Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 25. Selamat Datang Di New York, Jana.


__ADS_3

Manhattan, New York.


Perjalanan ke Manhattan dari Jakarta membuat badan Jana remuk redam. Ditambah dengan sambutan udara dingin yang menusuk tulangnya, meskipun pakaiannya sudah berlapis-lapis.


Dua hari di Manhattan, Jana jatuh sakit. Demam dan flu melanda. Seluruh tubuhnya terasa nyeri.


Tempat tinggal Joshua tidak besar. Justru cenderung sempit. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan satu ruangan yang dibagi menjadi dua fungsi, yaitu, dapur dan ruang tamu.


Entah Joshua menyewanya atau apartemen itu memang miliknya. Yang jelas, Joshua tidak pernah mengatakan apapun padanya.


"Aduh, mampet hidungku." Jana mengucek hidungnya untuk mengurangi rasa gatal yang melanda. Ia masih bergelung di dalam selimut tebal sejak tadi pagi, meskipun perutnya sudah mulai meronta-ronta untuk diisi.


Namun, Joshua entah pergi ke mana. Tidak ada makanan sama sekali di lemari pendingin, tidak juga Joshua meninggalkan uang. Lagi pula, Jana bingung mau membeli makan di mana. Ia baru dua hari di sana dan belum tahu arah.


Nomer ponsel Joshua sudah berganti nomer lokal, dan Jana belum sempat menyimpan nomer suaminya itu. Kini Jana kebingungan, sementara perutnya mulai tidak bisa diajak kompromi. Ia lapar. Udara dingin memang cepat membuat seseorang kelaparan.


Tidak ada yang bisa Jana lakukan selain menunggu Joshua pulang. Namun, sudah berjam-jam Joshua pergi, dan belum tampak tanda-tanda ia menampakkan batang hidungnya.


Menunggu, dan menunggu, hingga Joshua baru datang sore harinya, dengan membawa dua kotak mie goreng dengan campuran seafood. Dari kotaknya, Jana bisa melihat ada tulisan huruf Mandarin.


"Maaf, ya, aku tadi banyak urusan. Kamu lapar sekali, ya?" ucap Joshua saat keduanya duduk di tempat makan kecil di dekat dapur.


Jangan ditanya bagaimana tersiksanya Jana menahan lapar sedari pagi, apalagi dengan kondisi badannya yang sedang sakit. Namun, yang keluar dari mulut Jana tentu saja berbeda. Ia menjawab kalau dirinya baik-baik saja.


Jana perhatikan, wajah Joshua terlihat tegang. Tidak seceria saat baru saja menginjakkan kaki di Manhattan dua hari lalu. Mungkin ada masalah dengan urusan warisan dan sebagainya. Namun, Jana tidak berani menanyakan pada Joshua.


"Kamu sakit?" tanya Joshua.


"Cuma demam. Nggak papa, kok."


Joshua mengangguk. "Nggak butuh ke dokter, kan?" tanyanya memastikan.


"Kayaknya enggak."

__ADS_1


"Aku belum punya uang."


Jana menelan ludahnya berat. "Iya, Baby. Aku nggak perlu ke dokter." Dihabiskannya sisa mie di kotak makanannya meskipun rasanya tidak terlalu cocok di lidah karena minim bumbu.


Sesat kemudian suasana hening. Joshua lebih banyak diam. Sepertinya ia memang sedang dilanda masalah yang cukup berat. Jana memperhatikan gerak-geriknya merapikan meja, hingga membuang kotak makanan ke dalam sampah.


"Aku mau keluar lagi. Ada hal yang belum selesai aku urus."


"Mmm ... jadi, kamu pulang cuma untuk kasih aku makanan?"


"Salah satunya," sahut Joshua sambil mengulas senyum tipis. "Aku juga harus mengambil sesuatu."


"Owh." Hanya itu yang keluar dari mulut Jana. Sementara Joshua masuk ke dalam kamar mereka dan keluar dengan membawa sebuah amplop besar yang entah apa isinya.


Jana terkesiap ketika tiba-tiba Joshua mengecup bibirnya sekilas sebelum akhirnya perpamitan keluar. Jana mengelus pelan bibirnya. Bulu romanya berdiri. Badannya yang dingin terasa hangat meskipun tanpa mesin penghangat ruangan.


Perut Jana kini tidak lagi melilit. Kini, tinggal kebosanan yang melandanya. Karena ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Joshua pulang, atau tidur.


Janalan yang sibuk. Ramai oleh para pejalan kaki dan juga kendaraan. Suara sirine mobil polisi meraung dari kejauhan. Suara klakson mobil yang saling bersautan memenuhi area itu.


Hingga malam tiba, Joshua belum juga pulang. Jana yang memang sudah banyak tidur, belum bisa memejamkan mata. Kepalanya pening karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Jalan-jalan aja kali, ya, di luar." Jana bergumam.


Badannya sudah lebih enakan. Hanya tinggal rasa linu yang sedikit menyerang persendiannya. Jana menyambar sweater tebal yang tergantung di belakang pintu lalu melapisi jaket yang ia pakai sebelumnya.


Tidak lupa membawa kunci apartemen, Jana keluar dan menelusuri lorong panjang yang terdapat pintu-pintu kamar di samping kanan atau kirinya.


Tidak ada lift di gedung itu. Cukup aneh untuk sekelas apartemen di Manhattan, meskipun terlihat kumuh.


Ah-Jana tidak mau ambil pusing dengan semua itu. Yang penting sekarang ia bisa menikmati udara di luar apartemen dan menghilangkan pening di kepalanya.


Semua orang yang berpapasan dengan Jana tidak satu pun yang menghadiahinya senyum. Berbeda dengan orang-orang Indonesia yang begitu ramah, meskipun terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun.

__ADS_1


Jana duduk di bangku panjang yang ada di trotoar luas, sambil memandangi sekelilingnya. Ada beberapa orang yang lewat sembari mengunyah makanan dan mendengarkan musik lewat headphone. Semua orang yang melewatinya, Jana hitung mungkin hanya sekali saja ada orang yang memberinya senyum. Itu pun hanya lelaki tua yang sepertinya seorang pengemis.


Tapi, tidak mengapa. Jana merasa hatinya menghangat saat ada orang yang dengan tulus tersenyum padanya.


Sungguh aneh. Baru dua hari di Manhattan, ia sudah merindukan sapaan-sapaan ramah tetangganya setiap hari. Bahkan ia rindu pertengkaran ibunya dengan Yu Prapti yang hampir setiap hari terjadi. Dan raut wajah bengong Kang Soleh si tukang sayur yang harus mendengarkan perdebatan kedua wanita paruh baya itu.


Tiba-tiba Jana merindukan semua itu. Rasa sepi menyerang sanubarinya. Tidak ada yang bisa diajak bicara atau sekedar mengobrol ringan. Ia benar-benar merasa sendiri di kota ini.


"Hei, Sweety, are you alone?"


Suara seruan dan kekehan beberapa orang lelaki membuat Jana terkesiap. Lamunannya pun buyar. Ia menoleh ke arah asal suara dan terkejut melihat ada tiga orang lelaki berkulit hitam yang sedang menghampirinya.


Ketiganya saling meloloskan tawa sambil mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang kurang bisa dipahami oleh Jana. Karena aksen mereka terdengar berbeda dengan bahasa Inggris kebanyakan.


"Come join us, Sweety," ucap salah seorang lelaki yang memiliki bekas luka di pipi kanannya.


Jana mengerti apa yang lelaki itu ucapkan. Karena masih ingin bersikap sopan, Jana hanya tersenyum dan menggoyang-goyangkan telapak tangannya.


Merasa mendapat penolakan, ketiganya semakin mendekat pada Jana dan mengelilingi gadis itu.


"Aku baru pertama kali melihatnya."


"Aku juga."


"Hei, kau bisa berbahasa Inggris?"


Jana menggeleng. Ia merasa ketiganya berniat jahat padanya. Tadi ia sempat mendengar ketiganya menduga bahwa dirinya orang baru di daerah ini yang baru mereka lihat.


Dada Jana berdebar. Ia ingin berdiri dan kabur, namun, kakinya terasa berat.


"Hei, jangan ganggu gadis itu. Pergi kalian!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2