Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 59. Ditampar Tiara.


__ADS_3

"Yang bener, Jan? Serius semalem Joshua tidur di apartemen kamu?" Mira membulatkan sepasang matanya mendengar cerita Jana.


Jana mengangguk. Bibirnya mengerucut. "Nyebelin banget, kan?"


"Ya, susah nolak juga, kan, itu apartemen punya dia."


Kembali Jana mengangguk. "Kalau aku pindah dan sewa apartemen sendiri, pengeluaran pasti bengkak, kan?" keluhnya.


"Jangan pindah lah, Jan. Enak aja. Itu harta gono gini, tahu. Dan anggap aja apartemen itu sebagai ganti rugi atas apa yang udah Joshua lakuin ke kamu."


"Bener juga, Mir." Jana mengangguk setuju.


Mira menggeser duduknya ke dekat Jana. "Ngomong-ngomong, kamu ngapain aja sama dia semalem?"


"Nggak ngapa-ngapain."


"Yakin?" Mira menaikkan kedua alisnya. Menuntut Jana untuk berkata jujur.


Jana mendecak. Memang seingatnya ia hanya minum, bicara panjang lebar, lalu tanpa sadar tertidur di pelukan Joshua. Jana menepuk keningnya. Ia ingat betapa nyamannya tidur di pelukan mantan suaminya itu.


"Kenapa, Jan?" tanya Mira heran melihat gerak-gerik Jana. "Pasti udah terjadi sesuatu, ya? Secara kalian mabuk, kan?"


"Seingatku enggak, sih. Soalnya, pakaian kami masih utuh."


"Tapi, kamu tidur di pelukan dia semalaman, kan?" kekeh Mira. "Ah, cinta lama belum kelar ini, sih."


Jana mencebik. "Nggak, lah!"


Mira tergelak. Lalu, sejurus kemudian, ia menatap Jana dengan tatapan serius. "Jovan, gimana?" tanyanya.


Jana menghela napasnya berat. "Nggak tahu."


"Duh, kasian bener si bujang lapuk," gelak Mira. "Digantung perasaannya sama janda."


"Ish!" desis Jana seraya mendorong pelan bahu Mira.


"Emang kamu nggak ada perasaan apa-apa, gitu, sama Jovan?"

__ADS_1


Jana menatap langit-langit ruang tamu apartemen Mira. Ia bingung menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Sebabnya, ia belum bisa menentukan perasaan macam apa yang ia rasakan terhadap Jovan.


Jika ditanya apakah Jana merasa nyaman dengan pemuda itu, tentu Jana akan menjawab nyaman. Namun, hatinya tidak bergetar saat bersama Jovan. Tidak seperti saat ia berdekatan dengan Joshua.


Ngomong-ngomong tentang Jovan, pemuda itu tiba-tiba susah dihubungi. Pesan terakhir yang dikirim Jana untuk membalas pesannya pun hanya dibaca, namun tidak ia balas.


Jana bertanya-tanya dalam hati. Tidak biasanya Jovan bersikap seperti ini. Kecuali ia sedang marah pada Jana. Namun, sudah lama mereka tidak terlibat konflik. Semua baik-baik saja.


Pulang dari tempat Mira, akhirnya Jana memutuskan untuk menemui Jovan di apartemennya. Akhir pekan ini semoga saja pemuda itu tidak punya acara dan hanya berdiam diri di apartemen mewahnya.


Ditekannya bel pintu apartemen Jovan beberapa kali. Jana harus menunggu beberapa menit hingga seseorang membuka pintu berwarna coklat itu.


Bukan Jovan yang muncul di hadapannya, melainkan sosok cantik bak model yang ia kenal. Tiara. Gadis itu menatap sinis pada Jana.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Tiara ketus. Gadis itu jelas tidak ingin mengizinkan dirinya masuk. Tiara bagai seorang penjaga rumah yang terlihat begitu garang. Meskipun wajahnya cantik luar biasa.


"Mau ketemu Mas Jovan. Orangnya ada?"


"Ngapain nyari dia?" Tatapan mata Tiara penuh curiga dan juga kebencian. "Aku kan udah bilang, jangan deket-deket cowokku!"


"Emang dia cowokmu?" Jana melipat kedua lengan di depan dada. Ia menantang tatapan mata Tiara.


"Mana orangnya? Coba aku tanya sendiri sama dia!" Jana melongok ke dalam sambil menghindari tubuh langsing Tiara yang menghalangi pandangan matanya.


"Kamu nggak diterima, ya, di sini!" Tiara mendorong dada Jana keras.


"Emang kamu yang punya apartemen ini?" Jana membalas Tiara dengan mendorong gadis itu dengan keras pula.


"Dasar pe cun kamu, ya!" seru Tiara geram. Ia menghambur ke arah Jana dan meraih segenggam rambut gadis itu. Ditariknya keras-keras hingga Jana hampir saja terjatuh.


Peperangan pun pecah hingga membuat si empunya rumah keluar dari kamarnya. Jovan terkejut melihat dua orang gadis sedang baku hantam di ruang tamunya.


"Hei! Hei! Kalian lagi ngapain, sih?!" seru Jovan seraya menghampiri kedua gadis itu dan berusaha melerai mereka.


"Lepasin! Aku mau hajar cewek murahan ini!" Tiara yang sudah dikuasai amarah tidak memedulikan seruan Jovan. Tangannya yang ditahan oleh pemuda itu pun ia tarik sekuat tenaga.


Plakkk

__ADS_1


Lalu mendarat di pipi Jana dengan keras. Jana meringis. Pipinya terasa perih dan panas. Ia membalas tamparan Tiara dengan menendang ulu hati gadis itu hingga terkapar.


Saking kerasnya tendangan Jana, sampai-sampai Tiara kesusahan untuk kembali berdiri.


"Jana! Hei! Berhenti, nggak?!" Jovan menahan dada Jana yang hendak melancarkan serangan berikutnya.


"Pe cun! Pelakor! Cewek open BO!" Tiara terus memaki dengan kata-kata kasar yang membuat tangan Jana gatal untuk kembali menghajarnya.


"Jan, udah, udah! Mending kamu pergi, deh!"


"Nggak bisa! Nih cewek udah ngata-ngatain nggak bener!" Jana bersikeras untuk menuntaskan urusannya dengan Tiara.


"Lah, emang bener, kan?" Jovan menatap tajam ke arah Jana.


"Mas Jovan?" Jana tidak percaya Jovan mendukung ucapan menyakitkan Tiara yang disematkan untuk dirinya.


"Bener yang dibilang Tiara. Kamu semalem tidur sama laki orang, kan? Mantan suami kamu!"


Jana terperangah. Dari mana Jovan tahu semalam Joshua tidur di apartemennya. Tetapi, Jana malas untuk menanyakannya pada Jovan. Ia terlanjur sakit hati dengan ucapan pemuda itu.


"Ya, udah, kalau kamu juga mikir kaya gitu tentang aku." Hanya itu yang terucap dari bibir Jana. Gadis itu memutar badan dan berlalu dari hadapan Jovan.


Hatinya diliputi rasa sakit yang begitu dalam. Selama ini Jovan adalah orang yang paling mengerti tentang dirinya. Tetapi, hari ini, ia justru termakan tuduhan Tiara.


Keluar dari gedung apartemen Jovan, Jana melangkah lunglai menelusuri trotoar luas. Tujuannya stasiun bawah tanah terdekat.


Sepanjang perjalanan menuju Harlem, tatapan mata Jana kosong. Kecewa dan sakit hati. Itulah yang Jana rasakan sekarang. Ia benar-benar tidak menyangka Jovan akan mengatakan hal semacam itu padanya.


Sampai di apartemennya, Jana menghempaskan badan ke atas ranjang. Dipandanginya langit-langit kamar. Tatapannya tetap kosong. Pikirannya melayang-layang ke mana-mana.


Rasanya ia sudah muak berurusan dengan laki-laki. Ia berpikir sebaiknya ia menutup diri saja dari lelaki manapun. Tidak berguna. Hanya menambah beban hidupnya saja.


Jana mematikan ponselnya dan melempar benda itu ke sembarang tempat. Ia ingin sendiri. Benar-benar menyendiri. Ia tidak ingin terlibat dengan siapapun hari ini.


Ia muak. Muak sekali. Fokus dengan pekerjaan saja sepertinya adalah satu-satunya hal yang harus ia lakukan.


Peduli setan dengan urusan percintaan. Berak kucing, makinya dalam hati.

__ADS_1


Jana menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan wajahnya pun ia sembunyikan di baliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2