Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 57. Masalahmu Apa?


__ADS_3

"Josh?" Jana yang masih sangat mengantuk mencoba memastikan kalau yang dilihat di depannya adalah Joshua.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Jana dengan tatapan mata penuh selidik.


"Boleh masuk?" Wajah Joshua bersemu merah. Tentu Jana bisa mencium bau alkohol dari tubuh Joshua.


"Mau apa?" Jana menahan dada Joshua. Lelaki itu sedikit memaksa untuk masuk.


"Hei, ini rumahku, kan?" Joshua menaikkan alisnya menggoda Jana.


Jana mendesis. Memang apartemen ini Joshua yang membelinya. Namun, Joshua sendiri yang memutuskan untuk pergi dari sini dan tinggal bersama Risa.


"Kenapa datang malem-malem, sih?" sungut Jana. "Lagian ada perlu apa kamu ke sini?"


"Boleh duduk?" Joshua menunjuk sofa di ruang tamu.


"Terserah," ucap Jana seraya melipat kedua lengan di depan dada. Setelah Joshua duduk di atas sofa, Jana pun duduk di seberangnya.


"Boleh aku tidur di sini?" tanya Joshua. Dari posisi duduk, ia tiba-tiba menghempaskan punggungnya tanpa menunggu Jana menyetujui niatnya.


"Silahkan!" jawab Jana ketus sembari memutar badan untuk meninggalkan Joshua sendirian di ruang tamu.


Gadis itu masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan membawa satu bantal dan satu selimut tebal. Ia melemparkan dua benda itu ke arah Joshua, membuat lelaki itu terkekeh.


"Kamu masih peduli sama aku, ya?" ujar Joshua senang.


"Nggak usah ge-er. Aku cuma kasihan aja sama kamu!" sungut Jana seraya memutar badannya kembali.


"Jana, tunggu!" seru Joshua membuat langkah Jana terhenti.


"Apaa?"


"Duduk dulu di sini. Kamu tidak mau ngobrol sama aku?"


"Buat apa? Ngobrol apa?" Jana memutar kedua bola matanya.


"Apa saja. Ayo, Jana, duduklah ... sini!" Joshua kembali duduk. Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya sambil tersenyum jahil.


Jana menghembuskan napasnya kasar. Dengan bibir cemberut dan bersungut-sungut, ia pun akhirnya duduk di samping Joshua. Pasalnya, wajah tampan yang terlihat jahil itu cukup menggemaskan di matanya. Tidak tega rasanya meninggalkannya sendirian.


Gadis itu membulatkan matanya saat Joshua mengeluarkan sebuah botol pipih ukuran sedang berisi cairan kuning kecoklatan.


"Kamu udah mabuk. Ngapain nambah lagi?" omel Jana.


"Siapa yang mabuk? Aku biasa saja."


"Itu, biacaramu ngelantur."


"Ngelantur? Apa itu?" kekeh Joshua seraya menenggak isi botol di tangannya.


Jana mendesis. Malas sekali kalau harus menjelaskannya.

__ADS_1


"Mau coba?" tawar Joshua seraya menyodorkan botol pada Jana.


"Nggak!" tukas Jana ketus.


"Sedikit. Supaya kamu tidak tegang."


Jana mendecih. "Aku biasa aja!" sungutnya.


"Kamu tegang."


"Sok tahu!"


Joshua tergelak. Meskipun sikap Jana terlihat ketus dan sinis, namun ia tahu, Jana senang bisa berdebat hal-hal kecil seperti ini dengannya. Lalu, Joshua pun memutuskan untuk menggodai gadis manis di sampingnya itu.


"Kamu makin lama makin cantik, ya, Jana."


"Nggak usah ngegombal!"


"Aku serius."


"Bodo amat aku!" Jana masih membentengi diri dengan bersikap sinis, agar tidak lulu pada tatapan sayu si mata biru yang bisa saja setiap saat membuatnya terlena.


"Kalau marah apalagi. Tambah cantik," kekeh Joshua.


"Josh! Udah, deh. Nggak mempan rayuanmu!"


"Tapi, kamu dengar rayuanku, kan? Kamu suka, kan?"


"Ini, coba dulu." Joshua kembali menyodorkan botol minumannya. "Sedikit saja. Kalau tidak suka, aku tidak paksa," ucapnya dengan bahasa Indonesia logat bule-nya yang terdengar imut di telinga Jana.


Jana menyambar botol di tangan Joshua dengan kasar. Kemudian, ia menenggaknya dengan cepat.


"Uhukkkk!" Jana terbatuk saat dirasakannya cairan itu membakar rongga mulut dan juga tenggorokannya. Alkohol memang bukan minuman favoritnya. Jana pernah meminum anggur. Meskipun rasanya pahit, namun, tidak terlalu menyiksa seperti ini.


"Pelan-pelan, Jana." Joshua mengelus punggung Jana lembut. Namun, gadis itu buru-buru menepisnya.


"Apa, sih, ini. Minuman setan!" Jana menepuk-nepuk dadanya. Mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman di sana.


"Whiskey. Memang keras. Makanya kamu harus pelan-pelan."


"Udah, ah! Nggak mau aku!"


"Dua kali lagi. Kalau cuma sekali, kamu cuma dapat panas di perut saja."


Jana mendecih. Namun, tangannya kembali mengarahkan mulut botol ke mulutnya. Ia meneguk cairan di dalamnya dua kali berturut-turut.


Beberapa saat kemudian, ia merasa tubuhnya mulai menghangat. Efek minuman itu cukup membuatnya nyaman. Tubuhnya terasa hangat dan tiba-tiba, ia merasa gembira.


Jana pun kembali meneguk isi botol beberapa kali. Ia ingin merasakan sensasi yang lebih lagi.


"Cukup dulu," ucap Joshua seraya merebut botol dari tangan Jana.

__ADS_1


"Tunggu! Aku mau minum lagi!" protes Jana.


Joshua tergelak. "Nanti." Ia menyembunyikan botol di saku mantelnya yang sudah ia letakkan di sandaran sofa.


Jana merengut. Ia mulai merasa begitu nyaman dan tubuhnya terasa ringan. Senyumnya pun tersungging dari bibir tipisnya.


"Aku belum pernah lihat kamu mabuk, Jana."


"Memang nggak pernah," kekeh Jana. "Aku, tuh, gadis baik-baik, ya ... cuma pernah satu kali melakukan kesalahan, menggoda suami orang. Itu juga gara-gara kamuuuu ...." Jana tergelak. Seakan-akan apa yang baru saja ia ucapkan terdengar begitu lucu. Padahal, saat sedang tidak dalam pengaruh alkohol, pasti kejadian itu adalah sesuatu yang sangat ia sesali.


Joshua menghela napasnya berat. Tatapan matanya penuh sesal. Meskipun Jana mengucapkannya dengan tawa, namun, ia merasa tertohok.


Lelaki itu menatap sang mantan istri dengan hati perih. Jana terlihat begitu gembira. Gadis itu menjadi sangat cerewet. Ingin rasanya ia peluk makhluk menggemaskan di sampingnya itu dan tidak ingin ia lepaskan lagi.


"Nanti istri kamu ngelabrak aku, gimana?"


"Tidak akan. Dia tidak tahu aku di sini."


"Beeeghh! Bodoh kamu, Josh. Ini tempat pertama yang akan dia datangi kalau nyari kamu." Jana mendorong bahu Joshua.


Joshua terbahak. Hambar. Tawanya terdengar hambar. Atau lebih tepatnya miris. Miris pada nasibnya sendiri.


"Biar sajalah."


"Eh, jangan gitu, dong. Kasihan, tahu, dia lagi hamil."


"Dia tidak hamil."


"Hah?!" Jana terlonjak kaget. "Nggak hamil gimana maksud kamu? Katanya hamil. Mana yang bener, sih?" Mata Jana menyipit menatap Joshua.


"Dulu memang hamil. Tapi, sebelum kami menikah, dia keguguran."


Jana menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Maksudnya gimana, sih, ini? Kok, aku nggak ngerti, ya?" Ia mengelus dagunya.


"Dia bohong sama aku."


Bibir Jana melongo. Ia baru bisa mencerna kata-kata Joshua. "Jadi, dia ngakunya masih hamil, biar bisa nikah sama kamu, padahal bayi kalian udah nggak ada?"


"Tepat sekali."


Jana mengangguk-angguk. "Terus, masalahmu apa?" Gerakan tangan Jana meminta kembali botol yang disembunyikan oleh Joshua.


"Mau lagi?" tanya Joshua.


"Iya lah, nanggung."


Joshua mengambil botol dari saku mantelnya, lalu memberikannya pada Jana. Gadis itu langsung saja menenggak isinya. Ia tidak lagi merasakan tenggorokannya terbakar. Sepertinya ia mulai beradaptasi dengan minuman itu.


"Jadi, masalahmu apa sekarang?" Jana mengulang pertanyaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2