Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 46. Curhatan Risa.


__ADS_3

Risa menatap Joshua yang baru saja masuk ke kamar dengan tatapan penuh kekesalan. Dua malam ditinggal lelaki itu karena pulang ke tempat Jana, membuat Risa cemburu bukan main. Padahal, mereka sudah sering melakukan kesepakatan. Namun, hati Risa tetap tidak rela.


"Kenapa lihat aku seperti itu, Sayang?" Joshua yang sedikit terpengaruh dengan alkohol tampak jengah ditatap dengan tatapan curiga oleh kekasihnya. "Jangan mulai, Risa." Ia mengangkat tangannya tanda menyerah atau tidak ingin membahas apa pun.


"Ngapain aja sama Jana selama dua hari?" tanya Risa ketus.


"Sayang, kita sudah sepakat tidak akan bahas ini."


"Jadi kamu tidur sama dia?"


"Tidak."


"Bohong!"


"Ah! Terserah kamu, Risa ... aku sedang tidak ingin berdebat."


Joshua membuang jaketnya sembarang. "Aku tidur di ruang tamu." Ia melangkah menuju keluar kamar. Pikirnya, ia sedang tidak ingin berdebat dengan Risa, dengan masalah yang selalu sama, saat ia baru saja pulang dari tempat Jana. Risa tidak akan mendengarkan alasannya, dan ia emosinya pasti akan terpancing.


Menghindari itu, malam ini, lebih baik mereka tidur di tempat yang berbeda.


Sementara Risa menghembuskan napasnya dalam-dalam. Akhir-akhir ini sikap Joshua sedikit dingin padanya. Biasanya ia akan melakukan segala cara untuk membuatnya tidak lagi marah atau merajuk. Tapi, kali ini ia tidak mengacuhkannya.


Apa mungkin benar dugaannya, Joshua jatuh cinta pada Jana. Risa mencoba berpikir jernih. Mereka sudah mengalami jatuh bangun dalam hubungan, dan susah payah untuk kembali bersatu. Banyak hal yang telah terjadi, dan tidak sedikit pula drama. Hal yang paling buruk pun sudah mereka lalui. Dan Joshua sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta dengan istrinya itu.


Risa merasa itu kurang masuk akal. Atau itu hanya pikirannya saja dan rasa cemburunya yang begitu besar karena ia sangat mencintai Joshua.


Dan sekarang, Joshua mulai merasa bosan karena ia selalu menuduhnya tanpa alasan. Ya. Mungkin saja Joshua jenuh dengan sikapnya. Masalahnya, terkadang ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak merasa cemburu pada Jana.


Ia merasa bersalah dengan hal itu. Ah memang Risa yang terlalu berpikir negatif tanpa melihat hal positif yang jauh lebih banyak.


Risa menghela napas dengan berat. Ia ingin meminta maaf pada Joshua tapi rasanya ia gengsi mengakui kalau ia bersalah. Lalu ia harus bagaimana. Menurunkan egonya. Bukankah ia yang sudah keterlaluan.


***


Sudah beberapa hari ini Risa dan Joshua saling diam. Mereka tidak makan bersama dan tidak tidur bersama.


"Kenapa lagi, sih?" tanya Ningsih. Wanita asal Gunung Kidul yang menjadi satu-satunya teman dari Indonesia. Ningsih sedang mengunjungi Risa di apartemennya.


"Kayaknya aku stres, deh, Ning."


"Kenapa emangnya?"

__ADS_1


"Suasana hatiku kadang buruk banget. Aku sering banget cemburu sama istrinya si Josh. Padahal aku udah sepakat sama Josh. Tapi, kadang aku nggak bisa mengendalikan diri. Marah-marah nggak jelas dan menuduh Josh nidurin istrinya."


Ningsih menyipitkan matanya. "Harusnya kan kamu udah tahu kalau bisa aja Josh tidur sama istrinya."


"Ya, emang, sih. Tapi, aku cemburu banget, beneran."


Ningsih menghela napasnya. Ia menggeleng. "Ya, mau gimana lagi? Kan istrinya Josh juga yang pegang finansial kamu di sini secara nggak langsung."


"Iya, ngerti, Ning. Tapi, namanya cinta. Pasti lah aku cemburu. Nggak mungkin nggak."


"Ya, terus, gimana maumu?"


"Nggak tahu aku, Ning. Aku ngerasa Josh mulai bosan aja sama aku."


"Nggak lah, Ris ... dia nggak bosan, dia cuma menghindar biar nggak terjadi pertengkaran terus."


"Gitu, ya?"


"Iya lah ... Josh tuh cinta banget sama kamu, Ris."


Semua yang diucapkan Ningsih benar adanya. Ia setuju dengan semuanya. Artinya, masalahnya adalah pada dirinya sendiri. Ia harus selalu mawas diri untuk tidak terjebak dalam mood swing yang parah.


Risa pun tersenyum. Ia menatap Ningsih dengan mata berbinar. Ah, sahabatnya itu selalu ada saat ia membutuhkan. Tapi, ia baru sadar, kalau selama mereka bersahabat, Risa tidak pernah menceritakan tentang permasalahan pribadinya. Selalu saja Risa yang membebani Ningsih dengan masalah-masalahnya. Padahal, terkadang ia melihat wajah Ningsih murung.


"Ya?"


"Kamu sendiri gimana?" tanya Risa.


"Maksudnya?"


Risa terkekeh. "Ya. Selama ini kamu nggak pernah cerita masalahmu sama aku, Ning."


Ningsih pun terbahak mendengar ucapan Ningsih. Namun sejurus kemudian wanita itu melempar pandang ke arah lain, mencoba menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya. "Aku ... nggak papa."


"Kamu yakin?" tanya Risa memasang wajah seriusnya. "Kamu baik-baik aja, kan, dengan suamimu?"


Ningsih tersenyum tipis. Ia masih berusaha menyembunyikan keresahannya, namun pada akhirnya ia tidak sanggup lagi menahannya. "Aku ... sebenarnya ada masalah sama suamiku."


"Aduh, Ning ... kenapa kamu nggak pernah berbagi sama aku?"


Ningsih tersenyum kecut. "Nggak apa-apa. Aku baik-baik aja, Ris."

__ADS_1


Risa mendecak. Ia memicingkan mata menatap sabahatnya. "Ayolah, Ning, cerita aja apa masalahmu?"


Ningsih mendongakkan wajah menatap langit-langit apartemen Risa. "Aku sering bertengkar sama Richard." Ia menyebutkan nama suaminya. "Kita udah dua tahun menikah tapi belum dikaruniai anak."


"Terus?"


"Kita udah coba semua metode untuk bisa hamil karena aku yang bermasalah."


"Kamu yakin kamu yang bermasalah? Bukan Richard?"


Ningsih mengangguk lemah. "Iya, aku udah periksa, Richard juga udah. Tapi Richard subur."


"Bayi tabung, surrogate mom, atau ..."


"Aku sama Richard udah coba semua. Bayi tabung, gagal. Dan juga metode-metode alamiah lain, tetap aja gagal."


Risa mengelus punggung Ningsih lembut. "Sabar, ya, Ning."


Ningsih tersenyum kecut. Ia sudah cukup bersabar selama ini. Tapi Richard, suaminya, yang sepertinya tidak bisa bersabar.


"Terakhir, kita coba sewa rahim seorang wanita buat titip calon bayi."


"Dan? Berhasil?"


Ningsih menggeleng. Antara berhasil dan tidak. Karena, yang terjadi setelahnya, di luar dugaan Ningsih. "Kita ketemu sama cewek yang bisa bantu kita. Kita bayar dia. Kasih fasilitas yang memadahi. Udah hamil dia."


"Terus? Apa masalahnya?"


"Masalahnya ...." Ningsih menggigit bibir bawahnya. "Richard jatuh cinta sama cewek itu."


Risa menangkup wajahnya. Ia kaget bukan main. Astaga. Ternyata permasalahan yang dialami Ningsih begitu pelik. Kemana ia selama ini sampai tidak bisa mendeteksi kalau sahabatnya ini butuh dukungannya. Ia merasa begitu bersalah pada Ningsih. Bahkan Risa menganggap dirinya sangat tidak bersyukur memiliki kekasih seperti Joshua yang begitu memujanya.


"Richard sekarang tinggal sama cewek itu. Dia mencurahkan semua perhatian sama cewek itu karena dia lagi hamil."


"Astaga ...."


"Aku nggak bisa berbuat apa-apa, Ris. Aku wanita yang nggak sempurna. Richard sangat menginginkan seorang anak."


Risa memeluk Ningsih yang pada akhirnya tidak bisa menahan tangisnya. Wanita itu pun menangis sejadi-jadinya di hadapan Risa.


Ternyata masalah Ningsih jauh lebih berat darinya. Hidupnya jauh lebih beruntung.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2