Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 11. Saingan Iuran.


__ADS_3

Joshua menghampiri Jana yang sedang membersihkan wajah di depan meja riasnya. Ia terus menyunggingkan senyuman manis untuk sang istri yang memandangnya heran dari pantulan cermin.


"Jana, Baby," bisik Joshua sambil menciumi leher Jana.


"Geli, ih, Baby," keluh Jana seraya merapatkan leher dengan bahunya. Bulu romanya meremang mendapatkan sentuhan lembut dari bibir Joshua. "Mau lanjutin yang tadi sore kah?" tanyanya dengan dada berdebar.


Joshua terkekeh. "Kalau kamu menginginkannya."


Jana tertunduk malu. "Aku beresin barang-barangku dulu," ucapnya malu-malu sambil membersihkan meja riasnya yang sedikit berantakan dengan kapas kotor dan pembersih wajah serta cream malam.


"Aku tunggu di atas tempat tidur, Baby."


Jana terkikik lirih mendengar kata-kata Joshua yang masih terdengar begitu formal.


Maklum, suaminya ini masih dalam tahap belajar bahasa Indonesia.


Setelah selasai membereskan meja rias, Jana terkejut menyaksikan pemandangan di atas ranjangnya. Joshua berbaring di sana tanpa sehelai benang pun. Tampak sesuatu yang selalu membuatnya merinding sudah berdiri tegak sela-sela kedua pahanya.


"Kemari, Baby," panggil Joshua seraya menggerak-gerakkan jari telunjuknya.


"Baby, kenapa nggak pake baju?" Jana pura-pura merajuk.


"I'm waiting ...."


Dengan malu-malu Jana naik ke atas ranjang. Belum sempat ia memosisikan dirinya dengan benar, Joshua sudah bergerak menerkamnya. Benar-benar tanpa basa-basi. Toh, pemanasan mereka sudah selesai sore tadi, meskipun terganggu oleh Bu Galuh.


Kini, saatnya eksekusi. Joshua sudah tidak bisa menahan diri lagi. Layaknya singa lapar, ia melahap tubuh indah yang pasrah di bawahnya itu lalu dikoyak-koyaknya tanpa ampun.


Jana menjerit, melenguh, dan apa saja yang keluar dari mulutnya, sebagai ekpsresinya menampung gelombang kenikmatan yang diberikan oleh suaminya itu.


Pergumulan liar sepihak itu pun selesai beberapa menit kemudian, dengan Joshua yang melepaskan amunisinya di luar. "Aduh, Baby, kenapa di luar?" tanya Jana kecewa.


"Aku tidak mau kamu hamil." Joshua membaringkan  badan di samping Jana.


"Yaaah, kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku tidak mau punya anak," jawab Joshua dengan santainya.


Bibir Jana cemberut. Padahal ia ingin hamil cepat. Ia penasaran dengan wajah bayi perpaduan antara dirinya dan Joshua. Bayi bule yang lucu.


"Sudah, ya, Jana ... aku mau tidur," ucap Joshua sambil memunggungi Jana.


Jana manyun. Padahal dirinya ingin tidur dipeluk sang suami. Sambil diciumi tengkuknya sampai terlelap. Tetapi, selama lebih dari satu bulan menikah, belum pernah Jana tidur di pelukan Joshua.


Suaminya itu, kalau sudah mau tidur, tidak boleh diganggu gugat. Dipeluk dari belakang saja ia akan protes. Jadilah, meskipun Jana belum mengantuk, ia harus terjaga dengan menelan pahit rasa kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bu Galuh sudah rapi pagi itu dengan riasan wajah yang tampak sedikit menor. Alisnya dilukis sedemikian rupa, bibirnya ia poles dengan lipstik cetar membahana, lalu rambutnya yang sudah dicat hitam untuk menutupi ubannya juga tidak lupa ia sanggul cukup tinggi.


Tas merk KW tiga pun sudah tertenteng di lengannya. Tidak lupa kipas lipat yang ia kibas-kibaskan ke wajahnya, meskipun pagi itu udara masih sejuk.


"Mau ke mana, Bu?" tanya Pak Yanto keheranan. Tidak biasanya sang istri berdandan seheboh ini.


"Kumpulan PKK di rumah Bu Rofi'i," jawab Bu Galuh menyebut nama tetangganya yang berjarak sekitar dua blok dari rumahnya.


"Loh, ya iya dong, Pak. Masa aku kalah sama tetangga genit sebelah rumah itu." Bu Galuh memajukan dagunya menunjuk rumah Yu Parti-saingannya.


Pak Yanto menggelengkan kepala pelan. "Mbok ya sudah to, Bu. Ndak usah balapan sama tetangga terus."


"Oh, ndak bisa, Pak. Kalau Ibu ndak lebih baik dari dia, Ibu yang diolok-oloh sama dia. Wah, ndak mau Ibu, Pak."


"Ya, sudah. Terserah Ibu."


"Ya memang terserah Ibu. Wes yo, Pak. Ibu mau berangkat dinas dulu."


Bu Galuh melenggang keluar rumah sambil mengibas-ngibaskan kipas di tangannya a la ibu-ibu sosialita.


Di rumah Bu Rofi'i, sudah banyak berkumpul ibu-ibu kampung Jeruk Purut yang rata-rata berpenampilan sederhana. Kecuali, Bu Galuh dan Yu Parti tentu saja. Dua orang musuh bebuyutan yang selalu bersaing antara satu sama lain dalam hal apapun.


"Sugeng enjang, selamat pagi, Bu-ibu Darma Wanita Kampung Jeruk Purut yang terhormat." Suara Bu Lurah terdengar memulai acara. Membuat semua yang ada di dalam ruangan itu terdiam.

__ADS_1


"Terimakasih sudah meluangkan waktu hadir dalam acara rutin dua mingguan kelompok PKK Rahayu Kampung Jeruk Purut ini. Saya langsung saja pada pokok pembahasan dalam kumpulan pagi ini, nggih."


"Begini, Bu-ibu, sebentar lagi acara tahunan sedekah bumi akan dilangsungkan. Acaranya akan berlangsung sehari semalam, mulai malam satu suro sampai keesokan harinya. Seperti biasa, kita dari kelompok PKK Rahayu tentu akan ambil bagian dalam iuran untuk membantu pengeluaran desa. Nah, kira-kira dari Ibu-ibu sekalian, mau ditentukan berapa nominal iurannya atau mau seiklasnya saja, monggo saya persilahkan untuk mengungkapkan pendapatnya."


Yu Prapti segera mengacungkan jari telunjuk meminta untuk berbicara. Sementara Bu Galuh yang duduk di seberangnya, mencebik remeh.


"Silahkan, Bu Parti."


"Kalau menurut pendapat saya, ya, Bu Lurah, saya sih mending seiklasnya saja. Karena pasti ada yang mau iuran lebih banyak dari yang lain. Contohnya saya, Bu Lurah. Saya mau iuran banyak loh ini," ucap Yu Parti dengan bangganya.


"Calon suami anak saya kan orang kaya. Debkolektor loh, Bu-ibu."


"Developer, Yu Parti." Salah seorang dari mereka menyeletuk.


"Lah, pokoknya itu. Intinya saya mau iuran gede."


Mendengar perkataan Yu Parti, Bu Galuh tidak mau kalah. "Saya juga mau iuran gede. Lebih gede dari pada dia," ucapnya sambil menggerakkan dagu ke arah Yu Parti. "Secara ya, mantu saya itu bule, loh. Bukan masih calon, tapi sudah jadi suami anak saya."


Yu Parti mendecak. "Sombong sekali. Ndak ada buktinya kalau mantumu itu kaya raya, kok."


"Heehh, mantuku itu warisannya banyak. Ndak kaya situ, ndak jelas," sembur Bu Galuh.


"Sudah, sudah, Bu Galuh, Yu Parti. Ndak usah berdebat. Ini kita sedang bermusyawarah. Coba saya ingin tahu pendapat ibu-ibu yang lain. Mau seiklasnya saja apa ditentukan nominalnya?" sela Bu Lurah menengahi perdebatan Bu Galuh dan Yu Parti.


"Seiklasnya saja, Bu." Ibu-ibu di ruangan itu menyahut.


"Saya mau iuran dua juta, Bu Lurah." Yu Parti berseru, sambil melirik ke arah Bu Galuh.


"Saya tiga juta, Bu," timpal Bu Galuh tidak mau kalah.


Yu Parti mendecih. "Kalau gitu saya lima juta, Bu Lurah."


Bu Galuh mendengus. Ia benar-benar tidak mau kalah dari tetangga yang amat dibencinya itu. Kemudian, tanpa berpikir panjang, ia menyeletuk, "Saya tujuh juta, Bu Lurah!"


Yu Parti pun membelalakkan matanya mendengar ucapan Bu Galuh. Dadanya panas. Ia merasa kalah saing dari tetangganya itu dan ini tidak bisa membiarkan itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2