Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 34. Sendu.


__ADS_3

Jana menemui Jovan di sebuah cafe kecil yang ada di sekitar Hudson River Park. Pemuda itu terlihat begitu gembira saat Jana baru saja muncul di hadapannya.


"Maaf, ya, nunggu. Tadi nyelesaiin pesanan dulu soalnya," ucap Jana sambil menarik kursi dari bawah meja.


"Nggak papa, aku juga belum lama, kok." Jovan mengangkat satu tangan memanggil pelayan cafe. "Mau pesen apa?" tanyanya pada Jana.


"Yang kamu mau pesen aja, deh." Jana memang masih bingung dengan semua menu yang tertulis di buku menu dan memasrahkannya pada Jovan.


Jovan tergelak. "Pasrah banget, sih?" godanya.


"Nama menu-menunya aneh. Nggak ngerti aku," kekeh Jana malu.


Jovan lalu memesan dua piring lasagna, dua piring salad dan dua jenis minuman hangat pada si pelayan cafe. "Laper aku," kekehnya setelah si pelayan berlalu.


Jana mengulas senyumnya. Perutnya sendiri pun sudah keroncongan karena tadi di tempat Mira hanya memakan beberapa potong sisa kue-kue yang ia buat. "Sebenarnya bisa lewat telepon pesannya, loh. Nggak harus ketemu," ucapnya.


"Nggak papa. Sambil nikmatin udara sore di sini."


Jana menyapu pandangannya ke luar cafe. Indah, dengan hamparan sungai Hudson dan di seberangnya ada gedung-gedung pencakar langit Manhattan yang puncaknya menyentuh awan. Joshua tidak pernah mengajaknya ke tempat ini. Seharusnya, Joshua membawanya menelusuri setiap sudut Manhattan.


"Yang kemarin ketemu di festival itu Tante kamu, Mas Jo?" tanya Jana.


"Iya. Dia minta tolong dipesankan makanan dari kamu buat acara arisan. Biasalah, ibu-ibu Indonesia pada ngumpul-ngumpul. Tanteku males masak." Jovan mengambil ponsel dari saku kemejanya. "Aku kirimin catatan pesanannya, ya. Banyak banget," kekehnya.


Jana memeriksa ponselnya untuk melihat catatan pesanan yang dikirimkan oleh Jovan. Matanya seketika berbinar. "Banyak banget, ya?" ucapnya.


"Repot, nggak, kira-kira?"


Jana menggeleng dengan keras. "Nggak repot. Aku malah seneng banget, Mas. Makasih banget, loh, udah pesen ke kami."


"Ntar aku rekomendasikan ke orang-orang Indonesia di sini, deh. Banyak, kok, perkumpulannya."


Jana mengangguk-angguk. "Makasih banget, Mas."


"Santai." Jovan menyeruput teh hangat yang beberapa saat lalu disajikan oleh si pelayan cafe. "Kamu udah berapa lama tinggal di sini, Jan?"


"Udah mau lima bulanan lebih, Mas." Jana mengunyah lasagna yang terasa begitu nikmat di lidahnya.


"Sendiri?"


"Sama suami."

__ADS_1


"Oh, kamu udah nikah?" Tampak Jovan sesikit terkejut mendengar jawaban Jana. Sejurus kemudian, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan. Namun, sebagai orang yang sudah dewasa, ia tidak menunjukkan kekecewaannya dengan bersikap ketus pada Jana. Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin pada gadis itu.


"Iya, nikahnya udah hampir setahunan."


"Suami kerja apa?"


"Mmmm ...." Jana kebingungan harus menjawab apa. Sebabnya, ia memang tidak tahu detail pekerjaan Joshua. "Bisnis sama temennya."


"Bisnis apa, Jan?" tanya Jovan.


"Emm, kurang tahu aku, Mas," jawab Jana dengan jujur.


"Masa kerjaan suami sendiri nggak tahu, sih?" tanya Jovan penuh selidik. Memang tidak wajar jika seorang istri tidak mengetahui pekerjaan suaminya. Pastilah ada alasan di balik semua itu. Yang jelas, entah kenapa, Jovan mencium ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga Jana.


"Udah kesepakatan, Mas. Kalau urusan kerjaan masing-masing aku sama suamiku nggak saling mencampuri." Jana mencoba memberi jawaban diplomatis semampunya.


"Oh, gitu?" Jovan mengangguk-angguk. "Kalau keluar sama temen cowok lain kaya gini, boleh, kan?"


Pertanyaan Jovan membuat dada Jana terasa nyeri. Ia teringat ucapan Joshua mengenai hubungan terbuka yang ingin Joshua jalani bersamanya. Jika Jana harus menjalin hubungan dengan laki-laki lain, artinya ia harus siap melihat Joshua bersama wanita lain. Dan sepertinya ia tidak sanggup.


"Boleh aja," jawab Jana seraya mengulas senyum kecut.


"Beneran, ya, nggak bakal bikin kamu berantem sama suami kamu?"


"Ya, udah, deh, kalau gitu." Jovan mengulas senyumnya. "Abisin makannya, Jan. Dari tadi cuma diaduk-aduk doang."


Jana terkekeh. "Dimakan, kok, ini," sergahnya.


Jovan menatap Jana yang kini menundukkan kepala, menyembunyikan kesuraman di wajahnya. Hal itu semakin membuat Jovan penasaran, seperti apa keadaan rumah tangga gadis yang membuatnya tertarik, dari sejak pertama kali ia melihatnya di konjen.


Seorang gadis sederhana dengan kebaya yang begitu anggun membalut tubuh rampingnya. Seorang gadis yang begitu manis dengan senyumnya yang memikat.


***


Jana mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam apartemennya. Ia justru melanjutkan langkah menuju apartemen Mama Doodoo. Kebetulan ia membawa beberapa potong kue cucur sisa pesanan tadi siang.


Ia ketuk pelan pintu bertuliskan nomer 567 itu. Mama Doodoo membuka pintu dan tersenyum senang melihat Jana berdiri di hadapannya.


"Ah, Jana ... ayo, masuk," pinta wanita paruh baya itu seraya meraih lengan Jana dan menariknya masuk ke dalam apartemen.


"Aku bawakan kue buatanku, Ma," ucap Jana seraya mengangkat bungkusan kertas di tangannya.

__ADS_1


"Owh, kamu memang anak baik," ujar Mama Doodoo gembira. "Ini kue apa?"


"Namanya cucur, Ma. Kue tradisional Indonesia."


Mama Doodoo mengunyah makanan berwarna coklat pekat itu dengan lahap. "Enak, ya," ungkapnya. "Kenapa bisa berwarna coklat seperti ini?"


"Aku pakai gula merah, Ma."


Mama Doodoo mengangguk-angguk. "Sudah lancar usahamu, Jana?"


"Ya, Mama, banyak sekali pesanan. Hampir tiap hari. Rata-rata orang Indonesia yang tinggal di Manhattan," jawab Jana riang.


"Senang sekali mendengarnya, Jana." Wanita itu menepuk-nepuk bahu Jana lembut. Kemudian memperhatikan wajah Jana yang tampak sendu. "Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Tidak ada, Ma," jawab Jana berbohong. Ia masih canggung jika harus bercerita hal-hal pribadi pada wanita itu. Sebab intensitas pertemuannya dengan Mama Doodoo masih jarang.


"Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Jana. Wajahmu tidak bisa berbohong."


Jana tersenyum tipis. "Sedikit," ucapnya lirih.


"Kau mau bercerita padaku?" tanya wanita berkulit hitam itu.


Jana menghela napasnya dalam-dalam. "Tentang Joshua."


"Kenapa suamimu?"


Jana menundukkan kepalanya. "Aku ... tidak enak menceritakan ini."


"Tidak apa-apa kalau kau belum mau menceritakan masalahmu, Jana."


"Mama ...." Jana menelan salivanya berat. "Apa memang hubungan terbuka antara suami istri itu wajar di sini?" tanyanya dengan berat hati.


"Hubungan terbuka?" tanya Mama Doodoo seraya mengerutkan kening. "Maksudmu, kau dan suamimu memiliki kesepakatan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, begitu?"


Jana mengangguk lemah. Setiap kali membahas atau mengingat hal itu, hatinya terasa perih.


"Tidak banyak pasangan yang melakukan hal itu, tapi, di sini memang normal."


"Oh, begitu," ucap Jana getir.


"Biasanya, pasangan seperti itu adalah pasangan yang memiliki pemikiran sangat sangat terbuka. Dua-duanya. Tidak boleh hanya salah satunya saja," terang Mama Doodoo. "Apa Joshua menawarkan hal itu padamu?"

__ADS_1


Jana mengangguk lemah seraya menahan buliran bening yang hendak merangsek keluar dari pelupuk matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2