Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 60. Penyakit Lama Kambuh.


__ADS_3

"Kau punya tubuh yang seksi." James berbisik di telinga Risa yang terkungkung di bawahnya. Mata lelaki itu nanar memandangi bongkahan yang terbelah di matanya itu.


"Kau mau minta apa? Aku akan memberikan padamu. Asal, kau mau aku pelihara," lanjut James seraya menciumi leher jenjang Risa.


Risa tersenyum lebar. Tentu saja ia girang bukan kepalang. Melayani nafsu James bukan sesuatu yang sulit untuknya. Meskipun lelaki itu bukan termasuk kategori lelaki berwajah tampan dan menarik, namun, dompet tebalnya membuat Risa gelap mata.


Risa mencintai Joshua. Sangat mencintainya. Tidak seorangpun yang boleh mengganggu suaminya itu. Namun, sebagai seorang wanita, tentu ia butuh barang-barang mewah untuk dipamerkan ke lingkungan. Dan Johsua tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhannya.


Penyakit lamanya pun kambuh kembali. Dan James adalah korban pertamanya di negeri orang ini.


Permainan Risa pun begitu liar. Sangat liar, membuat James mabuk kepayang. Baru pernah ia bertemu wanita seliar ini, selama ia berpetualang cinta.


Risa tidak bisa dibandingkan dengan Atmini atau dengan semua wanita yang pernah ia nikmati. Risa spesial.


Sejak malam itu, James menghujani Risa dengan materi. Sebagai konsekwensinya, Risa harus bersedia menemaninya kapanpun ia ingin.


Hidup mewah di Manhattan adalah keinginan semua orang. Dan Risa sudah mendapatkannya.


Risa cukup pintar menutupi semua yang ia dapatkan. Di hadapan Joshua, ia tetap seorang istri yang tidak banyak menuntut kemewahan. Namun, semua yang ia dapatkan dari James, ia titipkan pada Ningsih. Apartemen, mobil, dan semua barang-barang branded seperti tas, pakaian dan sepatu.


Ningsih yang awalnya menolak pun terpaksa menerima. Saat ia terusir dari tempatnya. Suami Ningsih menceraikannya untuk bisa bersama selingkuhannya. Atau lebih tepatnya, bersama wanita yang telah mereka bayar untuk menitipkan benih suaminya, agar mereka bisa memiliki keturunan.


Akhirnya, Ningsihlah yang menempati apartemen milik Risa. Hanya meninggalinya saja. Namun, fasilitas seperti mobil dan barang-barang lainnya, Risa melarangnya untuk disentuh.


"Wah, tasnya baru, Mbak Risa?" tanya Yola, ketua kelompok Melati, suatu hari saat sedang mengadakan pertemuan rutin setiap minggu. Kali ini, mereka berkumpul di sebuah restauran mewah.


Ucapan Yola menarik perhatian semua wanita yang mengelilingi meja panjang penuh makanan dan minuman.


"Baru, dong," timpal Risa dengan bangga. Tas branded keluaran Paris yang terkenal seantero bumi itu ia angkat dan pamerkan pada wanita-wanita itu.


"Mobil juga baru kayaknya, ya?" Kali ini Nike yang berucap. Ia sempat melihat Risa datang dengan mobil yang harganya tentu tidak murah.


"Jelas baru. Aku juga baru beli apartemen, loh, Bu-ibu. Pertemuan rutin kita Minggu depan di apartemenku aja, ya, sekalian acara syukuran," ujar Risa seraya mengedarkan pandang ke ruangan private yang mereka sewa itu.

__ADS_1


"Waaah, hebat, Mbak Risa. Suaminya kerja apa, nih? Pasti bos gede ini," celetuk salah seorang wanita yang duduk paling ujung kanan, di sebelah Ningsih yang sedari tadi diam saja.


"Iya, dong, Jeng. Suamiku itu punya banyak restauran khas Indonesia yang tersebar di New York. Salah satunya Warung Indonesia yang ada di dekat Harlem itu, loh. Kalian pasti pernah ke sana."


"Oh, warung yang lagi viral itu punya suamimu, to?"


Risa meneguk gelas berisi cairan merah, lalu mengangguk mantap. "Iya, itu milik suamiku. Tapi, dia itu orangnya sederhana. Terkadang dia masih mau turun sendiri di dapur memasak pesanan pelanggan. Katanya biar citra rasanya tetap terjaga," karangnya membuat semua wanita di ruangan itu percaya. Kecuali Ningsih, yang menyimpan kebenarannya.


Ada juga yang ragu-ragu dengan cerita Jana. Ia adalah Atmini. Selain karena iri, ia juga melihat gelagat Risa yang aneh.


Awal masuk, Risa tidak seperti sekarang yang tiba-tiba memiliki tas-tas bermerk, sepatu dan pakaian keluaran brand ternama, juga mobil dan apartemen. Atmini curiga, Risa memanfaatkan tubuhnya untuk menjaring lelaki-lelaki berduit di Manhattan.


Hal ini membuat Atmini merasa harus bersikap waspada. Suaminya adalah sasaran empuk bagi wanita-wanita seperti Risa; jika dugaannya benar adanya.


***


Jovan merasa begitu gelisah. Sudah tiga hari ia memikirkan kejadian baku hantam antar Jana dan Tiara. Saat itu, ia sedang sangat kesal dengan Jana. Ia begitu cemburu saat mengetahui mantan suami Jana tidur di apartemen Jana malam itu.


Saking kesal dan cemburunya, ia mengatakan hal-hal yang sepertinya menyakiti hati Jana. Ia terbawa emosi saat itu.


Hari itu Jovan tidak bisa fokus bekerja. Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Jana. Ia rindu pada gadis itu.


Lalu, sepulang kerja, ia putuskan untuk menemui Jana di warungnya. Gadis itu sedang merapikan kursi dan meja, saat Jovan tiba di sana.


"Jan, boleh ngomong bentar, nggak?" tanya Jovan dengan wajah memelas.


"Ngomong apaan?" Jana menjawabnya ketus. Tentu, ia masih sakit hati pada pemuda itu. Ia memblokir nomer Jovan.


"Aku tungguin sampai kamu selesai. Jangan ngomong di sini, deh," ujar Jovan seraya melirik ke arah Joshua yang baru saja muncul dari dapur.


"Jana, aku pulang dulu, ya?" pamit Joshua. "Sampai besok," lanjutnya seraya menatap sinis pada Jovan. Jana menimpalinya dengan lambaikan kecil.


"Ngomong di sini aja," kata Jana ketus. "Aku capek. Abis ini mau langsung pulang, istirahat."

__ADS_1


Jovan menghela napasnya. "Okay." Ia menarik kursi dari bawah meja dan mendudukinya. "Kamu duduk, dong."


"Katanya nunggu aku selesai." Jana menatap miring Jovan.


"Oh, iya. Ya, udah lanjut dulu."


Tiga puluh menit kemudian, Jana baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia duduk di seberang meja, berhadap-hadapan dengan Jovan.


"Mau ngomong apa?" tanya Jana. Raut wajahnya tampak suram.


"Aku mau minta maaf," ucap Jovan penuh sesal.


"Untuk?"


"Untuk ucapanku waktu itu di apartemenku."


Jana mendecih. "Ngapain minta maaf?" sindirnya.


"Ya, waktu itu aku kebawa emosi, Jan."


"Nggak penting lagi, Mas. Kamu nggak minta maaf juga nggak papa, kok. Aku nggak peduli kamu mikir apa tentang aku."


"Nggak gitu, Jan. Aku, tuh, emang lagi kesel sama kamu. Aku cemburu, Jan."


Jana menghembuskan napas kasar. "Cemburu berarti harus melontarkan kata-kata yang nyakitin perasaanku, gitu?" serang Jana. "Kamu ngerti, nggak, Mas ... aku kecewa banget sama kamu."


"Iya, aku tahu, maaf, Jana ...." Jovan berusaha menggenggam telapak tangan Jana, namun gadis itu menepisnya dengan cepat.


"Aku, tuh, udah percaya sama kamu. Percaya kalau kamu adalah orang yang tahu aku kaya gimana. Kamu tuduh aku cewek murahan seperti yang dibilang sama Tiara, hatiku sakit banget, Mas."


"Iya, Jan, iya, maafin aku, tolong, Jan, maafin ...." Jovan memohon hingga bersimpuh di hadapan Jana, membuat gadis itu risih sendiri.


"Aku terlalu sayang sama kamu, Jan."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2