
Jana duduk termangu di atas ranjangnya. Hatinya berdebar tidak menentu. Entah kenapa ia merasa begitu gelisah. Memikirkan di mana Joshua kini berada.
Ia memang selalu was-was jika Joshua sedang tidak berada di rumah. Namun, malam ini kecemasannya sedikit berlebihan. Jana bahkan sampai berpikir, Joshua sedang bersama mantan pacarnya sekarang.
Rasanya tidak mungkin. Risa ada di Indonesia. Tetapi, bagaimana kalau wanita itu menyusul Joshua ke negara ini.
Tentu kemungkinan itu bisa saja terjadi. Lalu, bagaimana nasibnya jika Risa benar-benar ada di negara ini, dan Joshua meninggalkan dirinya.
Jana meraup wajahnya kasar. Ingatannya melayang pada Jovan. Pemuda itu juga membuatnya pusing tujuh keliling. Pasalnya, Jovan mengejar-ngejar dirinya dan menuntut hubungan lebih lanjut setelah mereka peristiwa pagi itu di apartemennya.
Diacaknya rambut panjangnya. Ia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Seharusnya ia bisa menahan diri.
Sekarang semuanya menjadi rumit. Jana terjebak dalam situasi yang sulit. Belum lagi ia harus menghadapi teror dari Atmini yang hampir setiap hari mengiriminya pesan dengan kata-kata yang menyakitkan.
Jana tidak menyalahkan Atmini. Wanita mana yang rela jika suaminya tidur dengan wanita lain. Ia merasa bersalah pada Atmini. Berkali-kali ia meminta maaf setiap kali membalas pesan wanita itu. Namun, Atmini sudah terlanjur menaruh dendam padanya.
Atmini tidak hanya menerornya dengan pesan-pesan kasar. Wanita itu juga menutup sebagian akses pelanggan cateringnya yang rata-rata kenal dengan kelompok Melati.
Ah-Jana lelah memikirkan semua itu. Ia lalu membaringkan badannya di atas ranjang. Tidak hanya mentalnya yang lelah, namun, fisiknya juga kelelahan. Hingga tidak sampai sepuluh menit, Jana sudah terbang ke alam mimpi.
***
"Aku tidak bisa ceraikan Jana, Sayang," ucap Joshua membuat Risa marah. Wajah cantik wanita itu muram.
"Josh, aku jauh-jauh datang kemari demi kamu. Masa kamu nggak mau berkorban buat aku?" Risa membelalakkan matanya. "Atau jangan-jangan kamu udah jatuh cinta sama dia?" tuduhnya.
Joshua menggeleng. "Tidak, Sayang. Maksudku, hampir saja aku jatuh cinta padanya. Tapi, itu sebelum kamu datang."
"Bohong!" sentak Risa seraya beringsut menjauh.
"Sumpah, Sayang. Aku tidak bohong."
Risa mengerucutkan mulutnya seraya membuang muka saat Joshua hendak mencium bibirnya. "Kenapa kamu nggak bisa ninggalin dia?" tanyanya.
"Karena Jana sumber uangku."
Risa membulatkan kedua bola matanya. "Sumber uangmu? Nggak salah, tuh? Emang sekaya apa dia?"
"Bukan masalah kaya. Tapi, Jana bisa cari uang untuk aku. Untuk kita."
__ADS_1
"Caranya?"
Joshua menerangkan, saat ini, betapa pentingnya peran Jana dalam hidupnya saat ini. Tentu Jana adalah sumber uangnya. Gadis itu rajin bekerja, dan juga, selalu menuruti apa yang ia minta. Bahkan, menjual diri pun Jana bersedia. Asalkan semua itu Joshua yang meminta.
"Aku kan juga bisa jadi sumber uangmu, Josh. Kenapa kamu nggak manfaatin aku untuk menjaring pria-pria hidung belang?" Toh, di Indonesia, Risa sudah biasa melakukannya.
Joshua menggeleng keras. "Tidak, tidak boleh. Kamu cuma milikku. Aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhmu disentuh oleh laki-laki lain lagi!" tegasnya.
Risa mengulas senyum bahagia mendengar penuturan Joshua yang terdengar begitu manis dan romantis. Ia menghambur ke pelukan lelaki itu dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Joshua.
"Tapi, jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia!" Risa memperingatkan sang kekasih.
"Tidak. Aku janji," ucap Joshua sungguh-sungguh.
"Aku percaya sama kamu, Baby," timpal Risa dengan wajah semringah. Ia memancing Joshua untuk mengulang kembali aktifitas panas mereka beberapa saat lalu.
Bagai dua orang pasangan baru yang sedang manis-manisnya mereguk kemesraan, keduanya menyatukan diri semalaman, hingga lelah menghampiri.
***
"Mir, maaf, ya," ucap Jana pagi itu, saat ia dan sang sahabat sedang mengerjakan pesanan makanan.
"Maaf untuk apa?" Mira mengerutkan keningnya.
Mira terkekeh. "Namanya juga dagang, Jan. Pasti ada kalanya sepi. Kalau udah rezeki nggak akan ke mana."
"Iya, sih. Tapi, tetep aja aku yang menyebabkan kita sepi pelanggan."
"Sebenarnya aku ada ide, sih, Jan."
"Oh ya? Apa, Mir?" tanya Jana penasaran. Sahabatnya ini memang penuh dengan ide-ide cemerlang.
"Kita sewa tempat aja. Kita buka warung makan Indonesia, gitu. Di Manhattan masih jarang banget, loh. Padahal kamu tahu sendiri, kan, kalau orang Indonesia di sini banyak."
Lihat betapa cemerlangnya isi kepala Mira. Tidak hanya itu, Mira juga selalu berpikiran positif. Jana sungguh beruntung mengenal gadis itu.
"Tapi, Mir, aku nggak punya duit buat patungan sewa tempat."
"Nggak usah patungan. Aku aja yang tanggung biaya sewanya. Kamu cukup jadi koki sekaligus yang mengurus warungnya."
__ADS_1
Sepasang mata Jana membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Mira. "Kamu serius?" tanyanya memastikan.
"Ya, serius, lah, Jan. Ish!" gerutu Mira pura-pura marah.
"Kamu memang terbaik, Mir." Jana memeluk Mira dengan erat. Ia tidak peduli tangannya masih berlumuran tepung dan mengotori pakaian Mira.
"Kotor, kan, jadinya bajuku." Mira mengerucutkan bibirnya sambil mengelap noda tepung pada pakaiannya.
Jana meringis. "Maaf, maaf, Mir. Aku terlalu bahagia soalnya," ucapnya. "Tapi, ngomong-ngomong, mau sewa tempat di mana?"
"Ada rekomendasi dari temen. Ntar biar temenku yang urus, deh. Masih deket-deket Harlem, sih, kata temenku."
"Oh ya? Waduh, kebetulan banget, loh."
"Ya, aku bilang juga apa. Kalau rezeki nggak akan ke mana."
Jana terkikik. "Iya, iya, aku percaya." Gadis itu begitu bersemangat dengan rencana Mira. Jika sukses, tentu mereka akan meraup keuntungan yang berlipat-lipat dari pada sekarang.
Saking gembiranya, malamnya Jana tidak sabar menceritakan pada Joshua tentang rencana baik itu.
"Bagus. Bagus sekali, Jana," timpal Joshua. Suaminya itu menyambut baik rencananya dengan Mira.
"Makasih udah mau mendukungku, Josh," ucap Jana seraya mengalungkan kedua lengan di leher sang suami.
"Kamu bercanda, ya? Tentu aku selalu support kamu. Kamu, kan, istriku." Ia mengecup bibir Jana sekilas.
Jana tersenyum lebar penuh bahagia. Malam ini, Joshua tampak begitu tampan di bawah sinar lampu temaram kamar mereka. Wajah sang suami terlihat berseri-seri.
Gadis itu mulai mengelus punggung kokoh Joshua, lalu turun ke pantat bulatnya yang proporsional. Ia benamkan wajah di dada lelaki itu. Senyumnya tidak pernah meninggalkan bibir tipisnya.
"Josh ...." Jana memanggil sang suami dengan suara manja.
"Hmm?"
"Aku pingin sama kamu malam ini."
Joshua pelan melepaskan kaitan tangan Jana di lehernya. "Aku juga pingin, Sayang. Tapi, aku capek banget," tolaknya halus. Tentu saja Joshua kelelahan karena semalaman mengerjai dan dikerjai oleh kekasihnya, Risa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Heloo, kalau cerita ini terlalu indosiraam dan mirip sinetron ikan mabur, boleh baca novel lain di sini, kita ngobrolin musik-musik lagi lah, kangen aku nulis tentang anak band ihihihi.