Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 14. Pengakuan Joshua.


__ADS_3

Jana pulang dengan mata sembab, membuat Bu Galuh yang baru saja selesai menyiapkan makan malam, keheranan. Gadis itu duduk lesu di ruang tengah. Menyandarkan punggungnya sambil matanya menatap langit-langit ruangan.


"Jana, kenapa kamu?" tanya Bu Galuh sambil mendekati sang putri.


"Joshua belum pulang, ya, Bu?"


"Belum. Seharian ini Ibu ndak lihat dia. Kemana, ya?"


Jana menghela napasnya berat. Ingin sekali menjawab kalau suaminya itu sedang menghabiskan waktu dengan wanita lain. "Nggak tahu."


"Loh, ndak telpon-telponan, to?"


Jana menggeleng. Mana pernah Joshua menelepon dirinya hanya sekedar menanyakan bagaimana pekerjaannya hari ini. Tidak pernah sama sekali.


"Nggak," jawab Jana singkat.


"Ada apa, to, Nduk?" Bu Galuh mulai curiga ada sesuatu yang terjadi dengan putri dan menantunya itu.


Belum sempat wanita paruh baya itu mengorek keterangan dari sang putri, seseorang membuka pintu rumah dan melangkah masuk. Dan Joshua muncul di ruang tamu dengan wajah berbunga-bunga.


"Hello, Girls," sapa Joshua riang.


"Aduh, mantu Mama dari mana ini?" tanya Bu Galuh tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Sementara Jana memalingkan wajahnya. Ia tidak sudi beramah tamah dengan suaminya itu, yang tadi dilihatnya bermesraan dengan wanita lain.


"Bertemu teman, Mama."


"Owh, ya, sudah ... makan sana, Mama sudah buatin makan malam."


"Nanti saja, Mama, aku baru saja makan dengan teman di luar." Joshua lalu memandang ke arah Jana yang sejak tadi sama sekali tidak menyapanya. "Baby, kita ke kamar? Aku mau bicara."


Tanpa menyahut sepatah katapun, Jana bergegas masuk ke dalam kamarnya. Joshua yang keheranan pun mengikutinya. Tidak biasanya Jana bersikap dingin seperti ini padanya.


Di dalam kamar, Jana duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk dan tampak suram. Pandangan mata ia fokuskan ke arah sampingnya.


"Emm, Jana ... kamu sudah beli ponselnya?" tanya Joshua.


Mata Jana membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dirinya sedang tidak baik-baik saja, terbakar cemburu, sakit hati, perih, gelisah karena ulahnya, suaminya ini malah menanyakan hal yang tidak penting.


Kesal bukan main, Jana mengeluarkan kotak ponsel dan melemparkannya ke arah Joshua. "Silahkan!" serunya.


"Wow, cepat, ya, kamu dapat ponsel. Kamu baru mendapat salary, Baby?"


Jana hampir saja berteriak memaki-maki suaminya yang tidak peka sama sekali dengan apa yang sedang dirasakannya itu.

__ADS_1


"Wah, ponselnya bagus, Baby. Terimakasih, ya?"


Dada Jana bergemuruh. Ketampanan Joshua tidak lagi membuatnya terdistraksi. Ia marah. Benar-benar marah.


Jana mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, lalu berjalan mendekati Joshua yang sedang sibuk membongkar-mbongkar kotak ponsel. "Lihat ini?" tunjuk Jana pada sebuah foto yang terlihat di layar ponselnya.


Mata Joshua membulat. Ia tampak sangat terkejut. "Baby, aku bisa menjelaskan ini. Dengar dulu, okay?" Joshua yang mulai panik berusaha membujuk Jana.


"Kamu jahat, Josh," isak Jana berurai air mata. Ia pukulkan tangannya ke dada Joshua berkali-kali, melampiaskan amarah yang telah ia tahan sedari tadi.


"Baby, please, dengar aku, ya. Let me explain, please." Joshua berusaha memegangi kedua tangan Jana. "Please, Baby, calm down, let me explain this, okay?" bujuknya.


Setelah Jana mulai tenang, Joshua membimbingnya ke tepi ranjang. "Namanya Risa. Dia ... memang pacarku."


"Apa?!" seru Jana.


"Sstttt! Listen to me," pinta Joshua. Ia masih memegangi kedua lengan Jana, agar gadis itu tidak memukulinya lagi. "Maaf, aku sudah bohong sama kamu hari ini. Aku bertemu Risa ... to break her up."


"Aku nggak tahu artinya!" sentak Jana.


"Putus. Aku mau putuskan dia."


"Terus?"


"Tidak ada terus. Aku putuskan dia karena aku sudah menikah. That's it."


"You know, Risa tidak mau putus. Jadi, I need time to explain my situation to her."


"Ngomong apa, sih, nggak ngerti!" gerutu Jana.


"Pokoknya, lama sekali untuk membuat dia mengerti kalau aku mau putuskan dia."


Wajah Jana masih cemberut. Rasanya ia tidak bisa langsung percaya dengan penjelasan Joshua. Tetapi, melihat raut wajahnya yang tampak serius, Jana mulai bimbang.


"Percayalah, Baby."


"Susah percaya sama kamu!"


Joshua menghela napasnya dalam-dalam. "Terserah kamu, Baby. Yang penting aku sudah jelaskan."


"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Jana dengan sorot mata penuh selidik.


"Aku tidak bohong, aku berani sum ...." Ucapan Joshua menguap begitu saja saat pintu kamar mereka digedor oleh Bu Galuh. Joshua mendecak. "Can't she just leave us alone (Bisa nggak sih, ibu kamu nggak ganggu terus)?!" gerutunya kesal.

__ADS_1


"Jana! Joshua! Makan dulu!" suara Bu Galuh terdengar dari balik pintu.


"Nanti, Bu!" sahut Jana, yang juga kesal.


Masalah ini harus selesai segera. Ia ingin mengorek keterangan yang sebenarnya dari Joshua.


"Kalau gitu Ibu makan dulu, ya?" Suara Bu Galuh kembali terdengar.


"Makan aja, Bu. Nggak usah nunggu kita!" seru Jana kesal.


"Masih sore jangan anu-anu dulu," kekeh Bu Galuh.


Jana menggeram kesal. Sementara Joshua tampak mengatur napasnya.


"Kamu beneran nggak bohong? Jadi, sekarang udah beres sama dia? Udah putus?"


Joshua mengangguk. Ia menggenggam telapak tangan Jana dan menciuminya. Persis seperti yang ia lakukan pada wanita yang bersamanya di cafe sore tadi.


"Iya, Baby. Aku sudah putus."


Jana memanyunkan bibirnya. Sebenarnya ia susah untuk mempercayai kata-kata Joshua. Namun, melihat cara Joshua meyakinkannya ini, Jana menjadi ragu-ragu. Ditatapnya mata biru yang indah itu lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di sana.


"I love you, Baby," ucap Joshua lirih. Ia menangkup kedua pipi Jana, lalu mengecup bibirnya lembut.


"Ai lopyu tu." Jana menghambur ke pelukan Joshua. Lemah memang. Tapi mau bagaimana lagi, Jana memang sudah jatuh cinta dengan si pemilik mata biru dan rambut pirang itu. Si pemilik wajah tampan yang membuatnya lemah.


"Namanya siapa tadi?" tanya Jana. Tiba-tiba ia ingin tahu siapa jati diri mantan pacar Joshua.


"Risa."


"Orang Jogja?"


"Ya. Sebelum menikah sama kamu, aku tinggal sama dia beberapa bulan. Tapi, kami bertengkar dan dia usir aku dari tempatnya."


Dada Jana bergemuruh menahan cemburu yang teramat sangat. Tinggal bersama selama berbulan-bulan. Tidak mungkin aktifitas mereka hanya main catur. Ah-membayangkan apa yang sudah terjadi antara Joshua dan wanita bernama Risa itu, membuat dadanya nyeri.


"Kamu tidur sama dia, dong, tiap malam," sungut Jana.


"Ya. Kami tinggal bersama. Apa harus tidur sendiri-sendiri?" kekeh Joshua.


Jana ingin menjerit mendengar pengakuan Joshua yang begitu jujur. Meskipun jujur, tapi sungguh menyakitkan. "Kalian juga melakukan itu?" Bodoh memang. Sudah tahu sakit, tetap saja Jana menanyakan hal detail seperti itu.


Joshua mencebik. "Of course, Baby."

__ADS_1


Jana memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia sama sekali tidak menyukai jawaban jujur Joshua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2