
Ponsel Joshua tidak henti-hentinya berdering ketika Risa dan Joshua sedang melakukan pergulatan mereka di ranjang. Sehingga Jana pun merasa kesal karena deringnya sangat mengganggu konsentrasinya.
"Angkat aja!" gerutu Risa.
"Nanti aja!" Joshua terus saja menghujani Risa dengan serangan-serangannya tanpa memedulikan ponselnya yang tidak berhenti berdering.
"Josh, please," engah Risa.
Joshua menghela napasnya dalam-dalam. Ia lalu beranjak dari atas tubuh Risa dan meraih ponselnya di atas nakas. Ada nomer tidak dikenal yang masuk ke layarnya.
"Hallo? Ya? Oh, Jana? Nomermu baru?"
Joshua menggeleng seraya menatap Risa. Ia mendengarkan seseorang di seberang sana yang tidak lain adalah Jana.
"Iya, Sayang. Aku sibuk sekali. Nggak bisa teleponan lama-lama. Maaf, ya?" Sepertinya Joshua mencoba menerangkan situasinya pada Jana.
"Okay, bye." Joshua melempar ponsel sembarang dan kembali hendak mencumbui Risa. Namun wanita itu menepisnya. Wajahnya kini masam.
"Oh, ayolah, Risa ...."
"Dasar brengsek! Ngapain, sih, dia telepon kamu malam-malam gini? Nggangu aja!" gerutu Risa kesal.
Joshua mengusap wajahnya kasar. "Ya, wajar. Dia kan istriku.
"Tapi tetap aja aku kesal!"
"Jadi, aku harus bagaimana?"
"Mana aku tahu!"
Joshua menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar bingung.
"Aku malas lanjutin. Suasana hatiku mendadak sangat buruk."
"Apa itu salahku?" tanya Joshua. Sebenarnya ia sudah mulai lelah menghadapi mood swing Risa yang sangat parah. Risa bahkan tidak mau mendengarkan kata-katanya.
"Jadi itu salahku?" Risa meninggikan nada bicaranya.
"Bukan begitu. Maksudku ... kita, kan, dari awal udah sepakat."
"Tapi tetap saja aku kesal. Aku nggak suka."
"Lalu aku harus bagaimana?" Joshua mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu. Kau pikir saja sendiri!" sungut Risa seraya menarik selimut dan menenggelamkan dirinya di dalam sana.
"Risa ...." Joshua berusaha menyentuh bahu Risa, namun wanita itu menepisnya dengan segera.
"Jangan sentuh aku!" hardik Risa.
Joshua menghela napas dalam-dalam. Ia benar-benar bingung sekarang. Ia merasa tidak pernah berbuat salah. Ia selalu menjaga hati Risa dan hampir secara total menutup akses Jana padanya saat sedang bersama dengan Risa. Tapi, jika reaksi Risa terus-terusan seperti ini, ia pun mulai capai dan bosan.
"Aku sudah berusaha tidak menyentuh Jana saat aku sama dia."
"Terserah kamu lah. Kalau kamu mau tidur sama dia, silahkan!"
"Risa, tolonglah. Dewasalah sedikit. Lihatlah usahaku untuk selalu menjaga hatimu."
"Jadi kamu terpaksa menjaga hatiku?"
Joshua menepuk keningnya. Sepertinya apapun yang ia ucapkan tidak akan membuat Risa mengerti. Karena sudah sangat suntuk, ia pun beranjak dari ranjang dan mencari baju di lemari. Ia mengganti pakaian rumahannya untuk ia ganti dengan pakaian yang cukup rapi. Ia berencana mengajak Scott-temannya, untuk sedikit minum di bar, menghilangkan penat sejenak.
"Aku akan pergi ke bar dengan Scott, karena sepertinya kau tidak bisa diajak diskusi, Risa."
Risa tidak bergeming. Ia sedang sangat kesal pada Joshua dan tidak ingin berbicara pada kekasihnya itu. Ia pun membiarkan Joshua pergi begitu saja tanpa mencegahnya.
Risa menutup wajahnya dengan selimut. Namun, sejurus kemudian ia membuang selimutnya. Joshua sudah pergi dari kamar mereka. Ada sedikit rasa sesal kenapa ia harus marah-marah hanya karena Jana menelepon Joshua.
***
Di bar, Joshua menemui Scott yang sudah menunggunya di depan meja bartender. Sahabatnya itu meneliti wajahnya yang terlihat kusut.
"Ada apa lagi, Josh?" tanya Scott seraya terkekeh. Ia pun menyodorkan satu sloki berisi cairan kuning tua pada Joshua.
"Risa semakin menjadi saja. Mood swingnya membuatku tidak tahan."
Scott terbahak mendengar penuturan Joshua. Dari dulu, sahabatnya ini selalu saja bermasalah dengan wanita. Bahkan sekarang, dengan wanita sekaligus."
"Dia sedang cemburu, Josh. Maklumi saja."
"Tapi lama-lama aku juga bosan selalu menghadapi kecemburuannya. Padahal aku coba menahan diri untuk tidak tidur dengan Jana."
"Kau jelaskan baik-baik. Jangan menggunakan emosimu."
Joshua menghela napasnya. Ia meminta bartender untuk mengisi kembali slokinya. "Aku sudah berusaha bersabar. Aku sudah menjelaskan dengan sangat gamblang. Aku sudah meyakinkan Risa semampuku. Tetap saja dia tidak mau terima."
"Well, kau harus lebih bersabar lagi, Josh."
__ADS_1
Joshua menghembuskan napasnya kasar. Tubuhnya kini mulai rileks karena efel alkohol yang menjalar ke seluruh persendiannya.
"Entahlah ... kau tahu rasanya dikatakan sebagai pencuri sementara kau tidak mencuri? Dan kau terus saja dituduh mencuri."
"Ya ... aku tahu."
"Itulah yang aku rasakan. Mood Risa benar-benar membuatku stres.
Scott terbahak. "Hei, kau punya dua wanita, Josh. Kau orang paling beruntung. Nikmati saja selagi masih bisa," kekehnya.
"Yeah ... kau benar juga. Tapi, malam ini aku hanya sedang lelah saja. Aku butuh teman bicara untuk mengungkapkan keluh kesahku ini."
Scott tertawa terbahak-bahak. "Rupanya bukan hanya Risa yang punya mood swing parah. Kau juga begitu, Josh."
Joshua terkekeh. Scott benar juga. Ia merasa mulai tertular perasaan sensitif Risa.
***
Risa duduk di tepian ranjang dengan gelisah. Sudab dua jam lamanya Joshua pergi dari rumah. Pamitnya ke bar bersama Scott. Tapi, ia curiga kalau Joshua akan menemui Jana.
Risa menghembuskan napas kasar. Ia tidak bisa berhenti cemburu pada Jana. Ia benci.
Apa Joshua tidak tertarik lagi padanya karena ia tidak terlihat cantik lagi. Ah, perasaan itu membuatnya stres. Ia benar-benar merasa tidak percaya diri di depan Joshua .
Memikirkan semua hal itu membuat perutnya mual bukan main. Ia berlarian menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.
Cukup lama Risa mengeluarkan isi perutnya hingga yang tersisa hanya rasa pahit. Badannya terasa lemas. Dan tiba-tiba ia terserang demam.
Risa buru-buru masuk kembali ke dalam selimutnya. Kepalanya terasa pening dan berat. Tubuhnya menggigil, meskipun penghangat ruangan sudah diatur maksimal.
Wanita itu merasa tenaganya habis, hanya dengan memikirkan rasa cemburunya terhadap istri kekasihnya.
Ia ingin semua perhatian Joshua tertuju padanya. Ia tidak ingin membaginya dengan wanita lain. Toh, dari dulu memang dirinyalah yang berhak atas Joshua. Jana hanya pendatang baru dalam kehidupan mereka.
Beberapa saat kemudian, Risa mulai kembali merasakan perutnya bergejolak. Ia pun berlari menuju kamar mandi.
Tidak ada lagi yang bisa ia muntahkan selain cairan kuning lambungnya yang terasa begitu pahit. Badannya lemas bukan kepalang. Bahkan untuk kembali ke atas ranjang, Risa harus berpegangan pada apa saja yang ia lewati.
Risa bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa aneh seperti ini. Perutnya terus saja bergejolak. Namun, ia tidak memiliki tenaga untuk kembali ke kamar mandi.
Apakah jangan-jangan ... dirinya hamil. Yang dirasakannya mirip sekali dengan tanda-tanda perempuan yang sedang hamil, seperti yang pernah ia baca di artikel.
Jika memang dugaannya benar, maka ini akan menjadi hal yang sangat membahagiakan untuknya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...