
Joshua pulang ke apartemen Jana, untuk memastikan apakah pemuda brengsek itu sudah memberitahukannya pada Jana tentang dirinya dan Risa. Ia pun sudah menyiapkan pembelaan jika Jana ternyata sudah diberitahu oleh pemuda itu.
Ia tidak mungkin mau kehilangan Jana. Karena gadis itu satu-satunya sumber uang yang menghidupi dirinya dan juga Risa. Apalagi, Risa saat ini sedang mengandung anaknya. Tentu membutuhkan banyak biaya untuk merawat bayi dalam kandungan kekasihnya itu.
Dirinya bisa bersantai-santai hidup di Manhattan bersama kekasihnya, adalah berkat kerja keras Jana.
Pagi-pagi sekali Joshua pulang dan mendapati Jana masih terlelap dalam tidurnya. Pelan ia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping gadis itu.
Ia pandangi wajah polos Jana cukup lama. Cantik. Tidak kalah cantik dari Risa. Jana begitu patuh padanya. Apapun yang ia minta pasti akan dikabulkan oleh Jana.
Joshua bertanya pada diri sendiri. Jana yang nyaris sempurna, dari segi fisik maupun finansial, tidak mampu menggetarkan hatinya. Sedangkan Risa, yang sudah berkali-kali menyakitinya, justru menempati posisi tertinggi dalam hatinya.
"Josh?" Jana membuka mata. "Wajahmu kenapa?" Ia terkejut melihat memar di pelipis mata sebelah kiri suaminya.
"Tidak apa-apa. Kemarin, sedikit ada masalah dalam pekerjaan." Joshua mengulas senyumnya. Rupanya Jana masih bersikap seperti biasa. Artinya, pemuda brengsek itu belum memberitahukan apapun pada Jana.
"Mau aku obati?" tawar Jana.
"Tidak usah."
"Beneran?" Jana memeriksa luka Joshua.
Memang sudah mengering. Hanya bengkaknya yang cukup kentara.
Joshua mengangguk mantap. "Kamu libur hari ini?" tanyanya.
"Ya. Aku dikit nggak enak badan. Jadi, Mira bilang aku bisa ambil libur hari ini."
Joshua mengangguk-angguk. Ini kesempatan untuknya mengambil hati Jana, agar gadis ini tidak sempat berpikir macam-macam terhadap dirinya.
"Jana ...."
"Ya?"
"Mau jalan-jalan nanti?" tawar Joshua.
Untuk pertama kalinya, Joshua mengajak Jana jalan-jalan keliling Manhattan. Hal itu membuat Jana begitu gembira. Wajah khas bangun tidurnya terlihat semringah.
__ADS_1
"Beneran?" Ia mastikan.
"Iya. Beneran."
Hati Jana menghangat. Ia menghambur ke pelukan Joshua. Sungguh, perubahan Joshua sangat signifikan. Joshua kini mulai memberi perhatian padanya.
Sungguh, dalam hati Jana merasa bersalah karena telah mengkhianati Joshua, dengan berkal-kali tidur dengan Jovan. Pemuda itu memang seperti candu untuknya, dan mungkin sebaliknya.
Menjelang sore hari, Joshua mengajak Jana ke Public Market Center yang berada di pinggiran Manhattan. Jana muncul memakai kemeja kotak - kotak tebal berwarna merah, celana legging hitam dipadu dengan boots, syal tebal di lehernya, serta topi rajut musim dingin yang bertengger di kepalanya.
Hal itu membuat Joshua tersenyum simpul. "Kamu kelihatan cantik, Jana."
Jana meringis. "Makasih, Baby."
Joshua memuji Jana dengan tulus. Memang ia takjub dengan penampilan sederhana Jana namun casual. Tubuhnya yang mungil terkadang membuatnya gemas sendiri.
Masuk ke Public Market Center, Joshua memberi isyarat pada Jana untuk berjalan terlebih dahulu. Mereka berjalan beriringan saat melewati lorong menuju ke pasar tradisional Amerika itu.
Di dalam pasar yang cukup ramai,
"Kamu, kok, punya ide jalan-jalan ke tempat ini, Josh?" tanya Jana seraya tersenyum tipis.
"Kapan terakhir kali aku ke tempat ini, rasanya sudah lama sekali," gumam Joshua seraya memandang sekeliling. Nostalgia masa kecil terlintas di kepalanya. "Ingin mengenang masa kecil," jawabnya.
Jana membulatkan matanya begitu melihat kincir ria atau bianglala, berdiri dengan gagahnya, tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Josh, ayo, naik!" Jana berseru seraya menarik lengan Joshua menuju wahana berbentuk roda besar yang digantungi kabin - kabin penumpang.
Joshua yang terkejut tak mampu menolak. Senyum tipisnya tersungging sekilas. Wajahnya terlihat lega melihat Jana begitu antusias dengan tempat yang dia pilih untuk mereka berkencan.
"Kamu tunggu di sini. Aku beli tiketnya dulu," ucap Joshua seraya berjalan menemui seorang penjaga tiket.
Jana merapikan letak syalnya agar bisa menutupi seluruh leher demi menghalau udara dingin yang menusuk.
"Jana, ayo!" panggil Joshua yang kini sudah berada di depan pintu wahana. Jana mengangguk senang.
Seorang pria berbadan besar membukakan pintu, lalu menyuruh keduanya dan beberapa orang yang juga akan naik ke dalam bianglala masuk ke dalam kabin-kabin penumpang yang masing-masing berkapasitas dua orang.
__ADS_1
"Waaaaaa!!" Jana berseru ketika roda besar itu mulai bergerak memutar. Membuat kabin penumpang yang mereka duduki ikut bergerak naik.
Jana memejamkan matanya seraya memegangi lengan Joshua dengan erat, ketika roda mulai berputar cepat.
Senyum tak henti-hentinya tersungging dari bibir Joshua. Senyum yang kini berkembang menjadi tawa, dan berubah menjadi seruan keras ketika roda menukik turun dan membuat jantungnya seakan ingin melompat keluar.
Jana menyembunyikan wajahnya pada bahu Joshua seraya memegangi lengan si mata biru itu dengan sangat kencang.
"Fyuhh! Seru banget," ujar Jana begitu mereka turun dari wahana dan berjalan di antara para pengunjung pasar malam.
"Tunggu bentar." Joshua menahan lengan Jana untuk berhenti sejenak. Dia menghampiri sebuah konter permen dan camilan tidak jauh darinya.
Lima menit kemudian, Joshua menyerahkan satu bungkus kertas menggembung pada Jana.
Mata Jana seketika berbinar. "Marsmellow?" pekiknya kegirangan. "Kok kamu tahu kalau aku suka?" tanya Jana seraya mencomot satu potong empuk benda berwarna putih itu.
"Hanya menebak saja," sahut Joshua. "Boleh minta sepotong?" tanyanya sembari mengambil sepotong dari dalam bungkus.
Lalu mengunyahnya.
Janaterkekeh. Dia menatap wajah Joshua lekat. Kebersamaan seperti ini yang ingin dirasakan oleh Jana. Selama menikah, ini adalah pertama kalinya Joshua mengajaknya berjalan-jalan dengan suasana hati gembira dan tanpa beban.
"Cari wahana lain, yuk!" Jana berlarian kecil di antara pengunjung sambil sesekali menghadap ke belakang memastikan Joshua menyusulnya.
Joshua berjalan beberapa meter di belakang Jana, mengawasi gerak-gerik gadis manis itu. Entah kenapa, senyum Jana membuat hatinya terasa hangat. Tanpa sadar, justru Jana-lah satu-satunya objek di dalam pasar malam yang menarik perhatiannya. Gadis itu tampak menonjol dari orang-orang di sekitarnya. Jana dengan wajah Asianya yang manis.
Bodoh, jika Joshua tidak melihat ketulusan dalam mata istrinya itu. Hanya saja, dirinya tidak mau mengakui perasaan nyaman yang hadir saat bersama dengan Jana.
Dengan Risa, berbeda. Risa tipe wanita yang manja dan suka menuntut. Namun, permainan ranjangnya begitu dahsyat dan berpengalaman.
Joshua mulai membanding-bandingkan antara Risa dan Jana. Dua pribadi yang sangat berbeda. Keduanya memiliki keunikan masing-masing.
Namun, hari ini, entah kenapa perhatian Joshua hanya tertuju pada Jana. Seperti ada tabir terbuka, yang mampu membuat Joshua melihat semua sisi baik dalam diri Jana.
Sedikit demi sedikit, Joshua merasa nyaman berada di sisi Jana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1