Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 49. Perkelahian Jovan Dan Joshua.


__ADS_3

Pulang dari kantornya yang berada di Midtown Manhattan, Jovan berniat untuk membeli stock bahan makanan di sebuah swalayan besar untuk mengisi lemari pendinginnya.


Sedang asyik memilah-milih bahan makanan, sudut matanya menangkap sosok yang familiar di matanya. Sosok yang sering ia lihat di ponsel Jana. Namun, sosok lelaki berambut pirang itu tidak sendiri. Ia bersama seorang wanita Asia bertubuh sintal.


Yang membuat dada Jovan bergemuruh adalah, wanita itu bukan Jana. Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.


Keduanya terlihat begitu akrab. Bukan keakraban dua orang teman atau sahabat, namun, lebih kepada keakraban sepasang kekasih. Jovan memperhatikan gerak-gerik keduanya yang juga sedang memilah-milih bahan makanan, tidak jauh darinya.


Si wanita bergelayut manja di pundak si lelaki. Membuat Jovan merasa jijik. Tangannya mengepal. Ingin rasanya menghajar si rambut pirang itu. Namun, ia berusaha meredam amarahnya, dan menunggu saat yang tepat untuk menghampiri si brengsek suami Jana.


Dan waktu yang tepat menurut Jovan adalah, saat berada di parkiran mobil. Jovan menghampiri Joshua dan Risa yang hendak masuk ke dalam sebuah mobil sedan tua keluaran tahun sembilan puluhan.


"Joshua Javernick?" tanya Jovan seraya menepuk pundak Joshua yang sedang membuka pintu mobil untuk Risa.


"Ya? Apa aku mengenalmu?" Joshua memindai Jovan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Tidak. Tapi, istrimu yang bernama Jana mengenalku dengan baik."


Joshua terperangah. Belum sempat ia membuka mulutnya. Satu pukulan Jovan mengenai pelipisnya. Begitu keras, hingga kulitnya pun robek dan darah pun bercucuran.


Risa menjerit panik. Namun, saat itu parkiran mobil cukup sepi, sehingga tidak ada yang melihat kejadian itu.


"Brengsek!" Joshua hendak membalas Jovan, namun tangannya di tahan oleh Risa. "Apa maksudmu tiba-tiba memukulku, Bajingan?!"


"Maksudku? Kau ingin tahu maksudku?" Jovan menunjuk ke arah Risa. Wanita itu menjadi salah tingkah. "Aku sudah menduga kau adalah laki-laki brengsek. Jana tidak pantas untukmu!"


"Hei! Jana bukan urusanmu!"


Jovan tersenyum miring. "Tentu saja dia urusanku."


"Ow, ada hubungan apa kau dengan istriku?" Joshua menatap miring pada Jovan.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jana. Yang jelas, dia adalah wanita yang penting dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki brengsek seperti dirimu terus-terusan memanfaatkannya."


Bukkk


Bukkk


Joshua membalas pukulan Jovan dengan dua pukulan di wajah pemuda itu. Bibir Jovan pun pecah. Darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Sudah! Sudah, Josh!" seru Risa berusaha menarik lengan Joshua menjauh. "Tolong jangan bikin ribut di sini!" ujar Risa seraya memandang ke arah Jovan.


"Kamu, ya, cewek nggak tahu malu!" maki Jovan seraya menunjuk ke arah wajah Risa.

__ADS_1


"Hei! Jaga bicaramu!" Joshua meradang.


"Udah, Josh, udaaah!" Risa yang terlihat cemas memaksa Joshua untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area parkir. Menghindar dari amukan Jovan lebih lanjut.


***


"Astaga, Mas Jovan! Wajahmu kenapa?" tanya Jana sore itu, seperti biasa, menemani Jana tutup restauran. Bagian sudut bibirnya membiru.


"Nggak papa," jawab Jovan berbohong. Ia ingin menceritakan tentang penemuannya, namun, setelah berpikir ulang, ia memutuskan untuk diam. Biar saja Jana yang memergoki sendiri suami brengseknya bersama wanita lain.


Jovan tersenyum tipis, ia menciumi tangan Jana yang sedang mengelus pipinya. Lalu tanpa ragu ia ******* bibir Luna dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel ke atas kasur.


"Apa setiap ketemu harus gini, Mas?" engah Jana menerima perlakuan liar Jovan. Pemuda itu menjamahi seluruh tubuhnya.


"Nggak tahan aja lihat kamu. Tahu, nggak? Kamu itu menggairahkan banget." Jovan menggerakkan tubuhnya naik dan turun.


"Kamu lihat aku sebatas badan doang, ya, Mas?" Jana mencengkeram punggung Jovan hingga menyisakan beberapa goresan kukunya di kulit pemuda itu.


"Nggak. Aku melihat semua yang ada di kamu." Jovan melahab bibir Luna seraya melenguh pelan.


"Sungguh? Apa aku menarik?"


"Sangat menarik."


"Kamu sayang aku, Mas?"


"Enggak tahu lah, Mas."


"Jangan jawab gitu, dong, Sayang," engah Jovan. Ia mengangguk menciumi leher Jana. Ia mengerang menikmati hangat tubuh Jana di bawah sana.


"Hmmm," desah Jana.


"Jana ...." panggil Jovan seraya mempercepat gerakannya.


"Ya, Mas," bisik Jana.


"Aku cinta kamu, Jana ... aku cinta kamu!" teriaknya. Lalu ia menjatuhkan kepalanya di dada Jana. Ia memeluk wanita itu dengan erat.


Ah, benar-benar di luar kendali. Ia jatuh cinta dengan Jana. Seharusnya Jana yang jatuh cinta padanya.


***


Jana sedang melayani seorang pembeli yang memesan nasi goreng untuk sarapan pagi, saat seorang gadis cantik berbalut pakaian elegan masuk ke dalam restauran mencarinya.

__ADS_1


Ia mengenali wajah gadis itu. Namanya Tiara. Dan Jana pernah bertemu dengannya di halaman konjen saat festival Indonesia.


"Namaku Tiara." Wajah Tiara tampak sembab meskipun dibalut dengan riasan wajah.


Tiara. Jana teringat pada cerita Jovan tentang gadis ini. Tiba-tiba saja ia merasa tidak enak.


"Aku pacar Kak Jovan."


"Ya?"


"Aku mohon sama Mbak Jana. Tolong jangan deket-deket sama cowokku."


"Harusnya kamu bilang itu sama cowokmu itu. Karena aku nggak ada hubungan apapun dengan dia."


"Nggak usah nyangkal, deh, Mbak!" sergah Tiara mengintimidasi.


Jana menghela napasnya dalam-dalam. "Terserah kamu lah, kalau nggak percaya."


Tiara tersenyum sinis. "Mbaknya kan udah ada suami. Kok, bisa, ya, deket sama cowok lain."


"Aku udah bilang, Dek Tiara. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Jovan," tegas Jana.


Tiara mencebik. "Nggak ada hubungan apapun tapi udah ditidurin, kan, Mbak?"


Jana terperangah. "Kenapa kamu bisa bilang kaya gitu?"


Tiara mendecih. "Modelan kaya Mbak ini kan gampangan. Aku nebak aja, sih. Lagian, menurut gosip yang beredar, Mbaknya open BO, kan?"


"Jaga mulut kamu, ya?!" Kalau saja tidak ingat pembeli yang sedang menikmati nasi goreng, Jana sudah menyumpal mulut pedas Tiara dengan apa saja yang ada di atas meja kasir.


"Lah, gosipnya udah nyebar, Mbak. Hampir semua orang Indonesia di Manhattan tahu, loh, gosipnya Mbak dipake sama suaminya Mbak Atmini."


Deg


Dada Jana berdebar kencang. Tentu, ia tidak bisa menyangkal perkataan Tiara. Karena semua itu memang benar adanya.


"Aku heran sama Kak Jo. Kok mau-maunya make barang bekasan orang."


Tangan Jana sudah mengepal erat. Tinggal bergerak sekali saja menghantam wajah cantik Tiara, habislah gadis itu.


"Kamu mending pergi, deh. Dan aku tegasin sekali lagi, aku nggak ada hubungan apapun sama pacar kamu itu!"


Tiara tersenyum miring. "Ya, udah, aku cuma mau ngomong itu doang, kok." Ia mengulas senyum ironis.

__ADS_1


Jana terduduk lesu di atas kursi kasir sepeninggal Tiara. Rupanya gosip di luar, namanya sudah sangat buruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2