
"Ciehhh, pengantin baru. Ngelamun aje bawaannya. Capek bener itu muka. Abis diapain kamu semalem?" Suara Septi, teman satu pekerjaan Jana sambil menyenggol lengan gadis itu.
Jana yang sedang bengong di meja kasir menunggu pembeli yang akan melakukan pembayaran, terkesiap. Reflek tangannya memukul pelan bahu Septi. "Ngagetin aja, ih!" gerutunya.
Septi terkekeh. "Abisnya ngelamun mulu. Kesambet loh, ntar. Eh, kenalin suami kamu, dong. Bule ganteng unyu-unyu, unch."
Jana meringis. "Besok-besok, deh." Ia memanyunkan bibirnya. "Lagi galau, nih, Sep."
"Galau kenapa, sih? Pengantin baru kok galau."
"Nggak tau, nih. Aku kan udah nikah dua mingguan ya sama Josh. Tapi, dia belum cerita apapun tentang keluarganya di Amrik sono."
Mata Septi membulat. Gadis tambun berkerudung itu memandang rekan kerjanya itu penuh selidik. "Emangnya waktu kalian nikah, orang tuanya nggak dateng?" tanyanya heran.
Namun sejurus kemudian Septi menutup mulutnya. "Duh, maaf, Jan, aku juga nggak dateng ke nikahan kamu." Ia meringis malu.
Jana menggeleng. "Nggak dateng, Sep."
"Si Josh udah jelasin kenapa orang tuanya nggak dateng?"
"Enggak."
"Kok?"
"Ya, aku nggak nanya, sih."
"Waduh." Septi menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung. "Harus diselidiki, tuh, Jan."
Selidiki? Apa perlu? Jana menerawang. Sebenarnya dirinya tidak terlalu keberatan. Hanya saja, suaminya itu kan bule, datang dari negeri seberang lautan, masa iya dirinya tidak merasakan suasana negara asal suaminya itu, atau mengenal keluarganya yang bule-bule juga, biar bisa foto-foto dan dipamerkan ke akun sosial medianya.
Seperti yang sering ia lihat di YouTube, banyak perempuan Indonesia yang membuat konten tentang kehidupan berkeluarganya di luar negeri.
"Selamat datang, selamat berbelanja." Jana menyapa seorang pembeli yang baru saja muncul dari balik pintu kaca.
Jana tidak bisa berkonsentrasi kerja hari itu. Pikirannya melayang pada Joshua yang sekarang ada di rumah. Apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya itu saat dirinya sedang bekerja? Sebenarnya Jana rindu ingin selalu mendusal pada Joshua, bermanja-manja, berkeluh kesah, dan melepas lelah.
Meskipun sudah berdiskusi dengan ibunya tentang ganjalan dalam hati mengenai bulan madu yang tidak kunjung ditawari oleh Joshua, tetap saja hal itu mengganggu pikiran Jana.
"Jan, ngopi-ngopi dulu, yuk," ajak Septi saat sore itu shift kerja mereka selesai.
"Aduh, suamiku nunggu, nih." Jana meringis malu.
__ADS_1
Itu hanya alasannya saja sebenarnya yang ingin segera pulang ke rumah bertemu dengan Joshua. Padahal seharian sama sekali tidak ada pesan apapun yang dikirim oleh Joshua padanya, entah sekedar menanyakan apakah Jana sudah makan atau belum, dan pekerjaannya lancar atau tidak.
"Ya, udah, deh," ujar Septi pasrah.
Dengan memakai jasa ojol-karena motornya sedang dipakai bapaknya entah kemana, Jana pun pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Ia ingin segera melampiaskan rindunya yang menggebu pada Joshua.
Namun, saat turun dari motor, ia melihat sosok berambut pirang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah Yu Parti, sambil menumpu lengan di teralis besi, dan mengobrol intens dengan Asih.
Sesaat Jana bengong menyaksikan keakraban keduanya. Bahkan Asih berani mencubit pinggang Joshua di sela-sela obrolan. Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Jangan bilang Asih sedang menggoda suaminya.
Dengan perasaan kesal Jana menghampiri keduanya. Joshua yang melihat kedatangan Jana segera melambai padanya. Ia tidak tampak terkejut karena Jana memergokinya berakrab ria dengan perempuan lain. Tampangnya justru santai sekali.
"Hi, Babe." Joshua mengulas senyum manisnya pada Jana. Membuat Jana yang tadinya sudah emosi pun, mengurungkan niatnya untuk melabrak Asih.
"Ayo, pulang, Baby." Jana meraih lengan Joshua sambil matanya menatap sinis pada Asih, yang dibalas senyum remeh perempuan itu.
"Oh, tunggu sebentar, aku sedang berbicara dengan Asih. Kamu pulang dulu saja." Dengan logat bule-nya Joshua menimpali.
Jana tidak percaya ini. Sepenting apa obrolannya dengan tetangganya itu sampai-sampai mengabaikan istrinya. Dada Jana dihinggapi perasaan cemburu.
"Posesif banget, sih, Jan. Suamimu lagi asyik ngobrol sama aku loh."
Joshua tampak tidak nyaman dengan sikap Jana. Si bule terpaksa berpamitan dengan Asih dan mengikuti kemauan Jana masuk ke rumah.
Rumah saat itu kosong. Entah ke mana ayah dan ibunya sore-sore begini. Jana masa bodoh sebenarnya. Lagi pula enak begini, ia bisa bermesraan dengan Joshua tanpa ada gangguan.
"Mama dan Papa sedang kondang ... emm ... kondangggan," terang Joshua menjawab pertanyaan dalam hati Jana.
"Owh." Jana meletakkan tas yang masih tersampir di bahu ke atas kursi. Lalu duduk di samping Joshua yang sedang menyalakan layar tv. Bukan untuk menonton acara televisi, namun untuk bermain game.
Beberapa hari lalu Joshua meminta sebuah perangkat game yang harganya cukup mahal. Harga perangkat yang jumlahnya tiga kali lipat gajinya sebulan itu membuat Jana terpaksa mengajukan hutang. Jadilah tiap bulan ia harus memotong gajinya untuk membayar cicilan.
"Baby ...." Jana mengelus lengan Joshua lembut. Suaminya itu kini sudah fokus ke layar memainkan permainan bola.
"Hmm?" sahut Joshua acuh tidak acuh.
"Kamu kok akrab banget, sih, sama Asih?" tanya Jana.
"Asih? Owh, memangnya kenapa? Is it wrong?" Joshua balik bertanya tanpa menoleh pada Jana.
"Ya wrong lah. Aku nggak suka kamu deket-deket dia. Nanti kamu tergoda."
__ADS_1
Joshua mengerutkan kening. "Tergoda? Apa artinya?"
Jana menepuk kening. Ia lupa kalau kosa-kata bahasa Indonesia Joshua masih terbatas. Jana buru-buru mengambil ponsel di tasnya dan mencari layanan google translate.
"Tergoda ... emmm ... tempted?"
"Tempted? Oh, you mean ... seduced?" Bagai guru bahasa Inggris, Joshua membenarkan ucapan Jana.
"Ya, itu lah pokoknya."
Joshua menyeringai. "Kamu terlalu banyak thingkin, Jana."
"Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia," rajuk Jana.
"Ah, sh it!" maki Joshua saat team sepak bola yang sedang dimainkannya kebobolan.
Jana memanyunkan bibirnya. Joshua tidak menanggapinya. Suaminya itu justru sibuk dengan game-nya.
"Baby!" seru Jana sedikit kesal.
"What?"
"Aku lagi ngomong."
Joshua mendecak sebal. Ia kesal karena kalah bermain, ditambah istrinya ini cerewet sekali membicarakan hal yang tidak penting. "It's not important," sahutnya pendek.
"Important lah," tukas Jana. "Asih itu maunya saingan terus sama aku. Dia sih udah punya tunangan kaya. Tapi, liat aku dapet bule, dia pasti iri. Takutnya, dia berencana godain kamu, Baby."
Joshua menggeleng. "Aku tidak mengerti kamu berbicara apa."
Jana menggeram kesal. Ia membuka kembali layanan penerjemah di layar ponsel, kemudian dengan bahasa yang terjemahan sekali, ia mengulang ucapannya dalam bahasa Inggris.
"See? Kamu overthinking sekali," dengus Joshua.
"Nggak opertinking-opertinking lah, emang kenyataannya gitu."
Joshua beranjak dari duduknya dengan sedikit kasar. "Kamu sedikit mengganggu, ya, Jana," tunjuknya di depan wajah Jana, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.
Jana tidak percaya dengan sikap Joshua padanya. Bukannya dibujuk karena ia ngambek, ini malah ditinggal pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1