Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 12. Saingan Iuran.


__ADS_3

Jana menepuk keningnya. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut ibunya. Iuran tujuh juta untuk acara sedekah bumi. Yang benar saja.


"Bu, kenapa bisa banyak banget, sih?" erang Jana. "Orang iuran tuh paling nggak seratus ribu, dua ratus ribu. Ini tujuh juta, Bu."


Bu Galuh meringis. "Itu, tetangga saja iuran lima juta. Masa sih ibu kalah. Ya, ndak mau!"


"Hah?" Kembali Jana menepuk keningnya.


"Jadi, gara-gara Yu Parti mau iuran lima juta, Ibu bilang sama Bu Lurah mau iuran tujuh juta, gitu?" Mata gadis itu mendelik.


"Ya gimana lagi, Jana, ibu kan ndak mau kalau diremehin terus sama si janda gatel yang anaknya juga gatel itu," sungut Bu Galuh.


Jana memijit kepalanya yang mau pecah rasanya. "Duit tujuh juta tuh mau dapet darimana, Bu?"


Bu Galuh mendecak. "Ya, mantu Ibu yang paling ganteng, dong. Jo-shu-a."


"Aduhh, nggak, nggak, Bu. Jana nggak mau!"


"Heeeh, Jana. Ndak bisa gitu. Ibu sudah terlanjur ini. Malu lah kalau sampai ndak sesuai jumlah iuran yang sudah Ibu janjikan."


Jana geram. Ini sudah keterlaluan. Persaingan tidak rasional antara ibunya dan tetangga sebelah benar-benar sudah sangat meresahkan. "Nggak, Bu!"


"Eh, Jana ... Joshua itu kan mau dapat warisan banyak, to? Duit tujuh juta ndak ada apa-apanya buat mantu ibu itu."


"Ibu ini kenapa, sih? Nggak usah nurutin gengsi terus, Bu." Jana mencoba menasehati sang ibu.


"Sudah, to, Jana, kamu mbok yo nurut saja. Jadi anak yang berbakti. Bikin seneng ibu ini loh."


Jana memalingkan wajahnya sambil sambil melipat dua lengan ke depan dada. Jika dituruti terus menerus kemauan sang ibu ini, ia yang akan susah sendiri.


"Ayo, dong, Jana ... anak ibu yang cantik kaya bidadari. Bilang sama Joshua, ibu minta tujuh juta buat iuran sedekah bumi. Toh, nanti juga nama baik Joshua sendiri yang tersebar di kampung Jeruk Purut ini."


Jana melengos. "Jana nggak mau, Bu."


"Ish! Jana, ibu kutuk nanti jadi batu, loh. Jangan durhaka kamu. Mau kamu jadi kaya Malin Kundang?" ancam Bu Galuh.


Jana merotasikan kedua bola matanya. "Kutuk saja Jana, Bu."

__ADS_1


"Aduhhh, Jana, jangan begitu, dong. Gimana ini nanti ibu. Bakal ndak punya muka lagi di depan warga. Itu tetangga sebelah pasti juga bakalan menertawakan ibu. Terus si Asih itu juga pasti bakalan menertawakan kamu."


Mendengar nama Asih, batin Jana bergejolak. Ia masih memendam rasa cemburu pada gadis itu perilah Joshua. "Ya udah, Bu ... nanti Jana bilang sama Josh." Lemah sekali ia, batinnya.


Bu Galuh terlonjak girang. "Nah, begitu, dong. Ini baru anak ibu yang paling cantik sekampung Jeruk Purut."


Jana menggerutu. Kini ia harus mengatur strategi untuk membicarakan hal ini dengan Joshua.


Pagi harinya, sebelum Jana berangkat kerja, ia menunggu Joshua selesai mandi dengan dada berdebar. Pasalnya, ia berniat untuk menyampaikan keinginan ibunya pada sang suami.


Jana duduk di depan meja riasnya dengan gelisah. Saat Joshua masuk ke kamar dengan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambut pirangnya, gadis itu menelan salivanya.


"Mmmm, Baby ...." Ia memutar badan menghadap ke arah Joshua yang sedang menyisir rambut basahnya.


"Ya, Baby?" Mata biru Joshua menatap Jana heran. Gadis itu tampak gelisah. Kadang membenarkan seragam karyawan minimarket yang melekat di badannya, kadang juga merapikan rambut panjangnya yang sudah rapi.


"Boleh ngomong sesuatu?" tanya Jana ragu-ragu.


"Apa?"


"Mmmm ... itu." Aduh---Jana kebingungan menyusun kata-kata. Apalagi ada istilah yang mungkin tidak akan dimengerti oleh Joshua. "Ibu kemarin bilang sama aku kalau Ibu butuh uang tujuh juta buat iuran sedekah bumi."


Sudah Jana duga, ia harus menjelaskannya dua, tiga kali atau bahkan mungkin berkali-kali. "Jadi, Ibu butuh uang tujuh juta."


"Uang? Tujuh juta?" Joshua menaikkan kedua alis tebalnya.


Jana mengangguk pelan. "Untuk membayar acara festival desa bulan depan."


"Owh, okay ... and?"


"And ... Ibu minta tolong sama kamu, Baby."


Bola mata Joshua membulat. "Ibu meminta uang tujuh juta sama aku?"


Kembali Jana mengangguk. Ia ketar-ketir dengan jawaban yang akan Joshua lontarkan.


"Bisa saja." Joshua terkekeh. "Tapi, harus tunggu uang warisanku selesai diurus."

__ADS_1


Jana tersenyum lega. Ia sudah berpikir Joshua akan marah dengan permintaan ibunya yang sangat menyebalkan itu. Tapi, ternyata suaminya ini mengiyakan. "Aaah, makasih, Baby." Jana merangkul leher Joshua dan mencium pipi lelaki itu berkali-kali.


"Tapi, sebelumnya, aku juga punya permintaan sama kamu, Jana."


"Apa, Baby?" tanya Jana yang masih bergelayut manja di leher Joshua, sambil menciuminya gemas. Wangi lavender menyeruak memanjakan indra penciumannya. Ia menjadi bergairah setiap kali bersentuhan dengan suaminya ini.


"Ponselku sudah sering eror, you know? Mmmm ... kalau bisa, kamu belikan aku ponsel baru yang lebih bagus." Pandangan mata Joshua tampak sayu.


"Ponsel?" Jana melepaskan diri dari Joshua. "Kamu minta ponsel baru?"


"Yaa. Look, dengan ponsel lama, aku sulit berkomunikasi dengan pengacaraku di USA. Aku butuh ponsel baru agar komunikasiku lancar dan uang warisan bisa segera selesai diurus." Wajah tampannya tampak memelas, membuat hati Jana terenyuh.


Jana mengangguk-angguk. Ia mulai memikirkan strategi untuk memenuhi permintaan Joshua. Pikirnya, satu cicilan lagi mungkin tidak akan masalah. Toh, sebentar lagi Joshua akan mengganti semuanya begitu uang warisannya turun.


Setelah Joshua mendapatkan uang banyak, maka hidupnya akan sangat terjamin. Bahkan ia bisa jalan-jalan ke luar negeri, ke negara asal Joshua yang selama ini hanya bisa ia lihat di televisi.


"Okay, Baby."


"Ah, thank you, Jana, Sweety." Joshua mencium bibir Jana sekilas. Jana pun membalasnya. Akhirnya, kedua bibir itu saling berpagut untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Joshua melepaskan diri.


"You gotta go to work, Baby," ucap Joshua seraya menepuk bokong Jana.


Jana meringis. Ia pun segera menyambar tas yang ada di atas kasur dan bergegas keluar dari kamar. Namun, sejurus kemudian ia melongok kembali. "Baby, kamu sudah mandi pagi-pagi, memangnya mau ke mana?" tanyanya dengan kepala menyembul dari balik pintu.


"Ah, itu ... aku mau bertemu teman di dekat Malioboro. Teman orang Amerika juga."


"Owh, cowok apa cewek?"


"Cowok dan cewek. Mereka couple," jawab Joshua seraya menyatukan dua ibu jarinya.


Jana mengelus dagu sambil matanya menerawang. "Suami istri?"


"Ya, semacam itu."


Gadis itu pun mengangguk, lalu menutup pintu. Sepeninggal Jana, Joshua mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Kemudian mengutak-atik layar dan mulai menelepon seseorang.


"Ya, Risa? Kita jadi ketemu hari ini, ya. Aku harus bicara sama kamu." Hanya itu yang terucap untuk orang yang berada di seberang sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2