Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 42. Dilabrak.


__ADS_3

Dua bulan lamanya, satu kali dalam satu minggu, Jana menjalani kesepakatannya dengan James. Lelaki itu pun memang benar-benar tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya menemani minum dan mengobrol. 


Namun, suatu hari, saat Jana berkumpul dengan kelompok Melati, Atmini datang dengan wajah merah marah. Tanpa mencoba untuk mengkonfirmasi terlebih dahulu pada Jana, Atmini melabrak Jana di depan semua anggota kelompok Melati.


"Dasar kamu cewek nggak bener! Pelakor!" maki Atmini sambil menjambak rambut Jana.


Tidak ada yang melerai, mereka justru menikmati pertunjukan yang menurut mereka seru itu.


"Si Jana ini tidur sama suami aku, kalau kalian mau tahu!" tunjuk Atmini.


"Cewek nggak bener ini. Aku nggak mau, ya, dia mengotori nama kelompok Melati. Lagi pula dari awal aku udah nggak cocok sama dia. Begini ini ...."


Tidak terhitung sudah berapa caci maki yang disematkan Atmini pada Jana. Sementara Jana hanya menunduk. Sebabnya, mungkin semua yang diucapkan Atmini benar adanya. 


"Lihat, tuh! Nggak ada pembelaan, kan? Kamu itu kan udah punya suami. Bisa-bisanya kamu tidur sama suamiku?!"


"M-maaf, Mbak Atmi."


Atmini meludah dengan sengit. "Dasar gatel. Matre. Makanya kalau cari suami bule itu jangan yang kere. Jadinya kaya gini, ngembat laki orang!"


Para wanita itu saling berbisik. Mereka ikut menatap sinis pada Jana. Termasuk Yola yang biasanya paling ramah padanya. Tentu ia tidak sudi lagi berteman dengan gadis itu.


Setelah peristiwa pelabrakan yang memalukan itu, Jana secara resmi dikeluarkan dari kelompok Melati. Dan, akses bisnis kecil-kecilan Jana otomatis ditutup dalam circle mereka.


"Ya, ampun, Jana ...." Mira menepuk keningnya saat Jana menceritakan semuanya pada sang sahabat. "Kok, kamu nggak bilang, sih? Meskipun aku nggak bisa bantu banyak, paling nggak bisa kasih masukan."


"Aku panik, Mir. Nyawa Joshua, tuh, terancam."


"Kenapa nggak mati aja sekalian?!" ujar Mira geram.


"Jangan, dong, Mir. Ntar aku gimana?"


"Kamu bakalan baik-baik aja!" tegas Mira. "Nyadar, nggak, kamu, Jan? Joshua itu toxic!"


Jana menghela napasnya pelan dan berat. "Aku nggak tahu, lah, Mir. Aku bingung." Ia meremas wajahnya hingga memerah.


"Pelanggan kita otomatis berkurang, Jan. Mereka pasti tutup akses kita di circle mereka."


"Maaf, ya, Mir."


Mira menggeleng. "Aku nggak papa. Yang aku pikirin, tuh, kamu, Jan." Ia pun menghela napas berat. "Ya, udah, lah. Udah terlanjur juga. Kita cari pelanggan lain lagi aja."


Jana mengangguk. Mira memang selalu mengerti kondisinya dalam hal apapun. Bahkan, Mira yang sangat membenci Joshua pun selalu memaklumi dirinya.


***


Jana memperhatikan raut wajah Joshua yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tidak tahu apa yang dilakukan suaminya itu selama hampir dua jam di kamar mandi, yang jelas, mata Joshua tampak memerah. Wajahnya kusut dan rambutnya berantakan.


"Kamu nggak papa?" tanya Jana. Ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan gerak-gerik Johsua yang tampak seperti orang kebingungan.

__ADS_1


Joshua terkekeh. Sekelai ia menyugar rambutnya. Ia berjalan mondar-mandir di depan Jana. Meskipun wajahnya terlihat kusut, namun ia terlihat gembira.


"Jana, boleh tanya sesuatu?" tanya Joshua sembari menghembaskan bokong di samping Jana.


"Apa?" Jana mengerutkan kening.


Joshua merangkul bahu Jana, kemudian mencium pipi istrinya itu. Tentu saja Jana terkejut dengan sikap Joshua yang tiba-tiba begitu manis.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Jana.


"Aku senang."


"Kenapa?"


"Senang saja. Ah, tadi aku mau tanya sesuatu sama kamu. Gimana kemarin?"


"Kemarin apa?" tanya Jana sambil menatap miring pada Joshua.


"Kamu dengan James."


Mata Jana membulat. Gadis itu langsung membuang mukanya. "Aku nggak mau ngomongin itu!"


"Kenapa?"


"Josh!" sentak Jana.


"Kamu lagi kenapa, sih?" tanya Jana keheranan.


"Aku bilang aku sedang senang."


"Iya, senang kenapa? Orang senang pasti ada alasannya, Josh." Jana memandang Joshua penuh selidik.


"Aku tidak tahu." Joshua terkikik. Sementara Jana memutar bola matanya.


Namun, Jana merasa hatinya menghangat dengan sikap Joshua yang sangat berbeda dari biasanya.


"Maafkan aku, ya, Jana. Aku sudah banyak buat kamu susah." Joshua meraih kepala Jana dan membenamkannya di pelukan. Tangannya pelan mengelus kepala Jana.


Jana mengaitkan tangan melingkari pinggang Joshua. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bersentuhan fisik dengan suaminya itu.


"Aku sayang banget sama kamu, Josh," ucap Jana.


Joshua menanggapinya dengan kekehan. Ia mengacak ujung kepala Jana gemas. "Aku juga sayang sama kamu."


Jana mengulas senyumnya. Andaikan saja kehangatan ini terjadi setiap hari, alangkah bahagianya Jana. Namun, ia tidak yakin jika esok hari Joshua masih akan bersikap sama.


"Josh," panggil Jana.


"Hmm?"

__ADS_1


"Kamu bisa nggak cari kerjaan yang benar?"


"Susah, Jana. Masa laluku tidak baik. Aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan normal seperti orang lain."


Jana menghela napasnya berat. "Kaya apa, sih, masa lalumu?" tanyanya. Ia memang tidak tahu apapun tentang masa lalu Joshua. Dan Joshua pun tidak pernah mau menceritakan padanya.


"Aku pernah dipenjara karena kasus pembunuhan."


Jana terkesiap. Ia memberi jarak dirinya dengan Joshua. "Sungguh?" tanyanya.


Joshua mengangguk. "Ya. Tapi aku tidak membunuh siapapun. Aku dituduh membunuh." Ia lalu menceritakan tentang Megan, calon bayi mereka, dan juga kematian Megan yang ada hubungannya dengan musuhnya dulu di dunia gangster.


"Ya, ampun." Jana menutup mulutnya. "Kasihan banget."


"Ya, begitulah." Joshua mengulas senyumnya.


"Kalau Risa?" tanya Jana. Perempuan itu yang paling membuatnya cemburu.


Joshua menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Risa ...." Ia pun akhirnya menceritakan siapa Risa yang sebenarnya.


Kali ini, dada Jana bergemuruh menahan rasa cemburu. Rasa cemburu yang membuatnya tiba-tiba merasa ingin menerkam Joshua seketika.


"Woo, woo!" Joshua terpekik mendapat serangan mendadak dari Jana. "Liar sekali," kekehnya.


Jana tidak memedulikan reaksi Joshua. Ia merasa begitu ingin bersatu dengan suaminya itu. Rasa di dalam dadanya begitu menggebu-gebu. Ini pertama kalinya Jana mendominasi permainan ranjang mereka, selama setahun mereka menikah.


Tentu saja Joshua tidak menolak perlakuan Jana. Bagai kucing yang diberi daging, Joshua pun menerkam balik umpan yang disodorkan oleh Jana.


Pergumulan panas pun terjadi. Ranjang yang biasanya dingin kini membara. Suara-suara cinta keduanya memenuhi kamar sempit itu.


"Apa Risa seliar ini?" tanya Jana di sela-sela lenguhannya.


"Kenapa harus bicarakan Risa?" Joshua bergerak sesuai ritme geliat tubuh Jana.


"Karena aku pingin tahu, gimana kamu memperlakukan Risa di atas ranjang."


"Kamu ingin tahu?"


"Aku pingin tahu banget."


Joshua membalik posisi Jana yang tadinya saling berhadapan, kini ia menerjang gadis itu dari belakang. Tepukan pada bagian bulat milik Jana yang terpampang di depan matanya.


Plakk


"Begini aku memperlakukan Risa," engah Joshua.


Jana pun membalas perlakuan Joshua dengan tidak kalah liarnya. Malam itu menjadi malam yang begitu panas dengan gairah yang membara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2