Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 45. Kejadian Lagi.


__ADS_3

Dua bulan kemudian, seperti rencana yang sudah disusun, warung Indonesia milik Mira dan Jana pun sudah berdiri di pusat pertokoan yang ada di area Harlem.


Tempatnya tidak terlalu luas dan sederhana. Peminatnya pun cukup banyak untuk ukuran restauran yang masih seumur jagung.


Setiap harinya, dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore, Jana mengerjakan perannya sebagai koki, merangkap pelayan. Sejauh ini, ia masih bisa menangani pembeli sendiri. Mira pun sesekali membantu.


Pekerjaan ini sungguh menyenangkan untuk Jana. Hidupnya kini mulai tertata. Ia merasa sikap Joshua pun semakin hari semakin membaik. Meskipun terkadang Joshua harus menginap di luar untuk beberapa hari karena urusan pekerjaan.


Namun, saat pulang, Joshua selalu memperlakukannya dengan baik, meskipun jarang sekali mereka beraktifitas di atas ranjang, namun Joshua tidak lagi mengangkat topik pembicaraan tentang hubungan terbuka yang pernah ia usulkan.


Dan Jana pun sama sekali tidak keberatan saat Joshua meminta bantuan materi padanya. Sebab pikir Jana, ia senang bisa membantu suami tercintanya.


Sore itu, menjelang tutup, Jana yang sedang membersihkan meja-meja kotor di dalam restauran, dikejutkan dengan kedatangan Jovan. Ini pertama kalinya Jovan datang setelah dua bulan restaurannya buka.


"Mas Jovan, kenapa ada di sini?" tanya Jana.


"Emangnya nggak boleh?" Jovan menaikkan kedua alis tebalnya.


Jana memijit keningnya. Selain karena terasa pening setelah seharian bekerja, ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jovan. Entah apa yang memicu perasaan tidak nyaman itu.


Ada rasa takut dalam diri Jana, saat menatap mata Jovan yang begitu teduh. Dan mendengar suara Jovan yang mampu menenangkan jiwanya.


"Jana ...." Jovan mendekat ke arah gadis itu. Lalu ia menangkup kedua pipi Jana dan mencium bibirnya tiba-tiba. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya.


Sungguh aneh. Jana tidak mampu menolak pagutan bibir Jovan. Ia justru menyambut pagutan bibir pemuda itu. Rasanya sungguh nyaman diperlakukan sedemikian rupa oleh Jovan.


Sentuhan lembut Jovan di punggung dan lengannya membuatnya terpancing untuk melakukan hal lebih.


"Maafkan aku, Jana ... aku tahu aku lancang. Tapi, aku bener-bener nggak bisa nahan kangen sama kamu ...." Jovan berusaha meloloskan satu persatu pakaian yang melekat di badan Jana dan juga dirinya.


Entah bisikan dari mana yang membuat Jana melangkah mundur, lalu berjalan menaiki tangga, seakan-akan meminta Jovan untuk mengikutinya.


Bagai diberi sebuah kode oleh Jana, Jovan mengikuti langkah Jana menaiki tangga. Di lantai dua, ada sebuah kamar kosong yang khusus dipakai Jana saat istirahat siang.

__ADS_1


Keduanya kini sudah berada di dalam kamar. Jovan melanjutkan aktifitasnya membuka pakaian Jana dan juga dirinya. Didorongnya tubuh gadis itu ke arah kasur di atas lantai.


Punggung Jana menyentuh permukaan kasur, dan Jovan mendominasi di atasnya. Dipandanginya tubuh indah Jana dengan penuh hasrat. Ia menyapu leher gadis itu lembut, lalu turun ke dadanya dan menyesap puncak dada Jana dengan lembut. Jana meloloskan lenguhannya. Ketika tangan Jovan pelan turun ke pinggangnya dan meremas pantatnya, tubuh Jana bereaksi sedemikian rupa. Oh-sentuhan Jovan mengobati dahaganya.


Jovan merangkak ke bawah, memberi sentuhan yang melambungkan Jana ke awan. Kemudian ia kembali merangkak ke atas dan mulai menghujani Jana dengan serangan bibirnya bertubi-tubi.


Erangan Jana membuat Jovan semakin gencar melancarkan serangan. Kedua tangan pemuda itu sudah menjelajah ke mana-mana, membuat Jana hilang kendali. Ia meminta Jovan untuk segera memasuki gerbangnya.


Keduanya bersatu, saling menggerakkan badan dengan ritme yang teratur. Saling mengecup dan saling meremas. Jovan merasakan betapa tubuh Jana bagaikan taman bermain yang begitu mengasyikkan untuk ia jelajahi. Setiap sudutnya ia datangi, ia nikmati.


Jana membuat Jovan merasa ingin selalu melindunginya. Jana terlihat begitu cantik di bawahnya. Begitu rapuh, begitu mengagumkan. Ia membenamkan wajahnya di leher wanita itu ketika ia usai meledakkan laharnya di perut Jana.


"Kamu cantik banget," bisik Jovan. Ia menciumi pipi Jana dengan penuh kasih sayang. Ah wanita ini benar-benar membuatnya mabuk kepayang.


"Maafin aku, Jan, aku bener-bener kangen sama kamu," ucap Jovan ketika ia kini sudah berbaring di samping Jana.


Jana tersenyum tipis. "Kamu udah bilang berapa kali, sih?"


"Ya, gimana, namanya juga cinta."


"Eh, Mas, kamu mau ngapain lagi?"


"Ya, ronde kedua, Jan," jawab Jovan dengan wajah yang ia buat sepolos mungkin.


"Aduh, Mas ... nggak, nggak!" Jana menahan dada Jovan. Pemuda ini sudah gila.


Jovan terkekeh. "Kayaknya aku kecanduan kamu, deh, Jan. Dua bulan ini aku coba buat nggak mikirin kamu, tapi aku nggak bisa konsen ngapa-ngapain."


"Mas, tolonglah. Jangan bikin aku kaya gini. Aku lagi membangun lembaran baru sama suamiku."


"Yakin kamu percaya suami kamu udah bener sekarang?"


Jan memukul bahu Jovan keras, membuat pemuda itu meringis kesakitan. Namun sejurus kemudian, kedua bibir mereka telah berpagut kembali. Keduanya pun mengulang aktifitas mereka yang baru saja selesai beberapa saat lalu.

__ADS_1


***


Pintu kamar Jovan dibuka dengan keras oleh Tiara yang muncul dengan wajah penuh amarah. Ia melempar tasnya ke arah Jovan yang sedang tidur di atas ranjangnya.


"Kak Jo!" serunya seraya memukuli dada Jovan. Pemuda itu pun terkaget-kaget dan berusaha menahan serangan Tiara yang tiba-tiba itu.


"Hei, Ra ... kamu ngapain, sih? Kenapa mukulin aku?" tanya Jovan.


"Kamu jahat banget, sih, Yang?" erang Tiara dengan wajah yang sudah berurai air mata.


"Aku ngapain, kok, kamu bilang jahat?"


"Kamu jalan sama cewek yang jual lumpia di konjen dulu, kan?" tuduh Tiara.


Jovan mendecak sebal. "Kalau iya, trus kenapa?"


Tiara semakin mengeraskan tangisannya. "Kok, kenapa, sih? Artinya kamu udah menghianati aku, Kak!"


"Lah, emang kita pacaran?" tanya Jovan seraya mengerutkan alisnya.


"Kak Jo!" teriak Tiara. "Tegaaa bangeett!"


Gadis itu memukuli dada Jovan. Pemuda itu pun menangkap pergelangan tangannya untuk menghentikan aksinya.


"Kamu bisa tenang, nggak, sih? Kita bicara baik-baik, okay?!" sentak Jovan. Ia sebal bukan main dengan tingkah manja gadis di hadapannya itu.


Tiara pun mencoba untuk menuruti permintaan Jovan. Ia menghentikan tangisnya. Meskipun hidungnya masih kembang kempis karena sisa tangisnya.


"Denger, ya, Ra, aku minta maaf kalau udah bikin kamu salah paham. Aku nggak pernah nganggap kamu pacarku," terang Jovan membuat Tiara justru kembali meloloskan tangisnya. Kali ini terdengar begitu pilu.


"Tapi, waktu itu kita udah ciuman, udah mau tidur bareng juga," protes Tiara.


"Iya, iya, makanya aku minta maaf udah bikin kamu salah tangkap. Waktu itu aku nggak ada maksud buat ngapa-ngapain kamu."

__ADS_1


"Aku lagi stres waktu itu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2