
Rumah Yu Prapti tampak ramai. Beberapa orang sedang memasang teratak hajatan sedari semalam dan hampir selesai. Sepertinya para pekerja itu lembur. Terbukti, tirai-tirai besar warna-warni sudah terpasang dengan apiknya.
"Itu, si janda genit, mau ada acara apa, ya? Kok pasang-pasang teratak?" Bu Galuh yang penasaran setengah mati, bertanya pada salah seorang ibu-ibu yang sedang mengerumuni Kang Soleh-si tukang sayur.
"Loh, Bu Galuh ndak tahu? Kan si Asih mau lamaran." Si ibu menyahut sambil memilah-milih sayur kangkung, mencari yang paling segar.
"Aku kan ndak kepo, Bu Ratna," cebik Bu Galuh tanpa sadar kalau saat ini dirinya juga sedang kepo setengah mati. "Lamaran saja mewah-mewah begitu, ya, Bu? Buang-buang duit saja."
"Kalau mampu, ya, ndak papa, to, Bu Galuh."
"Alah, sombong itu namanya. Aku saja yang mantunya bule, ndak ada itu acara lamaran dibuat mewah kaya gitu."
Beberapa wanita yang lain saling melempar senyum. Mereka sudah tahu kalau Bu Galuh sedang mengungkapkan rasa irinya.
Saat itu, datanglah Yu Prapti dengan senyum meremehkan semua orang yang ada di sana. "Sebenernya banyak makanan enak di rumah, banyak daging, gitu, loh. Tapi, aku kok pingin sayur bening, ya, Kang Soleh. Sayur apa yang seger, ya?" Tanpa ditanya, Yu Parti membuat woro-woro.
"Sayur, ya, seger, mana ada sayur kecut. Yang kecut, ya, ketekmu!" celetuk Bu Galuh, yang sudah tidak sabar ingin membalas kesombongan tetangganya itu.
"Mana ketekku kecut, parfumku mahal, ya, hadiah dari calon anak mantu," cebik Yu Parti sambil mengibas-ibaskan daster motif batik longgarnya. "Kecium, ndak? Hidung situ ndak bakal kuat, biasa nyium parfum murahan yang dijual di minimarket, sih."
"Eh, situ kalau ngomong itu lihat-lihat siapa yang diajak ngomong. Mantuku itu orang Amerika. Parfumku dibeli sama dia di Nuyrok!" sahut Bu Galuh ketus, tanpa memikirkan kalau ia salah mengucap nama tempat.
"New York, Bu Galuh," celetuk salah seorang pembeli mengoreksi ucapan Bu Galuh.
"Hawes, pokoknya itu," timpal Bu Galuh kesal.
Yu Prapti terkikik mengejek. "Lidah ndeso aja mau sok-sokan ngomong nginggris," cebiknya.
__ADS_1
"Situ ndak usah protes. Mau bagaimanapun, mantuku jauh lebih kaya, lebih ngganteng dari pada mantunya situ!" tunjuk Bu Galuh. Padahal ia belum tahu wujud calon suami Asih.
"Kalau ngomong itu mbok ya disertai bukti. Kalau calon mantuku sudah ada bukti. Ke sini bawa mobil mewah. Acara lamaran saja meriah begini." Yu Prapti tidak mau kalah. "Lah, mantunya situ, katanya bule duitnya banyak, ke sini cuma modal anu thok," kekehnya kemudian.
"Hooo, tunggu saja tanggal mainnya. Situ bakal semaput melihat kekayaan mantuku!"
Perdebatan antara dua tetangga itu terus berlangsung hingga Kang Soleh berpamitan melanjutkan jualan kelilingnya, dan pembeli yang lain sudah meninggalkan tempat itu.
***
Puncak pesta lamaran Asih berlangsung malam itu dengan sangat meriah. Yu Prapti mengundang organ tunggal untuk menghibur warga Kampung Jeruk Purut. Sehingga, jalanan di depan rumahnya, juga rumah Bu Galuh menjadi penuh sesak oleh warga yang ingin menyaksikan pertunjukan.
Tentu saja sepanjang acara berlangsung, Bu Galuh terus saja menggerutu karena ada banyak warga yang menginjak-injak rumput di halaman rumahnya. Tanaman hiasnya pun menjadi korban. Sehingga, ia berniat untuk meminta ganti rugi pada Yu Prapti saat acara usai.
Keesokan harinya, saat Bu Galuh bersiap-siap untuk melabrak tetangganya; selain karena halamannya yang sudah diacak-acak warga, ia sudah dikuasai oleh rasa iri yang teramat dalam. Jana berusaha mencegah agar tidak terjadi keributan antara sang ibu dan tetangganya.
"Kamu ndak lihat apa halaman rumah kita hancur begitu, Jana?!" erang Bu Galuh dengan muka merah padam.
"Ndak bisa, Jana. Ibu ndak bisa berdiam diri saja. Itu janda genit harus dimintai pertanggungjawaban."
"Bu, Jana mohon. Jangan buat keributan, ya? Jana udah pusing lihat Ibu hampir tiap hari bertengkar melulu sama Yu Prapti," pinta Jana memelas.
Bu Galuh yang melihat raut muka memelas putri itu, akhirnya mengalah. Ia pun bersungut-sungut masuk ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Acara gosip selebriti membuat wanita itu sedikit lupa akan kekesalannya.
Jana bernapas lega. Lalu ia keluar rumah sambil membawa sapu lidi dan engkrak. Ia menarik napas dalam-dalam memandangi halaman rumahnya yang memang sangat berantakan.
Sampah plastik di mana-mana, tanaman di dalam pot sebagian rusak dan daunnya rontok, lalu rumput yang kotor karena terinjak-injak kaki warga semalam.
__ADS_1
Dengan sabar Jana menyapu setiap sudut halaman yang dipenuhi sampah plastik dan dedaunan rontok, lalu memperbaiki batang-batang tanaman hias yang roboh.
"Dek, halaman rumahnya jadi kotor, ya, karena acara semalem? Maaf, ya?"
Suara seorang lelaki yang asing ditelinga Jana memaksa gadis itu menoleh ke arah rumah tetangganya. Seorang lelaki yang cukup tampan namun sepertinya sudah berumur tersenyum padanya. Penampilannya santai dengan kaus polos berwarna putih dan celana pendek.
Jana menduga lelaki ini adalah calon suami Asih. Gadis itu pun membalas senyuman si lelaki. "Nggak papa, Pak. Namanya juga habis rame-rame."
"Jadi nggak enak aja, sih, Dek. Itu tanaman juga pada rusak, ya? Aku bayar ganti rugi aja, ya? Berapa, Dek?" Si lelaki merogoh saku celana pndeknya dan mengambil sebuah dompet.
"Oh, nggak usah, nggak usah, Pak. Ini udah saya perbaiki," tolak Jana seraya menggerakkan telapak tangan ke kanan dan ke kiri.
"Nggak papa, Dek. Anggap aja sebagai tanda perkenalan antar tetangga. Aku bakal sering ke sini soalnya." Si lelaki mengambil lima lembar uang seratus ribuan dan menyodorkannya pada Jana.
"Beneran nggak usah, Pak," ucap Jana sambil mendekati lelaki itu yang berdiri di balik pagar pembatas rumahnya dan rumah tetangga.
"Terima aja, Dek. Atau kurang, ya?" Si lelaki kembali mengambil lima lembar seratus ribuan dan meraih tangan Jana dan meletakkan uang itu di sana seraya menggenggam tangan Jana. "Cukup, ya, segitu, Dek?"
"Aduh, Pak. Beneran nggak usah." Jana memberikan sepuluh lembar kertas merah itu pada si lelaki, namun lelaki itu menolak mentah-mentah.
"Simpen aja. Nggak papa, Dek."
Jana menjadi salah tingkah. Sejujurnya ia memang sedang butuh uang untuk membayar visa Joshua, namun ia gengsi untuk menerimanya.
"Ayo, masukin kantong, Dek. Aku maksa, loh, ini."
Jana menggaruk kepalanya, lalu meringis. Dengan sangat terpaksa ia menuruti permintaan lelaki itu menaruh uang di kantongnya.
__ADS_1
"Namamu siapa, Dek? Oh ya, jangan panggil Pak, dong. Panggil Mas aja biar kedengerannya lebih muda."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...