
"Kamu panggil siapa?!" Risa terbelalak. Mulutnya menganga tidak percaya. "Kamu panggil siapa tadi, Josh?" desaknya seraya mengguncang bahu Johsua.
"A-aku, apa? Sial!" Joshua menepuk keningnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena baru separuh saja ia melakukan pelepasan, Risa sudah melepaskan diri darinya.
Plakkk
Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kena tanggung, mendapat hadiah tamparan pula. Joshua meringis sambil mengelus pipinya.
"Kamu panggil nama dia, Brengsek!" maki Risa seraya berurai air mata. "Kamu mikirin dia saat sama aku?"
"Maaf, Risa. Aku tidak sengaja."
"Aku nggak mau denger! Kamu tega banget, Josh, tegaaa!" teriak Risa. Tentu saja wanita itu mengamuk.
"Risa, Baby, maaf, ya, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu." Joshua berusaha meraih bahu Risa untuk ia peluk, namun, wanita itu memberontak hebat.
"Aku nggak mau denger!" teriak Risa kembali.
Joshua mengacak rambutnya frustrasi. Frustrasi di di pangkal pahanya, dan frustrasi di kepalanya. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada Risa. Ia salah. Sungguh salah.
"Kamu masih cinta sama dia?" tanya Risa di sela-sela tangisannya.
"Maaf, ya, Risa, please ...."
Risa tetap memberontak saat Joshua ingin memeluknya. Rasa bersalahnya begitu besar pada wanita itu. Namun, hatinya memang tidak bisa berbohong. Ia tidak bisa melupakan perasaannya yang tumbuh semakin besar setiap harinya pada Jana.
Kini, ia bingung harus bagaimana. Mungkin ia akan memberi waktu pada Risa untuk memenangkan diri. Terbukti, Risa tidak menahannya saat ia memutuskan untuk meninggalkan Risa sendiri di dalam kamar.
Joshua keluar apartemen untuk mencari udara segar. Ia kacau. Benar-benar kacau.
***
Jovan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan wajah tegang. Setelah menerima telepon dari Irina-sang ibu, Jovan menjadi gelisah.
Entah tahu dari mana, Irina mengatakan kalau ia tahu semua tentang Jana. Nama buruk gadis itu telah tersebar di kalangan orang-orang Indonesia yang tinggal di Manhattan.
Sekuat apapun Jovan berusaha untuk menjelaskan masalah sebenarnya, Irina tidak mau dengar sama sekali. Wanita itu menyatakan kalau dirinya dan juga Doddy-suaminya, tidak setuju atas Jana menjadi menantunya.
Jovan frustrasi. Ia bingung harus bagaimana.
"Mas Jo, gelisah banget kenapa, sih?" tanya Jana saat keluar dari kamar mandi, mendapati Jovan tampak seperti orang yang sedang kebingungan.
"Oh, nggak papa. Udah selesai mandinya?" tanya Jovan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kenapa, sih, Mas? Pasti ada sesuatu, deh," ucap Jana curiga.
"Sini duduk." Jovan meminta Jana duduk di tepi ranjang bersamanya. Pemuda itu mengelus rambut Jana yang masih basah. "Tadi Mama telpon."
"Oh, terus?" tanya Jana. Sejujurnya ia sudah bisa menebak kabar apa yang akan Jovan sampaikan.
"Yaaa ...."
"Mama kamu nggak setuju, kan?"
"Ya, aku bisa perjuangin kamu, Jana. Mama belum kenal kamu, kok. Dia denger kabar tentang kamu dari orang lain."
Jana menghela napasnya dalam-dalam. "Udah, lah, Mas. Aku udah pusing sama masalah terus. Mending, kita putus aja, ya?" Sejujurnya Jana kecewa. Mungkin bukan kecewa karena pertunangannya dengan Jovan berada di ujung tanduk, namun, lebih pada, kecewa karena orang yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya, termakan berita yang tidak sepenuhnya benar.
"Jangan nyerah, dong, Jana ... aku masih punya banyak energi untuk berjuang."
"Simpan aja energimu untuk sesuatu yang lebih berguna, Mas," ucap Jana. Ia beranjak dari duduknya, dan menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas sofa.
"Kamu yang paling berguna dalam hidupku, Jan."
Jana memijit keningnya. Ia sudah muak dengan masalah. Apalagi masalah percintaan yang tidak ada habisnya. Ia lelah. Keputusannya menerima lamaran Jovan karena ia ingin hidup tenang. Jika harus menikah dengan Jovan, maka ia pun bersedia. Asal, tidak ada hal-hal yang mengganggu. Apapun itu.
Tetapi, rupanya alam semesta masih mau mengajaknya bercanda. "Kita pikirin dulu, deh, Mas. Aku butuh waktu buat sendiri juga."
"Tolong, Mas ... aku udah capek sama masalah terus. Aku pingin hidup tenang. Biarkan aku sendiri dulu, ya."
Jana meninggalkan apartemen Jovan dengan perasaan yang tercampur-aduk. Antara kecewa, lega, atau mungkin hampa. Semuanya bersatu membombardir hatinya.
Mungkin Jana memang harus sendiri dulu. Fokus pada warungnya, dan fokus menghidupi kedua orang tuanya di Indonesia.
***
Hari itu warung begitu ramai. Sampai-sampai Jana tidak punya waktu untuk makan siang. Padahal, perutnya sudah memberontak meminta untuk diisi.
Joshua yang tahu Jana belum sempat mengisi perutnya, mengambil inisiatif untuk membuatkan mie goreng seafood yang ia racik sedemikian rupa.
"Kamu makan dulu, ya. Biar aku yang urus pembeli." Johsua menyodorkan sepiring mie goreng pada Jana.
"Tapi, warung lagi rame banget," ujar Jana.
"Makan, Jana." Joshua mengambil dua piring ayam goreng yang akan di antar Jana pada pembeli.
Jana duduk di meja makan dan mulai melahap isi piringnya dengan cepat. Sambil sesekali memperhatikan gerak-gerik Johsua yang cekatan; memasak, lalu mengantarkan makanan pada pembeli.
__ADS_1
"Tidak usah buru-buru makannya, Jana." Joshua yang melihat gadis itu melahap makannya dengan buru-buru. Ia khawatir hal itu justru akan membuat perut Jana kaget dan melilit.
"Kamu kerepotan nanti kalau aku makannya lama."
"Hei, aku tidak apa-apa, okay?"
Jana pun mengangguk. Ia mengulas senyumnya. Sekarang Joshua begitu perhatian dengannya. Hati Jana terasa menghangat.
Tetapi, ia menegaskan pada dirinya sendiri, bahwa Joshua kini bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa, atau bahkan hanya sekedar rekan kerja.
Sore harinya, saat Jana baru saja keluar dari warung, dan berjalan sendirian di trotoar menuju apartemennya, Joshua berlarian mengejarnya.
"Aku antar, ya?" tawar Joshua seraya menyejajarkan langkah dengan Jana, tanpa menunggu persetujuan gadis itu.
"Aku bisa pulang sendiri." Jana menjawab ketus.
"Tidak apa-apa. Aku ingin menghirup udara segar sore hari."
Jana mengerutkan keningnya. Udara sore ini tidak sejuk sama sekali, melainkan begitu dingin. Jana saja sampai melapisi kaus di dalam mantelnya beberapa lapis. Tubuh kurusnya tidak bisa menahan udara dingin yang begitu menusuk tulang.
"Aku tidak pernah melihat pemuda itu menjemputmu lagi," ujar Joshua membuka obrolan.
"Bukan urusanmu," sahut Jana ketus.
Joshua tergelak. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, Jana."
"Apa maksudnya memastikan aku baik-baik saja?" Jana menoleh ke arah Joshua, menatap miring lelaki itu.
"Ya, memastikan kamu bahagia."
Jana mendecih. "Bukan tugas kamu memastikan aku bahagia. Juga bukan urusan kamu, aku bahagia atau enggak!" tegasnya.
"Aku peduli sama kamu, Jana."
"Ya, ya, peduli yang gimana? Kenapa baru sekarang?" Jana menatap tajam ke arah Joshua.
"Peduli sebagai teman. Apa tidak boleh?"
Jana memutar badannya. "Aku sama kamu bukan teman, Josh, okay?"
"Bukan teman, lalu apa?"
Jana tersenyum miring. "Musuh!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...