Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 13. Joshua Dengan Wanita Lain.


__ADS_3

"Pssst! Sep, Septi!" panggil Jana pada rekan kerjanya. Keduanya sedang sama-sama mendata barang-barang yang tanggalnya sudah kadaluarsa.


"Apa, Jan?" Septi menggeser posisi berdirinya lebih dekat pada Jana.


Dengan malu-malu Jana mengutarakan niatnya. "Gini, Sep. Oh ya, sebelumnya aku mau ngomong kalau aku belum bisa balikin duitmu. Tunggu gajian, ya."


"Santai, Jan. Santai."


Jana menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis. "Terus, ini, Sep. Aku mau kredit HP di mana, ya? Kamu tahu, nggak, tempatnya?"


"Kredit HP? Ada, tuh, counter-nya sepupuku. Bisa beli HP kredit."


Mata Jana berbinar. "Ada uang mukanya, nggak?"


"Biasanya, sih, nggak ada, Jan."


"Bantuin, dong."


Septi mengangguk-angguk. "Ntar sore pulang kerja aku anter ke sana, deh."


Jana tersenyum lebar. Septi memang rekan yang sangat sangat bisa ia andalkan. Sudah berapa kali gadis berkerudung itu menyelamatkannya dari kebutuhan mendesak. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan Joshua.


Sore harinya, keduanya pergi ke sebuah counter HP yang terletak di daerah Malioboro, milik sepupu Septi yang gadis itu ceritakan siang tadi. Sepupu Septi seorang pemuda seumuran Jana yang cukup tampan, bernama Arya. Rambutnya sedikit gondrong dan ia ikat sebagian atasnya, menambah kesan macho meskipun tubuhnya tidak terlalu besar, namun proposional.


"Jana mau HP merk apa?" tanya Arya dengan senyum manisnya.


"Apa, ya, yang bagus dan cicilannya nggak terlalu berat," kekeh Jana.


"Udah, pilihin aja, Ar. Kamu punya rekomendasi apa buat Jana," celetuk Septi.


Arya manggut-manggut. "Tunggu bentar aku pilihin. Tapi, Jana maunya budget berapa, nih?" Ia memandang ke arah Jana dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


"Mmm, dua jutaan aja, deh, Mas."


"Nggak usah panggil Mas, dong, Arya aja," kelakar Arya sambil mengecek satu persatu ponsel baru di dalam etalase.


"Cieh, tumben kamu, Ar. Ramah ama cewek." Septi kembali menyeletuk.

__ADS_1


"Loh, aku ramah sama semua orang, Sep," kilah Arya sambil terbahak.


Septi mencebikkan bibirnya. Sementara Jana hanya meringis sambil mengelus rambut. Ia sedikit salah tingkah. Ia akui Arya ini charming sekali untuk ukuran pemuda lokal.


"Tahu, nggak, Jan ... si Arya ini nama lengkapnya bagus loh, Arya Kamandanu. Soalnya, Bulik-ku itu dulu suka banget sama sandiwara radio Tutur Tinular itu loh, tahu, kan, Jan? Jadi, nih, anaknya dikasih nama kaya pemeran utamanya," terang Septi.


Jana manggut-manggut. Nama yang pas untuk seorang pemuda manis asli Jawa. Sementara Arya yang masih mencari ponsel yang cocok seperti yang diinginkan oleh Jana, terbahak.


"Yang ini gimana, Jan." Arya menyodorkan satu kotak bergambar ponsel dengan merk yang cukup terkenal. "Harganya dua jutaan. Kurang dikit lah."


"Ya udah, deh, yang ini aja."


"Okay, dilihat dulu barangnya, ya ...." Arya membuka segel pada kotak di hadapannya, lalu menyerahkannya pada Jana. "Mau sekalian dipasangin kartu, nggak?"


"Boleh, boleh."


"Mau kartu apa?"


"Yang sinyalnya mulus."


Jana memperhatikan gerak-gerik Arya yang begitu cekatan melayani pembeli. Senyum pemuda itu selalu menghiasi bibir tipisnya. Entah kenapa seperti ada magnet yang membuat pandangan mata Jana tidak bisa lepas dari wajah Arya yang semringah. Energi pemuda itu begitu positif sehingga membuat hati Jana menghangat.


"Ya?" Jana terkesiap. "Gimana? Gimana?"


"Itu loh Arya nanya nomermu. Mau didaftarin ke finance."


"Owh, iya, iya ... 0821 ...." Jana merasa malu sendiri. Ia buru-buru menepis pikiran aneh yang bergelayut di dalam benaknya.


"Udah, beres." Arya menyerahkan ponsel beserta kotak yang berisi perlengkapannya pada Jana.


"Ini, nggak ada DP? Atau survey dari financenya gitu?" tanya Jana.


"Biasanya ada. Tapi, buat kamu, nggak papa, nggak usah."


Jana bengong. Lalu mengalihkan pandangannya pada Septi di sampingnya. Gadis berbadan tambun itu cengar cengir. Ia bisa melihat kalau sepupunya itu naksir dengan Jana.


"Makasih, ya, Mas ... eh, Arya," ucap Jana gugup.

__ADS_1


"Sama-sama." Arya menyahut. Senyumnya kembali menyita perhatian Jana, hingga Septi menariknya pergi dari sana.


Keduanya kini berjalan menelusuri kawasan Malioboro yang ramai. Berbaur dengan pejalan kaki yang sedang menikmati suasana sore di tempat paling populer di Jogjakarta.


"Arya naksir kamu kayaknya, tuh, Jan. Tapi, sayang, ya ... kamunya udah nikah. Ketemunya telat, sih," kikik Septi.


Jana pun terkekeh. "Enggak lah. Arya-nya emang ramah ke semua pembeli kali," sergahnya.


"Ah, nggak kok, Jan. Si Arya tuh kalau sama cewek agak-agak dingin gitu loh biasanya. Tapi, tadi kok bisa gitu dia, ya?" Septi memanyunkan bibirnya, heran.


"Tau, ah." Jana mencebik. Ia tidak mau memikirkan hal seperti itu. Ia sudah menikah dan tidak boleh memikirkan pria lain.


Untuk mengalihkan pikiran dari bayangan Arya, Jana mengedarkan pandangan di sekitar tempatnya berjalan. Ke sebuah mal yang ada di seberang jalan. Namun, matanya menyipit saat melihat sesorang yang sedang berada di dalam sebuah cafe yang menempel dengan bangunan mal.


Dari dinding cafe yang semuanya kaca itu, terlihat sosok berambut pirang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik berpakaian seksi. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, sepertinya wanita itu seorang SPG produk kecantikan atau semacamnya.


Jana mendekat untuk memastikan bahwa orang yang sedang dilihatnya itu bukanlah suaminya-Joshua. Namun, orang itu benar-benar Joshua. Dan yang membuat Jana bagai terkena sambaran petir di siang bolong adalah, Joshua memegang tangan wanita itu dengan erat seraya menciuminya.


"Jan, liatin siapa, sih?" tanya Septi yang keheranan melihat Jana yang terus memandangi seorang bule dan seorang wanita lokal yang sedang duduk di dalam cafe.


Jana tidak menjawab pertanyaan Septi. Ia malah merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Dengan tangan gemetaran, ia menangkap gambar Joshua dan wanita itu, saling menggenggam tangan.


"Jan, siapa, sih?" Septi yang penasaran kini mengikuti langkah cepat Jana menuju ke trotoar luas yang terdapat beberapa bangku kayu panjang. "Jangan bilang itu bule suamimu, Jan." Ia duduk di samping Jana.


"Huaaaaaaaa!" Tangis Jana pun lolos. "Iya, itu suamiku. Dia sama cewek lain," ratapnya.


"Aduh, aduh ... kenapa tadi nggak dilabrak aja, sih, Jan?" sesal Septi.


"Aku lagi shock, Sep," isak Jana sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia tidak percaya Joshua membohonginya. Tadi pagi suaminya itu mengatakan akan menemui temannya dua orang asal USA juga. Nyatanya malah menemui wanita lain, yang Jana duga memiliki hubungan spesial dengan Joshua.


Perih. Perih sekali hatinya saat ini.


"Ya, udah, ayo kita labrak aja mereka sekarang!" Septi menarik tangan Jana meminta gadis itu berdiri.


"Nggak usah, Sep. Biar aku minta penjelasan aja sama dia nanti di rumah. Kita pulang aja, yuk."


Septi menghela napasnya berat. Kasihan juga melihat Jana. Pengantin baru, sudah harus menghadapi masalah orang ketiga. Lagi pula, dalam hati ia juga heran kenapa rekannya ini menikah secara tiba-tiba dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi warga negara asing yang latar belakangnya sulit untuk dikorek.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2