
Risa menangis sambil berusaha mencegah Joshua yang sedang mengemasi barang-barangnya. Memasukkan pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam sebuah koper besar.
"Please, Baby ... jangan tinggalin aku," ucapnya di sela-sela tangis. "Beri kesempatan aku untuk memperbaiki semua. Kita bisa mulai lagi dari awal. Aku akan jadi istri yang baik dan penurut. Aku tidak akan menuntut apapun."
Joshua menyingkirkan tangan Risa dari lengannya, seraya menarik sudut bibir. "Terkadang dalam hidup, kita tidak diberi kesempatan kedua." Seperti Jana yang tidak memberinya kesempatan kedua.
"Josh, please, please ...." Tangis Risa begitu histeris saat Joshua benar-benar meninggalkan apartemen mereka. Meninggalkannya sendirian di negeri asing ini. Dengan ucapan cerai yang keluar dari mulutnya.
Di sisi lain, Jana tengah memikirkan dalam-dalam segala hal yang telah terjadi di dalam hidupnya. Banyak hal yang terjadi, banyak yang menguras air mata, dan tidak sedikit menguras energi.
Jana sampai pada titik, melepaskan semua hal yang tidak membuatnya bahagia. Tidak mengapa jika dirinya memang ditakdirkan sendiri. Toh, banyak hal yang bisa menjadi fokusnya dalam hidup. Jika suatu hari ada seseorang yang datang dan menjadikannya perempuan satu-satunya yang ia cinta dan puja, ya biar saja.
Jovan telah mundur, dan Joshua telah menghilang. Kini hanya tinggal dirinya dengan semua yang ia bangun kembali dari nol. Tapi, biarlah begitu. Jana selalu meyakinkan pada diri sendiri, begitu lebih baik.
"Cintailah dirimu sendiri, Jana. Jangan pernah masalah orang lain dengan diri mereka sendiri mengganggumu. Kau akan baik-baik saja. Kau perempuan yang kuat." Begitu Mama Doodoo selalu berpesan.
Dan memang benar. Sejak Jana mengikhlaskan semua dan fokus membahagiakan diri sendiri, semua berjalan dengan mudah. Hatinya menjadi lebih tenang. Dan segala sesuatu yang ia lakukan, lancar tanpa halangan.
***
Dalam kurun waktu lima tahun, bisnis yang dijalani Jana dan Mira berkembang pesat, mereka bahkan mampu membeli tempat di samping toko dan memperluas restauran. Mereka bahkan punya beberapa outlet yang tersebar di empat county yang ada di New York.
Kini nama Jana cukup terpandang di kalangan orang Indonesia yang ada di New York. Meskipun banyak yang mengajaknya untuk ikut perkumpulan orang Indonesia, namun Jana menolak. Bukan karena ia tidak ingin berbaur, hanya saja, ia lebih senang melakukan hal-hal yang lebih produktif. Lagi pula Jana sudah tahu, apa saja kegiatan di dalam perkumpulan-perkumpulan itu.
Beberapa kali dalam dua tahun terakhir, Jana pulang ke Indonesia untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Ia juga merenovasi rumah mereka.
Entah apakah dirinya akan menetap di Manhattan selamanya, atau nanti pulang kampung dan menghabiskan sisa hidup di sana, Jana belum memutuskan apapun. Ia sedang menikmati semua yang ia lakukan saat ini. Bahkan masalah percintaan pun luput dari hidupnya. Jana tidak pernah dekat dengan lelaki manapun dalam kurun waktu lima tahun ini.
"Ternyata, ngikutin cara hidup kamu, aku jadi lebih tenang." Jana berucap pada Mira, saat keduanya sedang nongkrong di sebuah cafe di dekat Hudson Riverpark, menikmati udara sore Manhattan yang dingin.
Mira terkekeh mendengar ucapan Jana. "Ya, tapi ... tidak selamanya aku bakal kaya gini terus, Jan. Kalau nanti ketemu pria yang baik dan tulus, aku juga nggak akan menutup diri, kok."
"Iya, aku ngerti. Tapi, pria baik itu nggak usah dicari, kan? Dia pasti datang sendiri."
__ADS_1
"Bener, Jan."
Jana menghela napas dalam-dalam, lalu melempar pandangannya ke luar jendela cafe. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di seberang sungai memanjakan matanya.
"Aku ingat awal-awal datang ke Manhattan. Ya ampun, ngenes banget sih," kekeh Jana. Dia mengingat masa-masa susahnya di tempat ini bukan untuk mengeluh, namun, dia ingin bersyukur dengan apa yang dia dapatkan saat ini.
"Tanpa kamu yang dulu, nggak akan ada kamu yang sekarang, kan?" sahut Mira.
Jana mengangguk sambil mengulas senyum. Sore yang indah itu dia habiskan untuk mengobrol tentang kehidupan dengan Mira.
***
Jana turun dari taksi di depan rumahnya di area Greenwich, yang sudah dia tempati sejak dua tahun lalu. Namun, dia urung menaiki tangga menuju pintu, saat sebuah mobil yang cukup mewah berhenti tepat di sampingnya.
Wanita itu mengerutkan kening sambil menunggu siapakah kiranya si pengemudi mobil. Dan Jana pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, saat sosok berambut pirang dengan balutan coat panjang yang elegan, keluar dari dalam mobil dan menghampirinya.
"Hello, Jana." Si pemilik sepasang mata biru itu menyapa.
"Josh?" ucap Jana. Pria di hadapannya ini benar-benar Joshua, mantan suaminya yang sudah lima tahun tidak bertemu ataupun berkomunikasi. Namun, penampilannya kini sungguh jauh berubah. Rapi, dengan rambut yang disisir ke belakang. Coat, celana denim dan sepatu yang dia kenakan pun tampak berkelas. Lalu, mobil yang dikendarainya, tentu itu mobil dengan harga mahal.
"Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?"
Joshua mengulas senyum tipis. "Aku mencari tahu."
"Oh, okay."
"Wanna walk with me?" tawar Joshua seraya menunjuk sidewalk.
Jana mengangguk. Dia pikir, tidak ada salahnya mengobrol sebentar dengan Joshua. Toh, tidak ada lagi permusuhan di antara mereka. Anggap saja mengobrol dengan teman lama.
"Aku tiba di Manhattan kemarin."
"Oh, memangnya kamu tinggal di mana?"
__ADS_1
"Aku pindah ke San Fransisco lima tahun lalu."
Jana mengangguk-angguk. "Ada acara di sini?"
"Yeah, hanya acara bisnis."
Jana mencebik. "Sepertinya kamu sudah banyak berubah. Aku yakin keadaan finansialmu sekarang sudah sangat stabil. Bener, kan?"
Joshua mengedikkan bahu. "Mungkin," kekehnya. "Lima tahun lalu aku bercerai dengan Risa," terangnya.
"Oh, aku turut prihatin."
"It's okay. Tidak apa-apa. Justru itu yang terbaik. Aku sempat terpuruk beberapa bulan, sampai pengacara mendiang orang tuaku menghubungi."
Keduanya berjalan pelan menelusuri sidewalk lengang di area elite Greenwich. "Dia bilang, sudah saatnya aku menerima warisan mereka. Aku sangat terkejut waktu itu. Aku pikir, mereka mendonasikan semua harta peninggalan mereka ke panti asuhan dan yayasan kemanusiaan yang lain."
"Kedua orang tuaku sungguh mengerjaiku," kekeh Joshua. "Tapi, saat begitu banyak yang terjadi dalam hidupku. Seperti, pekerjaanku yang illegal, masalah dengan Risa, dan ... kehilangan seorang wanita yang begitu tulus mencintaiku, karena aku sudah tega menyakitinya, membuatku belajar untuk menjadi pria yang bertanggung jawab."
Jana menunduk untuk menyembunyikan senyum di bibirnya. Sepertinya dia mengenal siapa wanita yang tulus mencintai Joshua tetapi begitu tega disakiti.
"Lalu, aku pindah ke San Fransisco, memulai bisnis di sana, sekaligus healing."
"Begitu, ya. Sepertinya bisnismu berjalan lancar, ya?" ujar Jana.
"Ya, semacam itu. Aku berjuang mengembangkan bisnis selama lima tahun, berusaha menjadi pria baik dan menjauhkan diri dari semua hal negatif. Agar, saat aku bertemu dengan wanita yang pernah aku sakiti itu, aku bisa meyakinkannya, bahwa aku bukan Joshua yang seperti dia tahu."
Jana tertawa renyah. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pernyataan Joshua.
"Jana ...." Joshua menghentikan langkahnya dan meraih pergelangan tangan Jana.
"Ada apa, Josh?"
Joshua menatap Jana lekat. "Aku ingin kamu tahu, kalau aku masih menyimpan rasa cintaku padamu. Aku harap pertemuan kita ini akan menyambung kembali apa yang pernah putus di antara kita ...."
__ADS_1
THE END