
Bekerja tanpa kenal lelah selama seminggu, Mira mengajak Jana menikmati akhir pekan di sebuah club malam yang ada di downtown Manhattan. Ini pertama kali untuk Jana, masuk ke tempat semacam itu.
Sekali-kali saja tidak akan masalah. Lagi pula, Joshua juga sedang tidak ada di rumah dan tidak bisa dihubungi, seperti biasa.
Sementara Mira sepertinya sudah sangat berpengalaman berada di tempat hiburan malam seperti ini. Ia cekatan memesankan minuman untuk Jana, dengan kadar alkohol ringan untuk seorang pemula.
Namun, untuk Jana, meskipun kadar alkohol minim, tetap saja membuat tubuhnya bagai melayang.
Jana melenggokkan badannya mengikuti alunan musik di lantai dansa yang mulai penuh dengan orang-orang yang ingin bersenang-senang malam itu. Gadis itu terkejut ketika ada tangan menelusup ke pinggangnya dan memeluknya dari belakang. Ia langsung memutar badannya dan spontan menampar Jovan; yang mencoba memeluknya.
"Mas Jovan?!" pekik Jana.
"Aduh, aku kena gampar," kekeh Jovan seraya meraih tangan Jana, namun gadis itu segera menepisnya.
"Kamu ngikutin aku?!" seru Jana seraya bersungut-sungut meninggalkan lantai dansa dan kembali ke meja bar. Ia meminta bartender untuk mengisi kembali slokinya.
Jana memijit kepalanya. Ia kesal sekali pada pemuda itu.
"Maaf, ya, Sayang ... abisnya kamu nggak angkat-angkat telepon."
Jana mendengus kesal. Ini pasti ulah Mir yang mengabari Jovan kalau dirinya sedang berada di tempat ini.
Jovan duduk di samping Jana sambil meringis hingga matanya menyipit. "Kamu cantik banget, sih, Sayang. Pingin peluk."
"Mas Jo!" hardik Jana kesal bukan main.
"Galak banget. Tapi aku suka. Makin cantik, deh."
Jana menggeram kesal. Ia lalu memanggil Mira yang masih berada di lantai dansa bersama seorang pria.
"Hi, Mas Jo," sapa Mira pada Jovan yang terus mencoba merangkul Jana.
"Hello, Mir." Jovan menaik-naikkan alisnya.
Mira terkekeh. Lalu ia mengalihkan pandangnya pada Jana. "Mau pulang?" tanyanya.
"Iya. Ada pengacau," sindir Jana seraya melirik ke arah Jovan.
Mira menatap ke arah Jovan yang masih cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
"Ya, udah. Pulang sama Mas Jo, ya, Jan. Aku masih mau di sini."
Jana menghela napasnya. Ia mencium pipi Mira sekilas untuk berpamitan. Langkahnya cepat walaupun sedikit gontai menuju keluar bar.
Sampai di luar, ia menuju tempat pemesanan taksi yang ada di samping gedung. Namun, Jovan yang mengikutinya segera menyeretnya menuju ke mobilnya.
__ADS_1
"Aku naik taksi aja lah, Mas," ujar Jana seraya menarik lengannya dari genggaman tangan Jovan
"Nggak boleh, dong. Aku bakal nganter Tuan Puteri ke manapun yang dia mau."
Jana mendengus kesal. "Kamu mabok!" Ia mendorong dada Jovan.
Jovan terkekeh. "Aku baik-baik aja. Ayo, masuk, Sayang." Ia membuka pintu mobil dan mendorong Jana masuk.
Jana memutar bola matanya sebal. Jovan sering sekali muncul tiba-tiba di hadapannya. Dan tatapan matanya itu, begitu menggoda.
Jovan lalu masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin. Beberapa saat kemudian ia melajukan mobil meninggalkan bar.
"Mau di anter ke Harlem apa ke apartemenku?" tanya Jovan dengan senyum jahilnya.
"Harlem, lah."
"Okay ... ke apartemenku."
Jana menghela napasnya. Ia melempar pandang ke luar jendela memandangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia pasrah saja Jovan akan membawanya ke mana. Pulang ke apartemennya di Harlem pun, ia akan sendirian di sana.
"Kok, tiba-tiba main ke club?" tanya Jovan heran.
"Pingin coba!" jawab Jana ketus. Ia melipat kedua lengan di depan dada.
Jovan tergelak. "Santai aja, Sayang ... jangan marah-marah terus. Cepet tua, loh, entar."
"Hei, aku nggak nyebelin, loh, padahal, Jan. Aku, tuh, ngangenin." Jovan tergelak.
Jana mendesis. Kepercayaan diri Jovan sudah level dewa, rupanya.
Jovan mengemudikan mobil memasuki area apartemennya yang mewah. Ia lalu menghentikan mobilnya di depan pintu utama.
"Udah sampai," ucap Jovan. Ia lalu membukakan pintu untuk Jana keluar, layaknya seorang pria sejati.
Jana kembali memutar bola matanya. Ia berdiri di depan pintu lobby, menunggu Jovan yang sedang meminta tolong pada seorang penjaga untuk memarkirkan mobilnya di basement.
Setelah beres dengan mobilnya, Jovan mengajak Jana naik ke apartemennya di lantai lima puluh. Jana merutuki diri sendiri dalam hati. Ia tahu apa yang akan mereka lakukan nanti di dalam apartemen. Namun, Jana bahkan tidak mampu menolak. Lebih tepatnya, kebutuhan fisiknya yang merindukan belaian lelaki.
"Kangen terus aku sama kamu." Jovan memeluk Jana saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar Jovan yang luas.
Jana menghela napasnya dalam-dalam.
"Kenapa kita kaya gini, Mas? Aku udah berkhianat sama suamiku."
"Alaaah. Suami brengsek juga, ngapain dipikirin. Palingan sekarang dia lagi tidur sama cewek lain," gelak Jovan.
__ADS_1
Jana mendesis. Jovan selalu menjelek-jelekkan Joshua di hadapannya.
"Udah, sih. Bobo di sini, kan, lebih nyaman. Ada yang nemenin lagi, kan dingin-dingin gini cocok banget, tuh, yang anget-anget."
"Bodo!" Jana memutar badan hendak keluar kamar, namun, tangannya sudah digenggam oleh Jovan.
"Sini aja," ucap Jovan seraya mendekatkan bibirnya pada bibir Jana. Sejurus kemudian, bibir keduanya saling berpagut. Kedua tangan mereka saling bertaut.
Jovan tiba-tiba mengangkat tubuh mungil Jana a la bridal. Lalu, pelan membaringkan gadis itu di atas ranjang. Kedua pasang mata saling menatap.
Sejujurnya Jana ingin sekali membuang rasa aneh yang berkecamuk dalam dada, saat ia bersama dengan Jovan. Namun, tubuhnya seakan berkhianat.
"Sumpah, kamu cantik banget, Jan."
Jana memalingkan wajahnya. Namun, Jovan buru-buru meraih dagunya dan menghadapkan ke wajahnya. "Kamu bener-bener bikin candu," bisiknya.
"Mas ...." Jana menggeleng.
"Jujur, Jan ... kamu sayang sama aku, nggak?"
"Nggak." Jana memberanikan diri menatap mata teduh yang menghangatkan jiwanya itu.
"Aku nggak harus bercinta setiap kali ketemu kamu, kok, Jan. Aku cuma pingin peluk aja malam ini."
Jana terperangah. Ia cukup kaget mendengar pernyataan Jovan. Dan malam itu, Jovan tidak melakukan apa-apa pada dirinya. Ia hanya memeluknya erat-erat sembari menciumi tengkuknya lembut. Sesekali mengelus lengannya.
"Ini nyaman banget, Jan."
"Kamu cewek paling nyaman yang aku pernah deket."
"Kamu, tuh, candu."
Jana menghela napasnya berat. "Mas Jo udah bilang berapa kali, sih, kata-kata candu malam ini?"
Jovan terkekeh. "Nggak tahu. Pokoknya pingin bilang terus."
"Mas ...," panggil Jana lirih.
"Iya, Sayang?"
Jana memejamkan matanya. Sudah kepalang basah ia tercebur dalam permainan Jovan. Ia tidak menyangka hatinya akan menjadi sebimbang ini.
Ia pernah sesumbar bahwa hanya Joshua yang mampu membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya. Nyatanya, ada Jovan yang membuatnya merasa menjadi wanita seutuhnya.
Jovan selalu mengatakan kalau Joshua suami brengsek. Mungkin benar adanya. Tetapi, bagaimana dengan dirinya. Bukankah Jana juga brengsek. Main hati dengan lelaki lain sedangkan ia masih memiliki suami.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...