
Keluarga Jana terpaksa harus menjual sebidang sawah mereka untuk membayar jaminan Joshua supaya bisa keluar dari penjara. Pun mereka harus membayar ganti rugi biaya rumah sakit si korban.
Ide menjual tanah adalah ide Bu Galuh. Dan meskipun Pak Yanto sangat keberatan dengan ide istrinya itu, ia terpaksa menurut karena tidak ingin masalah itu mengganggu keharmonisan keluarga mereka.
Namun, hal itu membuat Pak Yanto semakin tidak suka dengan Joshua. Dalam hati, ia menyesal telah menikahkan Jana pada orang asing yang nyatanya malah menyakiti putri semata wayangnya itu.
Dan Joshua yang sedang dirundung malang, justru mendapat kabar yang tidak bagus perihal warisannya di Amerika. Bahwa, ia harus pulang ke negaranya, secepatnya, untuk mengurus hal itu.
"Mama, Papa, aku minta izin untuk membawa Jana ke Amerika," ucap Joshua pada kedua mertuanya saat kembali dari kantor polisi.
"Oh, ndak bisa. Kamu kalau mau pulang, pulang saja sendiri. Jangan bawa anak saya!" timpal Pak Yanto.
"Eeh, Pak, Bapak ini gimana, sih? Anaknya mau diajak hidup di Amerika kok malah ndak boleh," sergah Bu Galuh. "Mama, sih, setuju saja. Ndak usah dengerin Papa-mu, Joshua," ucapnya pada Joshua.
Sementara Jana, seperti biasa, hanya menyimak pembicaraan kedua orang tua dan juga suaminya.
"Pokoknya bapak ndak setuju. Di sini saja, di kampung halaman Jana, kamu berani menyakiti dia, apalagi kalau di negaramu. Bisa-bisa anak saya kamu bunuh!"
"Eh, eh, Bapak!" potong Bu Galuh. "Ndak boleh bicara seperti itu. Tanyakan saja sama Jana, mau ndak dia?" Bu Galuh mengalihkan pandangannya pada sang putri yang duduk memberi jarak pada ketiganya.
"Aku nggak tahu, Bu!" seru Jana sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlari masuk ke dalam kamar dengan cucuran air mata.
Di dalam kamar, Jana menumpahkan kesedihannya. Hatinya begitu sakit membayangkan semua yang telah Joshua lakukan.
"Jana, aku minta maaf," ucap Joshua yang menyusulnya ke kamar. Kini, ia duduk di samping Jana yang sedang berbaring menelungkup di atas ranjang sembari terisak.
"Kamu bohong sama aku!" hardik Jana seraya memukul-mukul bantal di sampingnya. "Kamu selama nikah sama aku, masih berhubungan dengan dia. Terus, yang bikin aku paling sakit, ternyata kamu yang nggak mau putus dari dia," erangnya panjang lebar.
"Iya, I'm sorry, Jana." Joshua berusaha menyentuh bahu Jana namun gadis itu secepat kilat menepisnya.
"Tega, ya, kamu! Aku udah banyak berkorban buat kamu, Josh!"
Joshua menundukkan kepalanya. Semua yang Jana ucapkan benar. Joshua merasa begitu bersalah dengan gadis itu.
"Kamu harus ikut aku ke Amerika, Jana."
Jana menoleh ke arah Joshua dan menatapnya sinis. "Aku benci sama kamu!" rutuknya.
__ADS_1
"Tolong maafkan aku, Jana. Sekarang, aku sudah putus dengan Risa. Aku mau bangun hidup baru sama kamu di Amerika."
Jana mendecih. "Kamu mau jadikan aku pelarian?" tudingnya.
"Tidak, Jana."
Jana menghembuskan napasnya kasar. Disekanya sisa air mata di pipinya. Pandangannya menerawang jauh. Ia tidak tahu harus menimpali apa.
"Sepertinya visa tinggalku di sini akan ditolak, Jana. Karena aku punya catatan tidak bagus."
"Terus?" tanya Jana acuh tidak acuh.
"Kamu harus urus visa ke Amerika secepatnya."
Jana terdiam. Sejujurnya dalam hati ia begitu gembira. Ini yang ia inginkan selama ini. Bisa menginjakkan kaki di negara asal Joshua. Tetapi, ia merasa Joshua hanya menjadikannya sebagai pelarian.
***
Yu Prapti tergopoh-gopoh menghampiri Kang Soleh yang sudah berhenti di depan rumahnya melayani ibu-ibu pemburu bahan makanan pagi itu.
"Tahu apa, Yu?" timpal seorang wanita berbadan tambun.
"Iya, tahu apa, Yu Prapti? Pagi-pagi sudah bergosip saja." Wanita berkerudung hijau menyahut.
Yu Prapti mendecak. Matanya melirik sinis ke arah halaman rumah Bu Galuh. "Itu, loh, mantunya Bu Galuh, kemarin ditangkap polisi."
"Hah? Mas Joshua ganteng? Yang bener, Yu Prapti?" Kang Soleh ikut menimbrung obrolan para wanita itu.
"Loh, ya, bener lah, Kang Soleh. Kemarin-kemarin itu ada pulisi, dua orang, membawa paksa si bule. Denger-denger, kasus penganiayaan." Yu Prapti mencebikkan bibirnya.
"Mukulin orang, gitu, Yu?"
"Iyaa. Denger-denger, sih, mantunya Bu Galuh itu selingkuh, nah, selingkuhannya ini, ternyata selingkuh juga. Si Joshua itu menganiaya selingkuhannya pacar gelapnya itu," terang Yu Prapti.
"Aduuh, kok, ribet, ya, ceritanya."
"Memang," sahut Yu Prapti puas. Ini adalah trending topic yang akan ia sebar luaskan ke seluruh kampung Jeruk Purut. "Eh, itu orangnya, tuh, dateng," tunjuk Yu Prapti pada Bu Galuh yang baru saja muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Bu Galuh yang merasa sedang menjadi bahan pembicaraan, tidak sabar untuk mengklarifikasi. Ia tahu, tetangganya itu sedang menyebarkan gosip perihal menantunya menantunya pada para tetangga.
"Kalian sedang membicarakan aku, ya?" tuduhnya saat tiba di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu tetangganya.
"Ya, jelas," cebik Yu Prapti.
"Situ memang biang gosip. Jadi, ya, ibu-ibu, semua ndak seperti yang digosipkan sama janda gatel ini," terang Bu Galuh.
"Halaah, mbok, ya, diakui saja kalau mantumu itu tidak sebaik yang situ gembar-gemborkan."
"Heh! Situ kalau ngomong jangan sembarangan, ya? Denger, ya, sebentar lagi anakku mau dibawa sama suaminya ke Amerika sana, loh." Bu Galuh berucap dengan bangganya.
"Oh, ya, Bu? Wah, enak, ya, si Jana." Wanita bertubuh tambun menyahut.
"Loh, ya, iya. Di sana, rumah Joshua itu gede mirip istana, Bu. Anakku bakal hidup terjamin."
"Rumah gede milik presidennya kali," kekeh Yu Prapti.
Bu Galuh mendesis. "Kalau Jana sudah tinggal di sana, nanti saya bagi-bagi foto-foto rumahnya."
"Sombong. Aku, loh, calon mantuku rumahnya mirip istana, aku diam saja," timpal Yu Prapti, merendah untuk meroket.
"Situ juga ndak ada bukti. Lagian baru juga calon mantu. Belum tentu bakal jadi mantu," kikik Bu Galuh.
"Loh, ya, jelas bakal jadi mantu. Asih sama calon suaminya sedang mencari tanggal pernikahan yang cocok."
Kembali Bu Galuh mendecih. "Nikah apa kawin. Belum nikah saja sudah sering kawin," kekehnya mengejek. "Sudah ndak orisinil."
"Woooo, sembarangan kalau ngomong situ, ya? Asih itu masih orisinil. Perawan ting ting!" tegas Yu Prapti, yang dalam hati sebenarnya tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan.
"Tong tong kali." Bu Galuh meloloskan tawanya dengan keras. Sementara ibu-ibu yang lain saling terkikik, meskipun mencoba untuk menutupinya, karena takut kena damprat Yu Prapti yang galaknya minta ampun.
"Situ, ya, memang mulutnya pingin di jepret!" sungut Yu Prapti. "Lihat saja nanti, situ bakal minder kalau aku bikin pesta pernikahannya Asih."
Bu Galuh hanya mencebikkan bibir. Entah kenapa pagi itu, perdebatannya dengan si tetangga tidak berakhir dengan perkelahian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1