Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 29. Apa Pekerjaanmu, Josh?


__ADS_3

Mau tidak mau, apa yang disampaikan oleh Mira menjadi beban pikiran Jana. Ia pun menjadi penasaran tentang pekerjaan Joshua sebenarnya. Sebelumnya, Jana tidak mau ikut campur atau sekedar menanyakan pada Joshua.


Terlebih malam itu, Joshua pulang dalam keadaan mabuk. Sikapnya pun sedikit kasar pada Jana. Membuat Jana tidak bisa mengalihkan pikiran dari apa yang telah disampaikan oleh Mira.


"Aku lepas dulu sepatunya, Baby," ujar Jana saat Joshua menolak untuk didekati. Ia menyandarkan dirinya di sofa dengan mata terpejam.


"Tidak usah," tepis Joshua.


Namun, Jana memaksa untuk melepas sepatu Joshua.


"Jana, aku bukan orang Indonesia, ya. Kalau aku bilang tidak usah, ya, tidak usah!" tegas Joshua membuat Jana menghentikan gerakannya meloloskan tali sepatu Joshua.


"Aku bisa sendiri. Aku tidak cacat!" tegasnya seraya melanjutkan pekerjaan Jana melepas sepatunya.


Rasanya sakit mendengar Joshua berkata seperti itu. Padahal, dirinya hanya ingin menjadi seorang istri yang baik, yang melayani suami dengan sepenuh hati.


"Tidur saja sana!" perintah Joshua.


Jana pun pasrah. Ia melangkah masuk ke kamar dengan hati perih.


Sementara Joshua, membaringkan badan di atas sofa. Kepalanya rasanya berputar-putar. Ia terlalu banyak menenggak alkohol di club beberapa saat lalu.


Kembali pada Jana yang sudah berbaring di atas kasurnya. Matanya belum juga terpejam. Pikirannya kacau membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Joshua. Bagaimana kalau apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan.


Jana meremas wajahnya. Rasanya, selalu saja ada yang mengganjal di benaknya. Sejak menikah, ia belum pernah merasakan ketenangan. Bahkan, setelah jatuh cinta dengan Joshua, dirinya justru selalu dihantui rasa was-was.


Rasa cintanya pada Joshua begitu menyesakkan dada. Dari kecemburuannya dengan mantan pacar Joshua yang bernama Risa, sikap Joshua yang terkadang baik terkadang buruk padanya.


Sering sekali Joshua tidak mengacuhkannya. Terkadang, Joshua seperti tidak peduli akan keberadaannya.


Dan satu lagi, sejak tinggal di Manhattan, sikap Joshua sedikit kasar padanya. Meskipun dulu di Indonesia, Joshua pun tidak romantis layaknya pasangan suami istri yang baru menikah.


Ah-entahlah. Jana pusing memikirkan semua itu. Ia pun memutuskan untuk memaksa dirinya tidur. Esok hari kegiatannya padat. Ada tes GED yang harus ia jalani, lalu sorenya ia harus pergi ke konjen RI untuk membantu persiapan festival Indonesia yang akan diselenggarakan sebentar lagi.


Saat Jana hampir tertidur, ia dikejutkan oleh seseorang yang memeluknya dari arah belakang. Tahu siapa yang sedang merapatkan tubuh padanya, senyumnya pun tersungging.


Tangan kokoh Joshua melingkar di pinggangnya. Dan hembusan napas beraroma alkohol meniup tengkuknya.


"Maaf, ya, Jana ... aku kasar padamu tadi," ucap Joshua seraya mengecup leher bagian belakangnya.


"Nggak papa. Kamu lagi mabuk," sahut Jana, masih memejamkan mata menikmati kecupan lembut suaminya.

__ADS_1


"Iya. Maaf. Aku minum terlalu banyak," ucap Joshua, namun lebih terdengar seperti *******. Tangannya pun merayap menelusuri lekuk tubuh Jana. "Kamu sudah tidak terlalu kurus lagi, Jana."


"Oh ya? Aduh, besok aku diet," ujar Jana sedikit panik. Di musim dingin seperti ini, memang ia sering merasa lapar, sehingga porsi makannya pun sedikit lebih banyak dari biasanya.


"Jangan!" sergah Joshua. "Aku lebih suka kamu seksi."


"Tapi, nanti lama-lama aku bisa gendut, Baby."


"Hei ...." Joshua membalik tubuh Jana, dan sekarang gadis itu sudah berada dalam kungkungannya. "Tidak apa-apa. Kalau terlalu kurus juga aku tidak suka."


Jana meringis. Kedua bola matanya menatap lekat Joshua. Wajah suaminya itu terlihat begitu tampan, meskipun ada guratan kelelahan di sana. Dielusnya pipi Joshua lembut. Lelaki itu pun memejamkan matanya.


"Baby ...."


Joshua membuka mata. Menatap Jana di bawahnya. "Ya?"


"Kamu cinta aku, nggak?" tanya Jana.


"Apa?" Joshua yang terkesiap mendengar pertanyaan Jana, berpura-pura tidak mendengarnya.


"Nggak papa." Jana menggeleng. "Lupain aja." Ia menelan salivanya penuh kekecewaan.


Joshua tentu tidak tuli. Ia pasti mendengar pertanyaannya. Mungkin saja memang Joshua tidak ingin menjawabnya.


"Aku ngantuk. Besok harus bangun pagi. Ada tes GED." Jana mendorong dada Joshua hingga lelaki itu terbaring di sampingnya. Lalu, ditariknya selimut dan memutar badan memunggungi Joshua.


"Tes GED? Besok?" tanya Joshua.


"Hmmm." Jana menjawab dengan gumaman.


Joshua mengelus punggung Jana lembut. "Semoga berhasil," ucapnya.


"Makasih," sahut Jana lirih. Lalu, ia mendengar Joshua merubah posisi berbaringnya. Sepertinya suaminya itu juga memunggunginya.


Mata Jana mengembun. Hatinya begitu hampa. Ia merasa Joshua belum mencintainya. Mungkin, di hatinya masih ada Risa yang bertahta.


***


Pagi yang sibuk. Jana menyiapkan sarapan ala kadarnya, menghabiskan bahan yang ada di dalam kulkas.


Joshua belum tampak keluar dari kamar, hingga Jana selesai menyiapkan sarapan. Pancake gula tabur dan saus karamel. Dibuat oleh Jana dengan kemampuan seadanya. Namun, dari baunya, sudah mampu membangunkan Joshua.

__ADS_1


Terbukti, lelaki itu keluar dari kamar sambil mengenduskan hidungnya ke udara, mencari sumber aroma sedap yang ia hirup.


"Aku cium bau pancake. Kamu bikin pancake?" tanya Joshua memastikan.


Jana terkekeh. "Iya. Tapi, aku nggak tahu rasanya enak atau enggak."


"Pasti enak." Joshua menarik kursi dari bawah meja makan lalu meletakkan bokong di atasnya. "Sudah rapi sekali, mau berangkat cepat?" Ia memindai tubuh Jana yang terbalut jeans dan sweater tebal.


"Iya," jawab Jana singkat sambil menyodorkan piring yang telah ia isi dengan beberapa lembar pancake yang sudah ia lumuri dengan saus karamel.


"Terimakasih," ucap Joshua sambil mengulas senyumnya. Keduanya lalu menikmati sarapan dalam diam.


"Kamu mau kerja apa nanti kalau sudah lulus tes GED?" tanya Joshua memulai obrolan.


"Pinginnya jadi staff administrasi di sebuah kantor. Aku mau coba melamar di kantor konsulat jenderal RI."


"Owh, bagus. Gajinya pasti juga bagus."


"Yang penting aku lulus GED dulu," kekeh Jana. Ia menyuapi dirinya dengan potongan pancake.


"Pasti lulus," sahut Joshua optimis.


Jana mengamini dalam hati. Ia melirik wajah Joshua yang tampak ceria pagi itu. Pikir Jana, mungkin saatnya menanyakan tentang pekerjaan Joshua.


"Josh ...."


"Ya?"


"Kamu sebenernya kerja apa?" tanya Jana hati-hati. Ia takut suasana hati Joshua tiba-tiba memburuk karena pertanyaannya.


"Bisnis dengan teman," jawab Joshua.


"Owh, boleh tahu bisnis apa?" Jana memberanikan diri bertanya lebih lanjut.


Tepat dugaan Jana. Raut wajah Joshua berubah masam. "Kamu tidak perlu tahu. Yang penting kamu bisa makan setiap hari."


Deg


Ucapan Joshua menohok dada Jana. Apalagi, Joshua tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Jana tanpa menghabiskan sarapannya.


Jana menghela napas dalam-dalam saat melihat Joshua menghilang di balik pintu kamar. Seharusnya ia tidak usah menanyakan hal itu pada Joshua, sesalnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2