
"Cari tempat jalan-jalan lain." Joshua menggandeng tangan Jana menuju mobil tuanya yang terparkir di samping pintu masuk pasar.
"Serius?" tanya Jana dengan mata berbinar.
Joshua mengangguk. "Aku juga butuh udara segar."
"Ayo!" sahut Jana bersemangat. "Ke mana?"
"Kerry Park."
"Okay," kata Jana mengiyakan. Meskipun selama ini ia belum pernah ke tempat yang disebutkan oleh Joshua.
Joshua melajukan mobilnya masuk ke jalan utama. Sesekali ia melirik Jana yang tampak begitu bahagia. Diraihnya tangan kiri Jana, lalu digenggamnya erat. Sedang satu tangan Joshua menjaga kemudi.
Sampai di tempat yang dituju, keduanya disuguhi pemandangan taman di depan sungai Hudson yang menyegarkan mata. Meskipun pepohonan didominasi warna abu-abu, namun, tetap terlihat menakjubkan.
"Bagus banget pemandangannya," ucap Jana seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Maaf, ya, aku tidak pernah bawa kamu ke tempat-tempat seperti ini." Joshua mengajak Jana duduk di sebuah bangku panjang kosong.
Joshua duduk di sebelah Jana yang tengah menikmati pemandangan taman.
"Nggak papa. Ini kan lagi ke sini," kekeh Jana.
"Sudah lama aku tidak menikmati suasana seperti ini layaknya manusia normal," ucap Joshua sembari merenggangkan otot-ototnya dan menghirup udara dingin.
"Hidup itu indah, ya, Josh."
"Kamu benar, Jana. Hidup memang indah. Hanya saja, kadang kita tidak menyadari keindahan di sekeliling kita." Ia menoleh ke arah Jana. Senyum gadis itu tidak pernah menghilang dari bibir tipisnya.
Melihat Jana yang begitu gembira, dada Joshua tiba-tiba terasa nyeri.
"Kenapa gitu?" tanya Jana.
"Karena, banyak orang yang tidak mau membuka mata pada hal-hal indah yang ada di dekatnya. Jadi, mereka mencari jauh. Contohnya aku, yang tidak pernah memperhatikan hal indah di sampingku ini."
Jana terbahak. "Hal indah di samping kamu? Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri.
Joshua mengangguk sembari tersenyum. "Maafkan aku, ya, Jana. Aku banyak bikin kamu susah."
Jana memiringkan kepalanya. Ia meneliti wajah suaminya yang tampak serius. Jana bisa melihat adanya kejujuran dalam ucapan Joshua.
__ADS_1
Joshua menarik nafas dalam-dalam. "Aku terlalu egois."
Jana meraih tangan Joshua dan menggenggamnya. "Aku nggak butuh kamu bilang kamu nyesel atau gimana. Aku cuma pingin kita lihat ke depan. Masa depan, Josh."
"Beri aku waktu untuk menata semua, ya, Jana."
"Apapun itu, Josh. Asal baik, lakukan saja."
Joshua membelai rambut panjang Jana. Lalu, punggung tangannya mengelus pipi gadis itu. Tatapan mata birunya begitu intens.
Kemudian Joshua menangkup kedua pipi Jana, lalu memagut bibir mungilnya lembut.
Lagi dan lagi.
***
Jana menghambur ke pelukan Joshua, memagut bibirnya, mendorong dada kokohnya pelan dan mendesaknya ke dinding.
Joshua tak mau kalah, dia mencekal lengan Jana, melingkarkannya di leher, lalu memutar posisi mereka hingga kini Jana-lah yang terdesak ke dinding.
Dia menghujani leher gadis itu dengan kecupan-kecupan ringan. Kedua tangannya mengelus pinggang Jana lembut, lalu naik ke punggungnya.
Entah bagaimana, keduanya kini telah berada di atas ranjang, di kamar mereka yang beberapa waktu terakhir begitu dingin. Keduanya saling melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Bibir keduanya kembali bersatu. Saling menyerang dengan gigitan-gigitan kecil di sela-sela pagutan. Joshua mendorong pelan tubuh Jana hingga punggungnya menempel di atas ranjang. Joshua menatap wajah manis itu lekat.
"Allow me to go inside you," bisiknya seraya mengecup leher Jana dengan sangat lembut.
Jana mengangguk. Rasanya ia ingin menangis mendengar permohonan izin yang terucap dari bibir Joshua. Pertama kalinya, sang suami memperlakukannya bagai seorang ratu.
"Aku sayang kamu, Jana."
Mata Jana berkaca-kaca. Ini adalah penyatuan mereka yang paling mengharu biru. Rasanya semua beban yang ada di dalam dada Jana, menguak seketika. Lenyap.
Bukan napsu yang mendominasi. Namun kasih sayang yang membuncah, hingga keduanya menggapai puncak bersama-sama.
Jana mengelus dada telanjang Joshua dan membuat pola-pola acak di sana.
"Sayap kelelawar, apa maksudnya?" Jana mengelus tattoo yang memenuhi dada Joshua. Selama ini ia tidak terlalu memperhatikan ukiran di tubuh suaminya itu.
"Ini sayap Lucifer. Aku suka saja."
__ADS_1
"Oh." Jemari Jana kembali bergerak menelusuri bagian-bagian tubuh Joshua yang terukir tattoo di sana. "Kalau ini?" Jana menyentuh lengan kiri Joshua. "Binatang apa ini? Serem."
Joshua terkekeh. "Namanya Barghest. Anjing raksasa dengan gigi dan cakar besar. Binatang mitologi dari Inggris Utara. Dia beringas, tanpa ampun ketika menghabisi musuh - musuhnya. Mungkin terkadang itu menggambarkan kepribadianku."
"Hmmm ...." Jana menggumam. "Kalau yang dipunggung?"
"Jaguar, kan? Masa kamu tidak tahu?" kekeh Joshua seraya mengacak kepala Jana.
Kini dia mengelus perut Joshua yang rata dan kokoh. Ada bekas luka yang sepertinya sudah lama. Sungguh aneh, selama ini ia tidak pernah memperhatikan bekas luka itu di sana.
"Aku belum pernah cerita detail masa laluku sama kamu, ya?"
Jana merubah posisinya. Kini tubuhnya telah berada di atas dada Joshua. Kedua lengannya dia silangkan di bawah dagunya.
"Udah pernah, tapi nggak banyak. Ayo, dong, sekarang cerita detailnya," pinta Jana.
"Hmmm ...." Joshua mengelus bahu Jana lembut. Setelah menarik napas beberapa kali, Joshua menceritakan semua yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Tidak ada satupun yang ia sembunyikan. Kecuali satu. Keberadaan Risa dan calon anak mereka dalam kandungan wanita itu.
Jana mendengarkan cerita Joshua dengan seksama. Ia merasa iba dengan Joshua. Sejujurnya Johsua bukan orang jahat. Ia terjebak situasi yang sulit. Yang memaksanya untuk berbuat nekat.
"Josh ...."
"Ya?"
"Aku ingin membentuk keluarga normal. Keluarga kecil yang bahagia. Meskipun pekerjaanmu nggak bagus, aku nggak akan menuntut, asal apa yang kamu kerjakan bukan hal yang berbahaya."
"Iya, aku tahu. Tapi, apa yang bisa aku kerjakan di sini? Semua pekerjaan membutuhkan skill dan pengalaman yang bagus. Sedang aku?" kekeh Joshua.
Jana mengelus dagunya. "Gimana kalau kamu kerja di warung aja?" tawar Jana.
"Warungmu dan Mira?" tanya Joshua.
"Ya. Kamu bisa coba dulu, Baby. Kalau tidak cocok, tidak apa-apa."
Joshua mengangguk-angguk. "Aku bisa coba," ujarnya.
Mata Jana berbinar mendengar jawaban Joshua. Ia mengecup bibir suaminya itu sekilas. "Aku sayang banget sama kamu, Josh. Aku selalu punya mimpi kalau hidup kita akan bahagia suatu hari nanti."
Joshua mengelus punggung polos Jana. Lalu mengecup keningnya beberapa kali. Selanjutnya, ia peluk tubuh mungil itu erat-erat. Nyaman. Sungguh nyaman.
Ia tidak pernah menyangka, berdekatan dengan Jana akan setenang ini. Jana bagai obat kegundahan hati. Sayangnya, obat yang sudah ada di tangan, justru ia sia-siakan.
__ADS_1
Hatinya menjadi lemah sekarang. Kebingungan melandanya. Ia berada diantara dua pilihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...