
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Jana sudah selesai menyiapkan makan malam untuknya dan Joshua. Meskipun suaminya itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Lama Jana menunggu Joshua pulang hingga satu jam lamanya. Suaminya itu pulang dalam kondisi yang sedikit kacau. Wajahnya kusut dan penampilannya berantakan.
"Kamu tidak perlu menunggu, Jana," ucap Joshua saat Jana menyambutnya dan mengajaknya menikmati makan malam.
"Nggak papa, Baby. Aku udah masak buat makan malam. Sayang kalau nggak kita nikmati bersama." Jana membantu Joshua melepas mantel tebalnya.
"Kamu mau buat aku merasa bersalah?" tanya Joshua seraya menatap Jana dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksukaan.
Jana menggeleng. "Nggak sama sekali," jelasnya.
Keduanya pun menikmati makan malam dalam diam. Jana tidak berani membuka obrolan karena ia lihat Joshua sepertinya sedang memiliki masalah dengan pekerjaannya.
"Jana, aku bisa minta tolong?" tanya Joshua membuka obrolan.
"Apa, Baby?"
"Aku butuh uang untuk membayar sesuatu. Apa kamu punya simpanan?"
"Membayar apa?" tanya Jana penasaran.
"Masalah pekerjaan. Aku butuh 700 dollar besok."
Mata Jana membulat. "700 dollar?"
"Ya. Apa kamu punya?"
Uang yang Jana miliki di rekening memang sedikit lebih dari 700 dollar. Namun, Jana sudah berjanji akan mengirimi ibunya bulan ini. "Aku punya sekitar 800 dollar di rekening. Tapi ...."
"Bisa kamu kirim padaku?" potong Joshua.
Jana mengangguk. Ia tidak kuasa menolak. Apalagi melihat raut wajah Joshua yang terlihat memelas.
"Terimakasih, ya, Jana." Joshua berucap dengan senyum lebar di bibirnya. Wajahnya kini tidak lagi kusut. Ia yang tadinya tidak bersemangat menikmati masakan Jana, kini mulai makan dengan lahap.
"Gimana bisnis kamu dengan teman kamu?" tanya Joshua, entah basa-basi dan ingin membuat Jana merasa diperhatikan, atau ia memang ia perhatian dari lubuk hati untuk istrinya itu.
"Lancar. Banyak pesanan. Kebanyakan dari orang-orang Indonesia di sini." Jana menjawab penuh semangat.
"Kamu tidak capek?" tanya Joshua.
"Capek, sih, tapi senang."
__ADS_1
Beberapa saat, suasana kembali hening, sebelum Joshua memulai kembali obrolannya.
"Kamu sudah pikirkan yang aku bicarakan kemarin-kemarin?"
Jana hampir tersedak air putih yang sedang ia minum. Obrolan ini yang paling ingin ia hindari. Tetapi, Joshua kembali memunculkannya ke permukaan. "M-maaf, Josh, aku ... kayaknya nggak bisa."
"Kenapa? Wanita lain justru bermimpi untuk bisa mendapatkan izin berhubungan dengan laki-laki lain selain suaminya. Kamu seharusnya bersyukur, Jana."
Hati Jana mencelos. Joshua terkesan menyalahkannya. Padahal dirinya hanya ingin sebuah hubungan yang normal.
"Aku nggak bisa lihat kamu sama wanita lain, Josh. Aku juga nggak bisa sama laki-laki lain," ucap Jana.
Joshua menghela napas dalam-dalam. Ia menaruh sendok dan garpu di atas piringnya. Kemudian, ia beranjak dari duduknya dan melangkah masuk menuju kamar.
Jana hanya bisa duduk terpekur di kursinya. Matanya sudah mengembun. Dadanya berkecamuk menahan perih yang teramat sangat.
Pelan ia membereskan sisa-sisa makanan di atas meja dan mencuci piring-piring kotor. Sambil pikirannya terus mengolah pertanyaan-pertanyaan yang coba ia temukan sendiri jawabannya.
Setelah ruang dapur bersih dan rapi, Jana mematikan lampu dan menyusul Joshua ke dalam kamar. Ia ingin sekali membicarakan masalah ini secara terbuka. Ia ingin menanyakan perasaan Joshua yang sebenarnya pada dirinya.
Namun, lelaki itu telah memperdengarkan dengkuran halusnya. Pertanda jika ia telah terlelap dan berpetualang di alam mimpi.
Jana tergugu di tepian ranjang. Hatinya terasa begitu hampa. Sepi dan sendirian, di negeri antah berantah.
***
Sebenarnya Jana sudah menyiapkan uang untuk dikirim kepada ibunya, namun, ia terpaksa memberikannya pada Joshua terlebih dahulu karena kebutuhan mendesak suaminya itu.
Ah-mengingat Joshua menyisakan perih di dadanya. Beberapa kali Jana mengelus dada pelan demi meredakan rasa perih di sana. Hal itu membuat Mira keheranan.
"Kamu kenapa, Jan?" tanya Mira.
"Hmm? Oh, nggak papa, Mir," timpal Jana seraya melanjutkan mengaduk adonan kuenya.
"Siapa yang telepon tadi, Jan? Abis teleponan, kok, mukanya masam gitu?" tanya Mira penuh selidik.
"Owh, ibuku di Jogja." Jana mengelap keringat di keningnya. Bukan keringat karena ia kepanasan, namun, keringat dingin sebagai reaksi hatinya yang sedang dihimpit beban.
"Kenapa, sih, Jan? Cerita, dong."
"Ibuku, Mir." Jana menghentikan aktifitasnya. "Aku udah janji mau kirim duit minggu ini. Duitnya juga udah siap. Tapi ... semalem Joshua butuh duit buat urusan bisnis katanya, dan penting banget."
"Haduhh," keluh Mira seraya menepuk keningnya.
__ADS_1
"Ya, gimana lagi, Mir. Aku juga nggak bisa nolak Joshua."
Mira mendecak. "Suami kamu sebenernya kerjanya apaan, sih, Jan? Udah jarang kasih nafkah, diembat pula duit kamu!"
"Mungkin emang dia lagi butuh banget, Mir."
Mira mengibaskan tangannya. Sejujurnya ia curiga dengan pekerjaan suami Jana. Joshua tidak pernah mau jujur dengan Jana. Dan itu sudah merupakan indikasi kalau pekerjaan Joshua adalah pekerjaan yang tidak beres. Persis seperti pengalaman Mira dengan mantan suaminya.
"Jan, Joshua nggak main tangan sama kamu, kan?" tanya Mira.
"Enggak, kok," jawab Jana jujur. Joshua memang tidak pernah melakukan kekerasan fisik padanya. Hanya saja, sikap acuh tidak acuh Joshua membuat hatinyalah yang merasa tersakiti.
"Beneran?" desak Mira.
"Bener, Mir."
"Syukurlah, kalau dia nggak melakukan kekerasan fisik sama kamu. Karena kalau sampai dia pukulin kamu, aku bakal saranin kamu pisahan aja."
Pisah? Dengan Joshua? Jana belum bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Ia masih memiliki harapan, suatu hari nanti, Joshua akan jatuh cinta seutuhnya pada dirinya. Ia percaya semua orang bisa berubah menjadi lebih baik.
"Ya, udah, Jan. Kamu fokus aja sama bisnis kita, nih. Kita udah mulai banyak pelanggan, loh."
Jana tersenyum. Untung ada Mira dan juga bisnis kecil-kecilan mereka yang membuatnya sibuk dan mampu mengalihkan pikiran dari permasalahan hati yang sedang ia hadapi.
"Jovan gimana kemarin?" tanya Mira seraya mengulas senyum jahil.
"Ya, nyampein pesenan Tantenya itu."
"Udah cuma ngobrolin itu aja?" Mira menyenggol lengan Jana.
"Emangnya mau ngomongin apa, sih, Mir?" tanya Jana sambil mengerutkan kening.
Mira terkikik. "Ya, apa gitu, yang sifatnya pribadi."
"Ish! Mikir apa, sih, kamu, Mir? Aku udah bilang aku punya suami, kok."
Kedua mata Mira membulat. "Terus, terus?"
"Ya, nggak terus-terus."
"Dia kelihatan kecewa, nggak?"
"Biasa aja, tuh." Jana mengedikkan bahunya.
__ADS_1
Kemarin, ia memang sempat melihat perubahan air muka Jovan saat ia mengatakan bahwa dirinya telah bersuami. Namun, ia tidak begitu peduli akan hal itu. Apapun yang dipikirkan oleh Jovan terhadap dirinya, atau, jika pemuda itu tidak mau menghubunginya lagi, Jana tidak peduli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...