
Jana tidak bisa berkonsentrasi di tempat kerja. Pikirannya terus melayang pada cerita Joshua dan mantan pacarnya. Mereka sudah tinggal bersama selama berbulan-bulan. Pasti banyak kenangan yang telah mereka lalui. Sudah mengenal luar dalam, sudah seperti suami istri.
Rasanya ia tidak sanggup membayangkan detailnya. Sakit sekali. Meskipun itu terjadi sebelum Jana bertemu dengan Joshua.
"Mbak, buruan dihitung belanjaan saya. Malah melamun."
Jana terkesiap saat seorang wanita yg sedang menggendong balita berseru padanya. Belanjaannya begitu banyak di atas meja kasir. Popok, peralatan mandi bayi, susu dan lain-lain. Antrian pun cukup panjang di belakang. Semuanya memasang wajah cemberut pada Jana.
"Cepetan, dong, Mbak." Si wanita kembali melontarkan protes pada Jana yang sedikit lambat menghitung belanjaannya.
"Iya, Bu, maaf," cicit Jana. Mood Jana benar-benar tidak bagus. Sudah pusing dengan pikiran yang tidak-tidak tentang Joshua, kena semprot pembeli pula. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga.
"Yang di belakang boleh ke sebelah sini." Suara Septi di sampingnya, mengurai antrian pembeli.
Jana mengulas senyum tipis pada Septi. Lalu menyelesaikan belanjaan milik si wanita yang terus menggerutu memprotes gerak-gerik Jana.
"Gimana kemarin, Jan? Udah minta penjelasan sama suami kamu?" tanya Septi saat pembeli sudah mulai sepi.
"Udah," jawab Jana sambil merapikan rak berisi rokok di belakang meja kasir.
"Terus?"
"Katanya itu pacarnya dulu sebelum ketemu sama aku, yang minta kejelasan hubungan. Tapi, udah diputusin sama Joshua."
"Putus kok masih pegang-pegang tangan, sih?" ujar Septi, yang juga melihat apa yang dilakukan Joshua dan seorang wanita di dalam cafe.
"Kata Joshua, dia harus membujuk seharian mantan pacarnya itu untuk diputusin."
"Kamu percaya, Jan?"
Jana mengerucutkan bibir. Pandangannya menerawang ke depan. "Nggak tahu, Sep."
Septi menghela napas berat. Sejujurnya ia prihatin dengan nasib Jana. Memang suaminya itu bule yang sangat tampan. Tapi, dari yang ia tahu, sejak Jana kalang-kabut meminjam uang padanya untuk membeli celana panjang waktu itu, lalu meminta bantuannya mencari cicilan ponsel untuk suaminya itu, dan terakhir kemarin, suami Jana terlihat bersama seorang wanita, membuat Septi mulai berpikir macam-macam kalau pernikahan Jana dan suaminya itu tidak beres.
Namun, Septi tidak bisa ikut campur terlalu jauh tentang urusan rumah tangga Jana. Ia sadar posisinya hanya rekan kerja saja.
__ADS_1
"Waspada aja, ya, Jan." Septi menasehati.
"Iya, Sep." Jana tersenyum hambar. Semuanya terasa begitu runyam untuknya saat ini. Menikah bukannya untung, malah membuatnya galau seperti ini.
***
Jana memijit keningnya saat membaca email yang dikirimkan oleh direktorat imigrasi. Biaya pembuatan visa izin terbatas cukup membuatnya tercengang. Pasalnya, itu setara dengan gajinya sebulan.
Ia menggaruk kepala sambil meringis. Gajinya belum turun. Meskipun turun, sudah ada cicilan yang harus ia bayar. Cicilan perangkat game milik Joshua, dan juga mengganti uang Septi.
Pusing. Sungguh pusing. Sementara visanya harus dibayar dalam kurun waktu tujuh hari. Kalau dia gagal membayar, maka ia harus mengulangi proses pengajuan dari awal.
Memberitahukan Joshua juga percuma saja. Pasti jawabannya, menunggu warisan selesai diurus. Artinya, saat ini Joshua tidak punya uang sama sekali. Minta pada orang tuanya, Jana tahu kondisi keuangan orang tuanya seperti apa. Apalagi ibunya sedang butuh uang tujuh juta untuk iuran desa yang sudah terlanjur dicatat oleh Bu Lurah.
Jana memijit keningnya. Ia belum menghidupkan motornya dan masih berdiri di depan minimarket tempatnya bekerja, saat sebuah mobil mewah menepi di dekatnya.
Mata Jana membulat saat kaca mobil sedikit diturunkan dan terlihat seorang wanita cantik sedang bergelayut manja pada seorang lelaki paruh baya berkumis tebal yang duduk di belakang kemudi. Yang membuat Jana terkejut adalah, wanita itu mirip Risa, mantan pacar Joshua.
Jana mencoba memastikan, karena pandangannya masih terhalang kaca mobil yang hanya terbuka bagian atasnya saja. Namun, setelah wanita itu membuka pintu dan melangkah keluar menuju minimarket, baru Jana yakin kalau wanita itu memang Risa.
"Owh, simpenan om-om ternyata," gumam Jana. Bibirnya mencebik. Ini kabar baik untuk dirinya. Ia bisa menceritakan kelakuan wanita itu pada Joshua, biar suaminya itu menyesal pernah memilih wanita nakal.
Sampai di rumah, rumah tampak sepi. Kedua orang tuanya tidak tampak di mana-mana. Sementara Joshua sedang tidur di kamar. Sebenarnya Jana ingin membangunkan suaminya itu, namun, melihat lelaki bule itu tidur dengan nyenyaknya, Jana mengurungkan niatnya. Ia memutuskan untuk menunggu Joshua bangun.
Jana duduk di ruang tengah, menyalakan televisi dan menonton acara gosip. Kebetulan ada liputan kehidupan sehari-hari salah seorang selebriti papan atas yang bersuamikan warga negara asing. Jana mengulas senyum tipisnya.
Tapi, hidup mereka penuh kemewahan. Dan pekerjaan suami selebriti itu cukup bagus. Sementara dirinya, belum seberuntung itu.
Saat ini, dirinyalah yang masih harus banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Jana berharap, warisan Joshua segera turun. Sehingga ia tidak perlu bersusah payah bekerja di minimarket dengan gaji pas-pasan. Ia bisa hidup mewah seperti si selebriti dan suaminya itu.
Lalu, ia bisa tunjukan pada semua warga kampung, betapa beruntung dirinya mendapatkan suami bule yang kaya raya dan tampan pula.
Terutama akan ia tunjukan pada si Asih yang sombong itu. Biar wanita genit itu tahu rasa.
__ADS_1
Jana terkikik sendiri. Ia merasa mirip dengan ibunya, yang selalu bersaing dengan Yu Parti. Tetapi, Jana tidak menyalahkan ibunya. Orang-orang seperti Yu Parti dan anaknya-Asih, memang harus diberi pelajaran.
"Jana?"
Jana terkesiap mendengar panggilan Joshua. Suaminya itu-dengan wajah khas bangun tidurnya, baru saja muncul dari balik pintu kamar.
"Hai, Baby," sapa Jana.
"Aku lapar," ucap Joshua sambil mengelus perut ratanya.
"Iya, Baby, aku cek dulu Ibu masak apa." Jana bergegas masuk ke dapur, diikuti oleh Joshua.
"Ada makanan?" Joshua melongok ke atas meja makan.
"Bihun goreng, Baby," jawab Jana setelah membuka tutup saji.
"Hmm, okay."
"Sebentar, Baby, aku siapkan dulu." Jana mengambil piring dan dengan cekatan mengambil beberapa sendok bihun goreng yang dicampur dengan sosis dan wortel itu.
"Makasih," ucap Joshua seraya menerima piring yang disodorkan oleh Jana. "Temani makan, ya?" pintanya.
"Iyaa, Baby." Jana mengambil tempat duduk di samping Joshua. Inilah saatnya memberi tahu kabar tentang Risa padanya. "Mmm, aku mau memberi tahu sesuatu sama kamu."
"Hmmm? Apa?"
Jana berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Tadi, aku lihat Risa, mantan kamu."
Joshua mengerutkan keningnya. "So?"
"Dia dibawa om-om. Dia sama om-om. Tahu, kan? Itu loh ... sugar, sugar daddy."
Tranng
Jana terkejut bukan main saat Joshua membanting sendok dan garpu dengan keras ke atas piring. Ia mengerjap-ngerjapkan mata menyaksikan wajah Joshua yang memerah.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Jana?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...