
Akhirnya, Jovan bisa mengajak Jana pergi ke suatu tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di cafe rooftop milik sebuah hotel berbintang lima di Central Park.
Keduanya menikmati pemandangan Manhattan malam itu dengan lautan cahaya yang indah. Tentu, inilah waktu yang tepat untuk Jovan mengungkapkan niatnya yang sudah lama ia pendam, pada Jana.
Jovanmenggenggam telapak tangan Jana erat. "Jana ... aku udah mikirin ini lama. Kayaknya malam ini tepat banget kalau aku sampein niatku ke kamu."
"Apa, sih, Mas?"
Jovan menarik napasnya dalam-dalam. Mengumpulkan keberaniannya untuk mengucapkan sesuatu yang menjadi impiannya terhadap Jana.
Pemuda itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil warna merah. Ia membukanya di depan Jana. Tampaklah sebuah cincin indah bermata safir. "Kamu mau, nggak, nikah sama aku?"
Jana menatap sepasang mata teduh milik Jovan yang terlihat serius itu. "Ini, kamu nggak lagi bercanda, kan, Mas?" tanyanya memastikan.
"Masa aku kelihatan bercanda, sih, Jan?" kekeh Jovan. Ia berusaha membuang ketegangannya.
"Kenapa tiba-tiba melamar? Pacaran aja enggak."
"Ya, pacarannya nanti aja kalau kamu udah terima aku."
Jana terdiam. Sebenarnya tidak ada lagi yang Jana tunggu. Ia bisa saja mengiyakan lamaran Jovan. Tapi, hatinya masih ragu. Ia masih belum memantapkan diri untuk menerima cinta pemuda itu. Apalagi menerima lamarannya.
"Aku cinta sama kamu, Jana. Aku bersedia menunggu sampai kamu membuka hatimu buat aku. Tapi, nikah sama aku, ya. Aku akan menjadikanmu wanita yang paling berbahagia di dunia ini," rayu Jovan.
Sejujurnya, Jana ingin tertawa mendengar ucapan Jovan yang terdengar serius. Pasalnya, baru kali ini ia melihat Jovan seformal ini.
"Tiara gimana? Udah ditidurin juga, tuh, cewek sama kamu," sindir Jana, mengingatkan Jovan pada peristiwa waktu itu.
"Mana ada aku nidurin dia," protes Jovan.
"Lah, itu, waktu itu dia lagi di apartemen kamu, tuh!"
"Dia dateng sendiri. Aku tinggal tidur. Kamar aku kunci biar dia nggak ngapa-ngapain aku."
Jana menyemburkan tawanya melihat ekspresi manja Jovan. "Mau kali kamu diapa-apain," ledeknya.
"Nggak mau, lah!"
"Nggak mau nolak," cebik Jana.
__ADS_1
"Kalau kamu yang ngapa-ngapain aku, sih, aku nggak nolak."
Jana memutar kedua bola matanya sambil mengerucutkan bibir.
"Gimana, nih, Jan? Diterima, nggak?"
Jana menghela napas dengan sangat berat. Haruskah ia menyetujuinya saja. Toh, selama ini Jovan sudah membuktikan padanya kalau ia benar-benar mencintai dirinya.
"Aku ... bersedia." Jana berucap dengan berat.
Jovan tersenyum gembira mendengar jawaban Jana yang tidak ia sangka-sangka. Ia pikir, Jana akan meminta waktu untuk memikirkannya.
"Terimakasih, Jana." Jovan menciumi punggung tangan Jana berkali-kali. Kemudian ia menyematkan cincin safir bermata merah muda itu pada jari manis gadis itu.
Jana tersenyum tipis. Sudahlah, mungkin ini yang terbaik. Ia juga merasa lelah jika terus-terusan hidup sendiri. Mempunyai suami, artinya ia bisa membagi beban hidupnya pada seseorang. Ia akan punya teman bercerita sebelum tidur, dan pastinya, ia akan merasa terlindungi.
Meskipun di dalam lubuk hatinya, Jana masih meragu. Entah apa yang membuatnya meragu. Apa mungkin karena rasa untuk Joshua belum sepenuhnya hilang dari hatinya.
***
Setelah lamaran malam itu, Jovan bersikeras mengenalkan Jana pada kedua orang tuanya yang tinggal di Washington. Jovan bercerita, kalau keluarganya sudah menjadi imigran sejak tahun sembilan puluhan.
Kedua orang tua Jovan menyambut Jana dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang ramah dan menyenangkan. Itu yang Jana tangkap saat baru saja menginjakkan kaki di rumah mereka yang cukup besar dan mewah, di komplek perumahan elite yang ada di pinggiran kota Washington DC.
Namun, Jana yakin, mereka akan berubah pikiran saat nanti mulai terlibat obrolan yang lebih dalam dengannya. Pasalnya, Jovan anak mereka satu-satunya, dan tentu saja mereka ingin mendapatkan menantu yang sempurna.
"Jana tinggal di Manhattan, di mana?" Irina, ibu Jovan yang memulai pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan Jana.
"Di Harlem, Tante."
"Oh, Harlem." Irina mengangguk-angguk, lalu melempar pandang pada sang suami yang duduk di sebelahnya.
"Jana kerja di mana?" Kini giliran Doddy, ayah Jovan yang bertanya.
"Di restauran punya temen, Om."
"Oh, sebagai?"
"Yang ngurus semuanya, Om."
__ADS_1
Doddy pun mengangguk-angguk. "Sudah lama tinggal di Manhattan?"
"Sudah hampir dua tahun, Om."
"Dulu, memutuskan untuk netap di Amerika, kenapa?" tanya Irina.
"Dulu ...." Jana melempar pandang ke arah Jovan. Pemuda itu seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Jana. Jovan pun mengangguk, sebagai tanda ia mempersilahkan Jana melanjutkan ceritanya. "Jana ikut suami ... emm ... mantan suami, Tante."
"Oh, sudah pernah menikah?" Irina tampak terkejut mendengar cerita Jana.
"Iya, Tante." Jana merasakan perubahan air muka kedua orang tua Jovan yang tadinya ramah, kini menjadi sedikit suram.
Ah-tentu saja. Mau berapa lama pun mereka tinggal di negara orang dengan pola pikir berbeda, tetap saja mereka adalah orang Indonesia yang masih berpatok pada adat ketimuran. Atau pada aturan bibit, bebet, bobot, dalam mencari pasangan untuk anak mereka.
***
"Kayaknya orang tua kamu nggak setuju, deh, Mas," ungkap Jana. Ia dan Jovan berada di sebuah hotel di downtown Washington DC. Itu ide Jana, karena tidak enak jika harus menginap di rumah kedua orang tua Jovan, sedangkan sikap mereka sedikit berubah setelah mengetahui asal-usulnya.
"Nggak lah, mereka nggak papa, kok," hibur Jovan. Meskipun dalam hatinya ia juga ragu.
"Aku masih muda udah jadi janda. Pasti mereka mikir macem-macem, deh."
"Janda lebih menggoda, tahu?!" Jovan menaik-naikkan alisnya, menggoda Jana yang terbaring di sampingnya.
"Apa, sih, Mas? Aku serius, ih!" rutuk Jana sebal.
Jovan terkekeh. Ia meraih kepala Jana dan membenamkannya di dada kokohnya. "Pokoknya aku tetap bakal nikahin kamu," tegasnya.
"Nikah itu harus dengan restu orang tua, Mas. Terutama ibu."
"Ya, kan, kita belum tahu, ibuku merestui apa enggak. Kamu, tuh, kebanyakan mikir yang enggak-enggak." Jovan mengacak rambut Jana gemas. "Gimana kalu kita mikir yang iya-iya aja. Maksudku, melakukan yang iya-iya aja, gitu?"
Mata Jana membulat. Ia menarik diri dari pelukan Jovan dan menahan dada pemuda itu. "Kamu mau ngapain?" tanyanya curiga.
"Mau ngapain coba?" Senyum Jovan tersungging di bibirnya.
"Eh! Mas, mau ngapain?" Jana masih menahan dada Jovan. Pemuda itu berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Jana.
"Enaknya ngapain?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...