Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 24. Persiapan Pergi Ke Amerika.


__ADS_3

Jana berhenti dari pekerjaannya karena harus mengurus segala sesuatunya tentang kepindahannya ke Amerika mengikuti Joshua. Dan untuk biaya mengurus semuanya, sebidang tanah persawahan milik keluarganya kembali dijual.


Sekitar hampir dua bulan lamanya Jana mengurus segala sesuatunya, dan minggu ini adalah minggu terakhir ia menghirup udara kampung halamannya.


Sedih, namun bahagia. Sedih karena harus meninggalkan keluarganya. Bahagia, karena Jana akan tinggal di tempat baru, yang mungkin akan sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya saat ini.


Ya. Negara orang, dengan gaya hidup yang tentu saja akan sangat berbeda. Dan Jana hanya seorang gadis polos dari kampung yang tidak memiliki pengalaman apapun hidup di perantauan.


Jana memasrahkan semuanya ada Tuhan dan juga Joshua. Karena Joshua-lah yang akan menjadi penanggungjawabnya di sana. Tentu, hati Jana merasa was-was. Ia tidak begitu yakin apakah Joshua akan baik padanya, atau sebaliknya.


"Sudah beres semuanya belum, Jana?" tanya Bu Galuh sore itu.


Jana yang sedang menata baju-bajunya di dalam koper besar, menghela napas panjang. "Tinggal baju-bajunya, Bu."


Bu Galuh mendorong pintu kamar Jana dan melangkah masuk, lalu berjongkok di depan putrinya itu. "Duh, ibu kok sedih, ya. Nanti cuma tinggal Ibu sama bapakmu saja di rumah ini."


Jana tersenyum. "Jangan sedih, Bu. Doain aku di sana baik-baik aja."


"Ya, pasti itu, Jana. Cuma, ibu rasanya bakalan kesepian ndak ada kamu."


Jana mengelus punggung tangan perempuan yang telah melahirkannya itu. "Aku juga pasti akan kesepian nggak ada Ibu. Terus, nggak bisa denger Ibu berdebat sama Yu Prapti lagi," kekehnya.


Bu Galuh meloloskan tawanya. "Itu, sih, memang dia yang mulai duluan," ujarnya.


"Sama aja kali," gelak Jana.


Bibir Bu Galuh mengerucut. "Ndak lah, tetep dia yang suka nyari-nyari masalah. Ibu kan kalem."


Jana hampir saja tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Bu Galuh. "Iya, iya, kalem, Bu," timpalnya. "Apa lagi, ya, yang harus aku bawa?" Ia memeriksa pakaian-pakaian di dalam koper sekali lagi.


"Jaket yang tebel-tebel itu sudah belum? Di sana kan dingin katanya."


Jana mengangguk-angguk. Memang, kedatangannya di Amerika akan disambut cuaca dingin yang ekstrim. Kata Joshua, bulan Januari ini saljunya biasanya sangat tebal. Sering terjadi badai salju juga di New York.


"Minyak kayu putih, jangan lupa. Biar tetep hangat."

__ADS_1


Jana terkikik. "Tetep, ya, orang Indonesia. Minyak kayu putih nggak boleh ketinggalan."


"Loh, iya, dong. Oh ya, mau bawa sambel, ndak? Nanti ibu pesenin ke Bu Lurah. Dia jualan macam-macam sambel, loh, Jana."


"Aduh, nggak usah, Bu."


"Loh, ndak papa. Siapa tahu kamu pingin makan nasi sama sambel ati, sambel cumi, sambel pete."


"Aduh, pete jangan lah, Bu. Bau nanti."


"Yowes, pesen sambel ati sama cumi yang botolan itu, ya. Kan bisa disimpen itu."


"Iya, Bu."


Bu Galuh membantu Jana menata pakaian di dalam koper yang menurut perempuan itu kurang rapi, diselingi canda tawa yang hangat dari ibu dan anak itu.


***


Joshua sebenarnya enggan menemui Risa siang itu. Namun, wanita itu memohon-mohon padanya untuk bertemu. Dan di sanalah-rumah Risa, kini Joshua berada.


Risa duduk lesu di seberang Joshua. Kepalanya tertunduk. Wajahnya memperlihatkan sebuah penyesalan.


"S-serius?" tanya Risa terbata.


"Ya. Aku pulang ke New York sama istriku."


Risa menelan salivanya. Rasa sesalnya kian menjadi-jadi. Seharusnya dirinyalah yang ikut bersama Joshua pulang ke negaranya.


"Aku ... aku nyesel, Josh," ucap Risa. Dari raut wajah cantiknya, ia memang terlihat begitu frustrasi. Ia menyesal menyia-nyiakan lelaki tampan di hadapannya ini. Bukan hanya karena Joshua sudah mendapatkan warisan keluarganya, namun, melihat Joshua yang begitu marah dan memukuli Farhat-lelaki yang tertangkap basah oleh Joshua tidur dengannya, hatinya luluh.


Joshua begitu mencintainya. Meskipun dengan keterbatasan yang ia miliki. Namun, Risa begitu dibutakan oleh materi. Menjajakan tubuh indahnya untuk mendapatkan penghidupan yang layak; menurutnya.


"Bagus, kalau kamu menyesal," timpal Joshua.


"Terus, kita nggak bisa balik, gitu?"

__ADS_1


Joshua mengelus dagunya seraya memindai seluruh tubuh Risa yang sintal. Memang menggiurkan. Ia juga masih menyayangi wanita itu. Namun, sikap Risa yang telah menyakitinya, Joshua merasa malas jika harus terlibat asmara kembali dengannya.


"Kamu sudah tolak aku. Untuk apa kamu minta balik?"


"Aku nyesel, Josh. Sumpah."


Joshua menggeleng. "Aku bilang aku mau pulang ke New York, aku bawa Jana. Aku pikir kita tidak bisa bersama lagi."


Hati Risa bagai disayat sembilu. Perih bukan main. Seharusnya dirinya yang berada di posisi Jana saat ini. Dibawa Joshua ke negaranya dan hidup glamour di sana.


Tapi, penyesalan memang selalu ada di akhir.


Risa berusaha mengontrol perasaannya yang kacau balau. Ia merutuki diri sendiri. Ia perempuan yang selalu haus belaian lelaki. Dan selama ini, satu lelaki saja tidak cukup.


Joshua sudah sangat mengerti akan tabiatnya. Meskipun ia juga membatasi dengan siapa-siapa Risa berhubungan, di luar hubungan asmaranya dengan Joshua.


Namun, kesabaran manusia tentu ada batasnya.


Risa menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya Joshua lekat. Jika memang tidak bisa kembali pada lelaki ini, maka ia akan membuat sebuah kenangan indah terakhir dengan Joshua.


"Kamu mau apa?" tanya Joshua saat Risa berjalan ke arahnya dengan gerakan menggoda.


Risa membisu. Ia menjawab dengan gerakan-gerakan erotis yang membuat mata Joshua terbelalak. Pelan ia naik ke atas pangkuan Joshua seraya meloloskan tali tank top di bahunya. Kini, bagian atas tubuhnya telah terekspos di depan mata Joshua.


"Sekali lagi. Sentuh aku, Josh. Aku ingin membuat kenangan indah untuk terakhir kalinya sama kamu," bisiknya seraya meraih tangan Joshua dan meletakkannya di atas puncak dadanya.


Risa menggeleng saat Joshua hendak menolak melakukan permintaannya. "Sekali ini aja, Josh, please. Terakhir," pinta Risa dengan mata berkaca-kaca.


Joshua menghembuskan napasnya pelan. Lelaki mana yang tidak tergoda jika disuguhi tubuh molek seperti itu. Naluri kelelakiannya tentu bangkit. Ia pun pasrah saat tangan Risa membantunya melepaskan kaos yang menutupi dada kokohnya.


Sentuhan Risa benar-benar memabukkan. Sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Hari ini, ia bisa merasakan jika Risa melakukannya dengan sepenuh hati. Penuh cinta dan kasih sayang.


Bibir mereka saling berpagut dan saling menyerang. Sementara di bawah sana, keduanya telah bersatu, dalam posisi Risa yang berada di atas pangkuannya.


Punggung, pinggang dan leher mulus Risa menjadi sasaran jemarinya bergerilya. Sungguh siang yang panas, meskipun di luar tampak mendung.

__ADS_1


Joshua benar-benar mengingat moment itu sebagai percintaan terindah dengan wanita yang pertama kali mengisi hatinya di negeri asing ini. Karena esok hari ia sudah tidak akan melihatnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2