Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 27. Gerombolan Julid.


__ADS_3

"Kamu pergi keluar, sendirian?" Mata Joshua membulat. "Daerah ini tidak aman, Jana!"


"Aku bosan. Lapar, pusing," keluh Jana sambil mengerucutkan bibir.


Joshua memijat keningnya. Ia memang lupa meninggalkan uang untuk Jana.


"Maaf," ucapnya kemudian. Ia yang tadinya kesal, kini tatapan matanya melembut.


"Nggak papa, Baby. Kalau nggak gitu, aku nggak bakal ketemu Mama Doodoo."


"Aku belum kenal sama semua orang di gedung ini. Ini Harlem, Jana. Kamu harus lebih hati-hati. Di sini banyak kriminal."


"Kenapa kamu pilih tempat di sini?" tanya Jana heran.


Joshua menyugar rambutnya. "Aku bisa bilang sesuatu?" tanyanya.


Jana mengangguk senang. Sepertinya Joshua akan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.


"Orang tuaku memang brengsek!" maki Joshua membuat Jana terkejut. Gadis itu sedikit shock, Joshua memaki orang tuanya yang sudah meninggal. "Mereka memberikan sebagian besar warisan ke panti asuhan. Dan aku hanya mendapatkan sedikit uang, untuk menyewa tempat ini, dan untuk hidup beberapa bulan sambil aku cari kerja."


Jana terbengong mendengar cerita Joshua. Kasihan sekali. Padahal Joshua sangat mengharapkan warisan itu. Tetapi, kenyataan tidak sesuai dengan harapan.


"Nggak papa, kok, Baby, kita tinggal di sini. Aku nggak masalah."


Joshua mendecak sebal. "Bukan tentang kamu!" Ia meninggikan suaranya.


"Owh," ucap Jana lirih.


"Aku yang terpaksa menyewa apartemen sempit ini. Seharusnya, kalau orang tuaku tidak brengsek, aku sudah bisa hidup enak sekarang." Joshua menghembuskan napasnya berat.


Jana mengerti. Dengan kata lain, Joshua tidak peduli Jana nyaman atau tidak hidup di apartemen sempit ini. Ia hanya peduli dengan kepentingannya saja.


"Apa aku harus kerja juga di sini?" tanya Jana, berinisiatif untuk membantu keuangan suaminya itu.


"Tidak semudah itu. Kamu harus punya green card dulu, Jana."


"Apa itu, Baby?"


Joshua menghela napasnya berat. Saat ini ia sedang tidak mood untuk menjelaskan pertanyaan Jana. "Biar aku pikirkan dulu, okay?"


"Iya, Baby."


Joshua menatap pasrah pada Jana. Seharusnya ia tidak membawa Jana ikut serta. Adanya gadis itu kini menambah beban untuk dirinya. Semua yang ia rencanakan ternyata semuanya meleset.

__ADS_1


***


Satu bulan tinggal di Manhattan, Jana mulai beradaptasi dengan cuaca, makanan dan semua hal baru yang ia temui. Dan hari ini adalah hari pertama ia akan bertemu dengan ibu-ibu yang senasib dengannya; menikah dengan warga negara Amerika, yang ia kenal lewat sebuah situs perkumpulan wanita Indonesia di Manhattan. Melati-nama dari perkumpulan itu.


Sejujurnya, Jana tidak begitu cocok dengan para anggota perkumpulan Melati, karena sepertinya mereka tidak jauh berbeda dengan ibu-ibu di Indonesia yang senang memamerkan barang-barang, bahkan anak-anak yang mereka miliki.


Tetapi, Jana membutuhkan teman untuk sekedar hang out atau melakukan aktifitas yang lainnya.


Pertemuan diadakan di sebuah cafe yang ada di downtown Manhattan. Sebuah cafe yang cukup mewah dan tentu saja harga menu-nya pastilah mahal.


"Suami kamu kerja apa, Jana?" tanya Yola, seorang wanita berkulit hitam manis dengan wajah pas-pasan namun dandanannya begitu glamour.


Jana yang selama ini tidak pernah membicarakan perihal suaminya, tampak kebingungan menjawabnya. "Serabutan, Mbak."


Tentu, suami-suami para anggota perkumpulan Melati, semuanya memiliki pekerjaan yang bagus. Ada pialang saham, ada dokter, ada manager restauran dan berbagai profesi mapan lainnya. Hanya Joshua yang tidak memiliki pekerjaan tetap.


"Owh, serabutan. Nguli, gitu, ya?" timpal Ratna, yang penampilannya tidak kalah glamournya dengan Yola.


"Iya, Mbak Ratna," jawab Jana.


"Emang pas pacaran nggak diselidiki dulu, gitu? Profesi calon suamimu apa. Biaya hidup di Manhattan, tuh, mahal, loh," sahut satu lagi wanita dengan potongan rambut pendek; Nike. Dilihat dari rahangnya yang tegas, sepertinya ia bukan orang Jawa.


"Mungkin asal ganteng aja," kekeh Yola membuat Jana tersenyum kecut.


Keempat wanita itu lalu terlibat obrolan seputar barang-barang branded yang mereka miliki. Sementara Jana hanya menyimak obrolan mereka, karena tidak mengerti barang-barang yang sedang mereka bicarakan.


Hingga, lama-kelamaan, Jana merasa tersisihkan dengan sendirinya. Ia merasa seperti orang bodoh di antara keempat wanita itu. Pun, mereka tidak melibatkan Jana dalam obrolan, karena mereka tahu Jana tidak akan mampu mengimbangi.


"Kamu lulusan apa, Jan?" tanya Yola setelah obrolan tentang tas branded berakhir.


"SMK, Mbak," jawab Jana apa adanya.


"Oh, cuma lulusan SMK. Ya, mana bisa kerja di sini." Atmini berucap sekenanya. Padahal, dirinya tidak begitu paham mengenai prosedur bekerja di Amerika. Tetapi, ia harus terlihat paham segala sesuatunya di depan orang yang baru menginjakkan kaki di negara ini.


"Ya, harus sekolah lagi, dong. Setara SMK di Indonesia tuh nggak laku di sini."


"Kalau kita semua sudah lulus kuliah dulu di Indonesia. Jadi, kami punya bekal di sini. Suami-suami kita juga udah mapan semua, Jana."


Jana hanya bisa mengangguk-angguk. Ia kebingungan harus menjawab apa. Ia sadar, bahwa wanita-wanita ini sedang membanggakan diri mereka masing-masing di hadapannya.


"Cewek indo, kok, gitu, ya?" kata Ratna membuat semua orang mengalihkan pandangan padanya.


"Gitu gimana?" tanya Atmini.

__ADS_1


"Ya, asal pilih bule. Yang penting bule. Apa mereka pikir semua bule, tuh, kaya raya, ya?"


Jana merasa Ratna sedang membicarakan tentang dirinya yang menurut wanita itu, sembarangan memilih orang asing untuk dijadikan suami.


Ketiga wanita lainnya tertawa mendengar ucapan Ratna. Sambil sesekali melirik ke arah Jana.


"Ya, kebanyakan cewek-cewek kampung yang polos."


"Kayaknya banyak, deh, cewek-cewek Indo yang asal pilih bule, terkena kasus KDRT, pencurian, dan lain-lain."


"Oh ya?"


"Pernah denger, nggak, kasusnya Yuli Handayani?"


"Aku belum."


"Aku udah."


"Ngeri banget, ya?"


"Si Yuli itu kan meninggal dibunuh suaminya sendiri."


"Suaminya orang Amerika?"


"Iya lah, kan kita lagi ngebahas kasus cewek-cewek Indo yang naif."


Suasana menjadi cukup ramai di meja mereka, karena keempat perempuan itu tidak berhenti bergosip. Mereka membicarakan hal itu tanpa memikirkan perasaan Jana.


"Modal ganteng doang bulenya, ya?"


"Iya, makan gantengnya doang mana bisa," kekeh Nike, disambut cekikikan yang lainnya.


"Kalau aku, sih, ogah. Palingan buat selingan doang bulenya. Semalam menghabiskan waktu bersama-sama. Ciehhh!"


Jana hanya tersenyum kecut menanggapi obrolan para wanita itu.


"Kita nggak nyindir, loh, jan."


"Nggak apa-apa, Mbak," sahut Jana canggung.


"Udah, nggak usah ngobrolin itu. Ntar ada yang baper," kikik Atmini sambil melirik ke arah Jana.


"Santai aja, Mbak," sahut Jana mencoba untuk berdamai dengan perasaannya sendiri. Ia meraih secangkir minuman teh hangat untuk membasahi tenggorokannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2