Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 53. Kita Selesai.


__ADS_3

Jana memperhatikan dua orang yang sedang terlibat diskusi yang sepertinya cukup alot. Joshua dan si wanita bertubuh seksi. Ia bertanya-tanya, siapakah wanita itu, dan kenapa ia tampak kesal sekali. Lalu, kenapa Joshua meladeni wanita itu.


Jana mengelus dagunya. Ia berusaha mengingat-ingat siapa wanita itu. Mungkin seseorang yang pernah ia lihat di Indonesia.


Beberapa saat kemudian, Jana menutup mulutnya saking terkejutnya. Risa. Wanita itu Risa mantan pacar Joshua. Pantas saja Joshua menemuinya dan mereka terlibat diskusi alot.


Ada permasalahan apa di antara mereka. Bukankah hubungan mereka telah berakhir. Dada Jana tiba-tiba berdegup kencang. Ia masih memperhatikan kedua orang itu, sambil melayani pengunjung yang datang dan pergi.


"Jana, aku bicara sama kamu nanti, ya? Aku antar Risa pulang dulu."


Jana tidak kuasa mengatakan tidak. Sebabnya, Joshua buru-buru mengajak Risa keluar dari warung.


Konsentrasi Jana buyar sudah. Ia tidak fokus melayani pembeli saking banyaknya pertanyaan tanpa jawaban yang berseliweran di dalam benaknya.


"Dek Jana, nasgornya enak banget, loh. Koki-nya pinter, ya. Nagih pokoknya."


"Oh, iya, Tante. Makasih, ya. Mampir lagi, ya, Tante." Jana menyahut ucapan wanita yang beberapa saat lalu menjanjikan review masakan Joshua.


"Pasti, dong, dateng lagi. Sukses terus, ya, Dek."


Jana melambai pada dua wanita paruh baya itu. Kemudian gadis itu duduk termangu di belakang meja kasir.


Sementara Joshua sedang dalam perjalanan mengantar Risa. Ia menyetir pelan, sebab Risa mengamuk di dalam mobil. Wanita itu berteriak, memaki, dan sesekali memukuli punggung dan lengannya.


"Pokoknya kamu harus putusin segera, Josh. Kamu pilih aku atau dia."


"Aku bilang kasih aku waktu, Risa."


"Nggak bisa. Mau berapa lama aku nunggu? Sementara kamu tiap hari bisa bermesraan sama dia!"


"Risa ...." Joshua menyentuh tangan Risa lembut.


"Aku nggak peduli, ya, Josh. Pokoknya secepatnya kamu harus putusin. Kalau kaya gini terus, mending aku bunuh diri aja."


"Jangan sembarangan bicara, Risa."


Risa membuang muka. Ia tidak sudi memandang ke arah Joshua. Rasa cemburu sudah sangat menguasai pikirannya. Ia hanya ingin memiliki Joshua seutuhnya tanpa membaginya dengan wanita lain.


Sampai di apartemen, Risa langsung masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di balik selimut. "Pikirin anak kamu, Josh. Pikirin aku. Jangan egois," isaknya.


Joshua mengacak rambutnya kasar. Ia duduk di tepian ranjang sambil memijit kepalanya yang penting.

__ADS_1


Memang semua harus diputuskan segera. Ia harus memilih. Mungkin, jika tidak ada anak, Johsua akan memilih Jana. Namun, anak dalam kandungan Risa membutuhkan sosok seorang ayah. Ia pernah kehilangan kekasih dan calon anak mereka. Sekarang, ia tidak ingin hal itu terulang lagi.


***


Hingga sore hari menjelang tutup warung, Joshua baru muncul. Jana sudah uring-uringan dan malas sekali menyapa suaminya itu.


"Maaf, ya, Jana. Tadi, ada hal mendadak yang harus diselesaikan."


"Iya." Jana menjawab pendek. Ia sibuk membersihkan meja, menata kursi ke atas meja.


"Kita bisa bicara?" tanya Joshua.


"Aku lagi sibuk." Jana mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih.


Joshua mengambil dua kursi yang telah ditumpuk Jana di atas meja. Satu untuknya, dan satu lagi untuk istrinya itu. "Duduk dulu," pintanya seraya meraih lengan Jana.


Jana menarik lengannya. Lalu, dengan bersungut-sungut gadis itu duduk di seberang meja.


"Risa datang ke Amerika sebulan yang lalu. Maaf, aku menyembunyikan ini dari kamu."


Tepat dugaan Jana. Ini sebuah kabar buruk. Baru beberapa hari ia menikmati kebersamaan dengan suaminya itu, badai kembali datang. Kali ini mungkin akan meluluhlantakkan bahtera rumah tangganya dengan Joshua.


"Dia hamil."


"Maafkan aku, Jana."


Ingin rasanya Jana memaki, mengumpat atau bahkan menghajar lelaki tampan di hadapannya itu. Namun, yang keluar dari mulut Jana hanya, "Iya ...."


Rasanya Jana sudah tidak perlu mendengar penjelasan dari Joshua lagi. Sudah cukup dan ia akan mengucapkan selamat tinggal.


"Jana ...."


Jana tidak memedulikan panggilan Joshua. Ia tidak menggubris permintaan Joshua untuk membicarakan hal itu. Pikirnya, apalagi yang harus dijawab. Risa hamil, dan Joshua harus bertanggung jawab.


Jana mengunci gembok rolling door warungnya dan melenggang pergi. Joshua mengejarnya, menarik lengannya memaksa gadis itu untuk berhenti.


"Dengar dulu penjelasanku, Jana."


Jana tertawa ironis. "Nggak ada yang perlu dibicarakan kayaknya, Josh. Risa hamil, ya, sudah, kamu harus tanggung jawab."


"Bukan begitu. Aku ingin mendiskusikan ini sama kamu."

__ADS_1


"Apa yang harus didiskusikan. Nggak ada, Josh. Kita urus perceraian kita, ya?" Jana menarik lengannya dari genggaman Joshua. Ia memutar badan dan berjalan cepat menjauhi lelaki itu.


"Jana!"


"Janaaa!"


"Aku sayang sama kamu, Jana!"


Jana mengibaskan tangannya. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak jatuh ke pipi. Untuk apa menangisi orang brengsek. Jovan benar, Joshua lelaki brengsek.


Ia harus menata hidupnya kembali. Sendiri. Tanpa Joshua. Jana harus menerima dengan lapang dada hal yang sangat menyakitkan ini.


"Aku sudah putuskan untuk bercerai dengan suamiku, Mama," ucap Jana pada Mama Doodoo, orang yang perlu ia temui untuk membantunya mengatasi rasa sakit yang begitu dahsyat membombardir hatinya.


Jana sudah menceritakan semuanya. Tidak ada yang ia tutup-tutupi dari Mama Doodoo. Pun affairnya dengan Jovan, sebagai akibat dari perlakuan Joshua pada dirinya.


"Ikuti kata hatimu, Jana. Kalau kau merasa bercerai dengan suamimu bisa meringankan jalanmu ke depan, lakukan. Jangan ragu-ragu."


"Sebuah hubungan harus sehat dari awal. Harus berlandaskan kejujuran. Kalian berdua berangkat dari niat yang tidak bagus. Maka akan berakhir buruk."


"Joshua punya anak yang harus ia pertanggungjawabkan, jadi, keputusanmu untuk berpisah dari Joshua, itu sebuah langkah yang baik."


"Tinggal bagaimana kau mengatasi luka hatimu."


"Pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu."


Mama Doodoo mengusap punggung tangan Jana. Gadis itu tersenyum. Ucapan-ucapan wanita itu memang sangat menyejukkan hati.


"Aku akan baik-baik saja, Mama."


Mama Doodoo terkekeh. "It's okay not to be okay."


Jana tersenyum lebar. "Ya, sebenarnya aku tidak baik-baik saja," ucapnya seraya menyeka air mata yang lolos di pipi tanpa seizinnya.


"Menangis itu bagian dari mengobati luka hati."


"Memang harus dihadapi. Sesakit apapun itu. Kalau menghindar, atau menambal sulam, justru hanya tinggal menunggu kerusakan permanen saja."


Jana mengangguk. Mantap sudah hatinya untuk berpisah dengan Joshua. Ia menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya. Seperti instruksi Mama Doodoo, agar semua beban yang menyesakkan dada, keluar bersama hembusan napas.


"Terimakasih, Mama."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2