Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 38. Jovan Sang Penyelamat.


__ADS_3

Jana merasa bagai tersambar petir saat mendengar ucapan Joshua. Ia terkejut bukan main. Hingga bibirnya tidak berhenti bergetar. Lidahnya pun terasa kelu, meskipun hanya untuk mengucapkan kata tidak.


"Kita akan banyak uang, Jana. Kita bisa pindah dari apartemen sempit itu," bujuk Joshua.


"K-kenapa kamu tega banget, Josh?" tanya Jana terbata. Ia tidak pernah menyangka dan tidak habis pikir, Joshua sampai hati memintanya untuk menjadi simpanan James Wilson.


"Ini demi masa depan kita."


Jana menggeleng. Kalau sudah begini, tidak ada lagi masa depan antara dirinya dan Joshua. Semua sudah hancur.


"Ayolah, Sayang," rengek Joshua dengan wajah memelas.


Rasanya sudah lama sekali Jana tidak mendengar Joshua memanggilnya dengan sebutan sayang. Seharusnya Jana merasa bahagia, namun, hatinya bagai disayat sembilu.


Hati Jana benar-benar sakit. Ia sudah tidak mampu menahan air matanya. Gadis itu pun terisak pilu.


"Janaaa ...." Joshua menggeser posisi duduknya mendekat pada Jana. Kemudian ia meraih kepala istrinya itu dan membenarkannya di dada kokohnya.


"Kamu, kok, tega, Josh?" Jana tergugu. Ia pukul dada Joshua pelan.


"Ini kesempatan baik, Jana."


"Baik buat kamu! Gimana sama aku?!" Jana menarik dirinya dari pelukan Joshua. Ia berseru marah.


"Jana, Manhattan itu mahal. Kamu sudah merasakan betapa susahnya cari uang, kan?"


Jana menggeleng. "Terus, kenapa kita harus pindah ke sini, Josh? Kenapa kita nggak tinggal di Indonesia aja?"


Joshua mengacak rambutnya kasar. Ikatan rambutnya pun berantakan. "Aku salah prediksi. Aku tidak dapat semua warisan orang tuaku!" serunya. Kedua telapak tangannya mengepal erat. "Aku pikir, aku dapat semua warisan mereka. Tapi, ayah-ibuku yang sialan itu ... aaarghh!"


Joshua berdiri dan menendang-nendang kursi dengan keras. Ia mengamuk, membuat Jana ketakutan. Gadis itu menutup telinganya erat-erat.


"Sialan!" teriak Joshua. Tidak ada seorangpun yang mendengar karena taman itu begitu sepi.


"Josh ...." Jana pelan menyentuh lengan Joshua. "Kita pulang saja ke Indonesia, ya?"


"Noooo!" sergah Joshua. Ia tidak sudi pulang ke Indonesia. Ada seseorang yang telah menyakitinya di sana. Risa, yang ia harapkan bisa mengobati luka hatinya atas kematian Megan dan calon anak mereka.

__ADS_1


Jana meraup wajahnya yang telah basah oleh air mata. Ia tidak tahu harus kasihan pada siapa. Joshua, atau dirinya sendiri.


Ini sungguh berat untuk dijalani Jana. Ia tidak mampu melakukan hal gila itu. Namun di sisi lain, ia sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada lelaki di hadapannya ini, yang sedang sangat terpuruk dalam hidupnya.


"Aku bisa kerja apa saja, Josh. Apa saja. Tapi, bukan jual diri, Josh, bukan jual diri," ratap Jana pilu, memohon agar Joshua membuang sejauh-jauhnya pikiran untuk menjual istrinya sendiri.


"Kamu tidak ngerti, Jana!" timpal Joshua. "Terserah saja kalau kamu tidak mau. Jangan harap aku bakal cinta sama kamu sepenuh hati!" ancamnya seraya berlalu dari hadapan Jana.


"Josh! Josh! Tunggu!" panggil Jana. Gadis itu berlarian mengejar sang suami yang berjalan cepat keluar taman.


Jana berusaha meraih lengan Joshua untuk menghentikan langkah lelaki itu. Namun, Joshua seketika menarik lengannya. Sepertinya ia tidak sudi Jana menyentuhnya.


"Pulang sana!" seru Joshua seraya memutar badan berlawanan arah. "Aku tidak akan pulang sampai kamu kasih aku kabar gembira!" tegasnya seraya menunjuk wajah Jana.


Kedua kaki Jana rasanya tidak mampu menopang tubuh kurusnya. Persendiannya seakan lolos, hingga Jana terhuyung mencari sesuatu untuk menopang badannya.


Di bawah tiang lampu kota, Jana terduduk lemah. Ia menangis sesenggukan meratapi nasibnya. Sungguh cinta yang menyakitkan.


Namun, tetap saja ia tidak mampu membuang rasa cinta terhadap lelaki yang sudah jelas-jelas ingin memanfaatkannya.


***


Jana merasa ada seseorang yang mengguncang badannya. Pelan ia membuka mata. Yang dilihatnya pertama kali adalah seorang wanita asing yang sedang memeriksanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya wanita itu kembali.


Jana buru-buru bangkit. Ia memandang sekelilingnya. Hari telah pagi dan trotoar tempat ia berada sudah ramai oleh pejalan kaki. Beberapa orang menatapnya dengan tatapan iba, beberapa lagi menatapnya dengan tatapan curiga.


"Nona?"


"Y-ya, aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Kau punya tempat tinggal?" Si wanita kembali bertanya.


Jana mengangguk. "Terimakasih," ucapnya.


Si wanita pun berlalu setelah memastikan kembali Jana baik-baik saja. Kini tinggallah gadis itu berdiri menatap kosong ke arah jalan, di mana kendaraan sudah mulai ramai berlalu lalang.

__ADS_1


Sebuah mobil berwarna hitam menepi di depannya. Si pengemudi buru-buru keluar dan menghampirinya dengan wajah cemas.


"Jana? Kok, kamu lagi ngapain di sini?" tanya si pengemudi. Seorang pemuda Asia berambut panjang sebahu yang diikat sembarang.


"Mas Jovan," sahut Jana seraya mengerjap-ngerjapkan matanya. "Kenapa di sini juga?" tanyanya keheranan.


"Aku mau berangkat ke kantor. Kamu ngapain pagi-pagi di sini? Mana berantakan gini? Kaya homeless gitu, tahu, nggak?" Jovan memeriksa wajah kusut Jana. Mata gadis itu bengkak seperti habis menangis semalaman. Rambut panjangnya pun seperti tidak disisir.


"A-aku ...."


"Cerita di mobil aja, yuk." Jovan meraih tangan Jana dan menggandeng gadis itu masuk ke mobilnya.


"Kamu kenapa, Jan?" tanya Jovan kembali saat melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Nggak papa," jawab Jana berbohong.


"Nggak papa apanya? Aku lihat, loh, tadi kamu dilihatin banyak orang."


Jana terdiam. Belum sempat ia membuka mulutnya kembali, tangisnya yang lebih dulu lolos.


"Loh, loh, malah nangis. Aduh." Jovan mengelus tengkuknya. "Ke apartemenku aja, ya. Kamu cerita sama aku di sana."


"Jangan, Mas. Kamu, kan, mau ke kantor." Jana buru-buru mengusap air mata dengan punggung tangan.


"Nggak papa. Gampang aku, sih. Aku pingin tahu kamu ada masalah apa." Jovan mencari jalan memutar untuk kembali ke apartemennya.


Apartemen Jovan berada di area Central Park. Sudah bisa dipastikan bahwa pemuda itu berasal dari kalangan berada. Ia memiliki apartemen yang cukup mewah. Tentunya tidak sembarang orang, apalagi orang asing, yang mampu membeli apartemen semewah itu di New York.


"Nih, minum dulu." Jovan menyodorkan segelas air hangat untuk Jana yang kini duduk di sofa ruang tamunya yang luas.


"Makasih, Mas," ucap Jana. Ia meneguk air hangat pemberian Jovan. "Kamu nggak jadi berangkat kerja?" tanyanya.


Jovan melonggarkan dasi yang melilit di kerah lehernya, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. "Gampang aku. Kamu cerita dulu, deh. Kenapa bisa kaya orang homeless gitu?"


"Nggak papa, kok, Mas." Jana tetap tidak mau menceritakan masalahnya. Sebabnya, Jovan hanya seorang teman yang baru ia kenal. Rasanya tidak etis jika ia tiba-tiba menceritakan detail masalah yang sedang ia hadapi.


"Kamu berantem sama suami kamu?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2