Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 28. Sahabat Baru.


__ADS_3

Hari pertama mengikuti kursus persiapan ujian persetaraan membuat kepala Jana mau meledak saja rasanya. Ia harus kembali belajar materi pelajaran yang ada di SMA, agar bisa lulus nantinya dengan nilai bagus.


Semua itu harus Jana lalui karena ia ingin mendapatkan pekerjaan di negara ini. Ia ingin membantu meringankan beban Joshua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.


Untung saja, Jana bisa mendapatkan green card dengan mudah. Seharusnya ia sudah bisa bekerja, namun, hanya pekerjaan kecil atau serabutan yang tidak seberapa hasilnya. Jana menginginkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang layak pula.


Siang itu udara sedikit hangat dan matahari muncul meskipun sebentar. Jana memutuskan untuk mengisi perutnya di kantin milik gedung tempatnya menjalani kursus.


Sup kentang hangat, roti baguette panggang serta beberapa potong daging asap. Cukup lezat, karena Jana sudah mulai terbiasa dengan makanan-makanan semacam itu.


"Haii, boleh duduk di sini?"


Jana yang sedang menikmati makan siangnya, mengangkat kepalanya dan mendapati seorang gadis Asia berwajah manis dan berkulit sawo matang. Ia memegang sepiring makanan dan segelas jus buah.


"Iya, silahkan," ujar Jana sambil mengulas senyum ramah.


"Dari Indonesia?" tanya gadis itu membuat Jana terkejut, namun, sekaligus senang, karena bisa bertemu dengan saudara satu bangsa di negeri orang.


"Iya. Kamu juga, ya?"


Gadis itu terkekeh. "Iya, kenalin, aku Mira. Baru masuk kursus. Kamu?"


"Aku Jana. Aku juga baru masuk. Waah, senangnya bisa ketemu teman dari Indonesia juga," ucap Jana gembira.


Obrolan pun mengalir hangat antara gadis bernama Mira dan Jana. Karena keduanya seumuran, maka keduanya menjadi cepat akrab. Dan kebetulan, keduanya memiliki misi yang sama. Ingin mendapatkan pekerjaan yang layak di negara ini.


"Aku udah cerai sama suamiku. Jadi, terpaksa aku harus menghidupi diri sendiri di sini. Soalnya udah betah tinggal di sini. Males pulang ke Indonesia," terang Mira menjelaskan situasinya.


"Kalau aku emang pingin bantuin suami, sih. Nggak enak juga tiap hari nggak ada kegiatan."


"Bener, Jan. Emang harus produktif. Secara, ya, biaya hidup di sini mahal banget."


Jana mengangguk setuju. "Kelamaan nganggur bisa gila, sih, di sini," kekehnya.


"Bener banget." Keduanya meloloskan tawa.


"Duh, seneng banget akhirnya punya temen nongkrong."


"Aku juga," sahut Jana girang.


Sejak pertemuan itu, Jana dan Mira menjadi akrab. Dari hari senin sampai kamis mereka bertemu di tempat kursus, bahkan akhir pekan mereka terkadang hang out bersama untuk menonton film atau makan di restauran Indonesia yang ada di Manhattan.


"Kamu ikut perkumpulan Ibu-Ibu Melati juga, ya?" tanya Mira saat Jana memberitahukan kalau ada acara festival Indonesia yang akan di selenggarakan di konsulat jenderal Indonesia yang ada di Manhattan.

__ADS_1


"Iya, nih. Habisnya kan awal-awal di sini gabut banget, nyari-nyari temen yang tinggal di sini buat nyari suasana baru."


"Aku pernah ikut, sih. Tapi, nggak kuat."


Jana terkekeh. "Iya, aku tahu, kok, alasannya."


"Duh, circle mereka nggak masuk banget di aku."


"Sebenernya aku nggak masuk juga, cuman, ya, udah terlanjur. Mau keluar nggak enak."


Mira menggeleng. "Mulut mereka tuh ngeri, tahu."


Jana setuju dengan ucapan Mira. Kumpulan wanita-wanita yang haus akan popularitas.


"Tapi, rata-rata Ibu-Ibu Indonesia di sini emang kaya gitu, sih, Jan."


"Iya, ya?"


Mira mengangguk. "Mereka, tuh, kaya bikin geng gitu, loh, semacam sosialita. Ya, arisan, nongkrong, acara masak-masak. Tapi, intinya, mau pamer barang-barang branded doang," kekehnya.


"Aduh, aku nggak masuk yang begituan, Mir. Secara aku nggak punya duit banyak kaya mereka."


Mira mengibaskan tangan seraya menyeruput jus di gelasnya. "Banyak yang nggak punya banyak duit juga, kok, mereka. Tapi, dipaksain aja. Soalnya nggak mau kalah saing satu sama lain."


"Oh, gitu?"


"Oh, Mbak Yola." Jana menimpali.


"Nah, itu, Yola itu, bener. Dia kan ngakunya suaminya dokter, ya. Tiap ketemuan sama geng Melati, pakaiannya udah yang kaya artis, gitu." Mira memberi jeda pada ceritanya. "Eh, nggak tahunya, suaminya cuma pesuruh di rumah sakit."


"Owalaaah," gumam Jana. Rupanya begitu ceritanya. Di balik penampilan yang wah, ada sesuatu yang dipaksakan. "Trus mereka bisa dapet barang-barang branded, duit dari mana, Mir?"


Mira tergelak. "Ada tuh distributor barang-barangnya, orang Indonesia juga. KW 17," lanjutnya.


"Serius?"


"Intinya barang KW, Jan."


Jana mengangguk-angguk. Rupanya kehidupan orang-orang Indonesia di sini cukup toxic.


"Nggak semuanya, sih, Jan. Ada juga yang baik, kok. Tapi, biasanya yang udah tua-tua."


Jana meringis sambil menggaruk kepalanya. Banyak yang belum ia ketahui tentang seluk beluk lingkungan sekitar rupanya. Untung saja ia bertemu dengan Mira, yang dengan senang hati memberitahukan info-info penting agar Jana bisa menyaring kembali apapun yang akan ia lakukan ke depannya.

__ADS_1


"Aku cerai sama mantan suamiku, tuh, karena ... dia ternyata gabung sama gangster."


Suatu hari Mira bercerita tentang hal yang paling pribadi. Tentu saja, setelah ia dan Jana sudah sangat akrab satu sama lain.


"Oh, ya?" tanya Jana dengan wajah kaget.


"Iya. Awalnya, dia suka pake."


"Pake?" tanya Jana tidak mengerti.


"Obat, Jana, obat-obatan terlarang."


"Owh." Jana mengangguk-angguk. "Terus?" tanyanya penasaran.


"Mantan suamiku, tuh, sebenernya perhatian, Jan. Baik, kok, awalnya. Tapi, setelah dia di PHK, dia agak-agak stres gitu. Make obat, trus jadi temperamen.


"Kamu sering dipukuli?" tanya Jana prihatin.


Mira mengangguk lemah. Raut wajahnya yang manis berubah muram. "Puncaknya, ya, dia jarang pulang dan ternyata gabung sama gengster."


"Aduh, aku turut prihatin, ya, Mir." Jana mengelus punggung tangan Mira lembut, berusaha memberi kekuatan semampunya pada sahabatnya itu.


Mira terkekeh. "Udah, udah lama berlalu, kok. Aku udah move on, tahu."


Senyum dibibir Jana lolos. "Syukurlah, Mir. Udah punya seseorang lagi kayaknya, nih?" godanya.


"Belum, Jan. Belum mikir ke situ, sih. Dari kemarin-kemarin, tuh, cuma mikirin kerja nyari duit aja."


"Emang pernah kerja di mana?" tanya Jana.


"Ya, di restauran-restauran kecil, jaga bayi, bantuin di tempat laundry. Serabutan gitu, lah, Jan. Makanya aku ikut GED ini, loh, biar bisa dapat kerjaan bagus."


Jana mengangguk-angguk. Mendengar cerita Mira, nasibnya masih jauh lebih beruntung. Joshua baik dan tidak menunjukkan gelagat aneh. Meskipun sampai sekarang Jana tidak tahu apa pekerjaan suaminya itu.


Namun, Jana percaya, Joshua tidak melakukan hal-hal aneh di luar sana.


"Jan, aku mau ngasih kamu warning, nih," ucap Mira dengan nada serius.


"Apa, tuh?" tanya Jana penasaran.


"Kamu bilang kan kamu nggak tahu kerjaan suamimu apa. Kamu harus hati-hati."


Jana mengerutkan keningnya. "Kenapa, Mir?"

__ADS_1


"Siapa tahu dia juga ternyata kerja sama gengster. Ini Manhattan, Jan. Keras. Ikut gengster salah satu solusi mudah untuk bisa bertahan hidup di sini."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2