
"Aku cium bau enak," ucap Joshua sambil membuka mata dan mengendus aroma sedap di sekitarnya.
Jana mengulas senyumnya. Ia lalu mengambil piring di atas nakas dan memberikannya pada Joshua. "Semoga kamu suka," ujarnya.
"Hmmm ... ini baru pertama kali, ya, aku lihat ada masakan barat di rumah ini," kekeh Joshua sambil menyendok kentang yang ditaburi keju parutan.
"Anggap aja masakan barat. Maaf kalau nggak enak. Aku baru pertama kali coba."
"Ini enak," timpal Joshua sambil mengangguk-angguk, menikmati rasa sedap di lidahnya. Ia mengunyah sembari memandang Jana. Dalam hati ia bertanya-tanya, sikap gadis ini sedikit aneh, namun, membuat perasaannya menghangat. Hatinya pun terasa bahagia.
Padahal, ia sedang mengalami putus cinta yang menyakitkan. Saat melihat dengan mata kepala sendiri, wanita yang ia cintai tidur dengan lelaki lain.
"Terimakasih, Jana. Ini enak sekali. Aku suka." Joshua memberikan piring yang telah kosong pada Jana.
"Senangnya kamu suka masakanku," ucap Jana puas. Lebih tepatnya, gadis itu terharu.
Percobaan pertamanya memasak untuk suaminya, sukses. "Mulai besok kamu bisa request makanan yang kamu mau, Baby."
"Oh, ya? Benar?" tanya Joshua dengan mata berbinar.
Jana menjawab ucapan Joshua dengan mengangguk mantap. Senyumnya terus tersungging di bibir tipisnya.
"Ke sini," pinta Joshua sembari membuka kedua tangannya. Ia mempersilahkan Jana untuk datang ke pelukannya.
Dengan malu-malu Jana merangkak ke tengah ranjang dan duduk di pangkuan Joshua seraya membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.
"Karena kamu sudah buat perutku kenyang dengan makanan enak, aku kasih kamu pelukan, dan ...." Joshua mengangkat kepala Jana dari dadanya, lalu menangkup kedua pipi gadis itu. "Sebuah ciuman," lanjutnya seraya mengecup bibir Jana.
Jana merasa tubuhnya melayang. Diperlakukan dengan begitu lembut oleh Joshua, membuatnya menjadi seorang wanita yang paling berbahagia di kampung Jeruk Purut.
"Kamu sakit, Baby?" tanya Jana saat keduanya duduk berhadapan. Namun posisi Jana masih berada di pangkuan Joshua.
"Ya, aku sakit," jawab Joshua berbohong. Bukan sakit fisik yang ia rasakan, melainkan sakit batin. Namun, sedikit banyak Jana telah berhasil menghiburnya.
"Ya, udah, istirahat aja," ucap Jana seraya turun dari pangkuan Joshua. Namun, lelaki itu buru-buru menahannya.
"Kamu sudah jadi obatku, Jana," seloroh Joshua sambil memperlihatkan mata berbinarnya.
__ADS_1
Jana terkekeh. "Kamu pintar merayu, ya, sekarang."
"Merayu?" Joshua mengerutkan kening. Jana mengucapkan sebuah kata yang terdengar baru di telinganya.
"Iya, merayu. Aduh, aku nggak tahu bahasa Inggrisnya." Jana menggaruk kepalanya.
Joshua meloloskan tawanya. "Besok aku cari di kamus Bahasa," ujarnya.
Bibir Jana mencebik. Gadis itu menempelkan punggung tangan di kening Joshua, merasakan suhu badan sang suami yang cukup panas. Rupanya memang Joshua sedikit demam.
"Mau minum obat, Baby? Aku belikan obat turun panas di warung, ya?" tawar Jana.
"Tidak usah. Kamu di sini saja, temani aku," cegah Joshua sambil membaringkan tubuh Jana ke atas kasur. Dari samping gadis itu, ia menatapnya lekat. Wajah manis yang meneduhkan hatinya.
"Kamu mau sesuatu?" tanya Jana malu-malu.
"Sesuatu? Seperti apa contohnya?" Joshua menaikkan sebelah alisnya.
"Seperti ...." Jana menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk menyembunyikan kekehannya.
Jana yakin kedua pipinya ini sudah memerah bagai kepiting rebus. Ia dengan percaya dirinya menawarkan tubuhnya pada Joshua, namun, nyatanya suaminya itu hanya ingin ditemani saja.
"Kamu mau jalan-jalan ke New York?" tanya Joshua tiba-tiba, membuat mata Jana terbelalak kaget.
"Serius?"
"Ya. Kalau kamu mau." Joshua mengulas senyum tipis. Seharusnya Risa yang ia ajak mengunjungi negara asalnya. Namun, hubungannya dengan pacarnya itu sudah di ujung tanduk.
"Aku mauuuu," ucap Jana girang bukan kepalang.
Joshua mengelus pipi Jana. Ide pulang ke Amerika tiba-tiba saja terbersit di kepalanya. Meskipun masa lalunya buruk di sana, namun, patah hati di negeri orang jauh lebih menyakitkan. Ia yang mengira telah menemukan orang yang tepat untuk diajak hidup bersama, nyatanya hanya sebatas angan-angan dan kini justru telah menjadi kenangan semata.
***
Sore itu, saat baru saja pulang kerja, Jana dikejutkan oleh kedatangan dua orang polisi yang mencari Joshua. Kedua polisi terlibat pembicaraan yang cukup alot dengan Joshua dan kedua orang tuanya. Terutama Bu Galuh yang pasang badan membela anak menantu kesayangannya.
Dan Jana cukup terkejut dengan alasan kenapa kedua polisi itu ingin membawa Joshua ke kantor. Joshua terlibat pemukulan terhadap selingkuhan Risa, hingga harus dirawat di rumah sakit karena sempat koma.
__ADS_1
Yang lebih membuat Jana sakit hati adalah, alasan Joshua memukuli selingkuhan mantan pacarnya itu, karena dibutakan oleh rasa cemburu. Rupanya pagi itu saat Joshua pergi dari rumah, suaminya itu pergi menemui Risa di rumahnya, dan melihat Risa tidur dengan lelaki yang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh Joshua.
Baru saja Jana merasa bahagia karena Joshua mulai begitu perhatian dengannya, kebahagiaannya sudah dipatahkan kembali.
"Aku akan jelaskan nanti." Begitu yang diucapkan Joshua saat kedua polisi membawa paksa suaminya itu.
"Jadi, Joshua punya wanita lain?" tanya Pak Yanto pada Jana yang hanya bisa duduk diam tanpa bisa memikirkan apapun.
"Mungkin itu perempuan kegatelan sama Joshua, Pak. Namanya laki-laki, kalau dirayu terus, apalagi sama perempuan-perempuan ndak bener yang menghalalkan segala cara, ya, pasti luluh." Bu Galuh tetap membela menantu kesayangannya.
"Ndak bener ini si Joshua," ucap Pak Yanto geram. Akhirnya, ia bisa melampiaskan uneg-unegnya selama ini terhadap sang menantu.
"Loh, loh, Pak, ndak boleh asal nuduh begitu. Tadi kan ibu bilang mungkin saja perempuan itu merayu Joshua."
"Kalau memang dia suami yang baik, pasti ndak akan tergoda sama rayuan macam apapun!"
"Eh, si Bapak ini, loh, ngeyel kalau dibilangin!"
"Bapak sudah beberapa minggu ini rasanya ndak sreg sama Joshua. Ibu lihat ndak? Jana yang keluar duit melulu buat menghidupi suaminya itu!"
"Pak!" bentak Bu Galuh kesal. "Joshua itu lagi nunggu warisan dari Amerika. Ya, ndak papa kalau sekarang memang belum pegang duit!"
"Alaaah, warisan opo? Jangan-jangan cuma bualannya saja."
"Oowalah, Pak, kok susah dibilangin!"
"Aku ndak mau si Joshua itu menyakiti anak kita, Jana. Lawong tadi Joshua mengakui tentang hubungannya dengan perempuan itu. Jadi, selama ini Jana sudah diduakan."
"Terserah Bapak lah, kalau ndak mau dengerin pendapat ibu."
"Ibu yang sudah buta karena ketipu dengan tampangnya si Joshua itu."
"Hati-hati kalau ngomong, Pak."
Jana hanya menyimak perdebatan kedua orang tuanya itu. Hatinya sudah kembali terluka. Membayangkan betapa Joshua rela menganiaya seseorang yang telah meniduri Risa. Artinya, cinta Joshua pada Risa memang begitu dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1