
"Jana, Pak, eh, Mas," ucap Jana gugup.
"Jana siapa?" tanya si lelaki seraya menatapnya dengan tatapan sedikit menggoda; setidaknya itu yang dipikirkan Jana.
"Jana Arumika, Mas."
Si lelaki mengangguk-angguk. "Bagus banget namanya. Kenalin, Jan. Namaku Yoyo." Lelaki yang baru saja menyebutkan namanya itu mengulurkan tangan pada Jana.
Jana menjabat tangan Yoyo sedikit ragu-ragu. Dan benar saja, lelaki itu melakukan hal aneh, yaitu mengelus telapak tangan Jana dengan jari telunjuknya. Senyum genit Yoyo membuat Jana tidak nyaman sehingga gadis itu memalingkan mukanya.
"Eh, ngapain, sih, kamu pegang-gepang tangan calon suamiku?!" Suara wanita yang tidak asing di telinga Jana membuat Yoyo buru-buru melepaskan tangan Jana.
"Nggak, kok, Sayang ... aku dan Jana cuma berjabat tangan," bela Yoyo pada Asih yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan wajah angker, memandang sinis ke arah Jana.
"Alaaah, dia mau godain kamu, Sayang," sungut Asih, masih memandang Jana dengan sinis.
"Siapa yang mau godain? Maaf, ya, Asih, aku udah punya suami," timpal Jana tidak mau kalah. Ia merasa menjadi mirip ibunya saat bertengkar dengan Yu Prapti. Pikir Jana, akankah konflik tidak berujung antara sang ibu dengan tetangganya itu menurun pada anak-anak mereka-dirinya dan Asih.
"Mas, jangan deket-deket nih cewek. Gatel." Asih merangkul lengan Yoyo erat. Seakan-akan ia tidak mau seorang pun merebut calon suaminya itu. Kemudian menyeret lelaki itu masuk ke dalam rumah.
Yoyo sesekali menoleh ke arah Jana dan mengulas senyum genitnya, membuat gadis itu bergidik ngeri. Ia pun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya membersihkan halaman rumah.
Tiga puluh menit kemudian halaman rumahnya kembali bersih. Jana masuk ke dalam rumah, dan sang ibu sudah menghadangnya di balik pintu.
"Jana, tadi ibu lihat kamu dikasih duit sama itu calon menantu janda gatel. Berapa? Sini kasih ibu." Bu Galuh mengulurkan tangannya.
"Buat ganti rugi halaman rumah kita yang sudah diacak-acak semalem, Bu. Sejuta. Tapi, aku butuh buat bayar visa Joshua, Bu."
"Eh, ndak bisa. Sini setor ibu. Buat tambah-tambah iuran. Joshua kan belum kasih duit ke ibu."
"Duhh, Bu. Trus visa Joshua gimana, dong? Aku lagi pusing, nih, biayanya gede."
"Lah, ya, ndak tahu ibu." Untuk urusan uang, Bu Galuh tentu hanya memikirkan dirinya sendiri. Meskipun yang ia tunjukan sehari-hari, sepertinya ia begitu sayang dengan sang menantu.
__ADS_1
Jana menghela napasnya. Dengan berat hati ia memberikan uang yang diberikan oleh Yoyo pada sang ibu. Bibirnya cemberut.
"Nah, gitu, dong. Baru anak ibu paling uaayuu," kekeh Bu Galuh sambil mencubit pipi Jana. Lalu berlalu dari hadapan sang putri sambil mengibas-ibaskan lembaran uang di tangannya.
Jana terduduk lesu. Ia kembali memutar otak bagaimana mendapatkan uang untuk membayar visa Joshua. Meminjam Septi jelas tidak mungkin. Ia sudah banyak merepotkan rekan kerjanya itu.
Gadis itu meremas wajahnya frustasi. Sesekali memijit kening untuk mengurangi pening di kepalanya. Sejurus kemudian, ia menghempaskan badan di atas sofa, pasrah.
***
Joshua membulatkan matanya saat membaca email yang masuk ke layar ponselnya. Email dari pengacara keluarganya yang memberitahukan berita paling baik yang selalu ia harapkan selama di Indonesia.
Namun, sejurus kemudian Joshua mengumpat, "****!"
Sesuatu yang ia baca di layar ponsel membuat wajah tampannya tampak kesal. Ia lalu melempar benda itu ke atas kasur.
Joshua membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Dilihatnya Jana sedang terlelap di atas sofa ruang tengah, tempat ia biasa menghabiskan waktu seharian bermain game.
Ia yang tadinya ingin segera membangunkan gadis itu, kini justru berjongkok di hadapannya, dan memperhatikan wajah manis Jana. Senyumnya terbit di sudut bibir.
Jana adalah gadis baik. Joshua bisa merasakan ketulusannya saat melakukan apapun yang berhubungan dengan kebutuhannya.
Pelan ia mengelus pipi Jana. Namun, sentuhan itu membuat gadis itu seketika membuka mata. Ia langsung merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
"Maaf, aku buat kamu bangun, ya?"
"Nggak papa. Aku kecapekan tadi habis nyapu halaman." Jana meraup wajahnya pelan. Melihat Joshua, ia teringat kembali tentang uang visa yang harus segera ia temukan solusinya. "Emm, Josh, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu."
"Apa, Jana?" tanya Joshua sambil menjatuhkan bokong di samping gadis itu.
"Tentang pembayaran visa kamu. Aku ... lagi nggak ada duit. Aku nggak tau mau nyari ke mana. Nanti, kalau gajian pun, semua buat menyicil perangkat game, sama ponsel kamu," ucap Jana sambil menundukkan kepala.
"Astaga!" Joshua menepuk keningnya. Pantas saja beberapa hari ini Jana terlihat stres. Rupanya ia sedang memikirkan hal itu. "Tidak usah khawatir, Jana."
__ADS_1
Jana membulatkan kedua bola matanya. "Kenapa?"
"Aku yang akan bayar sendiri."
"Oh ya?" Jana terlonjak senang. Namun, sejurus kemudian gadis itu mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Joshua sudah memiliki uang.
"Ini yang ingin aku katakan pada kamu, Jana. Uangku sudah hampir selesai diurus. Tapi, aku punya sedikit masalah."
"Masalah apa, Josh?"
"Aku butuh rekening bank kamu untuk kiriman uangnya."
"Ooowh." Jana mengangguk-angguk. "Nggak papa. Kamu bisa pake rekeningku. Nanti ATM-nya kamu pegang saja," ujarnya tanpa beban.
"Terimakasih, Jana." Joshua mengelus lembut pipi Jana.
Jana meringis. "Iyaa," timpalnya. Kalau sudah diperlakukan lembut seperti ini, Jana lupa kalau ia sebenarnya masih marah pada Joshua tentang mantan pacarnya yang bernama Risa itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Jana saat Joshua berpamitan untuk keluar.
"Aku mau ketemu orang," jawab Joshua, seketika membuat dada Jana berdebar kencang.
"Owhh." Hanya itu yang keluar dari mulut Jana. Ia tidak sanggup menanyakan siapa orang yang akan Joshua temui. Namun, ia merasa begitu penasaran. "Mantan pacar kamu, ya?" Jana pun akhirnya meloloskan pertanyaan itu.
Langkah Joshua melewati pintu pun terhenti. "Aku akan bicara soal itu kalau aku pulang nanti, okay?" ujarnya sebelum akhirnya berlalu dari ruangan itu.
Namun, sejurus kemudian ia masuk kembali ke ruang tengah, melewati Jana yang masih duduk terbengong di sana, dan masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan.
Sementara Jana hanya bisa duduk terdiam dengan dada bergemuruh. Rasa cemburunya kembali datang menyesakkan dada. Ia ingin sekali mencegah kepergian Joshua. Namun, ia merasa tidak punya hak. Ia merasa posisinya tersingkirkan di hati suaminya itu.
"Jana, maaf, kamu punya uang untuk aku naik taksi?" tanya Joshua begitu ia keluar dari dalam kamar.
Jana menghela napasnya dengan berat. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet. Dengan berat hati ia memberikan satu lembar uang seratusan pada Joshua.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...