Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 7. Tragedi Kantor Imigrasi.


__ADS_3

Suatu malam, Jana memberanikan diri untuk berbicara serius dengan Joshua. Tentunya setelah berjam-jam dirinya ia menunggu suaminya itu selesai bermain game. Dan itu adalah jam dua dini hari.


"Kamu belum tidur?" tanya Joshua sambil melepas kaos. Tubuh atletisnya hanya dibalut oleh celana boxer yang sangat pendek dan cukup ketat, hingga bagian sebelah itu terlihat sedikit menggembung.


Jana menelan saliva. Matanya mencoba menerawang ke dalam isi boxer Joshua. Sudah berkali-kali mengamati dan merasakan, namun setiap kali Joshua membukanya, tetap saja Jana shock.


"Bisa bicara?" tanya Jana hati-hati.


"What's up, Babe?" Joshua menghempaskan badan di samping Jana, kemudian menarik selimut menutupi badannya hingga sebatas leher.


"Mmm ... kamu ... nggak pingin ngajak aku honeymoon, gitu?" Jana bertanya dengan hati-hati.


"Honeymoon?" Joshua tampak sedang memikirkan sesuatu. "Bisa."


Jana terlonjak kegirangan. "Benar?"


"Ya. Asal kamu sudah urus visaku."


Jana menepuk keningnya. Kenapa ia sampai lupa dengan hal penting seperti itu. Beberapa hari lalu Joshua bercerita kalau visa sosial budayanya tinggal satu setengah bulan lagi.


Tapi, kalau ingin dirubah menjadi izin tinggal terbatas, sudah bisa karena statusnya sudah menikah dengan warga negara Indonesia, dengan catatan, Jana yang menjadi sponsornya.


"Kapan kamu akan urus visaku ke kantor imigrasi?" tanya Joshua.


"Mmm ... besok. Ya, besok. Aku akan izin nggak masuk sama bosku."


"Okay, deal." Joshua terlihat senang. Ia lalu memutar badan memunggungi Jana.


"Mmm ... terus ... tentang honeymoon ...." Jana urung melanjutkan ucapannya saat mendengar Joshua menguap beberapa kali.


Jana menghela napas dalam-dalam. Gadis itu memandangi punggung Joshua yang tertutup selimut. Ingin mengelus, tapi takut mengganggu. Ingin memeluk, tapi ragu-ragu. Akhirnya, Jana hanya bisa terdiam tanpa bisa memejamkan mata.


Beginikah rasanya menikah dengan lelaki dari negeri antah berantah? Meskipun fisiknya sangat menggiurkan, tapi hatinya terasa kosong.


Ah-Jana menepis pikiran-pikiran buruk yang berseliweran dalam benaknya. Sepertinya dirinya saja yang terlalu berharap untuk dimanja-manja. Mungkin tipikal lelaki bule tidak seperti itu. Mereka kan rasional. Kalau sudah mengantuk ya tidur saja. Tidak usah neko-neko.


Jana ikut memutar badan. Ia dan Joshua saling memunggungi. Dipejamkannya mata meskipun begitu sulit untuk terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


***


Hari ini Jana izin tidak masuk kerja karena menemani Joshua ke kantor imigrasi. Perjalanan ke sana menggunakan taksi online karena Joshua tidak mau naik motor, angkot atau bis.


"Maaf, Pak. Tidak boleh pakai celana pendek." Seorang satpam mencegah langkah Jana dan Joshua di pintu masuk.


Joshua yang dari rumah sudah memperlihatkan tanda-tanda mood yang tidak bagus; entah karena apa, memandang ke arah Jana sedikit sebal. "Jana, kenapa kamu tidak bilang kalau harus pakai celana panjang?"


"Aduh, aku kan nggak tau aturannya. Ke kantor imigrasi aja baru pertama kali ini," bela Jana.


Joshua mendecak sebal. "So, what should I do?" tanyanya pada si satpam.


"Silahkan ganti celana panjang di rumah atau bisa beli di toko pakaian dekat-dekat sini, Pak."


Joshua menggerutu. Sementara Jana tampak terbengong-bengong menyaksikan sikap Joshua yang tidak biasa. Maksudnya, baru kali ini ia melihat suaminya itu tampak kesal.


"Aku sudah bilang, Jana. Kamu prepare semuanya sebelum datang ke sini. Kenapa masih ada masalah seperti ini?" Suara Joshua sedikit meninggi. Jana mengikuti suaminya itu membelah halaman kantor imigrasi yang luas.


"Maaf, Baby," ucap Jana.


"We can't come back. It's too far." Joshua berhenti di pinggir jalan. "Kamu bisa belikan aku celana panjang?"


"Aku tidak bawa. Aku belum bisa ambil uang di Indonesia. Uangku masih hold di Amerika."


Oh, begitu rupanya. Jana baru mengerti alasan Joshua tidak memberinya nafkah. Pikirannya yang naif langsung saja menduga jika uang Joshua terlampau banyak, sehingga suaminya itu harus mengelolanya dengan baik.


Alasan yang sebenernya dibuat-buat oleh Jana sendiri, karena terlampau silau dengan ketampanan Joshua.


"Jana? Celananya bagaimana?"


"Ah, ya ... maaf, Baby." Otak Jana berpikir cepat. Secepat si cepat halu. Ia akan meminjam uang barang berapa ratus pada rekan kerjanya-Septi. Untung saja, gadis berkerudung itu masih memiliki saldo di rekeningnya.


Rekannya itu memang bisa diandalkan dalam situasi darurat. Beruntung Jana memiliki teman seperti Septi.


Jana pontang-panting mencari celana panjang di beberapa toko busana, plus mengira-ngira ukuran yang pas untuk Joshua. Pasalnya, suaminya itu lebih memilih menunggunya di sebuah cafe yang berada di sebelah kantor imigrasi. Alasannya, capek dan panas.


Setelah berjuang mencari celana panjang yang cocok dan Joshua menyukainya, keduanya pun kembali ke kantor imigrasi. Melalui sederetan prosedur yang melelahkan. Mengantri dan menunggu.

__ADS_1


Sungguh kepala Jana rasanya ingin meledak saja. Apalagi petugas imigrasi mengatakan kalau prosedur awal pengajuan visa tinggal terbatas ini seharusnya bisa dilakukan secara online. Itu akan sangat menghemat waktu.


Lemaslah Jana mendengarnya.


Ia menyalahkan diri sendiri yang tidak terlalu detail dalam mencari informasi. Sungguh, ini pengalaman paling rumit yang pernah ia alami.


"Are you tired?" tanya Joshua saat keduanya beristirahat makan siang di cafe sebelah.


Mereka sedang menunggu surat permohonan ditandatangani. Apakah setelah itu selesai? Tidak. Mereka masih harus melalui prosedur lanjutan di beberapa hari ke depan.


"Sedikit." Jana menumpu dagu di atas meja. Ia juga lemas saat melihat harga minuman yang dipesan Joshua. Otaknya mencoba mengingat berapa isi dompet di dalam tasnya tersisa.


"Thank you, ya, Baby. Kamu baik sekali." Joshua tersenyum lebar. Tampak raut bahagia terpancar dari wajah tampannya.


Dipuji seperti itu, hati Jana berbunga-bunga. Lelahnya perlahan memudar. Rasanya melihat senyum bahagia di wajah suaminya itu, mampu menghilangkan keresahannya.


"Everything for you," kekeh Jana dengan bahasa Inggris seadanya.


"Jana, aku ingin bilang sesuatu." Joshua menyeruput minuman bersodanya.


"Apa, Baby?"


"Kamu pasti bertanya kenapa aku tidak punya uang, ya?"


Mata Jana membulat. Ia yang tadinya menempelkan wajah di meja, kini duduk dengan badan tegak. "Emmm, aku ... nggak pernah pikir kaya gitu."


Joshua mengulas senyumnya. Ia urung membuka mulut saat dua orang pelayan cafe tiba-tiba datang meminta foto bersama layaknya ia adalah selebritis.


"Thank you, Mister," ucap seorang pelayan cafe dengan gembira.


"Sorry for that," ujar Joshua pada Jana yang sudah menunggu dirinya berucap, malah dijeda dengan kehadiran dua pelayan cafe itu. "Sampai di mana aku tadi? Ah, tidak punya uang." Ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya. "So, few months ago, my parent died in an accident ... mmm ... kece-la ...." Joshua mencoba mengingat kata dalam bahasa Indonesia, namun susah bagi lidahnya untuk mengucapkan.


"Kecelakaan?"


"That's it. Ya, my parent ke-ce-la-ka-an. Dan mereka kasih uang asuransi yang besar. Tapi, aku belum bisa akses. Ya, begitu." Joshua menerangkan dengan bahasa seadanya.


Jana mengangguk-angguk. Yang dikatakan ibunya benar rupanya. Warisan Joshua banyak. Hati Jana pun menjadi lega. Betapa beruntungnya ia mendapatkan suami bule tampan, memiliki warisan banyak pula.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2