
Jana terpaksa meminjam uang dari Mira untuk mengirimi ibunya. Untung saja sahabatnya itu tidak keberatan. Bulan ini pun, Jana selamat. Tinggal bagaimana caranya ia mengembalikan uang itu pada Mira.
Sore itu, Jana menghadiri pertemuan rutin kelompok Melati di rumah salah seorang anggotanya. Atmini; perempuan berumur tiga puluhan, dengan penampilan pas-pasan asal Kebumen.
Atmini memamerkan rumahnya yang cukup besar di komplek perumahan yang berada di pinggiran Manhattan. Atmini dan suaminya, James-pria paruh baya yang menginjak usia enam puluhan tahun, belum memiliki anak. Rumah besar itu pun hanya dihuni oleh dua orang saja.
Meskipun dulunya Atmini berasal dari desa dan keluarga yang tidak mampu, namun berkat James, suaminya, kini gaya hidup Atmini bagai wanita kelas atas yang selalu dikelilingi dengan barang-barang branded yang tentu harganya pun selangit.
Hal itu membuat Atmini sedikit congkak. Ia selalu memandang remeh pada orang-orang di sekitarnya. Terutama Jana, yang masih terbilang baru di kelompok Melati.
"Mbak Atmi, harusnya pesen camilan dari Jana aja. Dia terima pesenan, loh." Yola, sambil mengibaskan rambutnya yang dicatok rapi, memeriksa aneka makanan kecil yang tersaji di atas meja. Semuanya makanan yang tampak asing di mata Jana.
"Udah tahu. Tapi, Jana bikin makanan apa? Indo, kan? Aku nggak begitu suka, sih, jajanan Indo. Nggak cocok di lidahku," sahut Atmini dengan bibir yang ia gerakan sedemikian rupa, mengikuti intonasi suaranya yang terkesan merendahkan. Lirikannya pada Jana terlihat sinis.
"Iya, Mbak Atmi. Jajanan Indonesia. Masakan khas Indonesia juga bisa pesan," timpal Jana.
"Kamu bahan-bahan beli di mana?" tanya Atmini.
"Ada teman yang jualan bahan online, Mbak."
"Oowh, tak kira kamu beli di Korean Market. Aku sampai mau tanya, emang modalmu gede?"
Jana meringis. Ia malas menimpali kesombongan wanita dengan gigi yang sedikit tonggos itu.
"Kan nggak harus beli di Korean Market, Atmi. Bisa juga di China Town." Wanita bernama Ratna menimpali sembari mengunyah potongan Nachos.
"Kotor itu China Town. Nggak higienis," cebik Atmini.
"Namanya juga mau buat jualan, Jeng. Masa iya bahan bakunya yang mahal-mahal, sih?" celetuk Nike, seraya melempar senyuman pada wanita-wanita lain di ruangan itu.
"Kalau bahan bakunya berkwalitas, otomatis harga jualnya juga mahal." Atmini tidak mau kalah.
Para wanita itu saling mencebikkan bibir. Mereka sudah hapal tabiat Atmini yang sombongnya selangit itu. Yola berbisik pada Jana, meminta gadis itu untuk mengiyakan saja semua ucapan Atmini. Biar wanita itu senang dan semakin terbang, katanya.
Acara gathering berpindah ke taman belakang rumah yang cukup luas. Lengkap dengan kolam renang ukuran sedang, ayunan, dan pohon-pohon Bougenville yang daunnya hilang serta batangnya tertutup salju tipis.
__ADS_1
Jana duduk di sebuah bangku panjang di dekat pintu belakang, di samping pohon Cemara yang juga tertutup salju tipis. Ia memperhatikan para wanita yang sedang bercanda ria di sebelah kolam renang.
Ia perhatikan wajah-wajah ceria itu. Mereka semua sepertinya sangat menikmati hidup. Tanpa beban tentunya. Mungkin, semua kebutuhan mereka sudah dipenuhi oleh para suami. Mereka hanya tinggal bersantai-santai saja.
Ada terbersit rasa iri di hati Jana. Namun, ia segera menepis dan membuangnya jauh-jauh. Apapun keadaan dirinya, ia harus senantiasa bersyukur.
"Aku baru melihatmu di kelompok Melati."
Suara di sampingnya membuyarkan lamunannya. Seorang lelaki paruh baya telah duduk di sampingnya. Tentu, Jana sudah bisa menebak, lelaki ini adalah James, suami Atmini, yang selalu wanita itu bangga-banggakan di setiap kesempatan.
"I-iya, Sir." Jana menjawab dengan gugup. Tatapan lelaki yang sebagian rambutnya sudah memutih itu begitu intens memindai seluruh tubuhnya. Membuat Jana merasa jengah sendiri.
"Panggil James saja." Lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya meminta berjabat tangan dengan Jana.
Jana menyambut uluran tangan James. Si lelaki menggenggam erat tangannya untuk beberapa saat. Sampai-sampai, Jana kesulitan menarik tangannya sendiri.
"Kamu masih muda sekali, ya? Cantik. Menarik," puji James dengan sorot mata tajam menusuk relung hati Jana.
"Terimakasih, Sir ... emmm ... James." Jana benar-benar salah tingkah ditatap sedemikian rupa. Bukan karena dadanya berdebar seperti saat Joshua menatapnya, namun, ia merasa risih dengan tatapan mata James yang terkesan genit.
"Harlem."
"Harlem? Kau tidak punya masalah tinggal di sana?" James memperlihatkan ekspresi wajah cemas. "Daerah itu tidak terlalu aman."
"Aku dan suamiku hanya mampu menyewa apartemen kecil di sana. Karena harga sewanya masih cukup murah," terang Jana.
James mengangguk-angguk. "Siapa namamu?"
"Jana, Jana Javernick." Ada rasa tenang di dalam hatinya, saat menyematkan nama keluarga Joshua di belakang namanya.
"Jana, nama yang bagus. Aku suka namamu."
Jana mengulas senyum tipis. Ia tidak tahu harus menjawab apa ucapan lelaki itu.
"Kau bekerja di mana?"
__ADS_1
"Aku punya bisnis catering kecil-kecilan dengan seorang temanku."
"Oh, kau bisa memasak?" tanya James dengan wajah berbinar.
"Sedikit. Masih belajar, Sir ... emm ... James," jawab Jana sambil berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya.
"Senang bertemu denganmu, Jana. Aku memperhatikanmu dari pertama kau datang tadi." James mengulas senyum lebar. Memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
Jana meringis. "Senang bertemu denganmu juga, James," ucapnya.
Kembali James memandangnya dengan tatapan intens. Hingga Atmini datang memutus pandangan mata James pada Jana.
"Baby, kenapa kamu di sini?" tanya Atmini dengan bahasa Inggris yang sedikit berantakan.
"Aku bicara dengan Jana." James menjawab istrinya itu dengan santai.
Atmini mendengus kesal seraya melirik sinis pada Jana. "Kamu juga ngapain di sini sendirian?" tanyanya pada Jana penuh curiga. Dalam benaknya, Jana sengaja memancing James untuk mendekatinya. Wanita mana yang tidak ingin berdekatan dengan James. Sudah tampan, kaya raya pula. Apalagi gadis seperti Jana, yang masih harus pontang-panting memenuhi biaya hidupnya di Manhattan.
"Nggak kenapa-kenapa, Mbak."
"Alah, alasan aja," ucap Atmini dengan bibir mengerucut. Ia ingin langsung saja menuduh Jana sedang mendekati suaminya, namun, belum sampai hati meloloskan kata-kata itu dari mulutnya.
Dan Jana tentu saja sudah bisa menebak isi kepala Atmini. Wanita itu sedang membangun benteng di depan suaminya, agar tidak ada seorang wanita pun yang bisa mendekati.
Wajar. Begitu pula reaksi Jana, jika Joshua dengan sengaja mendekati seorang wanita, meskipun hanya sekedar mengobrol. Ia pasti akan melindungi apa yang menjadi miliknya.
"Jana, kamu mau nebeng sama aku atau naik subway?" tanya Yola saat acara gathering kelompok Melati berakhir beberapa jam kemudian. Hanya Yola yang masih menganggapnya sebagai teman di kelompok itu. Wanita-wanita lain tidak pernah menganggap derajatnya setara.
"Aku naik subway aja, Mbak," tolak Jana. Ia tentu tidak ingin merepotkan Yola. Karena rumah mereka tidak searah.
Saat Jana hendak berlalu, Atmini tiba-tiba menarik lengannya. "Kamu jangan macem-macem sama suamiku, ya?!" ancamnya pada Jana, membuat gadis itu terbengong-bengong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf, bab ini kelewatan wkwkwkwk.
__ADS_1