Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 18. Niat Hati Ingin Membuat Joshua Cemburu.


__ADS_3

"Sarapan dulu, to, Jana, sebelum berangkat kerja," pinta Bu Galuh saat Jana berpamitan pagi itu.


"Nggak laper, Bu." Jana, dengan wajah sembabnya yang ia tutup riasan tipis, mencium punggung tangan sang ibu. "Bapak udah berangkat ke ladang, ya?" tanyanya.


"Ndak. Tadi udah pergi gasik ke pasar. Sini, to, maem dulu."


Jana menggeleng. Nafsu makannya hilang sama sekali. Hampir semalaman ia menunggu Joshua pulang tetapi suaminya itu tidak kunjung datang. Jam empat pagi, setelah tidak punya harapan lagi menunggu Joshua, ia pun tertidur kelelahan.


"Jana pamit, ya, Bu." Jana melangkah menuju halaman rumah. Ia menghampiri motornya, lalu menghidupkan mesin.


Sedang menunggu mesin motor hangat, sudut matanya melihat kehadiran Joshua yang sedang membuka pintu pagar. Pulang juga akhirnya suaminya itu. Jana memasang wajah cemberutnya, agar Joshua tahu kalau ia tidak bisa menerima kelakuan lelaki itu.


"Hi, Jana," sapa Joshua seraya menghampirinya.


"Ngapain pulang?" tanya Jana ketus.


"Ini rumahku juga." Joshua menyahut tanpa beban.


"Dari mana semalam?" Jana melipat kedua lengan di depan dada, dan wajahnya ia buat seangkuh mungkin.


"Tidur di rumah teman. Cari angin segar."


Cih! Jana tidak percaya. Pasti Joshua tidur dengan mantan pacarnya itu.


"Iya," sahut Jana pendek. Gadis itu menuntun motornya keluar pagar. Joshua tidak mengikutinya sama sekali. Suaminya itu hanya melihatnya dari halaman rumah.


"Hati-hati, Jana."


Hanya itu yang Joshua ucapkan. Bukan kata-kata maaf atau apa pun lah itu yang bisa membuat kegalauan Jana reda.


Dada Jana bergemuruh. Rasa kesal dan cemburu kembali melanda. Lalu, tanpa menyahut ucapan Joshua, Jana melajukan motornya menjauh.


Sementara Joshua, melangkah masuk ke dalam rumah, dan bertemu dengan Bu Galuh. "Selamat pagi, Mama," sapanya pada sang ibu mertua.


"Looh, dari mana kamu, Josh?" tanya Bu Galuh. Wanita itu sama sekali tidak menaruh curiga pada Joshua yang pulang pagi.


"Semalam aku tidur di rumah teman."

__ADS_1


"Owh, gitu. Ya, sudah. Mau sarapan? Mama sudah bikinkan itu di dapur."


"Nanti saja, Mama."


Bu Galuh mengangguk. Ia pun berlalu dari hadapan Joshua. Namun, sejurus kemudian ia kembali. "Joshua, kalau ada masalah sama Jana, dibicarakan baik-baik, ya. Jana itu mikir yang enggak-enggak."


"Apa yang Mama maksud?" Joshua mengerutkan kening.


"Itu, loh ... Jana itu kan suka ... aduh, apa, ya, namanya ... negatif ...."


"Negative thinking?" tanya Joshua.


"Nah, iya, itu."


Joshua tersenyum dan mengangguk. "Aku mau mandi dulu, Mam," pamitnya sambil berlalu dari hadapan Bu Galuh.


"Iya, iya, mandi sana, biar tambah ganteng. Eh, tapi, nggak mandi juga sudah ganteng, ya, Josh, ya?" kikik Bu Galuh.


***


"Aduhhh, kenapa harus bocor, sih?!" gerutu Jana seraya menendang roda motor bagian belakang yang kempes. Ia menengok ke sana kemari, tidak ada tukang tambal ban di sekitarnya.


Matanya menangkap sebuah mobil sedan warna hitam yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Saat si pengemudi turun, Jana membulatkan mata. Pasalnya, si pengemudi mobil sedan itu adalah Arya. Sepupu Septi yang punya counter HP tempatnya mengajukan cicilan.


"Jana? Kamu Jana, kan?" Arya menghampiri Jana, memastikan kalau gadis itu adalah teman sepupunya yang beberapa hari lalu datang ke tokonya.


"Iya. Kamu kenapa di sini?" tanya Jana keheranan. Sungguh sebuah kebetulan ia bertemu dengan pemuda itu lagi.


"Aku emang biasa lewat sini kalau pulang dari toko," jawab Arya. "Wah, bocor, ya?" Ia memeriksa roda motor Jana.


"Iya, nih, Ar. Mana nggak ada tukang tambal ban lagi di sekitar sini," ujar Jana putus asa.


"Emang nggak ada kalau sekitar sini. Kalau kamu mau aku bisa bantu. Aku panggilin temen bengkel, ya, buat urus motormu."


"Waduh, nggak usah, nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin," tolak Jana sambil menggerakkan telapak tangan ke kanan dan ke kiri.


"Nggak papa. Biar temenku yang urus motornya." Arya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel untuk menelepon seseorang. "Ya, Bro, minta tolong, ya, di Jakal km lima. Iya, kempes. Kamu ke sini aja dulu, Bro. Oke, aku tunggu, ya?"

__ADS_1


"Aduh, jadi ngerepotin kamu, Ar," ucap Jana.


"Santai. Bentar lagi temenku dateng, kok."


Jana menggaruk kepalanya untuk menutupi rasa gugup yang melandanya tiba-tiba. Selain itu, ia juga merasa tidak enak dengan Arya. Ini pertemuan keduanya dengan pemuda itu. Tapi, Arya sudah bersedia membantunya, meskipun repot.


"Nah, tuh, temenku dateng." Arya menunjuk sebuah mobil pick-up yang sedang mendekat ke arah mereka.


"Motornya mau diangkut ke bengkel, gitu?" tanya Jana kebingungan.


"Iya, ke bengkelnya temenku. Ntar kalau udah selesai, temenku anter ke rumah kamu."


"Owwh, trus aku pulang naik apa?"


Arya terkekeh. "Tak anterin nggak papa, ya?" tanyanya.


Jana mengelus dagunya. Tiba-tiba terbersit di dalam benaknya untuk membalas perlakuan Joshua. Ide bagus. Ia akan memanas-manasi suaminya itu melalui Arya. Bagaimana reaksi Joshua kalau melihat dirinya diantar oleh lelaki lain.


Beberapa saat kemudian, Jana sudah berada di mobil Arya yang akan mengantarnya ke rumah. Strategi telah ia susun di dalam kepalanya. Ia sudah tidak melihat reaksi Joshua.


"Ini rumah kamu?" tanya Arya sembari menepikan mobil di depan pintu pagar bambu.


"Iya. Makasih, ya, Ar. Kamu baik banget, sumpah," ucap Jana. Matanya berkeliling halaman rumah, siapa tahu Joshua ada di sana.


"Dengan senang hati, kok," jawab Arya senang. Setelah Jana turun, Arya pun melajukan mobil meninggalkan Jana.


Beruntung, Jana melihat Joshua baru saja keluar dari rumah tetangganya. Jana mendecih dalam hati. Pasti suaminya itu menemui si Asih lagi. Benar saja, Jana melihat Asih berdiri di teras sambil mengawasi Joshua.


"Kamu diantar sama siapa? Mana motormu?" tanya Joshua sembari mengimbangi langkah Jana memasuki halaman rumah.


"Diantar teman cowok. Motorku masuk bengkel. Nanti dianter ke sini," jawab Jana ketus. Ia menunggu reaksi Joshua. Ia berharap Joshua cemburu.


"Untung, ya, ada teman kamu yang menolong," timpal Joshua sambil mengangguk-aggguk. "Enak tinggal di Indonesia, banyak yang menolong kalau sedang susah. Tidak seperti di USA," kekehnya.


Hanya itu saja? Jana memekik dalam hati. Joshua tidak cemburu sama sekali. Ia justru membenarkan tindakan Jana bersedia diantar pulang oleh seorang laki-laki.


Jana geram. Benar-benar tidak sesuai ekspektasi. Ia jadi membanding-bandingkan saat Joshua mendengar Risa menjadi simpanan sugar daddy, Joshua marah hingga menendang pintu lemari pakaian. Tetapi, giliran Jana diantar oleh laki-laki lain, sikap Joshua biasa-biasa saja.

__ADS_1


Apa Joshua memang tidak ada perasaan apa-apa dengannya? Batin Jana menjerit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2