
Tidur Joshua sedikit terganggu dengan suara-suara dari arah dapur. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jana tidak ada di sampingnya. Tentu, yang membuat suara-suara berisik itu adalah Jana.
Joshua beranjak dari ranjang dan melangkah keluar kamar untuk memeriksa Jana di dapur. Gadis itu tampak begitu sibuk. Aneka macam kue dan makanan-makanan khas Indonesia memenuhi meja makan.
"Kenapa banyak sekali makanan, Jana?" Alih-alih menegur Jana yang telah mengganggu tidurnya, Joshua justru merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan istrinya itu.
"Eh, udah bangun? Aku ganggu, ya, Baby?" tanya Jana dengan perasaan bersalah.
"Sedikit. Memangnya kamu lagi apa?"
"Oww, maaf, ya, Baby. Aku lagi nyiapin dagangan buat nanti di konjen. Mau jualan," kekeh Jana.
"Festival Indonesia yang kamu bilang kemarin?"
Jana mengangguk dengan antusias. "Kamu datang, ya, nanti," pintanya dengan mata berbinar.
"Sepertinya tidak bisa. Aku akan sibuk nanti."
Terlihat jelas kekecewaan di wajah manis Jana. "Oh, nggak bisa, ya? Ya, udah, deh," ucapnya.
"Sorry," kata Joshua. Ia bisa melihat kekecewaan di mata Jana.
"Nggak papa." Jana mengulas senyumnya yang terlihat hambar. Kemudian gadis itu melanjutkan aktifitasnya. Membungkus makanan yang akan ia jual di festival Indonesia beberapa jam lagi.
Pandangan matanya mengikuti langkah Joshua masuk kembali ke dalam kamar. Gadis itu menghela napasnya berat. Ia berharap Joshua akan menemaninya menyelesaikan pekerjaannya itu, namun, dengan tidak acuhnya, Johsua meninggalkannya untuk melanjutkan tidurnya.
Jana pun berusaha memaklumi. Mungkin Joshua kelelahan. Ia pun tidak ingin menuntut apapun. Jana berusaha menghibur dirinya sendiri. Sejujurnya ia pun merasa lelah. Namun, ini kesempatannya untuk menambah pemasukan bulanan. Ia harus bisa memanfaatkan acara tahunan itu.
Jana memang sengaja menyibukkan diri akhir-akhir ini. Dari mengikuti banyak kegiatan di konjen, training di sebuah taman kanak-kanak, hingga mencari pekerjaan serabutan sementara menunggu dirinya diangkat menjadi guru di tempatnya melakukan pelatihan.
Pukul enam pagi, begitu semuanya sudah siap, Jana berangkat ke konsulat jenderal Indonesia dengan menggunakan subway. Sepanjang perjalanan, banyak yang melempar pandang padanya, sebab Jana memakai kebaya sederhana, seperti kesepakatannya dengan Mira-sang sahabat.
"Wih, cantik amat," goda Mira saat baru saja tiba di lapak dagang milik Jana. Jana pun baru beberapa menit tiba di lokasi dan sedang menata barang dagangannya.
"Kamu juga, ih," balas Jana. Kedua gadis itu memang sengaja memakai kebaya ala kadarnya untuk menarik pembeli.
Mira terkekeh. Gadis berambut pendek itu memeriksa kue-kue dan jajan pasar khas Indonesia yang sudah tertata rapi di atas meja. "Kamu pinter, ya, Jan, bikin ginian," kekehnya.
__ADS_1
"Ya, kalau ada yang modalin, sih, pinter-pinter aja," sahut Jana sambil tergelak dan menaik-naikkan kedua alis tipisnya.
Mira tergelak. "Eh, suamimu dateng, gak?" tanyanya kemudian.
"Nggak bisa katanya. Sibuk." Suara Jana terdengar penuh kecewa.
Mira memanyunkan bibirnya. "Udah, nggak usah sedih. Ntar cuci mata aja, pasti banyak, deh, cowok-cowok bule kece yang mampir," kekehnya.
"Semoga, ya," timpal Jana sekenanya.
"Silahkan, Bu, jajannya," ucapnya pada seorang pembeli yang datang menghampiri.
"Ini semua bikin sendiri, Dek?" Si pembeli, seorang wanita usia paruh baya dengan dandanan a la ibu-ibu sosialita, bertanya.
"Iya, Bu. Masih fresh banget. Saya bikin tadi pagi," jawab Jana dengan wajah sumringah.
"Lumpianya sepuluh, ya, tambah arem-arem juga, lima, bakwan jagungnya sepuluh, terus ...."
Jana bersorak dalam hati. Baru saja buka, sudah diborong banyak oleh seorang pembeli. Untung saja modal yang dititipkan oleh Mira cukup banyak untuk membuat berbagai macam jenis jajanan.
Bukan hanya si wanita sosialita yang membeli dagangannya, namun, setelahnya, banyak pembeli yang berdatangan, baik orang-orang Indonesia maupun warga lokal yang penasaran dengan makanan khas Indonesia yang sedap dipandang mata itu.
"Apa, tuh, Mir?" tanya Jana seraya merapikan sisa dagangannya. Terdengar suara gamelan Bali dari arah kirinya, dan beberapa penari telah turun ke jalan.
"Kita bikin usaha catering aja, Jan. Melayani pesanan jajanan pasar dan masakan Indonesia lain."
Mata Jana berbinar. Pertanda gadis itu menyukai ide dari sahabatnya itu. "Boleh, tuh. Tapi, tempat usahanya di mana? Apartemenku kecil, Mir. Terus, takutnya Joshua keganggu juga."
"Apartemenku aja. Aku kan tinggal sendiri. Aku yang modalin, kamu yang bikin. Ya, aku bantu-bantu promo juga."
Jana mengangguk-angguk. "Setuju, Mir. Lama-lama bisa bikin warung Indonesia kita," gelaknya, lalu diamini oleh Mira.
"Sayang, mau beli apa, sih?" Terdengar suara manja seorang wanita mendekat. Membuat Jana dan Mira serentak menoleh ke arah asal suara.
"Mau beli jajanan pasar."
"Ish! Ngapain, sih, beli-beli kaya gitu. Aku pingin makan Turkey panggang."
__ADS_1
"Ini acara Indonesian street, nggak ada turkey panggang."
Sepasang kekasih, keduanya orang Indonesia, cantik dan tampan, melangkah mendekat. Si gadis berwajah oriental namun memiliki rahang tegas, berkulit putih dan penampilannya sangat elegan. Sementara si pemuda, berwajah tampan khas Indonesia-Jawa; sepertinya, berambut sedikit panjang dan diikat bagian atasnya.
Tampaknya mereka sedang terlibat dalam sebuah perdebatan. Rengekan si wanita membuat si lelaki sedikit jengah. Apalagi setelah keduanya tiba di hadapan Jana dan Mira.
"Wah, baru nemuin makanan kaya gini, nih, di Manhattan." Si lelaki, yang sepertinya seumuran dengan Jana, menyeletuk sambil tersenyum pada Jana, yang disambut gadis itu dengan senyum manis, mempersilahkan padanya untuk memilih jajanan.
"Sayang, ih! Gak mau makan ginian." Si wanita kembali merengek sembari bergelayut manja di pundak si lelaki.
"Boleh nyicip, nggak, Mbak?" tanya si lelaki tanpa memedulikan rengekan kekasihnya.
"Boleh, silahkan. Cicip dulu aja nggak papa," sahut Jana.
"Wah, ada lumpia," ujar si pemuda dengan antusias. Ia mencomot satu potong lumpia dan mencicipinya. "Ini yang bikin Mbaknya?" tanyanya dengan mata membulat.
"Iya, Mas," jawab Jana malu-malu.
Si pemuda mengangguk-angguk sambil menikmati lumpia buatan Jana. "Enak, asli. Duh, berasa kaya pulang kampung," kekehnya.
"Masnya emang udah berapa lama di sini?" tanya Mira.
"Udah lama, sih, dari SMA," jawab si pemuda.
"Bungkusin lumpianya sepuluh, ya, Mbak," pintanya pada Jana.
Jana mengangguk. Gadis itu melirik pasangan si pemuda yang sedari tadi hanya cemberut. Tipe wanita yang tidak pernah bergaul dengan rakyat jelata sepertinya, pikir Jana.
"Ini emang sengaja pake kebaya?" tanya si pemuda pada Jana.
Jana meringis. "Iya, Mas, biar lebih kelihatan Indonesia, gitu," ucapnya, disambut anggukan Mira.
Si gadis yang tidak mau melepaskan gandengan tangannya pada lengan pemuda itu, mengerucutkan mulutnya. Sepertinya ia tidak suka kekasihnya berbicara dengan perempuan lain.
"Ini, Mas. Semuanya jadi ...." Jana mengulurkan bungkus kertas berisi lumpia pada pemuda itu. Setelah mengucapkan terimakasih, pemuda dan kekasihnya itu berlalu.
Namun, beberapa menit kemudian, si pemuda kembali mendatangi Jana dan Mira. Kali ini, ia sendirian tanpa kekasihnya.
__ADS_1
"Maaf, Mbak, boleh kenalan, nggak?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...