Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 21. Menangkap Basah Risa.


__ADS_3

Joshua turun dari taksi di depan rumah mungil bercat putih. Keningnya mengerenyit saat melihat sebuah sedan yang terparkir di halaman.


Ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, dan iseng menekan handlenya. Rupanya pintu tidak dikunci oleh Risa. Joshua pun bergegas menuju kamar pacarnya yang pintunya sedikit terbuka.


Lalu, pemandangan yang membuatnya shock pun terpampang di depan mata. Risa, dengan tubuh polosnya, tidur di pelukan seorang lelaki yang juga tidak mengenakan sehelai benang pun.


Lelaki itu bukanlah Om Kusumo. Sugar Daddy yang membuat Joshua cemburu beberapa minggu terakhir.


"Brengsek!" teriak Joshua, seketika membangunkan kedua insan yang sedang terlelap dalam kehangatan tubuh satu sama lain.


Risa membelalakkan mata dan langsung menutupi badannya dengan selimut. Si lelaki yang sedang memeluknya itu pun tidak kalah terkejutnya. Wajahnya tampak gugup, merasa sudah tertangkap basah. Melihat ekspresi wajah Joshua yang begitu angker, ia menduga, bahwa lelaki bule itu pacar Risa.


"Kamu ngapain ke sini, Josh?!" Risa yang sudah terlanjur tertangkap basah, menghardik Joshua.


Joshua hanya menggeleng. "Bi tch!" makinya marah. Ia sudah gelap mata. Tanpa pikir panjang, dicengkeramnya lengan si lelaki dan diseretnya dari ranjang.


Tidak puas dengan itu, ia pukuli lelaki itu dengan membabi buta. Ia tidak peduli teriakan Risa yang berusaha mencegahnya untuk berhenti memukuli si lelaki yang sudah terkapar di lantai dengan wajah berlumuran darah.


"Kamu bisa dipenjara, Josh!" Risa meraih lengan Joshua yang hendak melanjutkan menghajar si lelaki yang tampaknya sudah tidak berdaya.


Joshua menarik lengannya dengan keras dari genggaman tangan Risa, lalu mendorong wanita itu hingga terjatuh ke atas ranjang.


"Aku udah bilang sama kamu kalau kamu nggak boleh ikut campur urusanku, Josh!" erang Risa membela dirinya.


"Aku juga bilang sama kamu untuk sabar!" tunjuk Joshua ke wajah Risa. Ia geram bukan main, ingin rasanya mencabik-cabik tubuh wanita itu. "Kamu tahu, hari ini aku ingin kasih kamu kabar kalau uangku di USA akan segera tiba. Tapi ...." Joshua mengibaskan kedua tangannya. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Rasanya sudah cukup Joshua bersabar menghadapi kelakuan Risa yang seenaknya sendiri, tanpa pernah mengerti bagaimana perasaannya.


Sementara Risa, saat mendengar Joshua menyinggung tentang uang warisan yang selama ini bule itu gembar-gemborkan padanya, seketika menunjukkan wajah penuh penyesalan.


"Josh, maafin aku, aku salah. Iya, aku udah buat kamu sakit hati. Maafin aku, Josh." Risa bersimpuh di kaki Joshua, meminta pengampunan.

__ADS_1


Joshua menggeleng. Ia merasa begitu bodoh selama ini. Reaksi Risa saat mendengar kabar tentang uangnya, benar-benar menjijikan. Risa tidak tulus padanya.


"Catat semua yang sudah kamu kasih sama aku, ya? Aku akan kembalikan segera." Joshua menarik kakinya dari pelukan Risa. "Aku sudah menyerah sama kamu!" tegasnya.


"Josh! Josh! Please, jangan pergi, Josh! Aku cinta kamu, Josh!" teriak Risa sambil mengejar langkah Joshua keluar dari kamar.


***


Jana berkutat dengan ponselnya, berselancar di internet, mencari tutorial menjauhkan suami dari mantan yang masih berkuasa di hati. Sudah hampir satu jam Jana menjelajah banyak situs, namun inti solusinya rata-rata sama. Bersabar dan selalu memberi perhatian pada suami.


Berat. Jika dalam keadaan cemburu seperti saat ini, mana mungkin ia mau memberi perhatian pada Joshua. Harus berbasa-basi dan terlihat manis di depan suaminya itu. Rasanya Jana tidak sanggup.


"Ambil hati suami melalui perut." Jana membaca sebuah judul artikel di salah satu situs yang ia temukan. Namun, artikel itu tidak ada hubungannya dengan tema sebelumnya.


"Dari mulut turun ke perut, dari perut, naik ke hati," gumam Jana.


"Berarti harus rajin belajar masak, dong," ucap Jana bermonolog. Padahal dirinya tidak mahir memasak sama sekali.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar yang tertutup. Tadi pagi, Joshua hanya pergi sebentar saja. Tidak lebih dari satu jam rasanya. Joshua pulang dengan wajah murung dan entahlah, Jana tidak bisa menggambarkan bagaimana ekspresi wajah Joshua sepulang dari---tempat mantan pacarnya, mungkin.


"Masak apa, Jana?" tanya Bu Galuh sore itu saat Jana sedang berkutat di dapur.


Jana yang sedang merebus kentang sambil menonton video tutorial memasak di ponselnya, terkekeh. "Kentang Thyme Scrembled Egg With Cheese, Bu."


"Haduhh, Ibu ndak ngerti," keluh Bu Galuh. "Tumben, mau masak? Biasanya juga males-malesan."


Jana meringis. "Biar Joshua seneng. Katanya, suami bakal makin cinta kalau dikasih makanan enak."


"Oow, ya, betul itu. Bapakmu saja begitu."


Jana mencebik. Ibunya memang suka melebih-lebihkan. Rasanya, reaksi ayahnya selama ini biasa-biasa saja terhadap masakan ibu.

__ADS_1


"Oh, ya, Jana, Joshua sakit, ya? Seharian ndak keluar kamar."


"Nggak tahu, Bu."


"Lah, piye, to? Kamu istrinya malah ndak tahu."


Bibir Jana mengerucut. "Tadi pagi waktu pulang, Joshua lagi nggak bisa diganggu kayaknya, Bu. Jadi, biarin aja dulu."


"Lagi kenapa, ya, mantu Ibu yang paling


ganteng itu?" Bu Galuh mengelus dagunya.


"Ntar kalau masakanku udah jadi, tak anter ke kamar, deh."


"Iyoo, jangan lupa sisain buat Ibu, ya? Ibu kan pingin nyicip masakan apa namanya tadi, susah banget namanya, Jana," keluh Bu Galuh.


Jana terbahak. Hatinya mulai tenang. Kegalauan yang ia rasakan berangsur-angsur hilang. Selain untuk menyenangkan suami, kegiatan masak-memasak rupanya mampu membuat hatinya senang.


Jana anggap ini sebagai terapi untuk kesehatan jiwanya.


Selesai membuat kentang telur orak-arik dengan keju, Jana menyiapkan masakan perdananya itu di atas piring paling cantik yang ada di dapur. Lalu, dengan hati berdebar ia masuk ke dalam kamarnya untuk menemui Joshua.


Di dalam kamar, Joshua tengah tertidur lelap. Jana meletakkan piring di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Joshua yang terlihat damai.


Matanya menelusuri punggung kokoh suaminya yang terukir tattoo bergambar binatang mirip singa yang sedang melompat. Seksi sekali. Jana pun menelan ludahnya.


Terkadang Jana tidak percaya kalau suaminya itu orang asing yang begitu tampan. Rahang kuat, hidung mancung dan mata biru. Nyaris sempurna.


Jana sudah jatuh cinta dengan Joshua sejak beberapa hari pernikahan mereka. Hatinya telah terikat pada lelaki bule asal Amerika Serikat itu. Apapun yang ia lakukan untuk Joshua, meskipun harus bersusah payah, ia ikhlas atas nama cinta.


Meskipun, Jana tidak tahu, apakah Joshua merasakan hal yang sama padanya. Mungkin saat mereka melakukan hubungan suami-istri, Joshua tidak melibatkan perasaannya. Mungkin saja.

__ADS_1


Jana tidak peduli. Ia sudah terlanjur jatuh hati dengan lelaki yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2