanita itu.


Sudah datang hanya untuk duduk-duduk sambil berkutat dengan ponsel, pesanannya cuma teh hangat, memakan tempat pula, tentu saja hal itu membuat Jana sebal bukan main.


"Iya, aku akan bilang sama dia nanti," jawab Johsua sambil mengulas senyum. Ia pikir ada faktor kecemburuan di hati Jana, saat ia melontarkan protes terhadap kelakuan Risa.


"Aku ngomong gini bukan karena aku cemburu, ya?" terang Jana. Entah benar, atau tidak. Yang jelas, ia merasa risih dengan kehadiran Risa setiap harinya.


Joshua mengulas senyumnya seraya memandangi punggung Jana hingga menghilang di balik pintu. Ia pun melanjutkan aktifitasnya memasak pesanan pengunjung.


"Sayang, capek, ya?" Risa muncul dari balik pintu dan langsung bergelayut manja pada Joshua.


Joshua yang merasa risih dan terganggu oleh sikap Risa, mendorong pelan gadis itu menjauh. "Risa, aku sedang kerja. Kalau kamu mau, kamu bisa bantu, ya?"


"Sayang, aku ini lagi hamil, kok, disuruh bantu-bantu? Tega banget, sih? Anakmu yang di dalam perut ini yang minta deket terus sama bapaknya!" Risa mengelus-elus perutnya yang masih rata.


Joshua menggaruk kepalanya frustrasi. "Kamu bisa duduk di sana? Jangan duduk di kursi buat pengunjung. Susah nanti kalau sedang banyak antrian."


Risa mendengus kesal. "Pasti mantan kamu itu yang nyuruh, ya? Kenapa, sih, dia? Nggak suka banget sama aku?"


"Bukan begitu, Risa. Jana kan bertanggungjawab atas warung ini. Dia mau semua pengunjung nyaman."


"Jadi, aku bikin pengunjung nggak nyaman, gitu?"


Joshua menghela napas panjang. Berdebat dengan Risa tidak akan ada habisnya. Setiap hari selalu saja ada hal-hal kecil yang memicu perdebatan di antara mereka.


"Bisa kamu duduk di dapur aja? Di sebelah sana." Joshua menunjuk meja dan kursi yang di sudut dapur yang biasanya digunakan untuknya dan Jana makan siang.

__ADS_1


"Kamu tega banget, sih, Josh? Masa aku disuruh duduk di pojokan kaya gitu?"


"Kalau tidak mau, kamu di rumah saja," ujar Joshua, mulai sebal dengan Risa yang keras kepala.


"Biar kamu bisa bebas mesra-mesraan sama dia, kan?"


Joshua menepuk keningnya. "Terserah kamu mau pikir apa!" Ia mengibaskan tangan. Malas meladeni Risa.


"Sayang, kamu, kok, gitu, sih?" Risa merengek sambil memeluk lengan Joshua.


Joshua melepaskan cekalan tangan Risa saat Jana masuk ke dapur. Gadis itu melenggang santai ke arah lemari pendingin, mengambil dua potong daging ayam yang sudah dilumuri bumbu, lalu menyodorkannya ke Joshua. "Ayam goreng dua porsi," perintahnya pada lelaki itu.


"Okay," ucap Joshua.


Jana menatap sinis pada Risa seraya melangkah keluar dari dapur. Perang dingin di antara kedua wanita itu bisa meledak kapan saja, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.


***


Perdebatan kembali terjadi saat Joshua dan Risa sampai di apartemen mereka. Hal itu membuat kepala Joshua rasanya ingin meledak saja. Ia yang lelah seharian bekerja di warung, masih harus ditambah kelakuan Risa yang seenaknya sendiri di sana, kemudian sampai di rumah, perdebatan tiada akhir dengan permasalahan yang sama, masih harus ia hadapi.


"Cari udara segar."


"Mau kencan sama Jana, ya?" tuduh Risa.


Joshua mendecak. Ia hanya ingin minum di bar bersama temannya, Scott. Meskipun ia tidak menolak jika Jana mengundangnya untuk datang ke apartemennya. Tetapi, itu tidak mungkin terjadi. Jana membencinya.


"Terserah kamu mau pikir apa."


"Josh!" sentak Risa. "Kok, gitu ngomongnya? Jadi, bener, ya? Kamu emang mau kencan sama dia?"


"Aku tidak mau kencan sama dia! Aku mau minum dengan Scott, okay?" tegas Joshua kesal.


Risa menggerutu. Ia lalu pasrah melihat kepergian Joshua. Dihempaskannya tubuh seksinya ke atas ranjang. Ia bosan. Setiap hari kegiatannya hanya itu-itu saja.

__ADS_1


Ningsih sudah mengenalkannya pada kelompok Melati; perkumpulan wanita-wanita yang menikah dengan warga lokal, sejak ia menikah dengan Joshua beberapa minggu lalu. Namun, ia belum begitu nimbrung dengan para wanita itu, karena dirinya merasa belum memiliki amunisi yang cukup.


Kebanyakan anggota kelompok Melati memiliki suami-suami yang kaya raya. Barang-barang yang mereka pakai saat gathering pun semua branded. Sementara Risa, ia hanya membawa beberapa barang branded yang ia beli sewaktu masih di Indonesia dulu, hasil dari menjadi peliharaan para sugar daddy.


Mengingat kehidupannya dulu di Jogja, sepertinya ia harus menyusun strategi untuk mencari pria-pria kaya di Manhattan. Karena, mengandalkan Joshua saja tidak akan cukup.


Apalagi, Joshua mengatakan kalau ia hanya menerima sedikit warisan saja dari orang tuanya. Warisan yang ia belikan apartemen kecil, dan apartemen itu ditinggali oleh Jana.


Ia sudah sering protes pada Joshua untuk mengusir Jana dari sana, lalu menjual apartemen itu untuk membantu uang sewa apartemen yang sedang mereka tinggali itu, namun, Joshua selalu menolak untuk mengusir Jana dari sana.


Hal itu juga yang memicu pertengkaran antara dirinya dan Joshua.


"Ning, aku bosen banget hidupnya gini-gini mulu di sini," keluhnya pada Ningsih, saat ia berkunjung ke apartemen sahabatnya itu.


"Emang kamu mau ngapain?" tanya Ningsih.


"Kaya dulu lagi lah, waktu masih di Jogja. Nyari sugar daddy," kekeh Risa.


"Serius?" Ningsih menatap Risa penuh selidik.


"Serius lah," sahut Risa. "Oh ya, inget cerita ibu-ibu Melati tentang Jana, nggak? Dia ada affair sama suaminya Mbak Atmini."


"Ya, inget, lah. Itu kan sempet jadi trending topic."


Risa mengelus dagunya. "Emang suaminya Mbak Atmini kaya raya, ya?"


"Yang aku lihat, sih, emang kaya raya. Minggu depan, deh, kan gilirannya kumpul di rumah dia, tuh. Kamu lihat aja sendiri."


Risa mengangguk-angguk. "Eh, si Atmini itu pake pelet apa, sih? Kok bisa, ya, dapet suami kaya raya gitu? Padahal, tampang dia kan, maaf-maaf, pas-pasan," julidnya.


"Tapi, udah tua emang suaminya, kok," sahut Ningsih.


"Owhh!" Kembali Risa mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Kenapa nanya gitu, Ris? Kamu minat?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2