
Jam sebelas siang Joshua baru keluar dari kamar dengan mata memerah khas bangun tidur. Perutnya yang keroncongan memaksa kakinya melangkah ke dapur untuk mencari makanan.
Di meja makan sudah tersedia menu sarapan meskipun a la Indonesia yang sebenarnya kurang cocok di perutnya. Nasi, tempe goreng dan oseng buncis. Menu sarapan yang aneh.
Joshua menggaruk kepalanya.
Ia rindu roti dan telur mata sapi serta potongan bacon. Tetapi, berhubung cacing di perutnya sudah meronta-ronta, maka ia pun terpaksa memakan makanan yang ada.
"Eh, anak mantu kesayangan Mama sudah bangun."
Baru separuh Joshua menghabiskan nasi di piringnya, ibu mertuanya yang cerewet masuk ke dapur. "Morning, Mama," sapanya sambil mengulas senyum. Dilihatnya penampilan si ibu mertua cukup rapi.
"Aduhh, morning-morning, ini sudah ndak morning lagi loh, Josh. Kamu yang bangunnya kesiangan." Bu Galuh terkekeh.
Joshua mengangguk-angguk. "Papa sudah berangkat ke ladang?" tanyanya basa-basi. "Mama cantik sekali. Mama mau pergi ke mana?"
"Sudah dari tadi pagi. Oh ya, Mama mau pergi kondangan di kampung sebelah. Ada teman Mama mantu. Kamu di rumah sendirian ndak papa?"
Meskipun tidak mengerti sebagian ucapan Bu Galuh, Joshua mengangguk-angguk. Perempuan paruh baya itu lalu berpamitan. Tinggallah Joshua sendirian di rumah sederhana yang tidak terlalu besar itu.
Selesai makan, seperti biasa Joshua menghidupkan perangkat game-nya dan bermain sepuasnya tanpa henti hingga menjelang sore hari.
Mulai merasa bosan, Joshua teringat gadis tetangga yang rambutnya dicat pirang-Asih. Ia suka mengobrol dengan Asih karena gadis itu cukup lucu dan mampu menghidupkan suasana. Tidak seperti Jana yang cenderung diam dan penurut.
Joshua memutuskan untuk keluar rumah dan menemui Asih untuk sekedar mengobrol membuang rasa bosan. Beruntung, Asih sedang duduk-duduk di terasnya sambil mengecat kuku, sepertinya.
"Asih!" panggil Joshua dari balik pagar pembatas yang memisahkan dua rumah.
Yang dipanggil terlihat semringah.
Asih melambai pada Joshua. "Sini, Josh!" pintanya.
Dengan senang hati Joshua keluar halaman rumah dan masuk ke halaman rumah Asih. Senyum gadis itu, meskipun tidak semanis Jana, menulari dirinya. "Apa kabar?" tanya Joshua sambil menarik kursi rotan dan mendudukinya.
"Ih, kamu ini, Josh. Tiap hari ketemu kok nanyain kabar," kekeh Asih sambil menepuk paha Joshua yang duduk di sampingnya.
"Memangnya aku harus bicara apa?" tanya Joshua bingung.
"Tanya sedang apa, sendirian, gitu contohnya."
__ADS_1
Joshua terkekeh. "Aku sudah lihat kamu sedang apa. Dan aku sudah tahu kamu sedang sendirian."
Asih menepuk jidatnya. "Iya, deh, iyaa ...." Suami tetangganya ini membuatnya gemas.
Gadis itu meniup-niup kuku-kuku jarinya yang baru selesai ia cat warna pink norak. Kontras sekali dengan warna rambutya yang pirang terbakar.
Joshua memperhatikan gerak-gerik Asih yang tampaknya dibibuat seseksi mungkin. Tubuhnya yang montok hanya dibalut tank top dan celana jeans pendek. Belahan dada gadis itu pun terpampang di depan matanya.
Kulitnya lebih gelap jika dibandingkan dengan kulit Jana yang kuning terang.
Memang Jana lebih cantik. Tetapi, Asih lebih menarik; eksotik. Joshua menarik sudut bibirnya saat Asih membungkukkan badan mengambil kapas yang terjatuh di lantai.
Joshua bisa melihat dengan jelas bagian atas dua gundukan di dada Asih menggantung dan bergerak-gerak mengikuti gerakan tubuhnya.
"Ih, Josh, liat apa, sih?" tanya Asih manja. Ia pura-pura membenarkan tank topnya yang sedikit kekecilan di badannya.
"Oh, tidak, tidak. Aku tidak lihat apa-apa," kekeh Joshua sambil menggaruk rambut pirangnya.
Bibir Asih mengerucut. Gadis itu pura-pura cemberut. Tetapi dalam hati ia senang bukan kepalang karena mampu menarik perhatian makhluk super tampan suami rivalnya itu.
"Kamu tidak punya pacar?" tanya Joshua. Entah kenapa ia menanyakan hal itu pada Asih. Ia penasaran saja apa gadis seseksi ini masih sendiri.
"Tapi apa?"
Benar saja. Joshua memang penasaran. Asih pun tersenyum lebar dibuatnya. "Tapi, pacarku sibuk dan kurang perhatian."
"Perhatian?" Joshua mengerenyitkan kening.
"Iyaa, perhatian. Jarang ketemu," terang Asih.
Bibir Joshua membentuk huruf O. "Sibuk?"
"Nah, iya itu. Sibuk orangnya." Asih memasang wajah sedih. Sedikit menunduk, namun matanya melirik ke arah Joshua, menunggu apa yang akan dilakukan bule tampan itu.
Asih hampir saja terlonjak saat tangan Joshua menepuk-nepuk punggung tangannya. "Kamu kelihatan sedih."
"Memang aku sedih. Aku kesepian."
"Kamu bisa bicara sama aku setiap hari kalau kamu mau."
__ADS_1
Demi apa? Asih begitu gemas mendengar logat Joshua yang lucu tapi seksi. "Thank you, Josh." Ia berucap dengan logat medok Jawanya.
"Kamu tidak punya kerja, Asih?" tanya Joshua kemudian.
Asih menggeleng. "Pacarku nggak ngizinin aku kerja, Josh."
"Ooow, dia kasih uang sama kamu?"
Asih mengangguk malu-malu. Gerakannya ia buat semanja mungkin, dengan mengaitkan jemari dan melenggokkan badan ke kanan dan kekiri. "Setiap punya pacar, mereka selalu kasih uang sama aku."
"I guess you're special."
"Ya? Apa, Josh?" Asih yang hanya tamat SMP dan dulu sulit menerima pelajaran bahasa Inggris terbengong.
"Emmm ... kamu spesial. Tau? Spesial?"
"Ooo ... tau, tau, spesial, yes. Makasihhh, Josh," kikik Asih. Ia mengaitkan rambut pirang yang cenderung oranye itu ke balik telinga.
"Josh! Baby!"
Panggilan itu berasal dari luar pagar rumah Asih. Jana berdiri di sana dengan wajah ditekuk. Marah, tentu saja. Ini sudah kedua kalinya ia melihat suaminya berdekatan dengan tetangga genitnya itu.
"Hi, Jana! Sudah pulang?" Joshua dengan santainya melambai ke arah Jana. Sepertinya ia tidak menyadari kekesalan sang istri. Ia lalu beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Asih.
Sementara Asih mencebikkan bibirnya saat Jana menatap tajam padanya. Membuat Jana ingin sekali mencakar wajah menyebalkan tetangganya itu.
"Kamu kok main ke tetangga terus, sih, Baby?" keluh Jana sambil menuntun motornya yang tadi ia tinggalkan di depan pagar rumah karena melihat Joshua sedang asyik ngobrol dengan Asih.
"What's wrong with that?" tanya Joshua tanpa rasa bersalah.
"Wrong lah. Jelas-jelas wrong!" sembur Jana seraya menyetandar motornya. Lalu melangkah masuk rumah dengan bersungut-sungut.
Tiba di dalam rumah, sedang tidak ada siapa-siapa. Ia langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan keras. Sebenarnya ia berharap Joshua menyusulnya ke dalam kamar dan minta maaf karena telah membuatnya cemburu.
Bayangkan saja. Dirinya bekerja seharian, lelah tiada tara. Sampai rumah malah menyaksikan suaminya asyik bersama perempuan lain. Meskipun hanya mengobrol, tapi itu cukup membuatnya cemburu. Apalagi perempuan itu adalah Asih. Tetangga yang memang tidak suka dengannya, dan sebaliknya.
Jana menjatuhkan bokong di tepi ranjang. Mulutnya manyun. Lama ia tunggu Joshua masuk ke dalam kamar untuk meminta maaf padanya, namun batang hidung suaminya itu tidak juga muncul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1