Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 32. Ide Gila Joshua.


__ADS_3

"Maaf, Mbak, boleh kenalan, nggak?" Pemuda itu memandang ke arah Jana.


Mira menyikut pelan lengan Jana yang terbengong-bengong. "Masnya minta kenalan, Jan," bisiknya.


Jana terkesiap. "Saya?" tanyanya memastikan.


"Iya, Mbaknya," kekeh pemuda itu seraya mengulurkan tangan meminta Jana menjabatnya. "Sama Mbak satunya juga, deh." Ia bergantian menjabat tangan Mira. "Jovan," ucapnya memperkenalkan diri.


"Saya Mira. Ini temanku, Jana. Mas Jovan, kok, sempet balik lagi ke sini? Tadi pacarnya ditinggal di mana?" tanyanya sambil terkekeh.


"Owh, udah pulang sama temen-temennya. Bukan pacar, sih, sebenarnya. Deket aja," terang Jovan seraya melirik ke arah Jana.


Gadis itu sedang melayani pembeli yang baru saja datang.


"Pacar juga nggak papa, loh, Mas," goda Mira. Ia cukup heran kenapa Jovan harus menjelaskan statusnya dengan gadis yang ia bawa beberapa saat lalu.


"Jana tinggal di mana?" tanya Jovan pada Jana yang sudah selesai melayani pembeli.


"Harlem, Mas." Jana mengulas senyumnya.


"Ohhh." Jovan mengangguk-angguk. "Aman tapi, kan?" tanyanya dengan raut wajah sedikit cemas. Siapapun di Manhattan pasti tahu, tempat seperti apa Harlem. Tempat tinggal orang-orang kelas bawah, yang kebanyakan adalah para imigran. Daerah itu juga terkenal banyak kelompok gangster yang senang membuat onar.


"Aman, sih. Paling kadang-kadang digangguin sama anak-anak yang suka nongkrong di pinggir jalan."


Jana terlibat obrolan yang cukup hangat dengan Jovan. Pemuda itu ramah dan cukup menyenangkan. Ia bahkan membantu Jana dan Mira berjualan.


"Kamu nggak ikutan jadi penari, Jan?" tanya Jovan sambil menunjuk beberapa penari yang sedang menarikan tari Bali tidak jauh dari mereka.


"Nggak bisa nari," jawab Jana dengan polosnya.


"Masa, sih? Kayaknya postur tubuh dan gemulai gerakan kamu cocok banget jadi penari." Jovan memindai tubuh Jana dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat gadis itu sedikit gugup.


Jana merapikan kebaya yang ia kenakan karena merasa jengah diperhatikan sedemikian rupa oleh Jovan. Mira yang berdiri di sampingnya tersenyum simpul. Siapapun pasti bisa menduga kalau Jovan menyukai Jana.


"Kamu dari Jogja, ya?" tebak Jovan.


"Kok, tahu?" Jana terheran-heran. Sebabnya, Ia belum mengatakan pada pemuda itu dari mana ia berasal.


"Kan, ada medok-medoknya dikit kalau ngomong," kekeh Jovan. "Lumpianya berapa, Tante?" Ia berucap pada seorang pembeli yang sedang memilih-milih jajanan.


Si pembeli-seorang perempuan paruh baya dengan sanggul tinggi di kepalanya, mencebik. "Kamu tahu dari mana Tante mau pilih lumpia?"


Jovan menggaruk kepalanya. "Yang lain nggak tahu namanya, Tante."


"Jualan kok nggak tahu nama barang yang dijual, gimana, sih, kamu?"

__ADS_1


Jovan tergelak. "Aku cuma bantuin Nona Manis ini, loh," ujarnya sambil melirik Jana.


Sepertinya dua orang itu sudah saling mengenal. "Modus aja kamu, Jo," cebik perempuan itu.


"Namanya juga usaha, Tante," kekeh Jovan salah tingkah.


"Apemnya sepuluh, ya, Jo."


"Aduh, apem yang mana, ya, Jan?" tanya Jovan dengan wajah pucat.


Jana terkikik melihat tingkah Jovan yang terlihat lucu. "Yang ini," tunjuknya pada kue bulat berwarna coklat.


"Nggak pake daun pisang, ya, sayangnya," seloroh si perempuan paruh baya.


"Iya, Bu, nggak ada." Jana menimpali sembari membantu Jovan membungkus apem dengan kertas.


"Cicipin satu, Tante. Enak, loh," celetuk Jovan.


Si perempuan menuruti saran Jovan dan mencicipi satu kue berwarna coklat itu. Ia mengangguk-angguk, pertanda setuju dengan apa yang diucapkan pemuda itu.


"Gimana, Jan? Aku udah cocok, kan, jadi marketing kamu?" tanya Jovan sambil terkekeh, begitu si pembeli sudah berlalu.


Jana pun ikut terkekeh. "Tapi, aku nggak kuat bayarnya."


"Bayar pake makan malam aja mau, nggak?"


"Mau, nggak?" ulang Jovan.


"Emmm ...." Jana mengelus tengkuknya. Ia bingung bagaimana menolaknya.


Melihat Jana yang ragu-ragu, Jovan sudah bisa menebak kalau gadis itu hendak menolaknya. "Ya, udah, deh. Bayar pake nomermu aja, gimana?" Ia mengambil ponsel di saku celana panjangnya. Mengutak-atiknya sebentar, lalu menyodorkannya pada Jana.


"Boleh, deh," sahut Jana sambil mengambil ponsel dari tangan Jovan dan menuliskan nomer teleponnya. Hitung-hitung memperbanyak relasi. Siapa tahu akan berguna nantinya, pikir Jana.


"Makasih, ya," ucap Jovan gembira. Ia menatap sekilas wajah teduh Jana yang beberapa saat lalu; pertama ia melihatnya, membuatnya tertarik.


Hingga menjelang sore, Jovan masih betah membantu Jana dan Mira menghabiskan barang dagangannya. Dan Jana merasa, Jovan adalah pribadi yang sangat menyenangkan. Ramah, baik, meskipun ia yakin, Jovan berasal dari keluarga kaya raya.


Terbukti, seusai acara, Jovan menawari Jana dan Mira untuk mengantar mereka pulang, dengan mobil yang tergolong mewah dan mahal untuk ukuran Manhattan. Namun, Jana menolaknya. Tidak mungkin dirinya diantar oleh laki-laki, meskipun hanya sekedar teman biasa.


***


Joshua duduk di ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan hanya dibatasi oleh buffet kecil, sambil menghisap rokoknya. Ia sudah menunggu kepulangan Jana sejak dua jam lalu.


Gadis itu pun akhirnya muncul, membawa dua kotak makanan. Senyum gadis itu tersungging saat melihat Joshua. "Maaf, aku agak telat pulang. Tadi mampir ke tempat Mira dulu," ucapnya seraya menaruh makanan di atas meja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Joshua menjawab dengan nada suara datar.


"Aku belikan makan malam."


Joshua mengangguk seraya meraih kotak makanan yang diberikan oleh Jana. "Acaranya lancar? Kamu dapat untung?" tanyanya.


"Iya, lancar. Untungnya lumayan. Tadi, malah ada teman baru yang bantu-bantu jualan."


"Aku tahu."


Jana mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


"Iya, aku tahu kamu punya kenalan baru. Sepertinya dia cukup baik."


"K-kamu datang, Baby?" tanya Jana terbata.


Joshua menarik sudut bibirnya. "Hanya sebentar."


"Kenapa tidak menemuiku?"


"Aku tidak ingin mengganggu. Nanti, kamu tidak bisa mengobrol bebas dengan teman baru kamu itu?"


"M-maaf, Baby. Aku hanya bersikap ramah saja."


Joshua mengunyah potongan burito dengan lahap. "Aku tidak keberatan."


"Maksudmu, tidak keberatan aku punya teman laki-laki?"


Joshua mengangkat tangan dan berucap, "Ya. Kamu kenalan dengan laki-laki."


"Hanya teman, kok, Baby. Aku nggak ada niat apa-apa. Untuk menambah relasi aja," jelas Jana. Ia tidak bisa menebak apa yang Joshua pikirkan tentang keakrabannya dengan Jovan. Namun, ia merasa sedikit was-was. Ia takut Joshua berpikiran macam-macam padanya.


"Aku sudah bilang aku tidak keberatan," tegas Joshua. "Aku juga ingin bilang sesuatu sama kamu."


"Apa, Baby?" tanya Jana penasaran.


"Aku mau tegaskan kalau hubungan kita adalah hubungan terbuka."


Jana kembali mengerutkan kening. "Hubungan terbuka? Aku nggak ngerti maksudnya."


Joshua menarik sudut bibirnya. "Artinya kamu boleh punya hubungan khusus dengan laki-laki lain, begitupun denganku."


Jana membulatkan kedua matanya. Ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Joshua yang tidak pernah ia sangka-sangka.


"Dan aku pun boleh punya hubungan khusus dengan wanita manapun yang aku mau," ucap Joshua, semakin membuat Jana terkejut.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2