
"M-maksudnya?" tanya Jana masih dengan suara terbata. Sepertinya ia harus benar-benar mencerna ucapan Joshua yang terdengar asing baginya.
"Begini, Jana ..." Joshua menyudahi kunyahan terakhir buritonya. "Di sini, banyak pasangan yang punya prinsip hubungan terbuka."
Jana memperhatikan dengan seksama. Ia tidak ingin salah tangkap. Sedangkan saat ini berbagai pikiran buruk menghantui benaknya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya dilanda panas dingin. Kepalanya pun mulai pening.
"Artinya, kamu boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, aku pun juga begitu." Johsua kembali menjelaskan.
"Kenapa ada hubungan suami-istri semacam itu, Josh? Aku karena tidak saling mencintai?" tanya Jana dengan hati perih. Ia tidak menyangka Joshua akan berpikiran sejauh ini dengan hubungan mereka. "Apa kamu nggak cinta sama aku, Josh?" tanyanya.
"Bukan begitu. Justru itu akan membuat hubungan kita menjadi semakin erat."
Apapun alasan yang Joshua katakan, tetap hati Jana tidak bisa menerima prinsip aneh semacam itu. Dirinya adalah orang timur yang tidak pernah melanggar norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Jana tidak pernah membayangkan untuk menduakan suaminya. Ia selalu sabar selama ini, walaupun Joshua, mungkin belum juga mencintainya dengan sepenuh hati. Tetapi, Jana berusaha menjadi istri yang baik.
Pernyataan Joshua benar-benar membuatnya sakit hati. Pikiran buruknya mengatakan, itu hanya alasan Joshua saja untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Jana berharap apa yang dipikirkannya salah.
"Kamu tidak mau?" tanya Joshua membuat Jana terkesiap.
"A-aku nggak tahu. Buat aku, itu terlalu aneh. Aku sayang sama kamu dan nggak ada niat untuk cari laki-laki lain," jawab Jana lirih.
Joshua mengangkat kedua tangan. Kemudian lelaki itu berdiri. "Pikirkan saja dulu. Siapa tahu kamu akan berubah pikiran." Ia berlalu dari hadapan Jana, melangkah masuk ke dalam kamar.
Jana masih duduk termangu di atas sofa. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang telah diucapkan oleh Joshua. Kembali ia merasakan perih dalam hatinya. Joshua selalu membuatnya merasa tidak berhati dalam hidup suaminya itu.
Gadis itu terkejut mendengar suara notifikasi di ponselnya. Satu lagi kabar buruk. Ia membaca sebuah email penolakan dari taman kanak-kanak tempatnya training, bahwa dirinya tidak lolos menjadi guru di sana.
Jana menghembuskan napasnya berat. Hari ini menyenangkan, namun sekaligus menyakitkan. Saat di luar sana, Jana merasa begitu tenang. Namun, saat bersama Joshua, dirinya terus saja dihantui dengan perasaan cinta yang menggebu, yang selalu berakhir dengan kekecewaan.
"Udah nggak bener itu, Jan," ucap Mira dua hari kemudian, saat Jana bertandang ke apartemennya yang tidak jauh dari Harlem, untuk membuat kue-kue pesanan.
"Nggak tahu, lah, Mir ... aku bingung sama Joshua. Apa maksudnya dia nawarin hal aneh kaya gitu." Jana menghela napasnya berat. Tangannya sibuk mencampurkan beberapa bahan adonan kue ke dalam loyang.
__ADS_1
"Karena dia juga pingin nyicip cewek lain." Mira menjawab ucapan Jana dengan lugas.
"Aku juga mikir gitu," sahut Jana lirih.
"Ah, gila, sih! Kalian nikah belum juga dua tahun, loh. Masa iya udah hambar, sih?"
Jana tersenyum tipis. Jika dikatakan hambar, tentu Jana tidak pernah merasa hambar dengan perasaannya terhadap Joshua. Ia bahkan semakin hari semakin cinta dengan suaminya itu.
Perasaan cinta yang aneh. Yang begitu menggebu-gebu, selalu dipenuhi rasa was-was, rasa cemburu, sakit hati dan haus perhatian. Jana tidak pernah merasa tenang.
Bahkan, saat ia menikmati kebersamaannya dengan Joshua di atas ranjang, ia mampu mencapai puncak jika ia membayangkan saat Joshua sedang meniduri wanita lain. Rasa cemburu membuat Jana semakin bernafsu untuk menggapai syurga dunia.
Terkadang Jana berpikir ada yang salah dengan otaknya. Semua itu ia ceritakan pada Mira. Hanya gadis itu yang ia miliki untuk berbagi keluh kesahnya.
"Kalau gitu, ya, udah. Turuti aja kemauan suamimu itu," ucap Mira gemas.
"Aduh, nggak kepikiran aku, Mir."
"Dari pada kamu makan hati."
"Sabar, ya, Jan. Maaf, saranku konyol. Gemes soalnya sama suami kamu itu." Mira menepuk-nepuk pundak Jana.
Jana terkekeh. "Nggak papa, Mir. Kamu udah dengerin aku aja aku udah makasih banget."
"Aku, tuh, udah kenyang disakiti laki-laki. Aku nggak mau kamu juga ngerasain apa yang pernah aku rasain, Jan."
Jana mengelus lengan sang sahabat lembut. "Iyaa, Mir. Aku tahu. Makasih, ya?" ucapnya terharu.
"Gini aja, lah. Nggak harus menjalin hubungan khusus, kok, tapi, berteman aja. Itung-itung nambah relasi, kan? Contohnya sama si Jovan itu."
Jana mengangguk. Ia mulai mencentak kue bolu kukus pesanan salah seorang pembeli yang ditemui saat acara festival Indonesia dua hari lalu.
"Mending fokus jalanin usaha kita yang masih seumur jagung ini, Mir," ucap Jana beberapa saat kemudian, setelah selesai mencetak adonan, lalu memasukkan ke dalam panci kukus.
__ADS_1
"Aku setuju. Makanya, kita cari teman sebanyak-banyak mulai dari sekarang. Siapa tahu bisa dapat pelanggan banyak juga," kekeh Mira.
Ponsel Jana bergetar. Gadis itu buru-buru mengelap tangan dengan kain bersih, lalu merogoh benda itu di saku celananya.
"Hallo?" sapa Jana pada orang di seberang. "Owh, iya. kabar baik." Jana menaikkan kedua alis sambil menatap ke arah Mira. "Mau pesen? Lumpia? Berapa, Mas? Mau buat kapan?"
Mira sudah bisa menduga siapa yang menelepon Jana. Pastilah pemuda yang mereka temui di konjen.
"Ketemu? Mmm ... gimana, ya?"
Mira melotot ke arah Jana. Mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu. Sepertinya gadis itu menyuruh Jana untuk mengiyakan permintaan Jovan.
"Emmm, o-okay, okay," ucap Jana, disambut acungan jempol oleh Mira.
"Iya, nanti sore mau ketemu di mana? Hudson River Park?" Jana menyebutkan sebuah tempat di pinggir sungai Hudson yang menjadi favorit warga Manhattan berjalan-jalan mencari udara segar.
"Wah, Jovan ngajak ketemuan, Jan?" tanya Mira dengan girangnya.
"Tantenya mau pesen makanan buat acara arisan ibu-ibu Indonesia."
"Wuaah, jangan-jangan modus doang pingin ketemu kamu, Jan?"
Jana terkikik. "Yang penting dapet pesenan, kan?"
"Iya, deh, iyaa," cebik Mira. "Berguna banget itu. Naksir penjualnya dulu, baru ntar jadi langganan, deh," selorohnya.
"Yang penting dagangan laku, kita untung."
Kedua gadis itu tertawa bersamaan.
Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda, diselingi dengan obrolan-obrolan hangat dan canda tawa.
Sungguh, Mira adalah penghibur di saat kegalauan melanda hatinya. Jana merasa beruntung telah ditolak kerja oleh sebuah taman kanak-kanak. Sehingga ia bisa fokus pada bisnis barunya bersama Mira.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...