
Joshua memeriksa barang-barang milik Risa yang tampak asing di matanya. Pasalnya, ia belum pernah melihat tas dan sepatu Risa yang sedang ia perhatikan saat ini. Dan barang-barang itu adalah keluaran brand ternama yang harganya selangit.
"Kamu dapat dari mana tas dan sepatu mahal ini?" tanya Joshua saat Risa baru saja keluar dari kamar mandi.
"Oh, itu ... aku nicil, lah, Baby."
"Menyicil?"
"Iya, Sayang. Soalnya di kelompok arisanku, semua pake barang-barang branded. Jadi, aku nggak enak kalau pake barang-barang murahan," timpal Risa berbohong.
Joshua mendecak kesal. "Apa penting?"
"Penting lah, Sayang. Jangan kamu pikir bergaul itu nggak butuh yang begitu-begitu."
"Ini mahal sekali, Risa. Untuk apa menyicil barang tidak berguna seperti ini?"
Risa membuat ekspresi wajah sedihnya. "Kamu nggak tahu, Baby. Temen-temenku itu yang bikin aku nggak bosen selalu ditinggal sama kamu. Jadi, aku harus membaur sama mereka," rajuknya.
Joshua menghela napasnya berat. Ia menatap istrinya itu lekat. "Kamu bosan?" tanyanya.
"Iya, Sayang, kadang-kadang aku bosan. Kamu sibuk terus. Siang kerja, malam kadang-kadang pergi nggak tahu ke mana."
Sejujurnya Joshua merasa iba dengan Risa. Selama ini, ia memang jarang memperhatikannya. Ia tidak tahu kalau Risa merasa kesepian dan bosan. Yang ia tahu, Risa banyak menghabiskan waktu bersama kelompok-kelompok wanita Indonesia yang tinggal di Manhattan.
"Sini ...." Joshua membuka kedua lengannya dan meminta Risa untuk datang ke pelukannya.
Dengan senang hati, Risa pun menghambur ke pelukan Joshua. Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan sentuhan suaminya itu.
Selama ini, ia melayani James dan tidak pernah mencapai pelepasannya sama sekali. Bagaimana mungkin ia bisa bergairah jika lawannya di ranjang adalah lelaki tua yang sudah tidak menarik lagi di matanya. Hanya dompetnya saja yang membuat Risa silau.
__ADS_1
Risa merasa seluruh tubuhnya diserang gairah yang begitu membara. Ia mendorong dada Joshua jatuh ke atas ranjang. Ia melucuti pakaian yang membalut tubuh kokoh lelaki itu, kemudian meloloskan pakaiannya sendiri.
Sudah lama tidak melihat tubuh polos Joshua, sungguh membuatnya mabuk kepayang, sungguh menggairahkan. Oh-Risa tidak tahan lagi untuk membawa Joshua memasuki gerbangnya. Malam ini, Risa seperti menjadi kendali atas Joshua. Sementara suaminya itu hanya menurut saja atas semua yang dilakukannya.
Risa hampir gila merasakan sentuhan Joshua yang membuatnya melambung tinggi. "Aku cinta kamu, Josh ... aku cinta kamu, Sayang," erangnya di sela-sela gerakannya mengimbangi gerakan Joshua yang sedang memasuki gerbangnya.
Ia memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Seakan-akan tidak ingin melepaskannya untuk selamanya. Ia jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan Joshua.
Luar biasa kenikmatan malam ini yang ia reguk. Bahkan Joshua memang selalu menjadi candu baginya. Hingga ia tidak bisa berhenti untuk mereguknya lagi dan lagi. Joshua tidak menolak. Ia meladeninya dengan sabar, dengan lembut. Sungguh Joshua adalah lelaki paling gentle yang pernah ia temui. Berada dalam rengkuhannya membuat tubuhnya seakan punya otak sendiri untuk menggeliat, meliuk dan mulutnya mengeluarkan erangan-erangan hebat.
Malam itu, lagi dan lagi. Risa mereguk kenikmatan yang diberikan oleh Joshua. Sampai ia kehabisan tenaga dan tertidur di pelukan suaminya itu.
Ia tertidur dalam balutan kebahagiaan yang tiada tara. Joshua miliknya. Risa masih tidak percaya dengan semua itu. Rasanya ia ingin selalu bersama lelaki itu sepanjang waktu. Ia tidak ingin melepaskan Joshua sedetikpun. Rindunya begitu menggebu-gebu.
Pagi itu, ia memeluk dan menciumi Joshua yang masih terbaring di sisinya dengan tubuh polos di balik selimut. Gerakannya mengecupi pipi Joshua tanpa henti, membuat lelaki itu terpaksa membuka matanya.
"Hai, Risa," sahut Joshua dengan suara parau. Wajah tampannya masih terlihat mengantuk.
"Maaf, ya, Sayang ... semalam aku membuatmu mengeluarkan banyak tenaga," kekehnya sambil meraba dada Joshua yang penuh tattoo.
Joshua tersenyum tipis. Ia mengelus rambut Risa lembut. Ia menatap wajah wanita itu dan berharap Risa adalah Jana, yang terbaring tanpa busana di sampingnya, pagi hari yang indah, dan ia akan langsung mendekap Jana dan membawanya terbang.
"Maaf kalau semalam aku terlalu liar," kekeh Risa. "Aku kangen berat sama kamu," lanjutnya.
Joshua menarik ujung bibirnya. Risa memang selalu liar di atas ranjang dan membuatnya mencapai puncak berkali-kali. Namun, yang ada di benaknya hanya tubuh indah Jana. Ia merasa sedang bercinta dengan Jana semalam. Tubuh Jana-lah yang ia sentuh, ia sesap dan ia jamah.
Mungkin Joshua sudah gila. Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Jana. Setiap hari bertemu, setiap hari memandangnya dalam diam, membuatnya begitu tersiksa.
Risa adalah pelampiasannya semalam. Atau ia yang jadi pelampiasan Risa. Yang jelas semalam ranjang ini begitu panas, setelah beberapa waktu membeku.
__ADS_1
Lihatlah! Memikirkan tentang Jana saja sudah membuatnya kembali bergairah. Ia merangkak naik ke atas tubuh istrinya dan mulai mengulangi apa yang telah mereka lalui semalam.
"Kamu mau lagi, Sayang?" lenguh Risa yang masih tampak kelelahan.
Johsua tidak menjawabnya. Ia hanya ingin membayangkan berada di atas ranjang bersama Jana. Dan tubuh Risa adalah objeknya. Sungguh, di matanya saat ini, yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya adalah Jana. Yang sedang mengerang di bawah sana adalah Jana.
"Aku sayang kamu," ucap Joshua seraya bergerak mengikuti instingnya.
"Aku lebih sayang sama kamu, Baby." Ucapan Joshua terdengar begitu menggairahkan di telinga Risa. Sisi liarnya kembali muncul.
Bagai mereguk madu yang begitu manis dan nikmat, Risa kini menguasai permainan. Teriakan-teriakannya memenuhi ruang kamar yang tidak terlalu luas itu.
Sementara Joshua, sekali lagi, bukan Risa yang terlihat di matanya. Semua yang ia sentuh dengan tangannya adalah Jana. Hanya Jana.
Ranjang sudah sangat berantakan akibat ulah kedua anak manusia yang sedang dimabukkan oleh gairah membara itu.
"Aku tergila-gila padamu, Baby!" engah Risa. "Aku cinta banget sama kamu!" Wanita itu terus saja berteriak-teriak menahan gelombang nikmat yang menggelora di dalam tubuhnya. Mungkin saat ini tubuh Joshua sudah penuh dengan goresan kuku panjang Risa.
"Oh, Josh ...." Risa melenguh kan nama Joshua di sela-sela deru napasnya yang memburu.
Joshua yang tadinya terus menyerang Risa, kini a membiarkan saja Risa mengerjai tubuhnya. Ia masih tetap memejamkan mata.
Risa menjerit, melenguh dan mengerang ketika mencapai puncaknya. Begitu pun Joshua. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak meloloskan nama Jana dari mulutnya. Ia membungkam teriakan pelepasannya dengan bibir Risa.
Namun, rupanya bibir Risa tidak cukup kuat untuk menahan apapun yang ingin ia loloskan dari mulutnya.
"Oh, Janaaa!" teriak Joshua keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1