
Bab 35
"Aduh!"
Jana mengibas-ibaskan tangannya. Ia menghisap ujung jarinya yang sedikit berdarah, terkena irisan pisau saat memotong kentang.
"Kenapa, Jan?" tanya Mira yang baru saja muncul dari pintu dapur.
"Keiris," desis Jana.
"Bentar aku ambilin kotak obat." Mira memutar badan keluar dari ruang dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna putih berlambangkan palang merah.
"Nggak fokus, sih," cebik Mira seraya mencari pembersih dan penutup luka.
"Makasih, Mir," ucap Jana sembari terkekeh.
Mira memanyunkan bibirnya. "Matamu kenapa bengkak gitu, sih?" tanyanya sambil membantu Jana memotong kentang. "Abis nangis, ya?" tebaknya.
Jana meringis. Tentu ia tidak bisa berbohong pada sahabatnya, yang sudah tahu permasalahan yang sedang ia hadapi.
"Mir," panggil Jana.
"Hmm?"
"Kayaknya yang kamu takutin bener, deh."
Mira menghentikan aktifitasnya memotong kentang. "Tentang apa?" Ia mengerutkan kening.
"Tentang Joshua."
Mira menaikkan kedua alis tebalnya. "Pekerjaan Joshua maksud kamu?" tanyanya.
Jana mengangguk. "Kemarin malam aku ikut dia ngurus kerjaannya."
"Terus, terus?"
Jana menghela napasnya dalam-dalam. Menyiapkan hatinya untuk menceritakan hal menyakitkan yang membuatnya terpuruk.
"Dia kayaknya emang gabung sama gangster."
"Aduh." Mira menepuk keningnya. Sahabatnya mengalami hal yang sama dengannya. "Bener, kan, dugaanku?"
"Tapi, ada yang lebih bikin aku sakit, Mir." Mata Jana mulai berkaca-kaca. "Dia minta aku melayani bosnya, dengan bayaran tinggi."
Mata Mira membulat sempurna. Kali ini gadis itu shock berat. "Yang bener, Jan?" tanyanya memastikan.
Jana mengangguk lemah. "Joshua nggak mau pulang kalau aku nggak kasih jawaban iya sama dia."
"Udah gila suami kamu emang!" maki Mira. "Udah lah, Jan ... tinggalin!" tegasnya.
__ADS_1
"Nggak tahu aku, Mir. Aku masih cinta banget sama dia."
Mira menghembuskan napasnya kasar. "Cinta macam apa, sih? Kalau bikin kamu sakit terus kaya gini? Bodoh iya!"
"Kamu nggak ngerti, Mir. Aku kalau udah jatuh cinta ke orang, tuh, susah."
"Aku ngerti, Jan. Ngerti banget. Kamu, tuh, cuma takut kesepian kalau pisah sama Joshua. Iya, kan?"
Jana menghela napasnya dalam-dalam. "Nggak tahu lah, Mir."
"Ya, udah, deh. Pikir-pikir aja dulu, ya. Tapi, opsi pisah itu harus kamu jadiin salah satu pilihan, Jan."
Jana masih memiliki harapan untuk bisa memperbaiki pernikahannya dengan Joshua. Ia belum ingin menyerah semudah itu. Ia masih ingin berjuang.
"Ada satu hal lagi yang mau aku ceritain, Mir."
"Apa, tuh?" Mira menoleh ke arah Jana. "Kayaknya seru, nih," tebaknya. Sebabnya, ia melihat pipi Jana bersemu merah.
"Jovan ...."
"Gimana-gimana?" tanya Mira penasaran.
Jana menceritakan kejadian ciuman di apartemen Jovan yang entah kenapa terjadi begitu saja. Dan Jana merasa begitu bersalah. Rasanya ia telah melakukan penghianatan pada suaminya.
Tentu saja Mira terpekik kaget mendengar cerita Jana. Tetapi, gadis itu justru sangat mendukung jika Jana bisa berhubungan dengan Jovan. Karena dari segi apapun, kecuali tampang, Jovan lebih segalanya dari Joshua.
"Aku bingung, Mir."
Jana menggeleng pelan. Ia sudah menantang hubungan aneh semacam itu. Lalu, kenapa sekarang justru ia mendapat kesempatan untuk melakukannya. Semua itu membuat Jana bingung sendiri.
***
Keluar dari stasiun bawah tanah, langkah Jana terhenti saat matanya menangkap seseorang sedang dihajar oleh beberapa orang berkulit hitam. Yang membuatnya terkejut bukan main adalah, saat mengetahui siapa orang yang sedang menjadi bulan-bulanan para lelaki berbadan besar itu.
"Josh ...." Bibir Jana berucap lirih. Tubuhnya seakan membeku menyaksikan Joshua dibuat babak belur oleh para lelaki itu. Ia hanya bisa menatap suaminya itu terkapar.
Hingga para lelaki itu meninggalkan Joshua yang tertelungkup di atas lantai trotoar, baru Jana mampu menggerakkan kaki mendekati Johsua dengan dada berdegup kencang.
"Josh! Kamu nggak papa? Josh!" teriak Jana sembari membantu Joshua duduk.
Joshua malah terkekeh melihat kepanikan Jana. "Tidak usah pura-pura peduli, Jana," ucapnya seraya menarik lengannya dari genggaman tangan Jana.
"Muka kamu babak belur kaya gini!" seru Jana seraya berusaha mengelap darah yang mengalir di sudut bibir Joshua dan juga di pelipis matanya. "Ayo, kita ke apartemen." Jana membantu Joshua berdiri.
Selain bau anyir darah dari luka Joshua, Jana juga mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh suaminya itu.
Sampai di dalam apartemen, Jana mendudukkan Joshua ke atas sofa. "Aku ambil air dulu buat bersihin lukamu."
"Tidak usah!" Joshua menghapus darah di wajahnya dengan lengan mantelnya.
__ADS_1
"Josh! Mereka siapa, sih? Kenapa mereka menghajar kamu?"
Joshua menarik sudut bibirnya. "Aku berhutang pada mereka. Banyak. Banyak sekali, Jana."
Jana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia terkejut mendengar ucapan Joshua. "Kenapa kamu bisa berhutang banyak sama mereka?!" erangnya.
"Kamu mau tahu? Jana, kamu mau tahu?" Joshua menaikkan alisnya, mata birunya membulat. "Bisnisku macet. Barang yang kujual dibawa kabur orang. Aku harus mengembalikan nilai barang itu pada supplier. Kamu mengerti?"
"B-berapa?" tanya Jana terbata.
"30 ribu dollar."
Jana terperangah. "30 ribu dollar?" ulangnya.
"Mereka memberiku waktu tiga hari untuk mengembalikan. Kalau aku tidak bisa ...."
"A-apa yang akan mereka lakuin sama kamu?"
Joshua menempelkan ujung telunjuk pada keningnya. "Bang!" kekehnya.
Jana bagai tersambar petir mendengar ucapan Joshua. Mereka akan membunuh Johsua jika uang 30 dollar itu tidak dikembalikan dalam tiga hari. "Ya, Allah," ucapnya lirih seraya mengelus dadanya.
"Sudah tahu sekarang? Kenapa aku minta kamu bantu aku?" Joshua menatap tajam pada Jana. "Kalau kamu mau lihat aku mati, ya, sudah, kamu tidak perlu membantuku."
Jana menelan salivanya dengan susah payah. Dadanya terasa begitu sesak. Rasanya ada sebuah batu besar yang menghimpitnya.
Tiga hari, harus mendapatkan uang sebanyak itu, otak Jana tidak mampu untuk berpikir. Keuntungan bisnis kecil-kecilannya dengan Mira saja hanya mencapai maksimal lima ratus dollar, atau lima juta rupiah. Itu saja masih harus dibagi dengan Mira sebagai pemodal.
"Kamu masih mau lihat aku hidup?" tanya Joshua membuyarkan lamunan Jana.
"Josh ... aku akan usaha cari."
Joshua mengibaskan tangan. Menganggap ucapan Jana hanya angin lalu. "Cari di mana? Menunggu keuntungan bisnis kamu?" Ia tergelak. "Jangan bercanda, Jana."
"Pokoknya aku akan usaha cari."
Joshua mendecak. "Saat kamu berhasil mengumpulkan uang itu, mungkin aku sudah mati."
Jana menggeleng kuat. "Jangan ngomong kaya gitu, Baby ...."
"Don't call me Baby!" bentak Joshua membuat Jana terlonjak kaget. Sebabnya, suara Joshua begitu keras, menghantam relung hatinya.
"Maaf," ucap Johsua kemudian, saat melihat mata Jana berkaca-kaca. "Aku kacau, Jana."
Jana memejamkan matanya. Air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
"kamu cinta aku, kan, Jana?" tanya Joshua menuntut. Jana mengangguk pasrah. "Kalau kamu cinta aku, bantu aku."
Jana menghela napasnya pelan dan panjang. Otaknya tidak mampu berpikir jernih. Kemudian, dengan berat hati, Jana mengangguk.
__ADS_1
"Aku mau."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...